11

982 Kata
Selama empat hari Ad berada di rumah sakit ini untuk dirawat, begitupun dengan Jack. Dan hari ini adalah hari dimana Ad bisa pulang dari rumah sakit ini walaupun Ad telah memintanya dari jauh-jauh hari, akhirnya hari di bebaskannya dari rumah sakit ini adalah hari ini sehingga Ad sangat senang akan hal itu. Di ruangan kakaknya sudah ada orang tuanya dan Nesya lagi, sehingga ia lebih memilih ke ruangan Jack yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar kakaknya dan ia membantu adik perempuan Jack itu membereskan pakaian Jack. Sesaat di tawari untuk ikut dalam mobil ayahnya yang berisi Nesya, ibunya, dan ayahnya tersebut sebenarnya Ed ingin menolak, tetapi ayahnya begitu tegas memerintahnya bahwa ia harus satu mobil dengan mereka. Jadilah ayah dan ibunya di depan, Ad dan Nesya di tengah dan Ed sendirian di belakang, tetapi ia lebih memilih untuk chating dengan Kay dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan, itu bisa menjadi mood bosternya hari ini. Mereka menuju rumah yang di diami oleh orang tuanya dan dirinya. Sejak hari itu kakaknya akan tinggal di rumah mereka lagi, ibunya melarang keras kakaknya tinggal di mansion karena menurut ibunya mansion itu tidak layak. Ed hanya bisa ber oh ria mendengar kata-kata ibunya. Sejak saat itu pula dan berbulan-bulan setelahnya entah kenapa kakaknya menjadi akrab sekali dengan Nesya. Terbukti karena setiap ia berobat rutin pasti kakaknya itu sealu mengajak Nesya dan dirinya hanya bisa menjadi sopir bagi dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu. Bagaimana bisa? Kakaknya sangat membenci Nesya, ia tau itu. Tetapi kenapa kakaknya menjadi seperti saat bersama Kay? Ia harus mencaritahu semua ini. Pada suatu saat, Ed pun menghampiri kakaknya yang sedang berada di tepi kolam renang rumah mereka, Ed sudah terlalu penasaran akan hal ini. Ia tidak akan tinggal diam meihat kakaknya yang seperti ini, ia tau Nesya itu jahat. "kak, aku mau berbicara denganmu." Ucap Ed sembari duduk di samping kakaknya yang tengah bersntai itu. "ada apa? Serius sekali rupanya." Jawab kakaknya sembari tertawa. "kau sudah menerima perjodohan itu?" tanya Ed serius. "ya, aku pikir Nesya tidak terlau buruk seperti yang aku bayangkan sebelumnya." Ucap kakaknya begitu santai dan meneguk lagi secangkir tehnya. "kau gila! Lau bagaimana tentang Kay? Kau tidak melupakannya bukan!?" tanya Ed serius. "Kay? Aku tidak peduli. Kau mau? Ambil lah." Ucapnya begitu santai sampai membuat Edgar begitu kaget. Edgar pun seketika berdiri dari duduknya dan meggelengkan kepalanya. "apa otak kau telah di cuci oleh Nesya!" ucap Ed dengan nada yang sedikit tinggi. "tidak, aku hanya telat mengetahui fakta bahwa selama ini wanita yang aku cintai itu busuk hatinya, aku tidak ingin mencintai orang yang seperti itu lagi." Ucap Ad ang membuat Ed menggelengkan kepalanya tidak mengerti apa maksud ucapan Ad itu. "baiklah kalau begitu, kau jangan pernah mengangguku dengan Kay kalau begitu." Uca Ed sembari menampilkan senyum miringnya dan pergi dari hadapan kakaknya. "Kay? Bahkan aku sangat membencimu sekarang." Gumam Ad. ... Pagi itu Amsterdam sedang summer, rencananya Kay hari ini akan menuju bandara untuk kepulangan orang tuanya. Ayah Kay berhasil sembuh dari stroke ringan dan kemungkinan untuk kambuh itu sedikit dan bahkan tidak ada karena pengobatan yang mereka jalani selama kurang lebih tiga bulan ini. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu Ad, entahah rindunya sudah memuncak tetapi ia sangat takut untuk mengabari Ad, ia sangat takut bahwa Ad tidak mengharapkan kehadirannya lagi. Jadi selama berbulan-bulan disini ia harus menahan rindunya. "aku pulang, Ad." Gumam Kay sembari tersenyum simpul. Ia tidak sabar untuk melihat reaksi Ad. Kakaknya pun seminggu sekali menjenguk mereka ke Amsterdam, kakaknya juga sempat bercerita bahwa ia barusaja menjenguk koleganya yang kecelakaan sebelum pergi ke perusahaan ayahnya, Kay sampai meringis mendengar itu, apalagi mobilnya sangat-sangat ringsek. Kakaknya janji akan mempertemukan mereka karena Kay yang ingin tahu siapa pria yang kecelakaan tersebut tetapi kakaknya enggan memberitahunya. Kay pulang bersama ayahnya dan di jemput di bandara Husein Sastranegara oleh kakaknya. Selama perjalanan pulang ia sanagt senang sekai karena ayahnya sembuh dan ia bisa bertemu dengan Ad dan Ed lagi. Ia juga selalu menanyakan kabar Ad lewat Ed, dan ia sangat senang mengetahui bahwa Ad baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa selama tiga bulan ini. Setelah berbelas-belas jam perjalanan, akhirnya Kay dan ayahnya pun tiba di bandara Husein Sastranegara dan ketika keluar ia dan ayahnya langsung di sambut oleh kakaknya yang menunggu di pintu kedatangan internasional. Ia pun lansung memeluk kakaknya dengan sangat erat. Mereka menuju rumah mereka yang berada di tengah kota Bandung yang indah ini. Rumah mereka tergolong ke dalam rumah yang sederhana walaupun ini rumah seorang CEO sukses. Ketika di tanyai soal ini, ayahnya pasti akan menjawab bahwa "yang penting adalah kenyamanan, dan ayah pikir rumah ini sudah nyaman, jadi buat apa di lebih-lebihkan lagi?" ucapnya. Akhirnya mereka kembali di kediaman mereka, rumah bernuansa putih dengan dua lantai ini menjadi rumah Kay dan keluarganya yang sesungguhnya. Mereka pun mmulai hidup yang seperti biasanya, Kay juga sudah bekrja di perusahaan ayahna dengan pangkat yang sama sperti Ad, direktur utama, sedangkan kakaknya kembali ke perusahaanna sendiri sebagai seorang CEO. Ketika sedang berkutat dengan laporannya, dring notifikasi dari handphonenya pun berbunyi, Kay melirik siapa yang mnegirimkan itu kepadanya. Kay tersenyum simpul ktika Ed begitu memperhatikannya berbeda dngan Ad yang tidak pernah sama sekali mencari kabarnya Kay brpikir bahwa Ad telah bahagia dengan Nesya dan benar dirinya harus mngikhlasan semuanya. "kau sedang apa?" itulah notofikasi yang muncul dan dibaca oleh Kay. Dengan gesit, jari-jemari Kay pun mengetikkan balasan untuk Ed. "aku sedang mengurus beberapa pekerjaan, bagaimana dengan Ad, apakah dia baik-baik saja?" ketik Kay dalam balasannya dan menaruh lagi ponselnya kemudian kembali bekerja. ... Kini Ed tengah merekam single terbarunya dan kini ia sedang beristirahat dan duduk di sofa yang ada di studio rekaman milik produsernya. Saat ia menunggu balasan dari Kay, akhirnya notifikasi pun muncul di layar handphonenya. Ed pun excited untuk membukanya karena itu dari Kay. Senyum pun seketika luntur dari bibir Ed. Ia mengluarkan napasnya kasar. "kapan kau berhenti menanyakan tentang Ad, Kay?" gumam Ed dengan sorot mata sedihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN