Suasana di dalam penthouse mewah itu terasa mencekam, meski sistem kontrol suhu telah mengaturnya pada titik paling nyaman. Gerald berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa yang menyajikan pemandangan Aero Town yang gemerlap. Namun, di matanya, kerlap-kerlip lampu itu tampak seperti mata predator yang mengintai.
Pintu kamar berdesir terbuka. Langkah kaki Aruna yang ringan terdengar mendekat di atas karpet beludru. Gerald bisa mencium aroma melati yang kini bercampur dengan sesuatu yang lebih memabukkan, aroma hasrat yang tak lagi terbendung.
"Kau terlalu banyak diam hari ini, Han," bisik Aruna.
Tangan wanita itu perlahan merayap di punggung Gerald, melingkar di pinggangnya dengan posesif. Gerald menegang. Setiap sentuhan Aruna terasa seperti sengatan listrik yang mengingatkannya bahwa ia adalah seorang pencuri yang sedang menyelinap di tempat tidur seorang raja.
"Aruna, aku ... ingin sendiri dulu di sini," ucap Arash yang berusaha untuk melepaskan diri dari Aruna saat ini.
Aruna memutar tubuh Gerald. Matanya yang jernih kini tampak gelap, penuh dengan kerinduan yang haus akan belaian pria yang ia cintai. "Jangan hukum aku dengan kebisuanmu. Aku butuh kau ... sekarang."
"Aruna, ini tidak benar. Aku sedang kacau dan aku ingin waktu untuk sendiri. Tolong jangan ganggu aku," ucap Gerald dengan nada yang memohon kepadanya.
Ucapan Gerald tak membuahkan hasil apa pun. Aruna tetap saja tenggelam pada kerinduannya akan sosok Han yang beberapa hari ini tidak bisa ia dekap.
Gerald mencoba bertahan. Pikirannya berteriak untuk menjauh, namun insting prianya mulai mengkhianati logikanya. Aruna mulai mencium lehernya, tangan wanita itu dengan terampil membuka satu per satu kancing kemeja sutra Gerald.
Jangan. Berhenti, batin Gerald. Tapi jika ia menolak, penyamarannya akan runtuh. Dan di sisi lain, adrenalin dari ketakutan dan gairah mulai bercampur aduk. Gerald, yang terbiasa hidup keras di jalanan tanpa kasih sayang, mendadak kehilangan kendali saat bibir Aruna menyentuh miliknya.
Ciuman itu awalnya adalah strategi bertahan hidup, namun dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang liar dan primitif. Gerald mencengkeram pinggang Aruna, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Ia membalas cumbuan itu dengan intensitas yang tak pernah dimiliki Han, sebuah gairah kasar dari seorang berandalan yang tidak tahu cara bersikap lembut.
Dalam kepungan hawa panas yang menyelimuti mereka, Gerald kehilangan kewaspadaannya. Dengan gerakan kasar yang didorong oleh gairah yang meledak, ia menyentak kemejanya hingga terlepas, membiarkan kain mahal itu jatuh ke lantai.
Aruna mendesah pelan, jemarinya mulai meraba d**a bidang Gerald, lalu perlahan memutar tubuh pria itu. Gerald, yang masih terengah-engah dan terbawa suasana, tidak menyadari posisi punggungnya yang kini menghadap langsung ke arah lampu nakas yang terang.
Tiba-tiba, gerakan tangan Aruna berhenti. Napasnya tertahan.
Di punggung yang seharusnya mulus milik seorang CEO elit, kini terpampang sebuah mahakarya jalanan yang kelam. Tato sayap gagak yang patah, tinta hitam yang meresap dalam ke kulit, melambangkan geng paling ditakuti di The Gut. Concealer tahan air yang Gerald gunakan tadi pagi telah luntur sepenuhnya karena keringat dan gesekan intens tadi.
Gerald membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir saat ia menyadari keheningan yang tiba-tiba itu. Ia segera berbalik, wajahnya pucat pasi, tangannya dengan cepat mencoba meraih kemeja di lantai untuk menutupi punggungnya.
"Aruna ... aku bisa jelaskan ..." suara Gerald bergetar, hilang sudah nada angkuh sang CEO. Ia mundur satu langkah, matanya liar mencari jalan keluar. "Ini ... ini hanya ... salah satu eksperimen pribadiku."
Aruna berdiri terpaku. Matanya menatap tajam ke arah punggung Gerald, lalu beralih ke mata Gerald yang penuh ketakutan. Keheningan itu terasa seperti berjam-jam. Gerald sudah bersiap untuk mendengar teriakan Aruna, bersiap untuk pasukan keamanan menyerbu kamar itu.
Namun, yang terjadi justru di luar nalar.
Aruna melangkah maju. Ia tidak tampak takut. Ia tidak tampak marah. Sebaliknya, sebuah senyum tipis yang misterius dan penuh rahasia muncul di bibirnya.
"Eksperimen?" bisik Aruna. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh tinta hitam di punggung Gerald yang masih basah oleh keringat. "Han tidak akan pernah punya keberanian untuk mengukir sesuatu yang begitu ... kotor sekaligus indah di tubuhnya."
Gerald terpaku. "Aruna, kau tidak mengerti—"
"Aku mengerti lebih dari yang kau kira," potong Aruna. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Gerald, mencari sosok 'Han' yang ia kenal selama bertahun-tahun, tapi ia hanya menemukan 'pria asing' yang memberinya gairah yang jauh lebih nyata.
Aruna menarik kerah kemeja yang masih dipegang Gerald, menjatuhkannya kembali ke lantai. Ia membungkam bibir Gerald dengan ciuman yang lebih menuntut dari sebelumnya.
"Aku tidak peduli tato baru milikmu. Yang aku mau kau melayaniku malam ini," bisik Aruna di sela-sela napas mereka yang memburu. "Aku tidak peduli rahasia apa yang kau sembunyikan di balik tinta itu. Yang aku tahu ... pria di depanku ini adalah Han yang selama ini melayani hasratku."
Aruna memilih untuk bungkam. Ia memilih untuk mengabaikan bukti nyata bahwa pria yang sedang b******u dengannya adalah seorang penyusup. Bagi Aruna, fantasi ini jauh lebih manis daripada kenyataan pahit hubungannya dengan Han.
Gerald, yang menyadari bahwa ia telah diberikan 'ijin' secara diam-diam, tidak lagi menahan diri. Ia mengangkat tubuh Aruna ke atas tempat tidur, membiarkan rahasia mereka tenggelam dalam peluh dan desahan. Malam itu, di atas puncak kemewahan Aero Town, seorang pencopet dan seorang asisten yang terluka bersatu dalam dusta yang paling nikmat.
Saat fajar mulai menyingsing dan Aruna tertidur lelap di pelukannya, Gerald bangkit untuk memungut pakaiannya. Namun, sebuah kilatan cahaya merah kecil di sudut langit-langit menarik perhatiannya.
Sebuah kamera tersembunyi.
Kamera itu tidak mengarah ke pintu, tapi mengarah tepat ke tempat tidur. Gerald menyadari satu hal yang mengerikan. Seseorang telah merekam seluruh kejadian semalam, termasuk momen saat tato punggungnya terekspos jelas.
Lalu saat ia memeriksa ponsel Han yang tergeletak di meja, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal muncul. Tubuhnya gemetar, namun rasa penasarannya lebih kuat untuk melihat isi dari pesan masuk itu.
"Terima kasih atas pertunjukannya, Kakak. Video ini akan menjadi kado pernikahan yang indah dari Aruna untuk Kak Prilly ... atau tiket kematianmu di alun-alun kota pagi ini. Bagaimana reaksi Kak Prilly jika mengetahui tunangannya telah menghabiskan malam dengan asisten pribadinya? Pilihan ada di tanganku."
Gerald mendelik kaget setelah mengetahui isi chat tersebut. Ia menoleh ke arah Aruna yang masih terlelap, tidak menyadari bahwa pengkhianatannya telah menjadi senjata pemusnah masal bagi mereka berdua.
Apa yang harus Gerald lakukan untuk menghancurkan rekaman itu sebelum Crystal menyebarkannya?