Singa di Tengah Srigala

1311 Kata
Gedung pusat Skye Group berdiri seperti pedang perak yang menghujam langit Aero Town. Arsitekturnya yang aerodinamis dengan kaca-kaca anti-peluru berwarna krom memantulkan cahaya matahari pagi yang pucat. Bagi Gerald, gedung ini dulu hanyalah penanda arah di cakrawala saat ia dikejar polisi patroli. Kini, ia berada di dalam sedan limusin lapis baja yang meluncur mulus menuju lobi eksekutif. "Dengarkan saya sekali lagi," bisik Aruna, suaranya nyaris teredam oleh desis halus mesin mobil. "Di dalam ruangan itu ada dua belas direktur. Enam di antaranya sudah dibeli oleh Crystal. Tiga netral. Sisanya adalah loyalis lama ayah Anda. Crystal akan menyerang legitimasi kesehatan Anda. Dia akan menggunakan istilah-istilah teknis tentang proyek Aero-Core untuk menjebak Anda. Jika Anda tidak tahu jawabannya, tatap dia dengan dingin dan katakan, itu informasi rahasia yang belum saatnya kau ketahui." Gerald menyesuaikan letak kancing jasnya. Jantungnya berdegup kencang, tapi wajahnya tetap datar seperti topeng porselen. "Jangan khawatir, Aruna. Di jalanan, jika kau ragu saat menipu, kau akan berakhir dengan pisau di perut. Aku tahu cara menjaga wajah." Pintu mobil terbuka. Sepasukan petugas keamanan berseragam hitam segera membentuk barisan penghalang. Gerald melangkah keluar. Udara di lobi utama terasa steril, berbau ozon dan prestise. Setiap pasang mata karyawan yang lewat tertuju padanya. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas tumpahan minyak. Dia kembali. Han masih hidup. Lantai tertinggi gedung itu adalah sebuah ruangan bundar dengan dinding kaca transparan yang memperlihatkan seluruh Aero Town. Di tengahnya, sebuah meja oval besar dari batu obsidian menampung para penguasa kota. Saat Gerald melangkah masuk, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap. Di ujung meja, duduk seorang wanita dengan rambut bob hitam tajam dan gaun merah darah yang kontras dengan ruangan yang serba abu-abu. Crystal. Wanita itu sedang menyesap teh dari cangkir porselen tipis. Matanya yang tajam seperti elang segera terkunci pada Gerald. Ada jeda tiga detik yang terasa seperti keabadian sebelum Crystal meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang bergema. "Kakak," sapa Crystal. Suaranya merdu, tapi mengandung racun yang tersembunyi. "Kami hampir saja memesan karangan bunga duka cita. Laporan keamanan mengatakan kau menghilang setelah insiden di distrik bawah. Aku sangat khawatir ... kupikir kau sudah berakhir di tumpukan sampah bersama tikus-tikus The Gut." Gerald tidak langsung menjawab. Sesuai instruksi Aruna, ia berjalan menuju kursi utama di kepala meja, kursi yang saat ini diduduki oleh tas tangan mahal milik Crystal. Gerald berdiri tepat di depan wanita itu, menatapnya dari atas tanpa ekspresi. "Singkirkan tasmu," suara Gerald rendah, berat, dan penuh otoritas yang tidak bisa dibantah. "Atau aku akan menyuruh keamanan membuangnya ke tempat sampah yang baru saja kau sebutkan." Kilat kemarahan melintas di mata Crystal, tapi dia segera tersenyum tipis dan menarik tasnya. Gerald duduk, menyandarkan tubuhnya dengan santai namun tetap waspada. Di bawah meja, tangannya mengepal kuat untuk menyembunyikan getaran adrenalin. "Rapat dimulai," ujar Gerald dingin. Crystal tertawa kecil, suara yang membuat para direktur di ruangan itu bergidik. "Sangat dramatis. Tapi mari kita bicara fakta. Skye Group mengalami penurunan saham lima persen sejak kau menghilang. Pasar berpikir kau tidak stabil secara mental atau fisik. Terutama setelah insiden penyerangan itu. Apakah kau masih mampu memimpin, Han? Atau apakah benturan di kepalamu membuatmu lupa cara menjalankan kerajaan ini?" Salah satu direktur yang pro-Crystal, seorang pria tua bertubuh tambun bernama Miller, berdehem. "Kami butuh kepastian, Pak CEO. Kami mendengar Anda kehilangan kendali atas proyek Aero-Core. Jika Anda tidak bisa memberikan laporan teknis tentang stabilisasi energi minggu ini, dewan direksi memiliki hak untuk melakukan pemungutan suara darurat." Gerald melirik Aruna yang berdiri di belakangnya. Aruna memberikan kode kecil dengan jemarinya, sebuah isyarat bahwa ini adalah jebakan. "Proyek Aero-Core tetap sesuai jadwal," kata Gerald, otaknya memutar memori tentang apa yang pernah ia dengar di siaran berita ilegal di jalanan. "Kekhawatiran kalian adalah tanda kelemahan. Apakah Skye Group sekarang dijalankan oleh rasa takut akan fluktuasi pasar, atau oleh inovasi?" Crystal menyipitkan mata. "Inovasi butuh otak yang berfungsi, Kakak. Bicara soal itu, bagaimana dengan algoritma sinkronisasi fase keempat? Kau selalu membanggakan itu sebagai mahakaryamu. Bisakah kau menjelaskan kemajuannya pada dewan? Sekarang?" Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Ini adalah momen krusial. Gerald tidak tahu apa itu algoritma fase keempat. Dia hanya seorang pencopet yang belajar matematika dari menghitung hasil curian. Aruna di belakangnya mulai berkeringat dingin, tangannya bersiap menekan tombol pada tablet untuk mengirim bantuan suara ke earpiece Gerald. Gerald perlahan memajukan tubuhnya ke meja, menatap Crystal tepat di matanya. "Algoritma itu sudah berkembang melampaui apa yang bisa dipahami oleh otakmu yang hanya fokus pada angka penjualan, Crystal." "Oh ya? Coba jelaskan," tantang Crystal. Gerald tersenyum sinis, senyuman khas berandalan yang ia modifikasi menjadi senyum CEO yang arogan. "Kau ingin aku menjelaskan teknologi paling rahasia milik perusahaan ini di depan dewan yang bahkan tidak bisa menjaga kerahasiaan makan siang mereka? Di ruangan ini ada mata-mata pesaing, dan kau ingin aku membedah jantung Skye Group?" Gerald menggebrak meja dengan tangan kanannya. Suara dentuman itu membuat Miller tersentak. "Jika kau sangat ingin tahu, datanglah ke lab pribadiku tengah malam nanti. Tapi di sini? Di depan mereka? Pertanyaanmu bukan hanya bodoh, tapi juga mendekati pengkhianatan terhadap keamanan korporat." Beberapa direktur netral mulai berbisik, mengangguk setuju. Argumen keamanan adalah kartu as yang tak terbantahkan di Aero Town. Crystal menggertakkan gigi. Dia tahu Gerald sedang menghindar, tapi dia tidak bisa mendebat logika itu tanpa terlihat seperti amatir. "Kau berubah, Han. Kau biasanya lebih ... teknis. Sekarang kau bicara seperti politisi jalanan." "Mungkin karena aku baru saja melihat kematian di depan mataku," balas Gerald dengan nada tajam. "Dan itu memberiku perspektif baru tentang siapa saja orang-orang di sekitarku yang lebih berbahaya daripada pembunuh bayaran bermasker." Gerald berdiri, menandakan rapat selesai sebelum Crystal bisa menyerang lagi. "Rapat ditutup. Aruna, jadwalkan pemeriksaan ulang untuk semua protokol keamanan direksi. Aku ingin tahu siapa yang membocorkan lokasiku malam itu." Tanpa menunggu jawaban, Gerald melangkah keluar dengan langkah lebar dan mantap. Aruna mengikutinya dengan cepat, berusaha mengimbangi langkahnya yang penuh amarah tertahan. Begitu pintu lift eksekutif tertutup, Gerald langsung menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Napasnya terengah-engah. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Tadi itu ... sangat gila," batinnya resah. Aruna menatapnya dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Anda luar biasa, Pak ... Anda membalikkan keadaan dengan sangat cerdas. Crystal tampak sangat marah, dan itu adalah sesuatu yang jarang terjadi." "Dia tidak akan berhenti, Aruna," kata Gerald sambil menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengkilap. "Dia ragu akan diriku. Dia mungkin belum punya bukti, tapi dia merasakannya. Dia akan menggali lebih dalam." "Kita harus lebih cepat darinya," sahut Aruna. "Sekarang semua orang percaya Anda sehat. Kita punya waktu beberapa hari sebelum tuntutan laporan teknis berikutnya muncul." Saat lift mencapai lobi, pintu terbuka dan memperlihatkan kerumunan wartawan yang sudah menunggu di luar gerbang keamanan. Lampu kamera menyambar-nyambar seperti kilat. Gerald menarik napas panjang, memperbaiki posisi dasinya, dan menegakkan bahunya. Di depannya adalah lautan manusia yang memujanya sebagai dewa teknologi, sementara di belakangnya adalah jurang kematian yang disiapkan oleh adik tirinya. "Ingat," Aruna berbisik tepat sebelum mereka keluar ke publik. "Jangan tersenyum. Han tidak pernah tersenyum pada pers." Gerald mengangguk. Dia melangkah keluar dengan wajah sedingin es, menembus kerumunan itu seperti hiu yang membelah air. Dia bukan lagi Gerald si pencopet dari The Gut. Untuk sementara, dia adalah penguasa Aero Town, dan dia akan memainkan peran ini sampai tirai terakhir jatuh, atau sampai nyawanya melayang. Malam itu, di kantornya yang gelap, Crystal berdiri menatap pemandangan kota. Di tangannya ada sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV dari pertarungan Gerald di gang malam sebelumnya. "Pukulan itu," gumam Crystal pada asisten pribadinya. "Han tidak pernah belajar bela diri jalanan. Dia hanya tahu anggar dan aikido kelas atas. Pria yang di rapat tadi memiliki mata seorang pembunuh, bukan mata seorang kutu buku laboratorium." Crystal memutar ulang adegan di mana Gerald memukul jatuh bodyguard-nya. "Cari tahu siapa pria ini sebenarnya. Periksa semua database narapidana di The Gut. Aku ingin nama aslinya di mejaku sebelum matahari terbit." Permainan baru saja dimulai, dan Aero Town akan segera menjadi saksi jatuhnya seorang raja ... atau lahirnya seorang legenda dari jalanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN