Pagi itu, aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruang makan keluarga Leonor. Keith dan Paul tampak ceria, berbincang ringan sambil menyantap sarapan. Leonor duduk di seberang mereka, sesekali membalas dengan gumaman singkat, sorot matanya masih menyiratkan ketegangan yang belum reda. Keyli, di sisi lain, merasa seperti patung es yang hampir mencair, duduk di antara mereka dengan jantung berdebar. Setiap suap sarapan terasa hambar di lidahnya. "Leonor, Hazel," Paul memulai, suaranya lembut namun tegas, tidak ada nada permintaan di dalamnya. "Setelah ini, kita akan ke makam Liam. Kalian berdua ikut." Leonor mendongak dari piringnya, rahangnya mengeras. Ia melirik Keyli sekilas, tatapan dingin itu seolah mengirimkan peringatan. "Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor, Papa,"

