Spidol

1723 Kata
Setelah beberapa menit lamanya Granat Azeriyo mengajar di ruangan Ayriszya. Granat kembali berdiri untuk menjelaskan materi yang sudah terpampang di depan. Lain dengan Ayriszya yang fokus ke depan untuk mencerna materi yang disampaikan, para gadis-gadis yang ada di dalam ruangan tersebut malah fokus menatap dosen baru mereka. Granat menjelaskan materi sambil mondar-mandir ke kiri dan ke kanan. Dia pun mendekat kearah meja Ayriszya dan menyandarkan bokongnya tepat di meja gadis itu. Agar ia bisa lebih dekat dengan wanita yang sudah menarik perhatiannya itu. “Ngapain sih harus duduk di sini,” ucap Ayriszya dalam hati. “Supaya lebih jelas lagi. Saya akan menuliskan di papan tulis,” ucap Granat dan kembali duduk ke kursinya. Terlihat laki-laki itu mengacak-acak isi yang ada di dalam tasnya seakan-akan sedang mencari sesuatu. “Ada spidol?” tanyanya menatap para mahasiswa. “Tidak, Pak,” sahut beberapa gadis-gadis yang ada di dalam ruangan. Granat beranjak dari tempat duduknya menghampiri Ayriszya. “Kamu saya perintahkan untuk mengambil spidol di ruangan saya ... Kamu bisa tanya sama dosen-dosen yang ada di sana, di mana letak ruangan saya.” “Saya aja, Pak,” gumam Chika menawarkan diri. “Tidak perlu ... Kalian harus tau, selagi saya tidak menyuruh apa-apa. Kalian tidak perlu menawarkan diri,” ujar Granat tersenyum kecil. “Sombong banget,” batin Ayriszya. “Kamu boleh keluar, ambilkan saya spidolnya,” perintah Granat. “Sekarang, Pak?” tanya Ayriszya menaikkan sebelah alisnya. “Tidak! Tunggu saya keluar, terus kamu ambil spidolnya dan kalian belajar sendiri,” ucap Granat dan segera kembali duduk di kursinya. Ayriszya memutar bola mata malas, dia sampai tidak sadar ternyata dirinya diperhatikan oleh dosennya. “Kamu tidak suka saya suruh?” Ayriszya segera beranjak dari tempat duduknya. “Baik, pak,” ucapnya dan berlalu pergi dari ruang belajar. “Baiklah, selagi kita menunggu gadis itu datang. Kalian bisa ngobrol, tapi jaga nada suaranya. Jangan sampai kedengaran sampai keluar.” Semua mahasiswa terutama gadis-gadis sangat kagum dengan pria tersebut. Tidak ada dosen yang seperti dia, yang sangat tau dengan kondisi keadaan mahasiswanya. [] [] [] Sementara itu, Ayriszya yang sekarang berada di ruangan Granat sedang mencari spidol. Dia sama sekali tidak menemukan apa-apa di sana, beberapa laci sudah ia buka. Namun, Ayriszya sama sekali tidak menemukan spidol yang dimintai oleh dosennya tadi. “Ini dosen punya brangkas rahasia kali ya. Masak spidol aja nyimpennya jauh banget,” ucap Ayriszya sambil mencari benda yang disuruh Granat tadi. Beberapa menit kemudian, Ayriszya belum juga kembali ke dalam ruangan. Sedangkan teman-temannya yang di dalam sudah gerah tidak sabar untuk segera keluar. Granat menatap jam yang ada dilayar ponselnya, sekilas dia tersenyum mengingat gadis itu. “Rasain kamu saya kerjain. Makanya jangan judes.” Granat menatap beberapa mahasiswa yang ada di dalam ruangan. “Siapa nama perempuan yang keluar tadi?” tanyanya kepada para mahasiswa. “Ayriszya, Pak,” sahut Kayra. “Waktu terus berjalan, tapi dia belum datang juga. Kalau begitu saya tinggal dulu ya,” ucap dosen itu. “Ingat, jangan ribut,” lanjutnya dan segera keluar. Granat sudah memiliki rencana untuk mengerjai Ayriszya, dia sangat bersemangat menuju ke ruangannya. [] [] [] Saat Ayriszya sedang sibuk mencari spidol, tiba-tiba ia mendengar langkah kaki seseorang datang ke dalam ruangan dan mendengar suara pintu dibuka. Wanita itu kaget ketika mendengar pintu tersebut dikunci oleh seseorang. Ceklek! Secara langsung Ayriszya pun menoleh kearah orang itu. “Bapak,” lirihnya, ia pun langsung berdiri saat mengetahui kedatangan dosennya. “Pintunya kenapa dikunci?” tanya Ayriszya. “Kamu cari apa?” tanya Granat mendekati Ayriszya. Gadis itu mengernyitkan dahinya. “Saya cari spidol yang bapak suruh tadi.” “Kamu tidak perlu mencari spidol itu di laci. Spidolnya tidak ada di situ,” ungkap Granat. Ayriszya heran. “Terus di mana, Pak? Saya sudah capek lho dari tadi mondar-mandir, tapi spidolnya nggak ketemu juga,” ucap Ayriszya. Granat merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar tisu. “Sampai keringatan begini ya,” ucapnya mengusap buliran keringat yang ada di dahi gadis itu. Ayriszya terdiam kaku saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria. Ia menatap Granat Azeriyo tanpa berkedip, tiba-tiba ia tersadar saat pria itu tersenyum kepadanya. “Saya bisa sendiri, Pak!” ucapnya yang langsung mengambil tisu tersebut dari genggaman Granat. “Bisa sendiri tapi membiarkan saya melakukannya,” gumam Granat sambil tersenyum. “Pasti suka ‘kan sama perlakuan romantis saya?” tanya Granat. Ayriszya memutar bola mata malas, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan perlakuan pria itu kepada dirinya. Karena dia sudah sangat anti dengan yang namanya laki-laki. Tapi senyuman pria itu begitu manis hingga bisa membuat dirinya terpesona. “Terus Bapak simpan spidolnya di mana?” tanya Ayriszya. “Semua laci sudah saya cek, tapi saya nggak nemuin apa-apa.” Granat Azeriyo tersenyum lebar, Ayriszya tidak suka dengan pria itu. Tapi saat laki-laki itu menampilkan senyumannya lagi, dia malah merasa tenang dan damai. Karena menurutnya senyuman Granat sangat memabukkan. “Pak, saya tanya spidolnya di mana?” tanya Ayriszya lagi. Gadis itu mulai menunjukkan rasa kesalnya ada Granat Azeriyo. “Kenapa nada suara kamu seperti marah kepada saya?” “Saya nggak marah, Pak. Bapak nggak perlu senyum seperti tadi, itu bukan jawaban.” “Kenapa? Kamu takut kecanduan dengan senyuman saya?” tanyanya. “Jangan aneh-aneh, Pak. Spidol Bapak di mana biar saya ambil.” Ayriszya semakin kesal dengan dosen baru tersebut. Ingin rasanya dia segera keluar dari ruangan itu. Perlahan Granat mendekat kearah Ayriszya. “Kita di sini aja dulu. Jangan cepat-cepat keluar karena kalau di ruangan kelas banyak orang.” “Maksud Bapak apa sih? Bapak jangan kurang ajar ya.” Granat tersenyum kepada Ayriszya. “Spidolnya ada di bawah.” Ayriszya menatap aneh kearah Granat. “Huuh ... Dosen kok teledor,” ucapnya yang kemudian berjongkok memandang ke bawah kolong meja untuk mencari spidol tadi. Saat Ayriszya Salsabila memperhatikan kolong meja, dia sama sekali tidak melihat adanya spidol di sana. Bahkan di bawah meja tersebut sangat rapi dan bersih, satu sampah pun tidak ia temukan. “Mana, Pak?” tanya Ayriszya. “Nggak ada apa-apa,” ucap gadis itu mendongak ke atas. “Coba perhatikan baik-baik.” “Nggak ada, Pak. Di bawah meja Bapak bersih.” “Spidolnya ada di depan kamu,” ucap pria itu. Sejenak Ayriszya menatap ke depan, saat ini dia sedang menghadap kearah Granat Azeriyo. Seketika saja Ayriszya kaget, dengan susah payah dia menelan saliva nya. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Granat Azeriyo, dengan cepat Ayriszya kembali berdiri, namun dirinya hampir terjungkal ke belakang. Untung saja Granat langsung menggenggam lengan mahasiswinya itu. Suasana menjadi hening, Granat sangat tertarik dengan gadis yang ada didepannya sekarang. Ayriszya masih terdiam menatap pria yang berstatus sebagai dosennya itu. “Ternyata dia sangat tampan kalau dilihat sedekat ini,” batin Ayriszya. “Lepasin saya, Pak,” perintah Ayriszya. Granat malah tidak memperdulikan ucapan mahasiswinya. Dia langsung membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Ayriszya kaget saat mendapatkan perlakuan tersebut. Ketika dia hendak berteriak, mulutnya dibekap oleh Granat Azeriyo. “Jangan teriak, sayang. Saya tidak akan berbuat macam-macam sama kamu,” ucapnya. “Saya hanya ingin mengenal kamu lebih dekat,” ungkapnya. Ayriszya sama sekali tidak tau apa maksud dari kata-kata dosennya. Kini yang dia harapkan bisa lepas dari dekapan dosen muda tersebut. Ayriszya mencoba untuk melepaskan pelukan dari Granat. Namun tenaga pria itu lebih kuat dari pada dirinya. Dia mencoba menepis tangan Granat supaya tidak membekap mulutnya. “Saya jadi susah bernapas, Pak,” ucapnya setelah Granat menjauhkan tangannya. “Saya minta maaf,” ucapnya singkat. Kemudian Granat pun mendekatkan wajahnya kearah wajah gadis itu. “Bapak, mau apa?” tanya Ayriszya menahan tubuh pria itu agar tidak mendekatinya. “Kamu bilang susah bernapas. Saya bersedia memberikan napas buatan untuk kamu.” ucapnya dan kembali melancarkan aksinya. Mendengar perkataan laki-laki terhadapnya. Ayriszya segera menutup mulutnya dan dosen itu pun mengecup punggung tangan mahasiswi tersebut. “Nekat banget,” batin Ayriszya. “Bapak jangan kurang ajar ya,” ucapnya. “Tangan kamu wangi,” lirih Granat. Pria itu menatap lekat wajah Ayriszya. “Kamu cantik, saya suka! Saya harap kamu mau menjadi istri saya.” Ayriszya membulatkan matanya. Dia tidak percaya, jika akan ada dosen yang baru saja ia kenal malah melamar dirinya secara terang-terangan. “Maksud Bapak apa?” “Kamu dengar saya. Mulai hari ini kamu adalah milik saya. Kamu sudah membuat saya percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama,” ungkap pria itu. “Saya nggak mau sama Bapak,” tolak Ayriszya mentah-mentah. “Kalau kamu tidak mau sama saya. Dengan terpaksa saya akan memperkosa kamu, supaya kamu menjadi milik saya seutuhnya,” ancam pria itu. Ayriszya membulatkan matanya saat mendengar kalimat itu. “Bapak jangan kurang ajar, saya bisa melaporkan kelakuan bapak ini.” “Kurang ajar untuk mendapatkan kamu, saya rasa itu tidak terlalu buruk.” “Memangnya Bapak berani melakukan itu di tempat umum seperti ini?” tanya Ayriszya. “Demi mendapatkan kamu, saya akan melakukannya.” Granat mengeratkan pelukannya, wajahnya ia dekatkan kepada Ayriszya. Gadis itu pun memalingkan wajahnya sehingga Granat malah mengecup pipi anak didiknya itu. Ayriszya melotot saat dosen itu berhasil mengecupnya, untuk pertama kalinya dia dicium oleh pria. Kemudian dia menatap tajam kearah Granat. “Kenapa, hm?” tanya Granat. “Bapak adalah pria pertama yang mencium saya,” ungkap Ayriszya sambil memegangi pipinya. Granat tersenyum manis. Wanita seperti itulah yang dia inginkan. Belum pernah disentuh oleh laki-laki lain. “Apa sebelumnya kamu tidak pernah pacaran?” tanya Granat. “Pernah,” jawab Ayriszya menganggukkan kepalanya. “Pernah pacaran tapi belum pernah-” “Heh ... Bapak pikir saya perempuan apa,” ketus Ayriszya setelah memotong perkataan dosen muda itu. “Saya adalah orang pertama yang mengecup pipi kamu. Itu tandanya kamu harus menjadi pendamping hidup saya.” Ayriszya mengusap pipinya tepat di bagian yang dikecup oleh pria itu. Kemudian dia memajukan wajahnya untuk mendekat kearah wajah pria itu sambil memejamkan mata. Merasa mendapatkan lampu hijau, Granat juga ikut memejamkan matanya sambil tersenyum. Saat pria itu mulai lengah dan melonggarkan pelukannya, Ayriszya pun kembali membuka mata dan langsung mendorong Granat Azeriyo. “Tidak semudah itu untuk mendapatkan saya, pak,” ucap Ayriszya mengedipkan matanya. Gadis itu langsung keluar dari dalam ruangan. Sedangkan Granat tersenyum miring setelah mendengar pengakuan orang yang sedang dia incar tersebut. Granat Azeriyo merasa tertantang untuk mendapatkan Ayriszya Salsabila setelah melihat tingkah wanita itu. “Saya suka cara kamu menantang saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN