Sakit

1037 Kata
Sebelum membaca di Love agar tahu cerita kelanjutannya... "Aku ke kamar dulu yah" pamit Raihan Kemudian kembali ke kamarnya dengan membawa baskom yang berisi air hangat "luruskan kaki kamu" perintah Raihan lalu Naila pun menurutinya Raihan menetes handuk itu dan menempelkannya di kaki Naila yang sedikit membengkak "Awhh" rintihan Naila yang membuat kakinya sakit "Maaf sakit yah" Raihan merasa bersalah karena tidak pelan-pelan menempelkannya lalu Naila mengangguk setelah selesai mengompres kaki Naila dia pun menaruh baskomnya ke dapur tadi dan kembali ke kamarnya "Makasih mas udah ngobatin aku" ucap terima kasih Naila lalu Raihan mengangguk "Sudah kamu tidur sekarang" sambil membawa bantal berjalan ke arah sofa depan kasur "Mas kamu kenapa tidur di sofa" tanya Naila yang aneh melihat suaminya itu membawa bantal dan tidur di sofa depannya "Saya gak mau ganggu tidur kamu" jawab Raihan "Mas malam ini kan malam..." Belum sempat Naila berbicara Raihan memotong pembicaraan istrinya "Sudah kamu tidur udah malam" Naila pun menuruti perintah suaminya dan tertidur Pagi hari jam 04.30 shubuh bangun dari tidurnya untuk bersiap-siap ke masjid ia pun membangunkan istrinya yaitu Naila dengan mengguncangkan bahunya sedikit pelan "Nai bangun udah shubuh sholat dulu yuk" Raihan menggoyangkan bahu Naila dengan lembut untuk membangunkannya "Ihh apaan sih masih ngantuk tau sana kamu shalat sendirinya mas" naila masih tetap memejamkan matanya dan membalik arah membelakangi Raihan "Shalat dulu gak baik tunda-tunda" nasihat Raihan tapi tetap saja Naila tidak menghiraukannya kemudian Raihan langsung menggendong Naila menuju kamar mandi "Aaaakhhh" teriak Naila yang digendong oleh suaminya itu Raihan menaruh istrinya di bathtub "Ihh mas ngapain sih gendong aku" omel Naila yang sudah di rendam di bathtub "Mandi atau aku yang mandikannya" ancam Raihan istrinya pun ngedumel kepada suaminya itu "Beraninya ngancam-ngancam" dumel Naila Raihan mendengar perkataan istri kecilnya itu "Saya dengar? apa mau saya mandikan" Raihan mendekati Naila semakin dekat sampai hidungnya menyentuh hidung Naila yang mungil itu tidak beberapa bibirnya mendaratkan dibibir Naila dia pun langsung kabur dari kamar mandinya "RAIHAN" teriak Naila yang berada di dalam kamar mandi sedangkan Raihan hanya tertawa yang berada di luar kamar mandinya Apakah aku sanggup jika harus kehilangan Raihan jika anak kita sudah lahir nanti rasanya tidak? -Naila "Rai mas ke masjid dulu takut ketinggalan sholat shubuhnya assalamu'alaikum" ucap salam raihan istrinya pun mencium tangan suaminya dan Raihan mencium kening Naila kemudian dia pun pergi ke masjid sedangkan Naila keluar dari kamarnya untuk membantu kakaknya masak "Kak aku bantu yah" kata Naila lalu Hanifah mengangguk dan tersenyum sambil memasak Naila membantu kakaknya memotong bawang dan lain-lainnya "Oh iya dek gimana semalam malam pertamanya" tanya Hanifah yang sedikit sedih karena sebenarnya dia tidak rela jika suaminya dibagi dua "Hmm... Aku belum melakukan itu kak" Naila menjawab dengan jujur "Kenapa bukannya tujuan kalian ingin mempunyai anak kan" Sindir Hanifah karena dia ingin adiknya cepat-cepat cerai dengan suaminya dia hanya ingin tidak ada lagi penghalang mereka berdua "Maaf kak kemarin kaki ku sakit jadi gak bisa deh" lirih Naila dengan menundukkan kepalanya "Kakak gak mau tau besok malam kamu harus melakukannya kalo malam ini kan jatah mas raihan tidur di kamar ku jadi besok kamu harus melakukannya" jelas Hanifah membawa masakan tadi ke meja makan tidak berapa lama Raihan baru datang dari masjid dan kami pun mencium tangannya setelah itu kami bertiga duduk di kursi kosong "Mas nanti malam tidur dikamar ku kan" tanya Hanifah kepada suaminya "Iya" Raihan pun hanya menjawab dengan singkat dan menatap Naila yang sedang melamun "Mas mau pake lauk apa" Hanifah melayani makanan suaminya itu Naila hanya terdiam padahal dia cemburu melihat keromantisan mereka berdua "Apa aja Sayang" hati Naila sakit mendengar panggilan Raihan untuk Hanifah kenapa dia harus cemburu seharusnya dia ingat keberadaan Naila disini hanya membutuhkan rahimnya bukan orang nya "Nai kamu kenapa diam aja" tanya Raihan dengan lembut yang sedang melihat istri kecilnya melamun "Gapapa mas" jawab Naila sambil memakan makanannya "Nanti berangkat ke kampus bareng aku kan" "Hmm... Aku naik angkot aja" "Kenapa" Raihan mengerutkan keningnya dia heran kenapa dia tidak mau berangkat bareng "Aku gak mau fans-fans kamu tau mas kalo kita udah nikah nanti dia pikir macammacam lagi" "Jangan dengarkan omongan mereka biarin aja mereka mau ngomong apa" raihan tidak menanggapi perkataan-perkataan fansnya itu "Udah deh nai kamu ikutin aja mas Raihan gak usah dengerin omongan mereka" jelas Hanifah sambil memainkan sendoknya yang berada dipiringnya setelah mereka makan Naila dan Raihan berangkat kuliah didalam mobil mereka saling diam tidak ada percakapan lagi Naila masih memikirkan perkataan kakaknya itu apa dia harus melakukannya dengan kakak iparnya yang sudah sah menjadi suaminya "Nai" panggil Raihan tapi Naila tidak menanggapinya dia sibuk memikirkan perkataan kakaknya itu "Nai" panggil Raihan sekali lagi tapi dia tetap tidak menjawabnya Raihan memegang tangan Naila dan mencium tangannya itu Naila menengok ke arah Raihan jika tangannya itu dipegang dan dicium "Nai kamu kenapa cerita sama aku" tanya raihan sembari mencium tangan istrinya "Aku gapapa kok" "Nai jawab dengan jujur mas gak mu kmu menyembunyikan sesuatu dari mas" "Kak Hani bilang besok kita harus melakukan hubungan suami istri karena dia ingin cepat-cepat punya anak mas" naila menjelaskan apa yang diucapkan kakaknya "Udah gak usah ditanggapin Hani biar mas yang bicara nanti" ujar Raihan sambil menyetir mobilnya "Tapi mas yang dimaksud kak Hani itu benar tujuan kita menikah itu untuk memiliki anak setelah itu kita bercerai" lirih Naila dengan menundukkan kepalanya "GK gak ada kata perceraian aku gak akan menceraikan kamu nai aku cinta sama kamu aku gak bisa kehilangan kamu" Raihan tidka menyetujui perceraian itu karena dia sudah mulai cinta dengan Naila dia gak sanggup kehilangan istri tercintanya "Kamu gak boleh egois dong mas kamu harus memilih diantara kita berdua kita juga butuh kepastian mas dan kita gak mau diduain mana ada sih wanita yang mau diduain kamu harus pilih salah satu mas" jelas Naila "Ok aku bakal pilih kamu" Raihan memutuskan memilih Naila karena perasaan dia ke Hanifah sudah mulai hilang dan kenapa dia mulai cinta dengan Naila "Apa? Gak aku gak setuju kamu harus pilih kak Hani mas aku gak mau hubungan seorang adik kakak hancur mas aku gak mau hianatin kakak ku sendiri apa kamu tega mas melakukan itu ke kak Hani dia mencintai kamu mas" Naila tidak menyetujui keputusan suaminya karena di sudah banyak menyusahkan kakaknya dia gak mau balas kebaikan kakaknya dengan menghianatinya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN