03 |PRIA TIDAK WARAS

2613 Kata
“KARENA kamu adalah milikku.” Kyra menatap kikuk pria di depannya. Apa barusan dia salah dengar? Tidak mungkin kan seorang Daniel Shristauffer yang berkelas, amat diagung-agungkan banyak orang dan seorang CEO perusahaan secara personal mengklaim kalangan bawah yang baru pertama kali ia temui beberapa menit sebagai miliknya? “Ma-maaf Tuan, tapi… Anda barusan bicara apa?” Kyra bertanya, memastikan bahwa telinganya memang salah mendengar perkataan Daniel sebelum ini. Sedangkan di sisi lain, Tania yang tadi ikut mendengar dan melihat obrolan Kyra dengan atasannya segera berjalan mendekati mereka. Daniel hampir ingin mengulang ucapannya lagi agar Kyra mengerti, tetapi tertunda akibat kedatangan sekretarisnya. “Maaf Pak, apa sedang ada masalah?” Tania bertanya sambil menatap wajah Daniel dan Kyra bergantian. “Tidak ada. Aku hanya meminta wanita pengantar ini menemaniku makan siang,” jawab Daniel terang-terangan lalu kembali memusatkan pandangan ke arah Kyra. Kyra menelan ludah, gugup. Ternyata dia tidak salah dengar, Daniel memang memintanya menemani makan siang. Suatu permintaan umum yang sayangnya terkesan mengerikan bagi wanita biasa seperti Kyra. “Apa kau akan terus berdiri di sana? Cepat masuk! Aku sudah lapar,” gertak Daniel lalu masuk lebih dulu ke dalam ruangannya. Meninggalkan Kyra dan Tania berdua di depan pintu. Kedua wanita itu nampak cengo, tidak paham mengenai situasi yang telah terjadi saat ini. “KYRA!” Teriakan harimau Daniel menyentak Kyra agar segera masuk. “Sa-saya masuk dulu ya mbak Tania,” pamit Kyra, kemudian berlalu melewati Tania yang masih terbengong di tempatnya. Lalu di sanalah Kyra berakhir, satu ruangan bersama CEO Stauffer Group yang sedang menikmati makan siangnya. Kyra diam-diam merutuki Daniel dalam hati, padahal tadi pria itu bilang kehilangan nafsu makan namun sekarang malah lahap memakan katering restorannya. Orang kaya memang selalu berbuat seenaknya! Dan tidak ada satupun orang yang bisa melarang. “Siapa nama lengkapmu?” Daniel bertanya setelah menghabiskan makanannya dan sekarang sedang membuka tutup botol air mineralnya. Melihat peluh yang menetes dari kening Daniel akibat kepedasan serta gayanya membuka tutup botol anehnya terlihat begitu seksi di mata Kyra dan membuat wanita itu tidak fokus dengan pertanyaan yang sebelum ini Daniel lontarkan padanya. Demi Tuhan… mengapa pria di depannya ini begitu seksi hingga membuat Kyra tak mampu mengalihkan pandangannya barang sejenak. Cara Daniel menuangkan air ke dalam mulut lalu jakunnya yang naik-turun menelan air merupakan pemandangan paling menggiurkan yang pernah Kyra lihat. Tunggu dulu, Kyra tidak mungkin ‘basah’ hanya karena melihat ini kan? “Kyra.” Kesadaran Kyra kembali terenggut begitu Daniel memanggil namanya. “Ya Tuan?” sahut Kyra, sambil buru-buru menormalkan ekspresinya supaya tidak ketahuan jika sedari tadi dirinya sedang memerhatikan Daniel. “Kamu tidak menjawab pertanyaanku,” ujar Daniel kemudian mengarahkan mata elangnya menatap Kyra, dan seketika membuat wanita itu panik. “Ha? Pertanyaan apa Tuan?” Senyum simpul terbit di bibir Daniel. “Aku bertanya siapa nama lengkapmu,” jawab Daniel tanpa melepas pandangan dari Kyra. “Oh itu… emm… na-nama saya…” Kyra meringis karena dia bicara seperti orang bodoh karena gugup. Padahal Daniel hanya bertanya siapa nama lengkapnya. Harusnya Kyra mampu menjawabnya dengan mudah. “Nama lengkap saya, Kyra Anasya.” Butuh beberapa detik bagi Kyra untuk bisa menjawab tanpa gugup dan benar. Rupanya aura mengintimidasi Daniel benar-benar memengaruhi semua lawan bicaranya, termasuk Kyra. Entah kenapa Kyra selalu sesak dan gugup saat berhadapan dengan pria tersebut walaupun Daniel berbicara santai padanya. “Di mana kamu tinggal?” Daniel bertanya lagi. Kali ini Kyra bisa menjawab leluasa karena Daniel tak lagi melihatnya dan sibuk membenarkan jasnya yang sedikit kusut. “Saya tinggal di Apartemen dekat restoran tempat saya bekerja.” “Apartemen?” Mata elang Daniel kembali mengarah pada Kyra. “I-iya Tuan, saya tinggal sendiri di apartemen.” Kyra lagi-lagi diserang rasa gugup ketika kembali ditatap oleh sepasang mata berwarna biru milik Daniel. Oh iya, bicara soal warna mata. Kyra baru sadar kalau Daniel seorang blasteran karena memiliki warna mata yang berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. “Kenapa kamu tinggal di apartemen? Kenapa tidak tinggal di rumah bersama keluargamu?” Untuk ukuran orang yang baru bertemu sehari, Daniel ternyata sangat kepo. Apa wajar bagi orang asing menanyakan hal pribadi ke orang yang baru ditemuinya? Berusaha menghindari pertanyaan Daniel, Kyra pura-pura mengecek jam di pergelangan tangannya lalu berdiri dari sofa sambil berujar, “Sudah waktunya saya kembali ke restoran, saya bisa dipecat kalau tidak segera kembali.” Daniel mengernyitkan dahi keberatan, ia hendak berbicara sesuatu namun Kyra yang sadar bergegas menyelatnya. “Tidak ada waktu lagi Tuan! Maaf saya harus pergi, terima kasih sudah memesan di restoran Nyonya Desi. Saya izin pergi, sampai jumpa…” Kyra berucap cepat lalu berlari menuju pintu keluar. Baru sekian detik Kyra merasa lega karena berhasil memegang handel pintu dan berpikir ia akan segera keluar dari ruangan, tapi semua itu dipatahkan oleh Daniel yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya sambil menahan satu tangan Kyra yang lain. “Hmmpttt!!!!” Teriakan Kyra terendam tangan Daniel yang membekap mulutnya. Wanita itu kemudian terkejut saat Daniel tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan menyudutkan Kyra ke daun pintu masih dengan posisi tangan membungkam bibirnya bak seorang tawanan. “Siapa yang menyuruhmu pergi dari ruanganku hmm?” Daniel berbisik lembut namun penuh ancaman. Membuat Kyra beringsut di bawah kungkungannya. Daniel segera melepas tangannya ketika melihat sarat ketakutan dari sepasang mata cokelat Kyra. Pria itu mendadak teringat wanita yang mirip Kyra di masa lalunya. Wanita spesial yang sayangnya kini telah meninggalkan Daniel selamanya. Dan kemiripannya dengan Kyra hampir membuat Daniel berharap wanitanya kembali. Andai wanitanya masih hidup, mungkin Daniel tidak akan merasa kesepian seperti sekarang. Jemari Daniel refleks menyentuh rahang pipi Kyra yang menegang merasakan sentuhannya. Daniel membelainya perlahan, membayangkan Kyra adalah wanitanya di masa lalu. “Aku merindukanmu.” Kyra tertegun mendengar nada penuh kesedihan serta sorot mata kerinduhan yang terpancar di wajah Daniel saat ini. Sekilas sosok Mr.Stauffer yang terkenal dingin dan arogan lenyap menyisakan sosok Mr.Stauffer yang lembut dan penuh cinta. Kyra bahkan ikut hanyut dalam buaian perasaan yang dirinya sendiri tidak mengerti. Yang jelas, ada letupan-letupan bahagia yang memenuhi rongga dadanya serta perasaan membuncah yang membuat sudut matanya basah. Kedua tangan Daniel membingkai pipi Kyra, pria itu kemudian mendekatkan bibirnya. Tidak bisa menahan hasrat untuk tidak mencium bibir merah Kyra. Daniel juga mendesak, sengaja menempelkan tubuhnya dengan Kyra supaya wanita itu tahu betapa bergairahnya Daniel sekarang. “Tuan.” Lalu satu ucapan yang keluar dari bibir Kyra berhasil merusak segalanya. Daniel terbelalak mendengar suara serak Kyra yang membangunkannya dari bayangan masa lalu. Wanitanya sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu, Daniel berusaha mengembalikan kewarasannya agar tidak menganggap Kyra sebagai pengganti wanita itu. “Kurasa, kita sudah terlalu jauh,” ujar Kyra, kemudian mendorong daadda Daniel untuk memberi tubuh mereka jarak. Daniel yang masih sibuk mengumpulkan kesadaran terhempas begitu saja ke belakang saat Kyra mendorongnya. Pria itu kemudian menatap tajam wanita di depannya. “Kau berani padaku?” Daniel menggeram marah. Kelembutan yang tadi sempat Kyra tangkap di wajah Daniel kini sudah menghilang lagi, mengembalikan Daniel ke sosoknya seperti semula yang bengis dan arogan. “Tentu saja saya pasti berani jika Anda berbuat hal yang tidak senonoh pada saya!” Kyra melawan, kali ini tidak gugup seperti saat berhadapan dengan Daniel sebelumnya. Daniel mendecih pelan meremehkan keberanian Kyra. “Menarik,” komentarnya dengan seringaian nakal. Kyra menganga mendengar pujian Daniel yang terkesan meledeknya. Karena tidak terima, ia pun membela diri. “Ingat ya Tuan Stauffer. Anda tidak bisa berbuat seenaknya dengan orang lain, apalagi pada seorang perempuan. Itu melanggar hak asasi!” Salah satu alis Daniel terangkat mendengar racauan Kyra. “Melanggar hak asasi?” “Iya!” Kyra menelan ludah, menyembunyikan kegugupannya dengan sok berkata tegas, “Manusia memiliki hak pada dirinya masing-masing, Anda tidak boleh memaksakan kehendak orang lain. Apalagi memaksa menyentuhnya! Anda bisa kena pasal!” “Aku? Terkena pasal?” Daniel tertawa sumbang. Pria itu kemudian mulai mendekati Kyra lagi, kali ini sambil menampilkan senyum bak seorang Joker yang hendak membunuh korbannya. “Bagaimana jika…” Daniel sengaja menggantungkan ucapannya, memancing rasa penasaran Kyra. Sementara Kyra mengambil langkah mundur saat firasatnya tidak enak, tetapi terhalang oleh pintu yang berada tepat di belakang tubuhnya. Keadaan itupun kembali membuat Daniel berhasil menyudutkan Kyra. Dia lagi-lagi mendesak tubuh Kyra, lalu mendekatkan bibirnya ke samping telinga Kyra dan berbisik, “…wanita yang kusentuh adalah milikku.” Kyra spontan menendang di antara dua kaki Daniel sebagai upaya pertahanan diri. Sedangkan Daniel sama sekali tidak berpikiran risiko atas perbuatannya tentang Kyra yang akan seberani ini menendang organ vitalnya. “Arrghhh!” Daniel mengerang saat merasakan rasa sakit yang luar biasa. Membuat Kyra ikut-ikutan ngilu mendengar ringisannya. Apa dia menendang terlalu keras? batin Kyra, mendadak tidak tega melihat kondisi Daniel yang begitu kesakitan. Tetapi semua itu pantas didapatkan laki-laki kurang ajar seperti Daniel, Kyra tidak boleh menyesalinya, ia harus profesional jika ingin membalas dendam. “Rasakan itu! Dasar pria tidak waras!” maki Kyra sambil tersenyum puas. Lalu seolah belum puas, Kyra kembali menambahkan makiannya. “Asal Anda tahu saja ya. Saya bukan wanita yang akan begitu mudahnya menjadi milik Anda! Silahkan Anda cari wanita lainnya, saya tidak sudi!” Tak mau lama-lama lagi berurusan dengan pria di depannya, Kyra kemudian segera keluar dan meninggalkan Daniel yang menanggung rasa sakit sendirian di ruangannya. *** Malam harinya, Kyra tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi hari ini. Terutama saat dia terjebak bersama Daniel dalam satu ruangan. Dadanya bergemuruh mengingat wajah tampan Daniel yang tadi hampir saja menciumnya. Ya Tuhan… kenapa ia terus memikirkannya? Kyra menutup wajah menggunakan bantal, berusaha mengusir angan-angan Daniel dari kepalanya. Tetapi ketika Kyra menutup mata, bayangan wajah Daniel malah semakin tampak jelas. Arrggh… harus Kyra akui Daniel memang memiliki pesona yang luar biasa. Kyra berani bertaruh bukan hanya dirinya saja yang dibuat begini oleh Daniel, tapi semua wanita yang menemuinya! Helo? Wanita mana sih yang tidak akan terbawa perasaan hanya dengan satu kali melihat Daniel. Tajir, iya. Ganteng, banget. Masa depan, jelas nggak perlu diragukan lagi kalau hidup bersama pria itu. Tapi siapa juga yang bisa tahan menghadapi sifat bengis dan arogannya? Setiap hari bisa dibuat kejang-kejang akibat meladeni sifat Daniel yang mirip harimau. Selain itu, aura mengintimidasinya yang selalu mampu membuat lawan bicaranya merasa tertekan hingga sesak napas. Ugh… bisa mati perlahan kalau berdekatan dengan Daniel terus. Tok, tok, tok. Lamunan Kyra terpecah begitu ia kedapatan tamu. Kyra lalu keluar dari dalam kamarnya untuk membukakan pintu. Seorang pria berseragam polisi muncul dibalik pintu apartemen Kyra sambil tersenyum. “Ray?” Kyra bingung melihat tetangganya yang masih memakai seragam pekerjaannya langsung berkunjung ke apartemennya. “Hai Kyra. Boleh aku masuk? Aku membawakan nasi goreng kesukaanmu,” balas Ray sambil mengangkat kantung plastik berisi dua bungkus nasi goreng di tangannya. “Boleh silahkan.” Kyra memberi ruang bagi Ray untuk masuk. Lalu seolah sudah sering berkunjung, Ray langsung ngacir ke wastafel dapur untuk mencuci tangan dan mengambil dua piring beserta sendok di lemari. Sementara Kyra sang penghuni apartemen menunggunya di sofa ruang tamu menghadap televisi. “Kamu baru pulang jam segini?” Kyra bertanya ketika Ray sampai ke ruang tamu membawakan piring serta sendok untuk mereka berdua makan. “Iya, aku lembur dari kemarin dan baru pulang malam ini. Aku sangat lapar dan lelah,” jawab Ray. Ia memang terlihat letih, namun sama sekali tak mengurangi ketampanan di wajahnya. Jujur saja, Kyra sudah menyukai Ray sejak hari pertama mereka bertemu. Saat itu Kyra baru pulang dari bekerja dan ditodong oleh preman jalanan yang meminta uangnya. Kyra yang waktu itu ketakutan hampir saja menyerahkan semua barang berharganya, tetapi beruntung Ray datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan Kyra. Di hari yang sama itu pula Kyra dan Ray akhirnya tahu bahwa mereka tinggal di apartemen yang sama, bahkan tetanggaan. Kemudian sejak insiden itu, Ray dan Kyra berteman baik sampai sekarang. Mereka sering menghabiskan waktu bersama layaknya seorang sahabat. “Aku menyimpan vitamin di kotak obat, kau harus rutin meminumnya supaya tidak gampang sakit karena sering kelelahan,” nasihat Kyra, lalu berdiri mengambilkan vitamin yang ia miliki dan memberikannya pada Ray. “Minum ini setelah makan,” kata Kyra setelah Ray menerima vitamin pemberiannya. “Siap! Terima kasih Kyra,” sahut Ray. “Yuk kita makan, keburu dingin,” ujar Ray sambil menepuk tempat kosong di sampingnya supaya Kyra duduk di sana. Kyra menurut, lalu makan nasi goreng bersama Ray sambil menikmati acara televisi. “Bagaimana harimu? Apa semua baik-baik saja?” Ray bertanya disela aktivitasnya mengunyah nasi goreng. Kyra menelan makannya lebih dulu sebelum kemudian menyahut, “Cukup sial.” “Sial? Kenapa?” “Hari ini Jakarta macet sekali, membuatku terlambat mengantar katering makanan ke perusahaan Stauffer Group. Alhasil, aku dimarahi habis-habisan bahkan oleh CEO Stauffer Group sendiri.” Kyra menceritakan tentang kesialannya hari ini. Tapi bukannya mengasihani Kyra, Ray justru terkejut mendengar Kyra menyebutkan nama perusahaan terkenal yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan di televisi. “Stauffer Group?!!” Kyra bosan melihat ekspresi orang-orang yang selalu terkejut ketika mendengar nama Stauffer Group dibicarakan. Well, perusahaan itu memang sangat fantastis saat Kyra membaca artikelnya di internet. Tapi setelah tahu betapa buruknya kelakuan CEO di perusahaan itu membuat Kyra kehilangan minat pada perusahaan itu. Dirinya bahkan tidak percaya pria arogan yang ia temui tadi siang bisa dinobatkan sebagai CEO paling visioner tahun ini. Ayolah… Daniel tidak pantas mendapat penghargaan tersebut. Seharusnya Daniel diberi penghargaan sebagai pria paling mengerikan sejagad maya karena selalu berhasil menghantui setiap orang yang ditemuinya. Kyra jadi menebak-nebak, mungkin makhluk gaib sejenis hantu pun ikut menakutinya juga. “Kyra, kamu tidak berbohong kan? Kau benar-benar pergi ke Stauffer Group dan bertemu langsung dengan CEOnya?!” Ray meninggalkan makanannya untuk bertanya heboh pada Kyra yang menjawabnya dengan anggukan kepala malas. “Wow! Kau beruntung. Perusahaan itu tidak sembarangan mengizinkan orang luar masuk. Dahulu aku pernah sekali masuk ke sana untuk melamar pekerjaan, tapi sayangnya aku tidak diterima.” Ray bercerita dengan wajah murung. “Bukankah itu bagus? Tuhan menggantikan pekerjaan lainnya dengan diterimanya kau menjadi seorang polisi,” sahut Kyra. “Tapi Stauffer Group adalah impian semua orang. Gaji di sana sangat besar, katanya jika kita memiliki jabatan yang bagus di sana, kita juga bisa mendapat fasilitas mewah dari perusahaan. Perusahaan itu menjamin kehidupan pegawainya! Keren bukan? Dijaman sekarang, mana ada perusahaan yang mau memberi royalti pegawai sebesar itu.” Ray terlalu melebih-lebihkan. Kyra hanya mendengus tidak tertarik mendengar ocehannya. “Tapi bagiku, pekerjaanmu yang sekarang jauh lebih hebat daripada harus menjadi pegawai di perusahaan itu.” Ray tertegun mendengar penuturan Kyra yang lebih memilih pekerjaannya. “Menurutmu seperti itu?” tanya Ray. “Yup! Jadi berbanggalah dengan profesimu sebagai seorang polisi Ray!” Kyra memberi semangat, dan hal itu membuat Ray merasa sangat senang. Ray kemudian terdiam sejenak untuk berpikir. Apakah ini momen yang tepat baginya untuk menembak Kyra? “Emm Kyra,” panggil Ray dengan ragu. Kyra yang baru saja memasukkan satu suapan nasi goreng ke dalam mulutnya menoleh. “Ya? Kenapa?” tanya Kyra dengan mulut penuh oleh makanan. “Apa… ka-kau mau menjadi pacarku?” Ungkapan Ray membuat Kyra seketika membeku. Beruntung nasi goreng yang masih ada di dalam mulutnya tak jatuh ke lantai saking terkejutnya dirinya. ‘Kenapa saya harus menemani Tuan makan siang?’ ‘Karena kamu adalah milikku.’ Kenapa di saat seperti ini justru ucapan Daniel yang masuk ke dalam pikirannya. Aish! Sepertinya tanpa sadar Kyra sudah terperosok dalam pesona seorang Daniel Stauffer. Tapi bukankah selama ini ia menyukai Ray? Harusnya Kyra bahagia mendengar Ray memintanya menjadi pacar, tapi kenapa ia tidak merasakan apapun sekarang? Apa semua ini karena pertemuannya dengan Daniel tadi siang? Sebegitu besarnya kah efek pesona Daniel hingga hanya dalam hitungan sehari Kyra bisa langsung berganti melabuhkan cintanya pada laki-laki itu? Ya Tuhan, Kyra harus menjawab apa pada Ray? Semua ini gara-gara Mr.Stauffer yang memporak-porandakan perasaannya. Andai hari ini bukan Kyra yang dipilih mengantarkan katering ke perusahaan, mungkin nasibnya tidak akan berakhir sesulit ini. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN