SEMILIR angin malam seketika menyelimuti tubuh Kyra yang kedinginan karena atasan gaunnya terbuka. Berlari keluar gedung ternyata bukan pilihan tepat mengingat sekarang sedang musim penghujan hingga membuat hawa malam semakin terasa dingin. Kyra hanya berharap langit tidak ikut menumpahkan kesedihan lewat hujan yang mungkin semakin memperburuk keadaannya saat ini. Wanita itu merengkuh tubuhnya sendiri mencari kehangatan sementara kedua kakinya terus berjalan menyusuri jalan yang terlihat tidak begitu ramai. Kyra sama sekali lupa dengan siapa dia pergi, satu-satunya hal yang ia pikirkan sekarang hanyalah ibunya. Kyra bahagia karena Tuhan akhirnya memberi kesempatan untuknya melihat wajah ibunya, tetapi ntah kenapa Tuhan lebih dulu memperlihatkan wajah ibunya yang terluka dan yang sudah ia

