17

1569 Kata

    Bumi merapatkan selimut yang mulai turun itu setelah mengecek suhu tubuh Eka yang mulai stabil setelah semalaman demam. Bumi cukup lega karena selain keras kepala, nyatanya gadis ini juga punya imun yang cukup bagus. Kini hari sudah pagi dan Bumi harus bersiap menuju kantor.     “ Tuan tidak sarapan?” Rere yang menyiapkan sarapan bertanya dengan sedikit kaku.     “ Tidak.” Jawaban yang sangat singkat karena Bumi langsung pergi begitu saja dari penthouse, membanting pintu besar itu dengan keras. Rere menarik nafas panjang atas kelakuan pria satu itu.     “ Deka, kamu sarapan dulu. Kakak mau lihat kondisi Kak Eka dulu.” Ucapnya pada Deka yang menganggukkan kepalanya setelah disiapkan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya. Rere mengetuk pintu sebelum membukanya pelan,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN