Wanita itu mengikat tinggi rambut panjangnya, menggerakan otot kepalanya dengan mata menatap tajam wajah Bumi yang berdiri beberapa meter didepannya itu. “ Bagaimana kalau kita bertaruh.” Usul Bumi dengan berkacak pinggang. “ Silahkan saja!” Eka tidak takut dengan tantangan pria besar satu ini. Malah yang ada dia ingin menghajar habis wajah sok tampan satu itu dan membuatnya jatuh dengan cepat. “ Baguslah kalau kamu setuju.” Sejenak pria itu berpikir, “ Yang kalah harus menuruti semua keinginan si pemenang, cukup adil bukan?” “ Ok!” Tanpa aba- aba, Eka langsung menyerang pria satu itu, menjatuhkannya dalam sekali serangan dan mengunci pergerakan tubuh pria besar itu. “ Nona, kenapa kamu buru- buru sekali?” umpat Bumi, “ Tidakkah kamu melihat lawanmu b

