Beruang Butuh Asupan Gizi

2541 Kata
Tak tahu harus mencari kemana lagi, akhirnya Keanu memutuskan kembali memantau rumah kecil milik gadis dingin satu itu. Cukup lama dia menunggu sampai akhirnya sebuah taksi berhenti didepan rumah dan sosok yang semalam menghilang itu keluar dari balik roda besi. Nafas lega terhembus dari pria itu, setidaknya dia tidak apa- apa dan nanti malam sepertinya gadis itu akan pergi ke Club itu lagi, ingat bukan cluth serta ponsel gadis itu tertinggal disana yang dengan sengaja Keanu titipkan pada sang bartender dengan imbalan yang lumayan. “ Jangan pernah katakan apapun padanya. Mengerti?” “ Sangat mengerti.” Pria itu tersenyum ramah dan melambaikan tangannya pada Keanu yang menghilang dikeruman manusia yang menggila itu. Ditempat yang berbeda, Awan cerah menghiasi wajah pria Alpha satu itu, bahkan berulang kali dia melempar senyum pada setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Bahkan Seorang Office boy yang selalu menjadi sasaran kemarahan tidak jelasnya itu mendapatkan tips besar darinya karena kopi buatannya kali ini sesuai dengan seleranya. “ Pihak Jerman ingin pengiriman bahan baku dari Vietnam untuk sementara di stop karena adanya perbedaan jenis dan nomor seri untuk produksi running Shoes untuk musim depan. Jadi untuk sementara Line 4 dan Line 5 yang mengerjakan order tersebut akan mengerjakan produk lokal yang eksportnya minggu depan.” Ucap Manager produksi setelah membaca skema pembagian PO di Line. Bumi menganggukkan kepalanya dan menutup laporan yang diberikan padanya dan menandatangani berkas tersebut. “ Pastikan semua beres sesuai dengan keinginan Custumer!” ucapnya tegas sebelum meninggalkan ruang meeting itu. “ Hasil meeting akan saya email secepatnya Tuan Bumi.” Ucap Bayu. Bumi hanya mengangguk singkat sebelum meraih handle pintu dan masuk kedalam ruangannya. Ada beberapa berkas yang harus dia urus setelahnya pria itu free dengan begitu dia bisa pulang dan kembali menemui wanita cantiknya. Apa yang sedang wanita itu lakukan sekarang? Apakah sekarang wanita itu sedang memasak, menyiapkan makan malam dan hanya mengenakan kaos kebesaran miliknya, jangan lupakan tubuh indah itu bergoyang didepan masakannnya, mengikuti irama music yang terdengar dengan keras di Penthouse yang biasanya sunyi itu. Pasti akan sangat sexy sekali. Dan suara intercome yang nyaring mengganggu fantasi Bumi yang tengah naik ke awan- awan. Dengan cepat pria itu mengubah ekspresinya saat mengangkat benda itu. “ Ada apa?” “ Maaf Tuan Bumi. Orang Tua anda baru saja menghubungi saya. Beliau memaksa saya untuk mengosongkan schedule anda sore nanti.” Mengosongkan Schedule? “ Apakah mereka mengatakan sesuatu selain itu?” cecar Bumi. “ Beliau hanya mengatakan akan ada kejutan.” Suara itu terdengar ragu mengatakannya. Dengan cepat otak Bumi berputar, mencari arti kata kejutan yang diucapkan orang tuanya. Kejutan? Kejutan yang bisa jadi sesuatu yang merambah wilayah pribadinya,kan? Dan salah satu wilayah pribadi Bumi adalah Penthouse-nya. Sialan! Bumi harus secepatnya kembali ke Penthousenya sebelum pria tua itu menemukan wanitanya dan melakukan hal yang tidak terbayangkan. “ Tuan Bumi?” “ Kosongkan Schedule saya hari ini!” “ Baik Tuan!” Bumi naik lift lalu berlari menuju mobilnya, mengemudikan Range Rover itu dengan cepat membelah jalanan Bandung. Dia harus cepat sampai ke Penthouse sebelum orang tuanya. Dengan sembarang Bumi memarkir mobil besar itu dan berlari menuju lift, menekan- nekan dengan tidak sabar tombol di kotak besi itu supaya dia cepat terbuka saat sampai di unitnya pria itu langsung berlari kencang dan membuka pintu itu dengan keras. “ Mas Bumi!” Nafas Bumi masih belum stabil, matanya yang tajam menatap sosok yang berada didepannya. Jadi ini kejutan yang dimaksud orang tuanya! “ Ada apa, kenapa terlihat terburu- buru?” pertanyaan itu tidak mendapat jawaban. Pria itu mendorongnya minggir lalu berjalan menyusuri semua ruangan dengan resah. “ Sebenarnya apa yang mas cari, sih?” sosok itu mengikuti Bumi dengan bingung sampai akhirnya pria itu berhenti di dapur, menatap sarapan yang masih berada ditempat semula, tak tersentuh. Wanitanya telah pergi! Jauh sebelum gadis satu ini datang. “ Mas?” sosok itu menyentuh lengannya, meminta pria itu untuk menatapnya. “ Sayang, siapa yang memberimu password tempat ini?!” suaranya berubah lembut, menatap gadis cantik yang ada didepannya itu. “ Oh, tentu saja Uncle dan Aunty, mereka juga yang memberikan passwordnya.” Seperti dugaannya. “ Lalu apa yang kamu rencanakan sekarang?” tunjuknya pada tubuh Winona yang berbalut apron. “ Rencananya aku mau masak untuk makan malam yang sengaja kurancang sebelumnya dan sepertinya akan gagal karena mas datang lebih cepat dari perkiraan.” Gadis itu cemberut. “ Jangan memasang wajah seperti itu! Jelek!” “ Mas!” “Baiklah, berhubung saya sudah berada disini. Saya akan membantumu memasak.” Bumi langsung menyisingkan lengan kemejanya sampai siku.” Sekarang katakan apa yang bisa kulakukan?” “ Baiklah karena ini mas mau sendiri. Potong semua bahan yang ada diatas counter itu.” Tunjuknya pada deretan sayur hijau dan wortel. “ Siap Nona!” Bumi dengan cekatan mencuci semua sayuran itu dan memotong- motong bahan sesuai arahan Winona, ya meskipun wanita satu itu harus sering mengomel karena Bumi memotong sayur tanpa aturan. Dan setelah perdebatan tanpa ujung, akhirnya makan malam sudah siap dan tersaji dengan cantik diatas meja makan. Dengan semangatnya Winona mengambil hiasan dekorasi yang tadi dia beli dan memasangnya disetiap sudut lalu mengambil Lilin dari salah satu laci, menyalakannya setelah sebelumnya mematikan lampu. Suasana redup nan romantic mulai terasa. Winona, gadis itu tersenyum lebar menatap Bumi yang menatapnya tajam. “ Apakah ada alasan khusus dibalik makan malam kita ini?” “ Tidak ada.” Gadis itu tersenyum. “ Oh ya, apakah mas sudah tahu kalau pertunangan kita akan dipercepat?” “ Mama sama sekali tidak memberitahuku?” “ Ini aku yang memberitahu pada mas.” Ucapnya santai tanpa melihat wajah Bumi yang mulai menggelap. “ Sebaiknya kita makan saja, lihat makan malam buatan kita sudah mulai dingin karena terus dianggurin.” “ Baiklah nona Winona yang cerewet!” Bumi langsung memotong Steak miliknya, menikmati lembutnya daging itu dalam bibirnya. Masakan Winona selalu enak sejak dulu. Makan malam itu diselingi candaan yang terus terlontar dari bibir Winona yang terus mendapat teguran tajam dari Bumi sampai akhirnya makan malam usai dan gadis satu itu menuju ruang tengah dan menyalakan music dari balik ponselnya. “ Mau berdansa denganku?” gadis itu mengulurkan tangannya pada Bumi. Pria itu lantas berdiri dan berjalan perlahan menuju gadis yang kini menatapnya menggoda, dia yakin seyakin yakinnya Bumi akan menyerangnya kini kemudian berakhir di ranjang, pipi gadis satu itu merona akan pikirannya yang berkelana jauh. “ Apa yang mas lakukan?” Mata itu membulat tatkala Bumi mengganti playlist yang sedang berputar. Salah satu lagu dari DJ Marshmello, Together langsung mengalun. “ Bersenang- senang.” Ujarnya dan tidak butuh waktu lama keduanya langsung larut dalam irama menghentak lagu tersebut. Tawa riang Winona terus mengalir meskipun nafasnya sedikit terengah akibat aksinya yang tak ubahnya saat di club terlebih lagi dengan segelas Wine yang tadi dia sesap. “ Saya lelah, Winona.” Pria itu menghentikan Winona yang sudah sedikit mabuk. “ Aku masih mau menari.” Gadis itu melepaskan tangan Bumi dan kembali menari sedangkan Bumi memilih duduk di sofa dengaan menaatap gadis satu itu dari balik gelas Wine yang dia minum. Winona, gadis satu itu tidak berubah sejak kecil. Selalu semangat dan selalu bisa menularkan energi positifnya pada setiap orang, jangan lupakan juga parasnya yang semakin hari semakin cantik dan dewasa. “ Mas, lihat aku! Apa aku terlihat sexy sekarang?” gadis itu mengangkat tinggi dress yang dipakainya sampai memperlihatkan paha mulus terawat yang sama sekali belum terjamah. “ Atau seperti ini?” gadis itu provokatif dan lebih berani, dengan perlahan jemarinya menurunkan lengan dress yang dipakai sampai memperlihatkan underware warna nude yang dipakainya. “ Sudah cukup, Winona!” Bumi beranjak dari atas sofa dan menghentikan gadis satu itu. “ Mas..” “ Kamu harus pulang!” Bumi berniat membawa gadis satu itu keluar saat dengan cepatnya si gadis mengecup wajah tampan pria itu dan mendorong Bumi sampai terjatuh diatas sofa. “ Aku mau menginap malam ini.” Ujarnya dengan nada serak, memandang Bumi dengan mata sayunya yang menggoda. “ Hanya malam ini.” Telunjuk bercat warna nude itu mulai terangkat, menyusuri rahang tegas Bumi lembut dan berhenti pada bibir sexy berwarna maroon. “ Malam ini jadikan aku milikmu sepenuhnya, mas!” gadis itu mendekat, membisikkan kata- kata penuh janji kepuasan. Untuk sesaat Bumi terhanyut dalam mata jernih menggoda itu sampai pada suatu bayangan menyapu benaknya dengan cepat. Seorang gadis berparas Timur Tengah mendesah dibawahnya dan Bumi tahu gadis itu jelaslah bukan Winona. “ Kamu mabuk!” putusnya dengan cepat mendorong tubuh Winona menjauh. “ Tidak.” Gadis itu berusaha mengelak tapi Bumi dengan cepat meraih tubuh Winona dan menggendong ala koala gadis satu itu serta membawa tas tangan gadis itu lalu membawanya keluar dari unit. “ Tunggu!” Winona langsung menghentikan Bumi saat dirasa pria itu hendak membawanya masuk ke dalam Range Rover. Gadis itu langsung turun dalam gendongan Bumi. “ Aku bisa pulang sendiri!” gadis itu berkata cepat dengan kepala menunduk malu. “ Kamu mabuk Winona dan berbahaya kalau kamu mengemudi!” “ Pokoknya aku bisa pulang sendiri!” pekiknya jengkel, dengan cepat dia menarik tas miliknya yang masih ditangan Bumi kemudian berlari terpontang- panting menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Mobil kecil gadis itu bergerak meninggalkan area Grand Palace, menyisakan Bumi yang menatap kepergian gadis itu dengan dingin. Penthouse itu berantakan dan Bumi tidak suka itu, terpaksa pria satu itu membersihkan sisa- sisa kekacauan yang tadi mereka perbuat. Sial, harusnya Bumi memiliki seorang assisten sehingga dia tidak perlu bersusah payah seperti ini. Hari telah larut saat Bumi membuka pintu kamarnya. Jemarinya yang panjang meraih saklar lampu dan pemandangan kamar yang tidak berubah sejak kepergiannya tadi pagi membuat Bumi mengeratkan jemarinya erat, jangan lupakan noda diatas ranjang itu, bukti kebejatan Bumi yang tak terendus dan semua itu menampar Bumi pada satu kenyataan. Wanita itu tidak menganggapnya! Brengsek! Bahkan Bumi belum mengenal siapa wanita itu dan kini dia ditinggalkan begitu saja! Sialan, Bumi merasa tidak dihargai disini terlebih lagi, note yang sengaja dia tulis tergeletak dalam bentuk kecil diatas meja. Apa w************n itu tidak tahu siapa Bumi Satria Nugraha?! Dalam sekejap emosi langsung menguasai pria satu itu dengan kasar tangannya meraih kristal yang berada disamping nakas dan membantingnya dengan keras diatas lantai. Baiklah Woman, siapapun kamu. Bumi tidak akan sudi melihatmu lagi! Camkan itu! * Peringai Bumi yang mengerikan kembali dan lupakan setengah hari yang penuh pelangi kemarin. Bumi yang sebenarnya telah kembali dan kini pria itu tengah menegak segelas minuman beralkohol tinggi dengan dua wanita disamping kanan dan kirinya. Dani hanya melihat tingkah sahabatnya tanpa komentar, mungkin Bumi ingin bersenang- senang melepas masa lajangnya sebelum menyesal. Dan mata lembut pria satu itu menangkap mangsanya, tanpa pamit pria satu itu pergi dari hadapan Bumi, berjalan menuju sang mangsa yang kini tengah berbicara dengan seorang bartender. “ Ini barang anda. Semuanya masih lengkap, saya sendiri yang menyimpannya.” “ Terima kasih.” Suara dingin itu terdengar sebelum pergi. Sialan! Dengan terburu- buru pria satu itu menembus lautan manusia dan membuntuti wanita incarannya sampai parkiran. “ Untuk apa mengikutiku?” suara itu mengagetkan Dani yang berjalan beberapa langkah dibelakangnya. “ Kenapa mengikutiku?” wanita itu membalikkan tubuhnya, menatap sosok Dani tajam. “ Oh hai. Saya hanya ingin berkenalan.” Pria itu tergagap lalu dengan cepat dia mengulurkan tangannya,” Saya Danial Wiratman. Panggil saja Dani.” Pria itu tersenyum lebar. “ Pentingkah saya tahu nama anda?” “ Ehm.” Sialan, Dani tidak tahu harus jawab apa. Sudut bibir culas berkedut, dengan acuh dia meninggalkan pria satu itu dengan kebingungannya. “ Hai anda belum menyebutkan nama!” Pria satu itu menepuk pundaknya dan sejurus kemudian dia sudah terkapar diatas aspal yang dingin. “ Go away!” ancamnya singkat sebelum pergi. Sialan, pinggang Dani sakit. “ Awas kamu, woman!” teriaknya menunjuk sosok yang telah menghilang itu. Disudut yang berbeda Bumi, berjalan sempoyongan dipapah langsung oleh dua wanita yang menemaninya tadi menuju lantai teratas club yang berupa kamar- kamar khusus yang biasanya dipesan untuk menuntaskan hormone Testosteron mereka. Kedua wanita itu membaringkan tubuh yang sudah hampir tak sadarkan diri itu ditengah ranjang. Melihat mangsa potensial yang sudah seperti itu, mereka menyeringai, mangsa seperti ini harus dijerat sampai ke akar akarnya. Dengan semangat mereka mulai menyentuh tubuh bidang Bumi dan mulai melepas kancing- kancing yang menutupi d**a bidang pria itu. “ Jauhkan tubuhmu!” Bumi membuka matanya dan menatap tajam wanita yang hendak mengecup bibirnya itu, tanpa perasaan dia mendorong wanita itu sampai terjatuh dari atas ranjang lalu menyentak keras tangan wanita yang hendak membuka bajunya. “ Keluar!” Kedua wanita itu ketakutan dan Bumi tidak peduli. Keduanya langsung pergi dan Bumi membanting tubuhnya dengan keras keatas ranjang. “ b******k!” Untuk kali ini Bumi benar- benar merasa bodoh. Dan sikap tidak manusiawinya itu kembali, Dengan tegas pria satu itu mengeluarkan larvanya pada setiap manusia yang bahkan tidak melakukan kesalahan sedikitpun, menimbulkan suasana mencekam bahkan sampai ke bagian produksi. Dan kabar berubahnya sikap sang CEO sempat tersebar sampai ke produksi dan kini Beberapa karyawan yang memang suka bergosip itu duduk dibangku kantin bagian tengah. “ Kabar terbaru datang dari CEO kita.” “ Oh ya apa?” antusiasme mulai terasa, ya meskipun Bumi pria yang kejam tetap saja siapa yang mampu menolak pesona pria tampan yang sangat kaya itu. “ Tahu tidak kemarin Tuan Bumi terus melempar senyum lebarnya sepanjang hari.” “ Benarkah? Tadi saja dia mengamuk luar biasa pada salah satu anak Accounting.” Celetuk yang lain. “ Sebenarnya sayang sekali dia berubah kembali menjadi orang yang kejam lagi. Tapi pemandangan indah tidak boleh dilewarkan barang sekejap saja. Ini mereka membagikan fotonya!” ucapnya heboh menunjukkan foto yang terpampang sebagai wallpaper ponselnya. Pekikan terdengar dari deretan wanita itu, memancing beberapa pasang mata menatap mereka dengan alis mengerut. “ Aku dengar, Tuan Bumi juga hendak bertunangan. Mungkin inilah yang membuat dia bahagia. Lihat saja dari fotonya, aku bisa merasakan aura bahagia itu.” “ Yah, sayang sekali, pria seperti dia sudah Sold Out, andai saja dia mau sedikit melirik anak produksi. Pasti dia akan memilih salah satu diantara kita.” Ucap gadis yang sepertinya sok cantik diantara gerombolan itu. “ Dan itu jelas bukan kamu. Anak produksi yang baru itu jauh lebih cantik kemana- mana.” Ejek yang lain. “ Tentu saja, Sikap manis pria mengerikan itu tidak akan bertahan lama.” Celetuk Rere dengan menatap Eka, meyakinkannya. “ Aku tidak bohong! Pria seperti Tuan Bumi itu mengerikan! Setan saja kalah seram dari dia. Asal tahu saja dia memecatku yang baru seminggu jadi Sekretarisnya, itu kejam tidak?! Bahkan Dia menujuk pintu dengan tangan kirinya dengan mata melotot hampir keluar! Mengerikan!” sembur Rere penuh emosi. “ Memang apa yang kamu lakukan?” pada akhirnya Eka bersuara, sedikit penasaran dengan penurunan posisi yang sangat drastic itu. “ Aku hanya lupa mencatat hasil meeting dengan pihak Jepang.” Baiklah, itu tidak aneh. Andai Eka berada di posisi CEO tempat mereka bekerja, Eka akan langsung memecatnya. “ Lihat itu, Tuan Bumi.” Tunjuk Rere pada pria diujung gedung, tidak jauh dari tempat keduanya duduk. Mata Eka sedikit menyipit, menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya. Seorang pria tinggi besar disana terlihat berjalan dengan tegas diikuti pria lainnya lalu sedetik kemudian pria itu langsung berhenti, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas pria itu terlihat sangat marah dan menunjuk lawannya itu dengan tangan kiri. “ Lihatkan, setan tetaplah setan. Tempramentnya buruk sekali.” Ucap Rere. Baiklah Eka akui, meskipun anak buahnya sering melakukan kesalahan, Adam tidak akan memarahi bawahannya didepan umum seperti itu. Sialan, kenapa Eka harus terus membandingkan orang disekitarnya dengan Aditama terus?! Dengan cepat Eka menutup kembali masker yang sempat dilepasnya tadi dan tanpa pamit dia berjalan meninggalkan Rere yang tergopoh- gopong menyusulnya. “ Kenapa terburu- buru. Jam istirahat masih lama.” Perbedaan tinggi keduanya membuat Rere sedikit berlari menyusul gadis satu itu. “ Eka!” teriaknya kencang membaut Eka terpaksa berhenti dan membalikkan tubuhnya, menatap gadis merepotkan itu. Dan alis Eka mengerut menatap gadis yang sekarang menatapnya sungkan bahkan sedikit membungkukkan sedikit badannya. Hormat. “ Tidak jelas.” Gumam Eka lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, secepat hantaman yang diterima tubuhnya. Respon tubuh gadis itu sangat bagus hingga dia tetap berdiri ditempatnya. “ Apa kamu tidak punya mata, hah?!” sentakkan kasar itu membuat Rere yang berdiri dibelakang Eka merinding ketakutan. “ Maaf.” Suara itu dingin, tanpa perlu repot- repot menatap sang lawan, gadis satu itu langsung pergi. “ s**t!” maki Bumi murka, menatap tubuh yang sudah berjalan menjauh itu. Sialan, apa anak satu itu tidak tahu tadi sedang berhadapan dengan siapa?! Apa dia mau dipecat! “ Saya ingin data wanita satu itu, segera!” seringainya mengerikan dan Rere yang masih berada disana, mematung ketakutan sendiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN