“ Kalian cepat pergi, gerbang telah terbuka!” manic abu itu membulat, “ Tuhan! Kita harus lari! Kamu gendong Mbok Darmi karena dia tidak bisa berlari dengan cepat!” teriak Eka marah. Dengan cepat jemarinya meraih Desi, membawa gadis itu untuk berlari. Nafas mereka kian memburu, menembus deretan pohon yang menjulang tinggi itu dengan terus berdoa dalam hati, “ Tuhan selamatkan Kami!” DOR! Dan suara keras peluru menggema di kelamnya malam, membuat mereka terpekik kaget dengan wajah pucat pasi. “ Nona?” wajah Desi sudah tidak berbentuk, gadis itu sudah menangis tanpa suara dengan wajahnya yang seputih mayat. “ Kita akan selamat!” Genggaman itu semakin mengerat, menggeret langkah mereka semakin keras membelah hutan. Dimar meminta yang lain menghentikan

