Ketika melihat istrinya kelelahan, Ares segera membaringkan Celine ke sofa lalu melanjutkan tugas wanita itu untuk menuntaskan hasratnya.
"Permainan kita terlalu panas siang ini, Sayang. AC ruanganmu tak sanggup mendinginkan tubuhku. Kemejaku basah kuyup, hmm ... lain kali simpankan baju ganti untukku di kantormu ya!" ujar Ares sembari masih menggerakkan pinggulnya.
"Aahh ... oke ... apa belum mau keluar, Hubby?" tanya Celine yang serasa mau pingsan di bawah tindihan pemuda berondong liar itu, suami barunya.
Ares menghujani wajah berpeluh istrinya dengan kecupan lembut penuh pemujaan. "Sedikit lagi, tahan ya!" jawabnya seraya mempercepat pacuan badan kekar itu menyatukan raganya dengan Celine.
Akhirnya semburan dahsyat yang dinanti-nantikan terjadi juga, Celine pun menghela napas lega. Mitos bahwa kaum Hawa menyukai permainan yang panjang durasinya itu nampaknya tak berlaku baginya. Suami berondongnya kalau sudah terbakar napsu terlalu mengerikan. Mereka nyaris dua jam bermain gila di atas sofa kantornya yang basah oleh berbagai cairan tubuh manusia.
"Capek ya, Cantikku? Maaf tadi keenakan, okay ... back to business. Aku mau lihat daftar klien perusahaanmu siapa saja sambil lunch ya!" ujar Ares sembari mencabut batang beruratnya yang melemas lalu duduk. Dia pun mengambil tisu di meja sofa untuk mengelap sisa cairan kentalnya. Sementara istrinya masih terbaring lemas di sebelahnya.
"Aduhh ... mau bangun kok nggak kuat!" ucap Celine bergeming dari posisi janggalnya di sofa berlapis vinyl.
Ares melirik seraya meringis, sedikit menyesal karena dia agak kelewatan menghajar istrinya hingga kelelahan siang ini. Dia lalu bangkit menuju ke meja presdir untuk mengambil sendiri menu makan siang dua porsi dan dokumen cetak daftar klien perusahaan istrinya.
"Sayang, kusuapin apa gimana nih? Kamu butuh asupan nutrisi juga!" Ares membantu Celine duduk bersandar di sofa bersebelahan dengannya. Kemudian dia mulai mengambil inisiatif menyuapi istrinya. Dia tak ingin bersikap egois setelah wanita kesayangannya melayani maksimal kebutuhan biologis baru saja.
"Thank you, Hubby!" ucap Celine lirih sambil tersenyum tipis menerima suapan demi suapan makanan ala Jepang itu dari Ares.
Setelah selesai mengurusi istrinya, Ares tidak langsung makan siang. Dia sudah terbiasa terlambat makan bila ada rapat penting maupun kesibukan pekerjaan lainnya. Pemuda itu membaca daftar klien Celine yang berjumlah tiga halaman tabel. Cukup banyak, ada ratusan rupanya. Dia kenal beberapa nama di dalam data tersebut.
"Robert Mitchel, Benigno Alvares, Juan Gabriel Batistuta, apa kamu nggak pernah mengirimkan proposal kerja sama suplier ke mereka, Sayang?" tanya Ares menyebutkan beberapa pengusaha club kelas kakap yang juga koleganya.
"Belum pernah dengar, Hubby. Apa mereka punya night club atau beach club gede? Di mana, Indonesia atau luar negeri?" balas Celine mulai tertarik dengan penuturan suami berondongnya.
Ares pun tersenyum penuh arti seraya menjawab, "High class businessmen, mereka punya banyak club di seluruh dunia termasuk di Indonesia, sekalipun nggak banyak pihak luar yang tahu bahwa mereka pemiliknya. Pantas saja kamu nggak kenal!"
Sedikit minder setelah mengetahui lingkup pergaulan Ares, maka Celine pun bertanya, "Bagaimana caranya aku bisa melobi mereka, Sayangku? Apa kamu bisa bantu?"
Dengan tatapan b*******h seperti biasanya, Ares mendekati Celine lalu membelai bulatan kembar yang tak tertutupi selembar benang pun. "Bisa, tapi ada syaratnya ya, mau?" balasnya.
"Kalau untuk melayanimu, bukankah itu pasti kulakukan, Hubby?" Celine membelai batang suaminya yang sedang layu rileks.
Ares pun tertawa renyah. "Wanita cerdas! Hmm ... baiklah, aku akan atur strategi agar bisa memperkenalkanmu kepada mereka. Hanya tolong, pintar-pintar bersikap ya, bagaimana pun mereka akan melihatmu sebagai wanita yang bisa ditiduri. Lelaki dengan status sosial seperti mereka itu berpandangan segala yang ada di dunia bisa dibeli jika mereka mau. Pikirkan segala konsekuensinya nanti!"
"Apa mereka womanizer alias buaya darat?" tanya Celine lagi penasaran.
"Ya begitulah, bisa jadi ... suplier minuman di club mereka itu juga menawarkan entertainment khusus. Segala di dunia hiburan malam seperti hukum sebab akibat, kamu jual aku beli, semacam itu di balik layar!" tutur Ares yang memang berkecimpung di bisnis tersebut. Dia hanya tak ingin wanitanya yang lugu menjadi korban predator seksual di luar sana.
Celine merasa takut juga setelah mendengar jawaban suaminya. Namun, perusahaannya juga butuh klien kelas kakap. Ares pun memahaminya lalu berkata lagi, "Dua minggu lagi papaku ulang tahun, kau ikutlah hadir ke pesta perayaan beliau bersamaku, Celine. Orang-orang itu tunduk kepada papa, tak akan berani macam-macam jika tahu kau menantu beliau. Gunakan kartu As ini, kalau mereka coba macam-macam kepadamu, okay?"
"Ohh, Hubby kau keren. Thank you banget ya!" seru Celine kegirangan. Rupanya ada manfaatnya juga menjadi istri kontrak Ares.
Ares mengetuk bibirnya di hadapan Celine untuk memberi kode minta dicium. Kali ini dengan senang hati, wanita bermata biru berambut cokelat keemasan itu memberikan ciumannya. "Muaaachh!"
"Good Wife! Aku mau ke toilet untuk merapikan diri sebentar lalu makan sebelum kembali ke kantorku, Honey!" ujar Ares sembari memunguti pakaiannya di lantai bawah sofa.
Celine juga meraih gaun batiknya dan pakaian dalamnya, dia tak malu bertelanjang ria bersama Ares ke kamar mandi dalam ruangan presdir. Dia mulai terbiasa setelah beberapa kali tampil polos seperti bayi di hadapan pemuda berondong yang kini berstatus suaminya itu.
Setelah mandi singkat di bawah shower dan mengeringkan diri, mereka berpakaian kembali. Sedikit kusut, tetapi kemeja Ares yang agak parah dibanding pakaian Celine yang tadi sengaja sudah dilepas semuanya sebelum keliaran di atas sofa.
Ares mendekap pinggang istrinya yang sedang memakai bedak di wajah seraya bercermin. "Nanti malam pokoknya harus tidur di penthouse ya. Aku janji nggak ajak kamu begadang lagi kok!" bujuknya.
"Aku mau, tapi lihat situasinya. Diego sudah lama nggak bareng sama aku semenjak kita ketemu. Pasti dia merasa kehilangan sosok mamanya di rumah. Ngalah ya sama anak sambung kamu, Sayang!" jawab Celine yang tak memuaskan bagi Ares.
"Ckk ... aku cemburu kepadanya. Dia nggak boleh manja-manja ke kamu, Cel. Kan katamu dia sudah 19 tahun, sudah bisa ngapa-ngapain sendiri dong!" protes Ares yang tak ingin dinomor duakan.
Celine pun tertawa geli. "Aduh, berasa punya dua bayi besar. Yang ini ngambekan, yang di rumah juga begitu. Kalian sama saja!"
"Pokoknya ingat saja, kalau nggak nongol di penthouse malam ini. Aku akan berkunjung ke Perum Berlian Permai nomor delapan!" ancam Ares serius. Dia lalu menciumi leher jenjang wanita kesayangannya.
"Oh My God, maksa banget!" tukas Celine cekikikan dalam dekapan Ares.
Setelah keduanya berhasil merapikan diri, Ares makan siang sebentar di sofa tunggal. Sedangkan, Celine mengelap sofa yang tadi mereka kotori dengan kanebo basah.
"Senang sekali kalau punya pembantu rumah tangga secantik dan seseksi kamu, Celine!" goda Ares. Dia gemas melihat goyangan b****g wanita itu.
"Dasar omes! Jangan-jangan kamu juga suka meniduri pelayan-pelayan yang masih gadis di rumahmu!" tuduh Celine kesal. Dia tidak suka main dengan pria yang murahan, bisa tertular penyakit seks berbahaya.
Ares pun berdecak kesal. "Jangan memancing kemarahanku, Honey. Kamu ini parah sekali! Aku bukan pria semacam itu, boleh percaya atau nggak. Ketika kita one-night-stand, aku baru lepas perjaka!"
Mulut Celine terbuka dengan tidak anggun karena terkejut. Dia memang tidak melihat saat kejadian itu terjadi, dia teler berat setelah minum-minum bersama geng ladiesnya.
"Ya gitulah, aku yang perjaka malah diunboxing sama janda beranak satu. So what gitu loh?!" Ares mengendikkan bahunya lalu minum air mineral dalam botol.
Dia bangkit dari sofa, lalu meraih tubuh istrinya untuk berpamitan. Tak lupa dia meremas b****g Celine sebagai sebuah privilege telah menjadi suaminya. "Jangan lupa pesanku tadi ya, okay?" ujar Ares lalu dia diantarkan keluar dari ruangan presdir oleh Celine.
Sementara berpasang-pasang mata mengintip pasangan itu dari kubikel meja kerja karyawan. Pemuda tampan yang gesturnya begitu mesra terhadap bos mereka itu ganteng dan nampak belia.