“Bagaimana nilai saham perusahaan kita minggu ini?” Kaizer yang sedang duduk di kursi kebesarannya di dalam ruangan rapat membuat wajah semua bawahannya memucat. Ia masih memandang mereka dengan tenang hingga ia kembali membuka suaranya karena tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. “Kenapa? Apa semua orang di sini tidak dapat bicara lagi?” desisnya dengan nada yang mulai terdengar dingin. Netra elang Kaizer tertuju pada seorang pria paruh baya bertubuh gemuk yang terus menundukkan wajahnya. Ia pun berkata, “Tuan Bart, coba Anda yang menjelaskannya.” Sontak, pria paruh baya itu langsung mengangkat wajahnya yang memucat. Peluh telah membanjiri keningnya, tetapi ia berusaha untuk mengatur napasnya agar tetap tenang. Perlahan pria itu beranjak dari tempat duduknya dan membaca

