"Gimana Lik? Lo diam aja dari tadi." Zidan menghampiri Malik yang duduk di sendirian di bawah pohon dekat dengan lapangan sepak bola. Malik duduk diam termenung dan tidak ikut bermain bola bersama teman-temannya. "Gak papa." "Jangan kayak cewek dong, bilangnya gak papa mulu deh." Zidan berdecak kesal karena Malik sangat susah sekali berterus terang. "Ck, ya masalah yang biasa gue ceritain ke lo." "Oh masalah lo sama Cantika?" "Iya, masih aja nanya lo." "Siapa tau masalah yang lain, emang lo belum juga dimaafin?" tanya Zidan penasaran. "Belum. Bikin gue gak tenang kalau belum dia maafin, kenapa dia susah maafin gue? Apa hatinya sangat terluka waktu gue jauhin dia." Raut wajah Malik memelas dan makin merasa bersalah saja kalau Cantika sulit memaafkannya. "Ya pastinya lah Lik, lo s

