"Asal papa memberikan nafkah kepada Ibu Puji dan membiayai sekolah kak Cantika sampai lunas semuanya," lanjut Ivan berucap. "Apa?" Haris membuka mulutnya lebar lalu kembali berdiri dan mondar-mandir tidak jelas di depab Ivan. "Kenapa, Pa? Ada yang salah sama ucapanku?" Ivan menaikan alisnya sebelah dan menyenderkan tubuhnya dengan santainya di sofa. "Bukan begitu, hanya kaget saja." Awalnya Haris ingin menolak namun ini demi dirinya sendiri akhirnya terpaksa menerima keinginan dari putranya. "Kenapa papa kaget? Memang sudah keharusan papa menafkahi mereka terutama kak Cantika. Aku kasian sama kak Cantika yang terpaksa melepaskan hobbynya dan memilih bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya bersama Ibu Puji. Memiliki sosok ayah yang tidak tanggung jawab sama sekali. Apa papa itu pan

