"Gak Zidan, gak mama, gak melani juga, mengapa mereka bilang gue itu jatuh cinta ke Cantika sih? Padahal gue sudah bilang berapa kali kalau gue sama Cantika murni berteman tanpa melibatkan perasaan. Perasaan? Tapi hmm." Malik berbicara sendiri sepanjang perjalanannya menuju kelasnya. Ia memikirkan ucapan ketiga orang yang baru saja ia sebut. "Perasan gue ke Cantika itu biasa saja kok." Malik masih kebingungan tentang perasaannya terhadap Cantika yang sebenarnya. "Argh gue bingung." Malik menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan mengabaikan kondisi rambutnya yang berantakkan saat ini. Bertepatan dengan itu terdengae suara seseorang yang memanggilnya dan menyuruhnya berhenti melangkah. Malik hafal siapa sosok pemilik suara itu dan Malik menghentikan langkah kakinya lalu menghadapkan

