10

973 Kata
Apakah bintang akan terlihat indah ketika dia berubah menjadi debu bintang? Dahulu kala bintang-bintang tersemat di antara ribuan bahkan jutaan bintang yang ada di langit sana; tak ada satu pun di antara mereka yang berharap kehilangan pendar kilaunya. Tak ada satu pun bintang yang merasa bahagia ketika mereka mulai meredup; hilang ditelan pekatnya malam. Maka karena itu sang dewi merasa kasihan dan menjanjikan pada bintang-bintang bahwa jika suatu saat salah satu di antara mereka mulai redup, kehilangan cahaya, dan jatuh. Maka di saat terakhir masa hidup bintang tersebut mereka akan berubah menjadi kumpulan debu bintang yang akan memancarkan cahaya indah ketika melintas angkasa raya—sebelum akhirnya lenyap ketika menyentuh dunia fana. Setidaknya itulah kisah yang pernah Aria dengar.  Lalu sekarang ... gadis itu berada di bawah langit malam yang dipenuhi dengan aneka bintang.  Indah. Mendongak. Aria mencoba mengingat hal terakhir yang terjadi padanya. Sadarlah ia ketika tidak menjumpai ruangan berhias lukisan sosok bersayap. Adapun yang Aria lihat hanyalah lukisan semesta yang membentang indah.  Maka Aria pun menyimpulkan bahwa kini ia berada di alam mimpi.  Tapi tunggu? Kenapa Aria sadar bahwa ia ada di....  “Akhhhhh,” keluh Aria. Kesal.  Melirik sekitar, ia bisa melihat bunga bulan yang tengah mekar dengan indahnya; menutupi daratan dengan kelopak putih yang elok dipandang mata.  Menunduk. Aria melihat kumpulan bunga bulan yang tumbuh di sekitar kakinya yang tak memakai alas sepatu. Kelopak putih bunga bulan menyentuh kulit Aria. Menunduk. Aria memetik salah satu bunga yang ada. Begitu berada di dalam telapak tangan, bunga itu meluruh dan menanggalkan kelopaknya. Memandang sekitar, bunga-bunga putih itu pun mengalami hal serupa; meluruh dan setiap bunga menanggalkan kelopaknya. Angin berembus, menerbangkan ribuan kelopak bunga.  Lalu padang bunga pun lenyap. Langit tak lagi berhias bintang dan rembulan pun telah berganti dengan sang surya. Aria menatap rerumputan hijau yang membentang. Aneka bunga musim panas tumbuh di sepanjang sisi taman. Tepat di pusat taman, terdapat kolam dengan air mancur.  Tempat yang sangat indah. “Dasar pengecut!” teriak sebuah suara. Di atas rerumputan, Aria bisa melihat dua bocah berambut putih yang tengah berkelahi. Sesosok bocah lelaki dengan kuncir rambut merah tengah memukul bocah lelaki berambut pendek.  “Pengecut,” celanya. “Ringga, kau pengecut!” Terkesiap. Aria berlari dan mulai mengahampiri sepasang bocah yang tengah saling memukul itu. Sadar bahwa ia hanyalah seorang pengunjung, maka Aria pun hanya bisa berpasrah menyaksikan Ringga yang terus mendapatkan pukulan tanpa berkesempatan untuk membalas.  Debu memenuhi wajah kedua bocah. Ringga dan bocah asing itu—mereka berdua—saling melepaskan amarah dengan pukulan dan tendangan.  “Aku bukan pengecut,” bela Ringga. “Sin, aku membencimu!” Lengkap sudah teka-teki yang terhampar di depan Aria. Kedua bocah itu, Ringga dan Sin, karena suatu sebab mereka berdua terlibat perkelahian. Jelas mereka berdua bukanlah sahabat karib yang tengah beradu pendapat, bukan pula pertengkaran antar-sahabat yang akan mereda begitu salah satu di antara mereka berdua mengibarkan bendera putih.  Sin mulai menarik rambut Ringga, lalu Ringga pun melakukan hal serupa. Mereka berdua, Ringga dan Sin, saling menjambak satu sama lain. Baik Ringga ataupun Sin sama-sama menunjukkan itikad tidak ingin mengalah. Atau mungkin harga diri kedua bocah itu terlalu besar hingga satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah hanyalah menggunakan kekuatan. Perkelahian pun tersela oleh sebuah suara, “Hentikan! Sin, apa yang kaulakukan?” Sesosok pemuda elixer menghampiri Sin dan menariknya menjauh dari Ringga. “Sin, hentikan! Apa yang akan dikatakan Ibunda jika melihatmu seperti ini?” “Lepaskan aku,” erang Sin. “Aku belum selesai! Hei, jangan pergi!” Sin meronta, berusaha menyerang Ringga yang mulai dibawa pergi pelayan. “Sin, hentikan!” “Kakak!” seru Sin. “Aku membencimu. Nihuar, aku membencimu!” “Ya,” kata Nihuar. “Kau boleh membenciku setelah berjumpa dengan Ibunda. Lihat saja, apakah kau masih bisa bersikap kasar ketika Ibunda mengetahui ini.” Kesal. Sin menggigit tangan Nihuar. “Sin!” erang Nihuar. Walau sang adik tak segan menggigit tangannya, Nihuar tetap mencengkeram bahu Sin. “Jangan seperti ini.”  Sadar bahwa perbuatannya berbuah sia-sia, Sin memilih melepas gigitannya. Kedua mata Sin menatap garang sang kakak.  “Kenapa” bentak Sin. “Akulah yang selalu disalahkan. Selalu aku!” “Sin,” ucap Nihuar lirih, “bukan seperti itu.” “Memang seperti itu.” Sin menenepis tangan Nihuar, lalu ia berlari meninggalkan Nihuar. Sendirian. Aria berada di sana; berjalan di antara sesemakan mawar. Sementara hamparan bunga musim panas menunduk malu ketika Aria perlahan-lahan memudar bersama angin yang berembus tenang.  *** Duduk di samping ranjang, Ringga tak henti memperhatikan wajah Aria yang kini tertidur lelap. Tiada lagi tanda aneh yang menghias wajah Aria, bibir gadis itu pun terlihat memerah; sebuah tanda bahwa ia berada dalam kondisi sehat, jauh dari tangan kematian. Setidaknya untuk saat ini. Selama beberapa saat, Ringga berpikir bahwa Aria akan meninggalkan Ringga—pergi ke suatu tempat yang tak akan bisa dijangkau Ringga. Namun kini, melihat gadis itu jauh dari kematian, Ringga merasa lega.  Menyedihkan. Terkadang Ringga merasa bahwa suatu saat dia akan dia akan dipisahkan dari Aria. Pemikiran semacam ini, bagai bayang yang mengikuti langkah Ringga. Andaikan mereka—Ringga dan Aria—hanya dipertemukan untuk beberapa saat, lalu kemudian sebuah perpisahan adalah akhir dari kisah mereka, maka dengan berat hati Ringga akan menerima kenyataan ini: Berpisah untuk selama-lamanya. Ringga bisa menerima segala hal yang akan dinubuatkan kepadanya, termasuk bila takdir memilih menjauhkan Aria dari Ringga. Sepahit apa pun kenyataan, Ringga akan belajar menerimanya. Tidak masalah bagi Ringga jika ia harus hidup dalam pengasingan. Tak apa jika Ringga tidak bisa merasakan cinta. Maka karena itu, dia ingin melihat Aria untuk kali terakhir sebelum gadis itu benar-benar lenyap dari pandangan Ringga. Pedih. Tapi itulah harga yang harus Ringga bayar. Menyentuh kening Aria. Ringga mulai merapikan anak-anak rambut milik Aria. Perlahan, pemuda itu membelai pelipis Aria. Sebuah senyum menghias wajah Ringga.  Sekali saja, kata Ringga dalam hati, izinkan aku berada di dekatmu. Seperti ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN