Di sepanjang perjalanan pulang tidak henti-hentinya Diana menoleh ke belakang. Ia merasa jika dirinya sedang di ikuti. Padahal ini sudah hari ke tiga ia minggat dari rumah Ethan tapi kenapa masih saja ia diikuti reporter. Astaga... Dulu juga begitu. Ia pernah diikuti di Indonesia. Bahkan di Eropa juga. Sampai di kediaman Maria, dengan cepat Diana masuk lalu mengambil tempat duduk di pinggir kaca. Melepaskan topi, kacamata, dan syal yang melekat di tubuhnya sebelum bernafas. “Bagaimana?” Tanya Maria yang sudah duduk di hadapannya dengan satu cangkir teh dan satu cangkir coklat panas. “Sampai di tujuan, kapten!” jawab Diana antusias membuat Maria terkekeh. “Mereka menyukai bungamu.” Maria mengangguk. Ia menatap keluar jendela dimana pelanggan tengah memilih bunga sebelum menatap Diana. “

