Gentala’s Pov
Lima bulan memasuki pernikahan kami, tingkah Joelle semakin menjadi-jadi. Hampir setiap malam dia pergi ke nightclub dari satu tempat ke tempat lainnya, dan demi Tuhan aku sudah benar-benar lelah mengawasinya. Setiap malam aku harus mengikutinya memastikan dia terhindar dari masalah dan bahaya, kenapa pula aku harus bersusah? Karena aku terikat janji kepada Opa untuk selalu menjaganya. Terlebih kondisi Opa yang semakin kritis. Kami bahkan baru kembali ke Indonesia seminggu yang lalu menjengung Opa, karena Opa harus menjalani perawatan yang cukup intensive di Singapore.
Joelle’s Pov
Malam demi malam aku habiskan di nightclub, aku tidak memiliki begitu banyak teman di Jakarta, sehingga hampir setiap malam aku pergi ke tempat seperti ini sendiri. Aku tidak tau harus kepada siapa berkeluh kesah, hanya dengan mendengarkan suara bising dan hiruk pikuk orang-orang bisa membantuku mengurangi rasa sedih ku melihat kondisi Opa saat ini. Gentala tidak cukup membantu, dibanding sebagai seorang suami dia bagiku lebih seperti orang asing, jika kami berdua berada di rumah, kami cenderung untuk saling diam.
Dia yang sangat pendiam amat sangat bertolak belakang denganku yang cuek dan sangat terus terang. Kami jelas-jelas bertolak belakang, dan pernikahan ini tidak lebih dari usaha untuk menyenangkan Opa, dan mungkin memastikan aku untuk memperoleh apa yang menjadi hakku, bagaimana tidak jika warisan yang aku terima harus dibagi dua dengan Gentala seorang yang tidak ada hubungannya dengan keluarga ini secara darah. Apesnya jika aku membangkang dari pernikahan ini, aku hanya mendapatkan sepuluh persen dari segala kepemilikan Sunaryo. Entah racun apa sudah Gentala sampaikan kepada Opa, sehingga semua hal tersebut muncul di kepala Opa. Aku menyisip sekali lagi wine yang aku pesan, mendengar dentum suara musik, melihat hirup pikuk para manusia yang penuh membawa segala kepenatan mereka.
“Hi…” laki-laki dengan jaket hitam, dan anting dengan motif yang tidak bisa aku lihat jelas detail pada telinga kirinya.
“Hi…” aku berusaha mengacuhkannya.
“Boleh duduk disini” laki-laki itu menunjuk sofa tepat disampingku, berteriak kencang agar aku bisa mendengarkannya. Aku mengangguk membalas.
Bau alkohol menyengat dari mulutnya, dia melambaikankan tangan, mengajak kedua temannya untuk duduk di dekatku.
“Kenalan boleh?” seorang temannya dengan kaos berwarna biru memberikan tangannya untuk bersalaman, akan tetapi aku mengacuhkannya. Aku tidak ingin bersapa ria dengan orang sekitar, aku ingin menyendiri dan menghilangkan penatku.
“Woooohhh dicuekin donk, woh, woh, woh” laki-laki dengan jaket hitam disampingku tadi, mulai berteriak mengeluarkan teriakan-teriakan yang mulai menggangu, sehingga aku berniat beranjak pergi meninggalkan tempat itu, dan mencari tempat yang lebih tenang. Sesaat aku berdiri temannya yang lain, menarik pergelangan tanganku.
“Mau kemana cantik, kita kan belum kenalan” aku tersentak, dan menepis tanganya menarik lenganku cepat. Segera berusaha untuk keluar dari lingkaran mereka, akan tetapi dua teman yang lain datang dan menutupi jalan ku.
“Awass!! Pada norak ya!” aku membetak mereka bersamaan, sembari membelalakkan mata, menatap marah kepada mereka satu persatu.
“Galak lho, kesukaan kita nih yang galak begitu” salah seorang dari belakang menimpali. Aku mulai kalut, mencoba lari dari celah-celah gerombolan itu, akan tetapi tidak bisa. Semakin aku berusaha lari, semakin menjadi usaha mereka. Sebagian dari mereka bahkan ada yang berusaha menyentuh panggulku. Aku mencoba meraih ponselku untuk bisa menghubungi seseorang, tetapi salah satu dari mereka merampas ponselku, disini aku paham mereka bahwa mereka tidak hanya sekedar menggoda, mereka memiliki maksud lain. Mereka bukan sekedar gerombolan laki-laki kurang ajar yang suka mencari masalah dan menggoda wanita di club. Aku berteriak sekuat tenaga akan tetapi seseorang dari gerombolan itu menempelkan sesuatu ke mulutku yang membuat kepala ku pening. Diantara kondisi yang setengah sadari itu aku melihat bayangan kabur Gentala.
*keesokan harinya
“Apa kamu baik-baik saja?” suara itu terdengar samar, begitupun pandanganku. Aku memengang kepalaku yang berat, mencoba bersender pada senderan tempat tidur.
“Apa yang terjadi?”
“Kamu sama sekali gak ingat?” Gentala bertanya balik.
Aku menggeleng pelan, “Aku cuma ingat, gerombolan laki-laki berengsek yang mencoba menggodaku.”
“Kau beruntung, pada saat itu aku sedang menyelinap ke dalam nightclub, karena sudah tidak dapat menahan untuk buang air kecil”
“Tapi bagaimana kamu berapa di nightclub yang sama?”
“Itu bukan hal perlu kamu tahu. Yang harus kamu tahu adalah sekelompok laki-laki mencoba membius mu, dan entah apa yang akan mereka lakukan padamu jika aku tidak datang tepat waktu?, pemerkosaan, jual beli organ, perdagangan manusia” kata-kata Gentala entar kenapa terdengar tidak masuk akal bagiku, bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba muncul dan menjadi penyelamat. Terlebih cara dia menjelaskan terdengar seperti menakut-nakuti anak kecil.
Sesaat aku terdiam lama“ Atau…” mataku aku sipitkan kepada Gentala “Kamu sengaja membayar orang-orang tersebut, dan menjadikanmu seolah-olah seorang Pahlawan yang datang di waktu yang tepat. Kira-kira mana yang lebih masuk akal buatmu?” aku menghempaskan selimut yang sebelumnya menutupi sebagian tubuhku. Akal-akalan bodoh yang hanya akan dimakan oleh orang bodoh, tapi tidak dengan ku. Apa dia pikir aku wanita lugu yang bisa tertipu dramanya. Mungkin aku harusnya mengingatkannya untuk lebih cerdas sedikit dalam membuat drama. Bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba datang menolongku, setau aku dia bukan pecinta dunia malam, menggunakan alasan ingin numpang ke belakang segala, kebodohan mana yang dia harap aku percaya.
___________
Hari-hari berjalan begitu lambat hidup dengan seseorang yang amat sangat membosankan seperti Gentala. Di sisi lain kondisi Opa tidak semakin membaik. Cancernya sudah menjalar kemana-mana, mungkin seperti kata Opa, ini waktunya kami untuk mengiklaskannya, Oma menunggu sudah terlalu lama. Pikiranku kemana-mana, aku tatap wajahku rapat-rapat di depan cermin dan menyegerakan riasan make up ku. Pukul 9.30 malam, aku berencana untuk menghabiskan malam ini kembali ke salah satu club favorit ku. satu ulasan bronze terakhir dan aku siap pergi. aku langkahkan kakiku keluar kamar. berjalan melalui ruang baca dan turun menuju ke ruang makan.
“Kau mau kemana?” suara Gentala mengejutkanku dari balik meja bar.
“ke club, seperti biasa” balasku singkat
“Kamu gak kapok kejadian tiga minggu yang lalu?” dia bertanya dengan kerut dikeningnya
“Drama kemarin maksudmu?” balasku lebih pada ejekan.
“Kamu benar-benar berpikir bahwa itu settingan dariku?” Gentala sedikit mencondongkan dirinya, membuat kesan heran pada wajahnya. Pintar juga acting laki-laki ini batinku.
“Aku pergi sekarang, tidak usah menungguku.” Sembari mengambil kunci mobil dari tempatnya.
“Kau benar-benar wanita keras kepala.” Tatapannya hampir tidak aku kenali, tapi aku memilih tidak peduli.
“Yap, that’s me!” balasku berlenggang menuju parkiran.
Aku lajukan mobilku seiring dengan pedal yang kuinjak dalam. Berpikir terus menerus alasan Opa menikahkan aku dengan Gentala, tidak ada alasan yang lebih masuk akal dari doktrin yang persisten dari Gentala. Tapi apapun itu, yang harusnya aku pikirkan sekarang adalah Opa. Mungkin aku sedikit kecewa ketika Opa memutuskan perjanjian itu untukku dan Gentala, tapi harusnya aku tidak egois, harusnya hari ini aku di Singapore menemani Opa.
“Driiiittttttttttttttttttttttttttttt…” aku tiba-tiba mengerem karena seseorang mencoba melintas. Sial batinku apa orang ini tidak punya pikiran, menyeberang seenaknya saja. Aku memeperhatikan laki-laki itu yang sedang jalan tertatih menuju tepi jalan, mungkin terjadi sesuatu pada dia sebelum aku melintas, pikirku. Tanpa pikir panjang aku segera menepikan mobilku berlari kecil menghampirinya.
“Pak, bapak gak papa? Mau saya antar ke rumah sakit?” belum sempat aku mendengarkan kata-kata Bapak tersebut, seseorang menempelkan sesuatu pada wajahku yang membuatku pusing, lagi batinku, sebelum ketidaksadaran mengambil alih ku.