#28 "Dia lihat gue?" Aku bertanya dengan suara berbisik. "Gue rasa nggak. Dia sibuk ngobrol sama ayangnya." Mata Aura bergerak mengikuti arah kepergian Altez dan Derek, tebakku. "Gue coba buntuti mereka, ya?" "Hah?" "Tunggu di sini dan pegang hape lo selalu." Aura langsung meninggalkanku. Aku nggak berani menoleh. Aku takut Altez menyadari keberadaanku. Saat ini aku nggak sukar berpikir harus bagaimana. Aku bahkan nggak paham campur aduk perasaan yang melanda hatiku. Aku duduk gelisah selama sepuluh menit yang terasa bagai ratusan hari. Mataku selalu memeriksa hape, takut-takut ada telepon atau pesan dari Aura yang nggak aku sadari. "Gue balik." Aura kembali dengan napas ngos-ngosan. "Ada apa? Lo kemana?" tanyaku cemas. "Gue ikuti mereka sampai ke parkiran. Gila!" Aura menggelen

