#57 Aku membuka pintu apartemen dengan hati berbunga. Seminggu terasa berabad-abad kalau berpisah jarak dengan Altez. Aku membutuhkannya untuk melalui kepelikan yang menggentayangi. “Al,” panggilku. Suasana apartemen tenang. Nyaris tanpa tanda keberadaan orang. Aku menyusuri lorong pendek menuju kamar utama, penasaran apa yang menyebabkan Altez memintaku datang sesegera mungkin. Aku nggak mungkin datang ke sini begitu saja setelah lari santai. Bau keringat jelas bukan parfum pilihan perempuan yang ingin bertemu pacar. Ah, apa aku baru saja menyebut pacar dengan debaran jantung tak jelas? Astaga, apa aku semakin menyukai Altez? Altez duduk di tepi ranjang saat aku masuk ke kamar. Dia masih berpakaian lengkap dengan kemeja dan pantalon membuatku heran pada penampilannya yang rapi seolah

