Ibu!

1002 Kata

Hari semakin sore, semburat senja semakin tampak terlihat di ufuk barat. Kelima saudara Harto membatalkan niat mereka untuk pulang hari ini. Kedatangan Wati seakan membawa angin segar untuk ketujuh bersaudara itu, begitu pula dengan Nana dan dua saudaranya. Bukan karena bahagia di atas penderitaan orang lain. Namun, jika sudah takdir, apa yang mau dikata? Larangan dan nasihat sudah mereka berikan pada Wati. Tapi Wati masih bersikeras ingin mewarisi ilmu itu. "Mas yakin tidak jadi pulang?" tanya Bani, kala semuanya duduk berkumpul menunggu waktu magrib. "Hem, begitulah Ban. Kita tunggu kabar dari Wati. Kalau cil Saniah mengijinkannya, sia-sia juga kami pulang sekarang. Toh, ujung-ujungnya juga akan kembali lagi. Sudah rugi tenaga, ditambah lagi ongkos," jelas sang kakak. "Benar juga. Tap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN