Malam semakin larut, proses pewarisan ilmu dari ibu Harto sebentar lagi dilaksanakan. Di belakang rumah, tepatnya di dekat pohon-pohon rimbun yang berjejer tak beraturan Wati dan yang lainnya berada. Nana yang saat itu juga ikut menyaksikan, beberapa kali merasa tak karuan. Apalagi saat ekor matanya melirik ke arah peti di mana jasad ibu mertuanya masih ada di dalamnya. "Kak, kok aku merinding ya? Suara burung kedasih juga tidak henti-hentinya berbunyi," bisik Ahmad, merapatkan posisi berdirinya pada Nana. "Huss! Lebih baik kamu diam saja Mad! kita lihat saja prosesnya!" Balas Nana, juga ikut berbisik. Tiga orang tetua desa, mulai menyiapkan semua perlengkapan yang diperlukan. Dimulai dari membakar kemenyan, menyiapkan minyak yang sering disebut orang minyak kuyang dan sebagainya. A

