Ayah Tidak Ada di Rumah

1374 Kata
"Terima kasih sudah membebaskanku," ucap Nayla. "Meskipun sampai sekarang belum tahu apa kesalahanku sampai ditangkap." Iron menyesap kopinya. Matanya merem melek, menikmati sensasi rasanya. Nayla bersabar menunggu lelaki di depannya merespon ucapannya. Senyum kepuasan tersungging dari bibir Iron selepas menyesap kopi hitam panas pesanannya. Ia melirik Nayla. "Kamu dituduh terlibat radikalisme!" "Radikalisme seperti apa yang aku lakukan?" Nayla menatap Iron dengan sorot penuh gugatan. "Kenapa tadi tidak kamu tanyakan kepada yang menahanmu?" Iron balik bertanya. Ia kembali menyesap kopinya. Nayla menyisir rambut pendeknya menggunakan jari-jari tangannya. Sejak ditahan ia sama sekali tidak merapikannya. "Mereka bahkan belum menginterogasiku," ujar Nayla pedih. "Sampai kamu membebaskanku!" Iron baru saja akan menyesap sisa kopi pada gelasnya, namun ia urungkan. Gelas ia letakkan kembali ke atas meja. "Seharusnya tadi kamu langsung dimintai keterangan, tetapi sebelum itu terjadi aku segera mengurusnya. Apalagi polisi belum memiliki cukup bukti buat menjadikanmu tersangka." Iron meremas pelan gelasnya. Ada penekanan pada setiap katanya, ingin menunjukkan bahwa dirinya menguasai diri Nayla. "Kenapa kamu peduli sama aku?" Nayla beranikan diri menatap Iron. "Kita tidak saling kenal." Iron menyeringai. Alih-alih merespon, ia kembali menyesap kopinya sampai habis. "Kamu belum jawab pertanyaanku!" Nayla mendadak sebal. Ia merasa tidak dianggap. Menurutnya perjamuan ini seperti tuan dengan hambanya. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu, bahkan oleh orang yang telah memberinya hutang budi. "Pertanyaanmu akan terjawab nanti," ujar Iron. Tatapannya mengintimidasi. "Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menuruti kemauanku." Bagi Nayla, tidak ada yang lebih baik antara berada di ruang tahanan dengan menuruti kemauan Iron. Ia tidak mengenal lelaki itu. Pada satu menit ke depan dan seterusnya belum diketahui apa yang akan menimpanya. Yang ia sadari, sekarang adalah ia berada pada situasi tertekan. "Mungkin aku bukan orang baik." Iron meyakinkan Nayla. "Tapi percayalah, aku tidak akan berlaku kejam padamu." Nayla menyeringai. "Kamu berkuasa atasku, jadi tidak perlu repot meyakinkanku karena itu tidak lantas membuatku menjadi manusia bebas." "Kamu merasa tidak bebas?" Iron menatap tajam Nayla. Nayla menggeleng pelan. "Tidak, sama sekali tidak!" "Oke, tidak mengapa!" Iron mendengus. Pandangan ia lempar ke jalan raya. "Aku tidak akan melawanmu meskipun bisa melakukannya. Itu bukan karena aku telah berhutang budi padamu, tapi karena yakin kamu punya alasan kuat sehingga membantu seorang gadis desa miskin sepertiku." "Cerdas!" Iron terkekeh melihat sikap tegas Nalya. "Seperti itulah seharusnya." Nayla mendekatkan kepala ke arah Iron. Wajahnya tinggal berjarak dua jengkal dari wajah pemuda tampan tersebut. "Jadi, bisa beritahu aku tidak, sampai kapan aku harus menuruti kemauanmu?" Iron balas memajukan kepala. Sekarang wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. "Simpan semua pertanyaanmu. Semua akan terjawab dengan sendirinya, tanpa perlu aku menjawabnya. Hanya saja, karena kamu kooperatif, maka aku akan beri kamu kesempatan untuk mengajukan satu pertanyaan. Aku pasti akan menjawabnya." Nayla terdiam. Aroma mint dari leher Iron membuatnya terlena. Sebagai perempuan normal, ia merasakan debar-debar aneh saat lelaki itu menatapnya. Sikap Iron ketus dan cenderung misterius. Itu yang membedakan ia dengan lelaki lain, bahkan Amando sekalipun. "Kuberi kamu waktu tiga menit." Iron melirik arloji pada pergelangan tangan. "Sekarang sudah berjalan sepuluh detik!" Banyak pertanyaan yang ingin Nayla ajukan. Sayang waktunya kurang dari tiga menit lagi. Maka ia bertanya apa yang saat ini sedang dipikirkannya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku sekarang, selain mengajakku ngopi?" Alih-alih menjawab, Iron bertepuk tangan dua kali di udara. Hanya butuh dua detik kemudian seorang perempuan gemuk tergopoh mendekati meja. "Vee, kamu lihat nona di depanku?" Iron bertanya kepada perempuan gemuk bernama Vee, tapi wajahnya tertambat lurus pada wajah Nayla. Vee melirik sekilas Nayla, kemudian mengangguk hormat kepada Iron "Lihat, Pak!" "Dia cantik, bahkan meskipun dalam keadaan bangun tidur sekalipun, tapi penampilannya belum selaras dengan kecantikannya." Tatapan Iron terus tertambat pada wajah Nayla. "Vee, tugasmu untuk menyelaraskannya!" Vee mengangguk hormat. "Baik, Tuan!" Iron tersenyum manis kepada Nayla. "Aku akan membuatmu semakin cantik!" Nayla mengerjap bingung. Dalam benaknya ia berpikir akan dijadikan perempuan pemuas nafsu. Jika benar begitu, ia tidak akan sudi untuk menurutinya. "Kamu keberatan?" Iron mengerjap penuh intimidasi. "Sayangnya kamu harus menurut." "Aku mau diapakan?" Nayla mulai panik. Ia melirik Iron dan Vee bergantian. Vee menyungging senyum manis kepada Nayla. "Maaf, Nona, kami akan memperlakukan Nona dengan baik, sebaik kami menghormati Pak Baeni." "Vee, berhenti menyebut kata itu!" hardik Iron kesal. Wajah Vee pucat, merasa bersalah. Ia bersimpuh di kaki Iron. "Maaf, atas kelancangan saya, Tuan!" "Pak Baeni?" Sepasang alis Nayla terangkat bersamaan. "Siapa Pak Baeni?" Iron menatap Nayla tajam. "Kamu hanya diberi satu kali kesempatan bertanya. Itu pun sudah kamu habiskan?" Nayla mendengus sebal. Ia membuang muka ke langit-langit. "Vee, aku berubah pikiran!" Iron berkata tanpa memandang Vee. Vee menunduk dalam-dalam, merasa bersalah. "Kamu aturlah kepulangan Nona Nayla!" suruh Iron. "Nanti aku panggil lagi!" Vee membungkuk hormat. "Baik, Tuan!" Kemudian ia berlalu pergi. Suasana menjadi hening, di meja VIP. Tiba-tiba Nayla merasakan telapak tangannya disentuh. Serta merta ia menoleh. Didapatinya senyum manis Iron. Dadanya menjadi berdebar-debar tidak menentu. "Aku tidak akan mencelakakanmu, percayalah!" Jari-jari tangan Iron mengelus punggung telapak tangan Nayla. Debaran d**a Nayla semakin tidak beraturan. Pelan-pelan ia menarik tangannya. "Bapak sangat aneh!" "Aneh?" Iron bingung. "Dan berhenti memanggilku dengan sebutan 'Bapak". Usia kita hanya terpaut dua tahun, paham?" Nayla mengangguk pelan. "Kadang kamu lembut, tapi lebih sering bersikap menyebalkan!" Iron menunduk selama tiga detik, kemudian kembali menatap Nayla. "Aku tidak pernah lembut kepada siapa pun. Ucapanmu tadi kuanggap sebagai pujian!" Nayla terkekeh. "Aku tidak memujimu." Alis sebelah kiri Iron terangkat. "Oh iya? Berarti kamu tulus mengatakannya." "Entahlah!" Semakin lama, Nayla merasa semakin asing dengan Iron Namun, ia heran pada diri sendiri, kenapa selalu berdebar setiap menatap lelaki itu. "Aku terlambat mencegah penangkapanmu!" ujar Iron. "Ternyata polisi bergerak lebih cepat dari yang kuduga." Sepasang alis Nayla terangkat. "Maksudnya kamu tahu aku akan ditangkap?" Iron membuang muka ke luar jendela, alih-alih menjawab. Nayla mendengus kesal. "Jadi benar aku sudah tidak boleh bertanya lagi?" Iron menoleh. "Aku yang bicara. Kamu mendengar saja!" Nayla menatap Iron sebal. "Kesalahanmu adalah bekerja pada orang yang dituduh melakukan radikalisme," ujar Iron. "Semua teman kerjamu juga ditangkap karena mereka dianggap bagian dari bos kamu." Nayla tercenung. Sekarang ia tahu alasan kenapa dirinya ditangkap. "Kamu harus berhenti bekerja di sana!" Iron memberi penekanan pada ucapannya. "Karena sejak hari ini kamu bekerja padaku!" "Aturan dari mana itu?" Nayla protes. "Nanti kamu akan tahu jawabannya!" Nayla melengos. Iron bertepuk tangan sekali. Tidak lama Vee tergopoh menghampirinya. "Sudah siap?" tanya Iron kepada Vee. "Sudah, Tuan!" Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Pulanglah! Tapi saranku kamu ikut saja ke mana sopir akan membawamu." "Aku harus segera pulang. Ayahku sedang sakit," ujar Nayla. "Maka itu, ikuti saranku!" "Aku harus pulang ke rumah!" Nayla berkata tegas. Iron mengedikkan bahu. "Terserah kamu saja!" *** Begitu sampai di depan rumah, Nayla langsung menghambur menuju pintu. Ia sangat mengkhawatirkan ayahnya. Ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih kepada sopir yang mengantarnya. Nayla membuka pintu. Ia langsung menuju kamar ayahnya Namun ia tidak menjumpai siapa pun di sana. Mulai cemas, ia menuju ruang belakang, tidak juga ia dapati ayahnya. Kecemasan Nayla berubah menjadi kepanikan. Ia memeriksa seluruh ruangan, tetap saja tidak menemukan ayahnya. Kalang-kabut, ia mencari di sekitar rumah, bahkan hingga ke sudut kampung. "Ayah, kamu di mana?" Nayla menangis panik. Ia merasa bersalah telah membiarkan ayahnya sendirian di rumah dalam keadaan sakit dan lapar. Ia khawatir ayahnya keluar rumah untuk mencari makanan. Ia takut terjadi sesuatu pada lelaki yang telah merawat dan membesarkannya itu "Maaf, Nona!" Sopir yang tadi mengantar kepulangan Nayla tahu-tahu sudah di belakanngnya. "Bapak belum pergi? Nayla merasa heran. "Tolong carikan ayahku!" Sang sopir mengangguk. "Silakan kembali ke mobil, Nona!" "Kamu tahu di mana ayahku?" Sopir menggeleng. "Maaf, tidak tahu, Nona." "Ya sudah, ayo kita cari ayahku" Nayla bergegas menuju mobil. Ia duduk di bagian depan. Sopir kembali ke mobil. "Saya disuruh Pak Iron untuk mengantar Nona ke suatu tempat yang saya tidak boleh sebutkan sebelum sampai." Nayla terperanjat. "APA?" Ia curiga Iron tahu di mana keberadaan ayahnya. Sopir menyalakan mesin mobil. Diinjaknya gas perlahan sambil melepaskan pedal. "Saya tidak tahu apa-apa, Nona. Maaf!" Nayla menarik napas dalam-dalam. Pikirannya kacau. Hatinya tidak tenang sebelum menemukan ayahnya. Namun kecurigaannya pada Iron membuatnya sedikit tenang. Ia yakin sang sopir akan mengajaknya ke suatu tempat di mana ayahnya berada. "Bos kamu itu aneh!" umpat Nayla kepada sopir. Sopir tersenyum maklum. "Kenapa pelan? Tidak bisakah lebih cepat sedikit?" Nayla sudah tidak sabar ingin segera mengetahui nasib ayahnya. "Baiklah!" Sang sopir menambah laju mobilnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN