Meskipun hanya kurang dari dua menit, pelukan Iron mampu menenangkan hati Nayla. Hanya saja lelaki itu tetaplah seorang yang dingin, sulit sekali berlaku romantis. Selesai memeluk Nayla, Iron kembali ke jok depan seolah tidak pernah ada pelukan itu. "Jadwal selanjutnya apa, Muna?" tanya Iron. "Kita punya janji meeting via video conference dengan Pak Arhan dan keluarga Babah Lee," beritahu Muna. Iron melirik Nayla. Nayla menyeka sisa air mata di pipinya. "Aku siap!" "Kamu yakin?" Iron memastikan. Nayla mengangguk. Iron menoleh kepada Muna. "Jam berapa jadwalnya?" "Dua jam lagi," jawab Muna. "Hanya saja Pak Arhan meminta kalau bisa pertemuan itu diselenggarakan secara langsung. Pertimbangan beliau adalah keluarga Babah Lee ingin bertemu langsung dengan walikota." Iron mendesah. "Kal

