Dari raut Eko yang menunjukkan kegelisahan, Nayla bisa menebak sekuriti tersebut sedang diancam Amando jika tidak tegas untuk mengusirnya.
Nayla bukan tipe orang egois. Ia memang ingin bertemu Amando untuk meminta klarifikasi atas keputusan sepihak kekasihnya kemarin, tetapi ia sadar, jika memaksakan diri, Eko akan kena imbasnya.
Selagi Eko sedang teleponan dengan Amando, Nayla akan menggunakan kesempatan itu untuk bicara dengan kekasihnya.
Nayla memberi gestur agar Eko memberikan ponsel kepadanya. Awalnya sekuriti tersebut merasa keberatan tetapi melihat ekspresi memohon dari Nayla, terpaksa ia memberikannya.
Nayla menempelkan ponsel ke telinga.
"Pokoknya Nayla jangan sampai masuk. Usir kalau perlu. Kamu jadi sekuriti sudah berapa tahun, hah? Masa gitu aja nggak bisa?" Amando belum tahu kalau ponsel Eko sudah berpindah ke tangan Nayla.
"Memangnya kenapa kalau aku masuk?" tanya Nayla kesal.
Amando gelagapan, tidak menyangka ponsel Eko berpindah ke tangan Nayla. "Bagaimana bisa ponselnya ada pada kamu?"
"Aku merebutnya dari Om Oke! Kamu mau memecatnya?"
Amando kesal. "Itu bukan urusanmu!"
"Baik, itu memang bukan urusanku. Urusanku ke sini cuma mau menemui kamu. Dan aku akan terus menunggu di sini sampai kamu mau bicara sama aku!" Nayla mengancam.
Amando tahu ancaman Nayla tidak main-main. Jika gadis itu bersikeras berada di area rumahnya, itu bisa membuat Sisca curiga. Maka ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Nayla. "Oke, kita akan bicara, tapi enggak sekarang. Aku ada meeting, jadi bagaimana kalau nanti malam, selepas maghrib kita ketemuan di kafe Armenia."
Sebenarnya Nayla ingin membicarakan masalahnya dengan Amando segera, tetapi jika memaksanya sekarang, ia tidak mau Eko kena dampaknya.
"Oke, jam setengah tujuh tepat!" ujar Nayla. Ia menyerahkan ponsel kepada Eko.
Eko menerima ponsel dengan wajah cemas.
"Tenang aja, Om Oke pasti aman!" Nayla meyakinkan Eko.
Kecemasan Eko berangsur sirna. Ia menarik napas lega.
***
Nayla sudah menunggu selama dua belas menit ketika Amando datang.
Dari kejauhan Amando sempat kaget melihat penampilan Nayla. Seoalah ia tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Seumur-umur baru kali ini gadis itu mengenakan maxi dress hitam, dipadukan naked heels warna hitam pula.
Malam ini Nayla bukan hanya lebih anggun dari biasanya, tetapi juga memancarkan kesan glamour. Sayangnya, ia sudah tidak ingin meneruskan hubungan dengan gadis berambut pendek tersebut.
"Malam, Nay!" Amando menarik kursi kemudian mendudukinya sambil melirik penampilan tatanan rambut Nayla yang bermodel Bob Cut dengan poni tipis ala artis-artis Korea.
"Malam!" balas Nayla sedikit ketus.
"Kamu mau minum apa?" Kalimat basa-basi itu meluncur begitu saja dari bibir Amando. Ia sedikit gugup gara-gara penampilan Nayla yang sangat berbeda.
"Aku sudah pesan Lemon Ice Tea," jawab Nayla masih mempertahankan sikap ketus.
Amando menelan ludah, ketika sadar Nayla juga me-make over wajahnya. Gadis itu sangat mempesona dengan make-up tipis tapi tetap terkesan cantik natural.
Sejatinya Amando masih mencintai Nayla. Hanya gadis itu satu-satunya yang mau menerima dirinya sebagai pecandu narkoba. Dulu ia pernah hampir bertekad untuk lepas ketergantungan dengan narkoba berkat kesabaran gadis itu membimbingnya. Sayang, ia masih bergaul dengan sesama pecandu sehingga tekadnya pupus.
Amando tipe orang yang mudah bergaul, supel, dan ramah kepada siapa saja, tidak pernah membeda-bedakan status sosial. Itu membuatnya disukai banyak orang, tidak terkecuali para gadis, bahkan ibu-ibu muda. Dengan ketampanannya ia bisa saja memilih satu di antara sekian gadis seksi. Jika mau dengan ketampanan dan kekayaannya itu, ia bahkan bisa menjadi playboy. Namun cintanya hanya tertambat pada Nayla. Ia mengakui, sampai detik ini hanya Nayla yang mencintainya dengan tulus, bukan karena status sosialnya.
"Kamu ke sini hanya untuk bengong?" tegur Nayla.
Amando terkesiap. "To the point aja, apa sebenarnya mau kamu?"
Nayla menghunus tatapan tajam. "Seharusnya aku yang tanya begitu. Apa mau kamu dengan mengirim pesan teks kemarin?"
"Kamu bisa bahasa Indonesia bukan?" Amando membalas tatapan Nayla. Sial, ia tenggelam pada beningnya sepasang telaga itu. Betapa tatapan teduh itu yang selalu menghiasi lamunannya.
"Kamu bisa kan bicara layaknya seorang lelaki?" sindir Nayla. "Kamu pengecut, beraninya lewat pesan singkat."
"Aku sibuk!" dalih Amando.
Nayla terkekeh sumbang. "Ya, ya, ya! Seharusnya aku memahami kesibukan Bapak Amando Ferdiansyah, sarjana hukum, seorang sekjen partai tingkat cabang yang karirnya melesat bak roket dan sebentar lagi akan dipromosikan ke pengurus provinsi."
Amando tidak suka pada sindiran Nayla.
"Apa alasanmu memutuskan cinta kita?" Nayla mengerjap, tidak mau membuang-buang waktu. Ayahnya sedang sakit di rumah. Ia tidak tega meninggalkan ayahnya seorang diri.
"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya!"
"Tidak usah main tebak-tebakan!"
Amando mendengus. Ia memalingkan muka kesal. "Aku pikir kita memang sudah enggak sejalan."
Jari lentik Nayla mengibas poni tipisnya ke samping. "Kamu yang menciptakan situasi itu. Kamu mulai menuntutku menjadi seperti yang kamu mau, padahal dulu kamu bisa menerimanya. Kamu berubah sejak mendapatkan promosi jabatan, Do!"
"Apa aku salah, memintamu menjadi lebih baik?"
"Aku paham itu!" ujar Nayla. "Aku berusaha mengikuti keinginanmu. Aku sadar kamu sebentar lagi akan menjadi politikus level tinggi, bahkan aku dengar kamu akan diproyeksikan menjadi pejabat publik. Aku tahu kamu butuh pendamping yang serasi. Maka itu aku berusaha keras, memantaskan diri. Seharusnya kamu bisa menghargai usahaku itu."
"Aku menghargai usahamu!" sergah Amando, sedikit menaikkan intonasi. "Aku memberimu banyak waktu. Hanya saja kulihat kamu kurang keras berusaha."
Sepasang mata Nayla terbelalak. Sejurus kemudian ia tersenyum masam. "Kamu menuntut terlalu tinggi tapi memberiku waktu sangat singkat."
"Sebulan enggak cukup?"
Nayla terkekeh. "Kamu bisa melihatnya bukan? Lihatlah baik-baik penampilanku malam ini. Aku bisa menjadi sosok seperti yang kamu inginkan."
Amando menelan ludah. Ia membenarkan kata-kata Nayla, tetapi bukan hanya penampilan saja yang ia inginkan.
"Kalau kamu menuntut gaya hidupku juga harus seperti yang kamu mau, itu sulit terwujud dalam waktu sebulan. Aku harus mengubah kebiasaan lama. Aku butuh lebih banyak waktu untuk beradaptasi dan menerima perubahan pada diriku sendiri."
"Jadi kamu meminta lebih banyak waktu?" Amando menyesal menanyakan itu. Jika Nayla menjawab 'iya' maka ia akan bingung sendiri karena ia memang sudah tidak menginginkan hubungannya dengan Nayla berlanjut.
Nayla menggeleng. "Aku tetap akan jadi diriku sendiri."
Amando merasa lega. "Itu artinya kamu menerima keputusanku?"
Nayla bungkam. Ia sadar Amando tetap akan menuntutnya menjadi seperti yang diinginkannya. Pedih hati Nayla untuk menerima kenyataan ini. Tetapi ia tidak mau tampak lemah di hadapan Amando.
"Kamu enggak bisa bersikeras untuk mempertahankan hubungan kita jika belum bisa memahami permintaanku." Amando menunduk. Ia juga merasa sedih harus berpisah dengan Nayla.
"Kamu egois!" maki Nayla.
Amando diam. Ia mengakui itu. Semua karena situasi begitu cepat berubah, sehingga membuatnya harus ikut berubah. Dulu ia nyaman-nyaman saja pacaran dengan gadis miskin dan tomboy itu. Waktu itu ia hanya pengurus partai level kota yang jarang tampil di publik. Seiring kariernya yang melesat, ia berambisi menjadi pejabat publik atau paling tidak menjadi anggota legislatif. Ia membutuhkan sosok pendamping yang bisa mendongkrak elektabilitasnya. Itu tidak bisa ia dapatkan dari Nayla.
Amando mengakui, Nayla memang cantik dan meskipun tomboy adalah sosok perempuan yang bisa memahami keadaannya. Siap menjadi pendamping hidup dalam segala kondisi. Sayang image gadis itu jauh dari sosok pendamping yang pantas menjadi sorotan media dan publik.
"Jadi ini murni karena aku nggak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan?" tanya Nayla.
Amando mengangguk.
Sepasang mata Nayla menjadi panas. Sekuat tenaga ia berusaha agar tidak menangis. "Bukan karena ada perempuan lain?"
Amando tersentak.
Nayla menatap Amando tajam. Ia menjadi teringat dengan seorang perempuan arogan yang ia lihat tadi siang di rumah Amando. "Padahal aku lebih bisa menerima jika kamu mutusin aku karena ada pihak ketiga, ketimbang karena keegoisanmu!"
Amando melengos.
"Dikhianatin itu menyakitkan!" Nayla memajukan wajah sampai hanya berjarak satu jengkal dengan wajah Amando. Ia bisa mendengar setiap tarikan napas lelaki itu. "Tapi lebih menyakitkan lagi ketika orang yang kucintai menuntutku menjadi orang lain!"
Amando menatap mata Nayla sekilas, sebelum akhirnya membuang pandangan ke samping.
Tangan Nayla memutar dagu Amando agar mereka bisa saling tatap. "Atau jangan-jangan kamu mutusin aku karena keduanya?"
Amando mengibas tangan Nayla agar tidak menyentuh dagunya. "Sekarang mau kamu apa?"
"Aku hanya ingin kamu tahu, aku baik-baik saja tanpamu!" ujar Nayla dengan sorot tajam.
"Syukurlah!" timpal Amando. "Kalau begitu mulai sekarang kita bisa menjalani hidup masing-masing."
"Oke!" sahut Nayla tegas, padahal hatinya remuk. Ia harus tampak tegar di hadapan Amando saat ini. Perkara ia akan menangisi perpisahan ini, biarlah itu nanti saja setelah sampai di rumah.
"Oke!" Amando mengambil dompet, lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja. Ia berdiri, menatap Nayla. "Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik."
Nayla ikut berdiri. Ia mengambil lembaran-lembaran uang dari atas meja lantas memasukkannya ke saku kemeja Amando. "Ambil uangmu! Tagihannya sudah aku bayar!"
Amando menelan ludah. Baru kali ini ia merasa dipermalukan oleh Nayla.
Selepas kepergian Amando, Nayla kehilangan seluruh ketegaran. Ia melepaskan semua kekuatan hati. Ia yang tadi sekuat tenaga berusaha agar tidak menangis, kini sembab.
Terbayang dalam benaknya pada kenangan tiga tahun lalu, awal pertemuannya dengan Amando. Saat itu Amando menjadikannya nara sumber untuk menyusun tesis S2.
Nayla tidak mengerti kenapa dirinya dijadikan nara sumber, yang ia ingat saat itu Amando sedang mengangkat bahasan kemiskinan. Sejak itu mereka menjadi dekat. Di suatu senja yang syahdu, lelaki itu mengungkapkan perasaannya.
Ditembak seorang aktivis kemanusiaan dan pengurus sebuah partai, tentu saja membuat Nayla terkejut. Meskipun ia mengagumi lelaki itu, tetapi ia tidak berharap banyak, sehingga ketika lelaki itu mengungkapkan cintanya, ia merasa seolah sedang mendapatkan hadiah mobil dari dalam bungkus kopi saset.
Awalnya Nayla ragu dengan ketulusan Amando. Ia menganggap itu hanya prank atau sejenisnya. Betapa tidak, ia hanya seorang gadis tomboy dari keluarga miskin. Tiba-tiba ada seorang lelaki tampan berpendidikan tinggi memintanya menjadi kekasih. Namun lelaki itu berupaya keras meyakinkannya. Sehingga ia pun luluh.
Amando lelaki yang baik dan tipe orang yang menyenangkan. Nayla merasa sangat bahagia bisa menjadi kekasihnya. Sampai suatu ketika ia baru tahu kalau lelaki itu seorang pecandu narkoba.
Amando mengakui itu. Bahkan dengan meyakinkan lelaki itu mengatakan akan insyaf. Amando meminta Nayla untuk membimbingnya agar bisa lepas dari ketergantungan narkoba.
Sebagai kekasih, Nayla sangat sabar membimbing Amando agar lepas dari ketergantungan narkoba. Usahanya memang belum membuahkan hasil, tetapi ia terus melakukannya tanpa lelah.
Sampai akhirnya sebulan lalu, tiba-tiba Amando memintanya agar lebih feminin.
Nayla menjambak rambutnya sendiri. Air matanya tumpah mengenangkan hari-hari indah bersama Amando yang baru saja berakhir.
Tanpa Nayla sadari, dari meja sebelah pojok, seorang tengah mengawasinya. Orang itu adalah suruhan Sisca yang telah mengawasi, mengambil gambar dan video, lalu melaporkannya kepada Sisca.