“Kak Keano?”
Keano yang baru saja melewati pintu kelas X-2 menghentikan langkahnya. “Hai, Ca!”
“Katanya latihan Minggu jadwalnya maju ya?”
“Oh iya.” Keano berbalik, lalu berjalan dua langkah mendekati meja Cantika yang berada tak jauh dari pintu. “Coach Adnan baru chat tadi pagi. Jam enam sudah mulai.”
“Nggak sekalian nonton sunrise?” Cantika yang tengah memegang roti isi spontan meringis. “Kenapa jadi pagi banget?”
“Siangnya arena utama dipakai latihan klub, Ca.”
“I see. Pantesan yang grup kita juga maju jadi jam delapan.”
“Betul.”
“Serius, Kak? Private session jam enam pagi?”
“Iya,” kekeh Keano. “Mantab lho, Ca. Aku malah suka. Yang biasanya nggak bisa sepagi itu kan Coach Adnan.”
“Sekalian sih riding lintas alam.”
“Yuk! Kapan mau coba?”
“Malah serius.”
“Serius dong. Pantai dulu aja, kan datar.”
“Seru kayaknya ya, Kak.”
“Nanti aku bilang Coach Adnan ya. Siapa tahu beliau mau ngadain retreat weekend gitu. Kan asik tuh.”
Cantika langsung mengangguk antusias. “Mau!”
“Beneran?”
“Beneran. Tapi rame-rame.”
“Ya iyalah.” Keano tertawa. “Masa berdua?”
Cantika ikut terkekeh. “Maksud aku satu grup sekalian. Lebih seru.”
“Bisa sih. Anak-anak klub aku juga pasti banyak yang mau.”
“Terus kudanya?”
“Bisa dibicarain sama Coach. Tergantung lokasinya juga. Kalau bawa dari Raiden kan beda lagi persiapannya.”
Cantika mengangguk-angguk seolah rencana itu benar-benar akan dilakukan dalam waktu dekat.
Delia yang sedari tadi duduk di sebelahnya hanya memandang keduanya bergantian.
“Gue nggak ngerti kalian ngomongin apa, tapi kayaknya seru.”
Cantika tertawa. “Ikut aja yuk, best.”
“Naik kuda?”
“Iya.”
“Nggak ah.”
“Lho? Kenapa?”
“Gue masih sayang tulang ekor, best.”
Keano spontan tertawa. “Riding pertama kali nggak akan langsung disuruh lari, Del.”
“Tetep aja. Dia tinggi.”
“Siapa?”
“Kudanya.”
Cantika sampai tersedak kekehannya sendiri. “Ya kali kudanya seukuran kucing!”
“Makanya gue takut, best!” tanggap Delia lagi.
Belum juga perbincangan absurd itu selesao, sesosok tubuh tinggi berhenti di ambang pintu.
“Ca.”
Cantika bahkan tak perlu menoleh. “Hmm.”
Sam berjalan masuk sambil membawa botol minum di satu tangan. Tatapannya sempat singgah pada Keano, lalu Delia, sebelum berhenti pada roti isi di tangan Cantika.
“Bawa apa?”
Cantika refleks menjauhkan makanannya. “Nggak ada.”
Sam menunjuk.
“Itu.”
“Roti doang.”
“Isi apa?”
“Kenapa?”
“Nanya.”
“Smoked beef and cheese.”
Sam langsung mendekat. “Mau. Potek, Ca.”
“Nggak.”
Pemuda itu memberengut.
Cantika menggeleng pelan dengan tangan yang akhirnya memotong roti itu menjadi dua bagian. Lalu menyodorkannya ke Sam.
Ia langsung memasukkannya ke mulut.
Cantika memukul lengannya pelan.
“Makan pelan-pelan!”
Sam hanya tersenyum dengan mulut yang sibuk mengunyah.
Keano menggeleng geli melihat mereka. “Kok bisa sih tiap hari lo berdua begini?”
“Dia kalau sehari aja nggak gangguin aku, kayaknya sebadan-badan tremor,” sahut Cantika.
“Alhamdulillah,” sahut Sam. “Ternyata kamu paham tanpa perlu aku jelasin, Ca.”
Cantika langsung melotot.
Sam malah mencengir.
Baru setelah itu ia menoleh kepada Keano. “Ngapain lo, Ken?”
“Balikin partitur ke ruang musik, terus ngobrolin jadwal latihan riding hari Minggu sama Cantika.”
“Oh.”
“Gue mulai jam enam. Cantika jam delapan.”
“Jam enam?”
Keano mengangguk. “Private.”
“Rajin amat lo.”
“Enak malah. Belum panas.”
Cantika langsung menyahut, “Terus tadi Kak Keano ngajakin riding lintas alam.”
Sam menoleh ke Cantika. “Di mana?”
“Belum tau. Baru wacana aja. Kayaknya seru.”
“Pantai sih yang oke,” timpal Keano. “Buat awal paling aman yang datar dulu. Gue mau coba ngomong sama Coach Adnan, siapa tahu bisa sekalian bikin weekend retreat.”
Mata Cantika kembali berbinar. “Seru banget nggak sih?”
Sam memperhatikannya. “Hmm.”
“Lo ikut kan kalau jadi?”
Pertanyaan itu membuat Sam terdiam sejenak. “Nggak harus berkuda kan?”
“Lo yang rugi dong, Sam.”
“Nggak dong. Kan bisa jalan-jalan pakai kaki.!
Cantika tertawa. “Payah.”
“Realistis, Ca.”
Keano ikut terkekeh. “Trauma dia, Ca.”
“Bukan trauma,” bantah Sam cepat. “Gue dan kuda cuma sepakat menjaga jarak.”
“Kesepakatan yang dibikin kapan?”
“Sepihak ajalah.”
“Dari lo?”
“Dari kudanya.”
Cantika tertawa lepas.
Sam ikut tersenyum.
Namun beberapa saat kemudian, percakapan Cantika dan Keano kembali pada rencana lintas alam tadi. Membahas kemungkinan lokasi, siapa saja yang mungkin tertarik ikut, sampai pengalaman Keano yang ternyata sudah beberapa kali melakukan trail riding bersama klubnya.
Sam masih ada di sana.
Mendengarkan.
Sesekali ikut menanggapi.
Meski tak banyak.
Ada begitu banyak hal yang bisa dibicarakan Cantika dan Keano tentang dunia itu tanpa perlu menjelaskan dari awal.
Dan anehnya... Sam baru menyadari lagi betapa ia tak menyukai perasaan menjadi orang yang hanya mendengarkan.
***
Tak jauh dari kelas X-2, Fara menghentikan langkahnya.
Map biru yang dibawanya berpindah dari tangan kanan ke kiri.
Matanya jatuh pada Sam.
Selalu begitu.
Beberapa menit sebelumnya, ia mencari Sam ke ruang OSIS karena mereka harus mengecek ulang daftar perlengkapan untuk kegiatan sekolah minggu depan.
Tak ada.
Salah satu pengurus hanya menjawab dengan santainya. “Paling ke kelas sepuluh.”
Tak perlu ditanya kelas sepuluh yang mana.
Fara sudah tahu.
Dan benar saja. Sam ada di sana. Duduk di samping Cantika.
Tertawa.
Memaksa gadis itu membagi makanannya.
Seolah tak ada tempat lain yang lebih menarik untuk didatangi setiap jam istirahat.
Fara mengembuskan napas perlahan.
Meski bukan pertama kali ia melihat mereka bersama... justru mungkin sudah terlalu sering... awalnya Fara merasa tak perlu memikirkan itu.
Cantika sepupu Sam.
Mereka tumbuh bersama.
Keluarga mereka dekat.
Selesai.
Setidaknya... seharusnya sesederhana itu.
Namun semakin lama, semakin sulit baginya mengabaikan satu kenyataan.
Sam memang ramah ke semua orang.
Tapi... Sam selalu mencari Cantika.
Tentu saja itu sudah di level ramah yang berbeda.
Dan Fara... mulai tak menyukai fakta itu.
“Sam.”
Pemuda itu baru saja berbelok menuju tangga saat suara Fara membuatnya menghentikan langkah.
“Ya, Far?”
Fara mempercepat langkah hingga sejajar dengannya. “Aku nyariin kamu dari tadi.”
“Oh kenapa?”
“Daftar perlengkapan.” Ia menyerahkan map biru yang dibawanya.
Sam langsung menerimanya. “Udah dicek?”
“Udah. Tinggal bagian konsumsi sama dokumentasi.”
“Oke. Nanti aku cek lagi, ya.”
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang OSIS.
Fara meliriknya berkali-kali.
“Kenapa sih? Ada yang salah di muka aku?”
“Nggak.”
Sam mengangguk, menerima jawaban itu begitu saja, tak merasa perlu mengulik lebih dalam.
“Sam.”
“Hmm?”
“Nanti pulang bareng, yuk.”
Sam masih membaca lembar pertama di dalam map. “Nggak bisa, Far.”
“Kenapa?”
“Aku pulang sama Cantika.”
Langkah Fara melambat sedikit.
Nahasnya, Sam sama sekali tak menyadarinya.
“Cantika?” balas Fara.
“Iya.”
“Dia emangnya nggak bisa pulang sendiri?”
Sam akhirnya mengangkat wajah dari map, menoleh ke Fara. “Bisa sih.”
“Terus?”
Sam mengernyit, seolah tak memahami inti pertanyaannya. “Tapi pulangnya memang sama aku.”
Jawaban itu begitu sederhana. Tanpa maksud apa pun.
Justru itu yang membuat Fara semakin kesal. “Besok gimana?”
“Besok gimana apanya?”
“Pulang bareng, Sam.”
“Besok juga aku pulang sama Cantika.”
Fara berhenti.
Sam ikut berhenti dua langkah di depannya. “Kenapa sih?”
Fara menatapnya cukup lama. “Kamu beneran nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti sih?”
Kening Sam mengerut. “Ngerti apa?”
“Aku ngajak kamu pulang bareng.”
“Iya.”
“Berdua.”
“Iya. Tapi motor aku juga cuma bisa buat berdua. Dan udah sama Cantika. Kamu mau di mana emangnya? Diikat kayak layangan?”
“Sam!”
“Apa?”
Fara mengembuskan napas keras.
Pemuda di hadapannya masih terlihat sama bingungnya.
Akhirnya Fara menyerah. “Aku suka sama kamu. Sudah lama banget, Sam.”
Sunyi.
Sam mengerjap.
Sekali.
Dua kali.
“Hah?”
Fara hampir tak percaya. “Serius kamu nggak tau?”
“Nggak.”
Padahal seantero sekolah tahu. Oh, kecuali Sam.
“Selama ini sama sekali nggak nyadar?”
Sam menggeleng. “Nggak.”
Fara menutup kedua matanya sejenak. “Ya ampun, Sam...”
“Emangnya sejak kapan, Far?”
Fara menatapnya tajam. “Kamu dengar nggak sih aku bilang apa tadi? Sudah lama banget, Sam.”
“Oh gitu ya.”
Fara menunggu.
Sam ikut diam.
Detik demi detik berlalu. Dan tak ada kelanjutan dari dialog itu.
“Terus?” desak Fara akhirnya.
“Apa yang terus?” balas Sam.
Fara memandangnya tak percaya. “Sam, aku baru bilang aku suka sama kamu.”
“Iya. Aku dengar kok.”
“Terus? Tanggapan kamu?”
Sam benar-benar tampak kebingungan.
Seolah Fara baru saja memberinya soal ujian tanpa instruksi apa yang harus dikerjakan.
“Harus ditanggapi ya?”
Fara mengatupkan rahangnya. “Nggak usah.”
Ia mengambil kembali map dari tangan Sam.
“Eh, map-nya, Far!”
“Nanti aja!”
Fara berbalik cepat.
Sam tetap berdiri di tempat.
Memandangi punggung gadis itu semakin menjauh.
Lalu mengusap tengkuknya.
“Kenapa jadi marah?”
***
Sore harinya, kejadian pagi tadi bahkan sudah nyaris hilang dari kepala Sam.
Kegiatan OSIS selesai lebih lambat sekitar dua puluh menit dari perkiraan.
Saat akhirnya keluar dari ruang organisasi sambil menyampirkan tas di satu bahu, Sam langsung mencari satu sosok yang sudah pasti menunggunya.
Cantika.
Gadis itu duduk di bangku panjang dekat taman depan sekolah, earphone terpasang sebelah, sementara jarinya sibuk menggulir layar ponsel.
Sam baru saja hendak memanggilnya.
Namun...
“Kak Sam.”
Langkahnya berhenti.
Seorang siswi berdiri beberapa meter di depannya.
Sam mengenal wajahnya.
Kelas X-1.
“Karina?”
Gadis itu tampak terkejut karena namanya diingat. “Iya, Kak.”
“Ada apa?”
Karina menggenggam tali tasnya dengan kedua tangan. “Boleh ngomong sebentar?”
“Boleh.”
Sam menunggu.
Karina justru diam.
Wajahnya mulai memerah.
Sam sampai menoleh ke kanan dan kiri, memastikan gadis itu memang sedang berbicara kepadanya.
“Karina?”
“Aku...”
“Kamu kenapa?”
Karina menarik napas dalam. “Aku suka Kak Sam.”
Sam membeku.
Lagi?
Di hari yang sama?
Anjiiir, urang di-prank apa?
Belum sempat otaknya menyelesaikan satu kalimat...
Karina melanjutkan.
“Dari pas MOS, Kak.”
“Oh.”
“Dan... kalau Kak Sam belum punya pacar...”
Sam masih diam.
“Kak Sam mau nggak... jadi pacarku?”
Kelu.
Sam hanya bisa mengerjap bingung.
Untuk kedua kalinya hari itu... Samudera Razan Wisesa kehilangan kemampuan menjawab pertanyaan sederhana.
Namun kali ini, setelah beberapa detik terdiam... tatapannya justru bergerak melewati bahu Karina.
Menuju bangku panjang di dekat taman.
Tepat ke arah Cantika.
Dan entah sejak kapan... gadis itu sudah berhenti memainkan ponselnya.
Sedang menatap mereka.