BEFORE EVERYTHING–09

2096 Kata
"Masih sepi ya, Pa," gumam Cantika. SUV hitam yang dikendarai Dirga perlahan memasuki gerbang utama Raiden Equestrian Centre. Ia melirik ke jam di dashboard. “Enak malah kan, Ca,” tanggap sang ayah. “Orion belum banyak drama." Cantika terkekeh. Di luar, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan rumput, sementara derap langkah beberapa ekor kuda samar terdengar dari dalam kabin. Dirga memarkir sempurna mobilnya, lalu mematikan mesin. “Papa ih, masa kuda bisa ngedrama,” timpal Cantika seraya membuka sabuk pengamannya. “Nggak tau kalau kuda lain, yang jelas Orion jago. Dua minggu lalu siapa yang hampir nyeret groom gara-gara ngambek nggak dikasih apel?" Cantika membuka pintu mobil sambil menahan tawa. “Lagi bad mood itu, Pa.” Ringkikan pendek terdengar dari arah kandang, bersahut-sahutan dengan suara pelatih yang memberi instruksi kepada para peserta latihan pagi. Aroma jerami, kulit pelana, dan tanah yang masih lembap setelah disiram embun bercampur menjadi satu, menghadirkan suasana yang selalu dirindukan oleh para pencinta olahraga berkuda. "Persis kayak yang punya,” timpal Dirga. "Papa!" Dirga hanya tertawa puas sebelum menyusul turun. Begitu kedua kaki Cantika menapak halaman pusat latihan, raut wajahnya seketika berubah. Jika di sekolah ia cenderung pendiam dan hemat ekspresi, di tempat ini justru sebaliknya. Tatapannya bergerak ke mana-mana. Memperhatikan setiap arena. Setiap kuda. Setiap orang yang sedang sibuk menyiapkan latihan. Senyumnya muncul begitu saja. Tak dibuat-buat. Bahkan tanpa disadari oleh pemiliknya. Dirga memperhatikan perubahan itu sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Pasti kangen Orion." Cantika mengangguk tipis. "Banget, Pa." "Ca mah kalau di apartemen bisa bikin kandang kuda, pasti Orion diajak pulang." Sang putri terkekeh. “Nggak kalau itu, Pa. Di sini sudah paling pas buat Orion. Jakarta terlalu chaos buat kuda.” “Perhatian banget.” “Iya dong, Pa.” “Ca tuh ekspresif banget kalau soal Orion.” “Kelihatan ya, Pa?” Dirga mengacak pelan puncak kepala putrinya. “Mood Ca nggak ada filternya kalau soal berkuda." Cantika hanya tersenyum. Mungkin memang benar. Tak banyak tempat yang bisa membuatnya merasa benar-benar tenang. Namun Equestrian Centre ini selalu menjadi salah satunya. *** "Morning, Pak Dirga! Cantika!" Salah seorang pelatih melambaikan tangan dari arah arena. "Morning, Coach." Dirga membalas sapaan itu sambil menjabat tangannya. “Hai, Coach,” sahut Cantika. "Orion sudah siap, Coach?" "Sudah. Lagi disisir." Cantika spontan mengalihkan pandangannya ke arah kandang. Begitu menemukan Orion, sudut bibirnya langsung terangkat. "Boleh aku lihat dulu?" "Silakan." Belum menunggu tanggapan sang ayah, gadis itu sudah berjalan cepat menuju deretan kandang. Dirga hanya menggeleng geli. “Papanya kalah sama kuda.” Adnan ikut tertawa. "Kalau datang ke sini, Cantika pasti langsung nyari Orion, Pak." "Iya, Zhen juga bilang gitu?" “Padahal saya selalu bilang siapa aja yang ada di sini. Cuma Cantika iya-iya aja, yang penting buat dia lihat Orion dulu.” “Ternyata begini rasanya dinomor duain,” tanggap Dirga. “Sama kuda.” Tawa mereka pecah. Sementara itu... Cantika sudah berdiri di depan kandang favoritnya. Seekor kuda berwarna putih keabu-abuan langsung mengangkat kepala begitu melihatnya. "Hai, kawan!" Suara Cantika terdengar ceria. Ia mendekat perlahan. Mengusap pelan dahi Orion yang langsung mendengus pelan seolah mengenali sentuhan itu. "I miss you too." Orion menggesekkan moncongnya ke lengan Cantika. Cantika terkekeh. Ia lalu mengambil sikat yang tergeletak di dekat pintu kandang, lalu mulai menyisir perlahan surai panjang kudanya. Gerakannya begitu terlatih. Tenang. Dan sabar. Seolah ia sudah melakukan rutinitas itu ratusan kali. Tak jauh dari sana, Dirga memperhatikan putrinya sambil tersenyum simpul. Bagi orang lain, mungkin ini hanya kegiatan sederhana. Namun bagi Dirga... ia tahu betul jika inilah salah satu tempat di mana Cantika benar-benar menjadi dirinya sendiri. *** "Cantika!" Suara seorang pemuda membuat Cantika menoleh. Beberapa kandang di seberang sana, Keano baru saja melepas helm berkudanya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena tertutup pelindung kepala. Senyumnya mengembang penuh. Cantika tersenyum, mengangguk sopan. "Hai, Kak." Keano berjalan mendekat sambil menenteng sepasang sarung tangan kulit. “Latihan pagi?” “Iya. Malah Kak Ken yang nggak biasa pagi bukan?” Pemuda itu mengangguk. “Sudah mulai latihan buat kejuaraan, Ca. Terakhir nih. Tahun depan kan sudah kelas XII, fokusnya sudah beda lagi.” “Iya sih.” "Orion?" tanya Keano seraya menatap lembut kuda itu. Cantika mengangguk. “My only one.” "I see. Pantes kenal banget sama kamu. Mainnya juga sama Coach Adnan doang." Cantika terkekeh. "Iya.” “Manja ya?” Keano mengulurkan tangannya, mengusap lembut kepala Orion. Kuda itu tampak tak keberatan sama sekali. “Banget. Maunya disuapin terus." Keano terkekeh. "Kalau aku jadi Orion juga minta apel terus." Cantika ikut tersenyum. Suasana terasa jauh lebih cair dibanding pertemuan mereka di sekolah beberapa hari lalu. Di tempat ini... keduanya memiliki satu bahasa yang sama. Tentang kuda. Tentang latihan. Tentang aroma jerami, apel, dan suasana stable yang ramai dengan ringkikan. "Kata Coach Adnan tadi, minggu depan lintasan show jumping yang baru sudah dibuka, Ca," ujar Keano sambil melirik arena utama. "Oh iya, Kak? Tadi Coach nggak bilang." "Iya. Aku juga baru nanya pas mau rehat." "Kak Keano belum selesai latihannya?" "Belum, Ca. Paling kita latihan bareng. Tadi baru warming up aja." “Oke-oke!” "Nanti kita cobain lintasan yang baru." “Minggu depan.” “Nggak. Sekarang.” “Serius?” Cantika tampak antusias. “Yup! Test drive.” Tak jauh dari mereka... Dirga yang masih berbincang dengan Coach Adnan melirik ke arah putrinya, memperhatikan tawa Cantika bersama Keano. Tatapan Dirga kemudian bergeser sejenak, ke arah ekspresi Keano. Pemuda itu sedang menceritakan sesuatu yang menarik bagi Cantika. Namun... cara matanya memandang Cantika... terlihat begitu berbeda. Dirga hanya mengangkat alisnya sebelah. Lalu tersenyum tipis. "Hmm... my boy has a rival,” gumamnya. “Interesting!” *** Tak lama kemudian, Adnan meniup peluit pendek sebagai tanda sesi latihan akan dimulai kembali. "Yang pemanasan di arena satu dulu!" "Siap, Coach!" Beberapa peserta segera menggiring kudanya menuju arena terbuka. Suara derap kaki kuda mulai memenuhi udara, berpadu dengan bunyi gesekan pelana dan sesekali ringkikan pendek yang memecah pagi. Cantika memasang helm berkudanya, lalu memeriksa kembali pengikat dagu hingga benar-benar pas. Keano yang berdiri di samping arena ikut mengenakan helm. "Fighting, Orion!” serunya sambil mengepalkan kedua tangan, lalu tersenyum. Lucunya, kuda itu merespon, ringkikannya tegas sambil beberapa kali menghentakkan kaki depan seolah mengiyakan. “Brother lagi semangat banget kayaknya." Ujar Keano lagi. Cantika memperhatikan kudanya. "Iya. Happy kayaknya habis libur dua minggu.” “Lumayan bisa nyantai sambil jalan-jalan inspeksi sama Coach Adnan.” “Padahal aku kangen banget. Khawatiran. Taunya dia happy-happy aja.” Keano terkekeh. "Minggu depan jangan bolos lagi, Ca." "Nggak janji sih. Kadang suka tiba-tiba sibuk gitu, Kak." “Iya deh.” Tak jauh dari sana, Coach Adnan mengangkat tangan. "Cantika!" "Iya, Coach!" "Coba mulai dulu." Cantika mengangguk, lalu menuntun Orion menuju garis masuk arena. Dengan satu gerakan ringan, ia menaiki punggung kudanya. Semuanya begitu alami, tak ada gerakan terburu-buru, tak ada keraguan. Seolah tubuhnya memang sudah terbiasa menyatu dengan Orion. "Nice," gumam Keano. Ia lalu menyusul menaiki Eclipse, kudanya sendiri. Adnan mulai memberi aba-aba. "Walking!" Kedua kuda bergerak perlahan mengelilingi arena. Beberapa putaran pertama berlangsung santai. Lalu perlahan berubah menjadi trot (lari kecil). Kemudian canter (lari sedang). Cantika tampak menikmati setiap perubahan ritme itu. Sesekali ia membungkuk sedikit mengikuti gerakan Orion, lalu memperbaiki posisi duduknya dengan sangat halus. Keano yang berada beberapa meter di belakangnya tak kalah rapi. Beberapa kali Adnan mengangguk puas melihat kemampuan anak-anak didiknya. "Good!” "Keep your rhythm!" "Relax!" Dirga yang berdiri di balik pagar arena tersenyum simpul melihat putrinya. "Ca udah jauh lebih stabil ya sekarang?" Adnan mengangguk. "Pesat banget, Pak. Cantika cepat nangkap. Orion juga nyaman sama Cantika." "Yang kurang tinggal jam terbang." "Betul, Pak." Dirga mengalihkan pandangan ke arah Keano. "Anak itu juga bagus." "Atlet, Pak." “Oh iya?” Adnan mengangguk. "Latihan utamanya di PORDASI. Di sini biasanya cuma latihan tambahan sama teman-teman klubnya atau sesekali sparring. Baru minggu lalu minta latihan privat sama saya." "Baru minggu lalu?" "Iya, Pak." "I see." Adnan tersenyum, memperhatikan Cantika dan Keano bergantian. "Dua-duanya enak dilihat." *** Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah area parkir. Dirga spontan menoleh. Seorang pemuda berjalan santai sambil menyampirkan jaket tipis di bahunya. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin pagi. "Assalamu'alaikum, Pa." "Wa'alaikumsalam." Sam langsung meraih tangan Dirga, menyalaminya seperti biasa. “Kok baru datang?” tanya Dirga. "Ngantar Bunda dan Ayah dulu, Pa." "Lancar?" "Alhamdulillah." Dirga mengangguk. Baru kemudian pandangan Sam bergeser ke arah arena. Di sana... Cantika baru saja membawa Orion melewati rintangan rendah. Pendaratannya begitu halus hingga nyaris tak terdengar suara hentakan. Beberapa meter di belakangnya, Keano menyusul bersama Eclipse dengan ritme yang sama stabilnya. "Hmm..." Sam memperhatikan cukup lama. Dirga menangkap perubahan kecil itu. "Kenapa, Sam?" "Nggak, Pa." Sam tersenyum simpul. "Sam baru sadar aja." "Sadar apa?" "Ca keren juga." Dirga ikut memandang arena. “Kok bisa baru sadar?” Sam mengangguk. "Iya. Soalnya tiap ke sini Sam paling nungguin doang." "Atau nongkrong di kafe?" goda Dirga. Sam terkekeh. "Kopi sama sourdough-nya enak, Pa." Dirga menggeleng geli. "Makanya sesekali lihat. Kayak Papa nih, nonton aja, kan seru." "Iya, Pa." Tatapan Sam kembali mengikuti gerakan Cantika. Konyol memang... baru kali ini ia benar-benar memperhatikan bagaimana Cantika bergerak di atas punggung Orion. Gadis itu tak terlihat sedang berlatih. Justru lebih seperti tengah berada di tempat yang memang seharusnya menjadi miliknya. Percaya diri. Tenang. Dan sangat hidup. "Naik juga sana." Dirga menunjuk ke arah paddock, area berpagar tempat beberapa kuda menunggu giliran memasuki arena latihan. Sam spontan menggeleng. "Kenapa?" "Udah lama banget nggak riding, Pa." Adnan yang sedang melintas ikut berhenti. "Mau naik, Sam? Bisa kan? Nggak mungkinlah Raiden’s brothers and sisters nggak bisa riding." Sam terkekeh canggung. "Masih bisa sih, Coach." "Cuma..." Dirga menyambung sambil tertawa kecil. "...sejak jatuh, dia jadi jarang mau latihan lagi." "Oh? Pernah jatuh?" Adnan tampak baru mengetahui cerita itu. "Pantes." "Nggak trauma kok, Coach," sahut Sam membela diri. "Cuma..." Ia mengusap tengkuknya sendiri. "...nggak nyaman aja." Dirga mengangguk paham. “Berkuda itu unik, Sam. Kalau penunggangnya tegang... kudanya malah ikut tegang." Adnan terkekeh. "Kuda memang sensitif. Dia bisa ngerasain penunggangnya lagi santai atau nggak. Makanya... makin kamu nggak nyaman, makin kudanya juga nggak nyaman." Sam mengembuskan napas panjang. "Jadi saling bikin stres." Adnan tergelak renyah. "Kasihan kudanya." "Coach!" "Lho, iya,” kekeh sang pelatih. "Padahal kamu juga nggak salah apa-apa. Pernah kan walking bareng Arga?” “Pernah, Coach.” “Saya merhatiin tuh. Posisi duduk sebenarnya juga bagus. Dasarnya aja kurang percaya diri." Sam mengangguk pasrah. Dirga menepuk pelan bahu Sam. “Gih sana. Sekali putaran aja. Sudah sampai sini masa nggak naik? Walk juga nggak apa-apa." Sam diam sejenak. Lalu akhirnya mengangguk. “Oke, Pa.” “Gitu dong.” “Tapi kalau kudanya sensi terus Sam dilempar, jangan pada ketawa ya?” Adnan spontan mengangkat kedua tangan. "Saya nggak janji, Sam." Gelak tawa mereka bertiga pecah. *** Beberapa menit kemudian... Sam keluar dari paddock bersama seekor kuda cokelat tua yang berjalan tenang di sampingnya. Ia mengusap pelan leher kuda itu beberapa kali sebelum menaiki pelana. Gerakannya masih rapi. Masih sesuai dasar yang dulu pernah dipelajarinya. Namun... bahunya terlihat sedikit kaku. Tangannya menggenggam kendali sedikit lebih erat daripada seharusnya. Adnan hanya mengamati dari kejauhan. "Pelan aja, Sam. Nggak usah buru-buru." Sam mengangguk. "Iya, Coach." Ia hanya berjalan mengelilingi arena beberapa putaran. Walk. Lalu mencoba sedikit trot. Tak lebih. Bukan karena tak mampu. Melainkan karena ia memang tak pernah benar-benar merasa nyaman berada di atas punggung kuda. Dari kejauhan, Cantika yang baru selesai melewati lintasan langsung melambatkan Orion. "Sam!" Sam menoleh sambil terkekeh. "Ca?" "Masih bisa ternyata." "Alhamdulillah." "Gue pikir lo udah lupa caranya dan rasanya riding." "Jangan gitu dong, Ca." Cantika tersenyum jahil. "Mau balapan?" Sam spontan menggeleng cepat. "Nggak." "Ayolah, nanggung." "Yang ada harga diri aku amblas, Ca." Cantika tertawa lepas. "Nggak usah jujur banget gitu dong." "Cuma tau diri aja kok." "Bagus." Keduanya tergelak. Keano menyusul mendekat sambil menepuk pelan leher kudanya. "Gallop, Sam?" (gallop = lari penuh seperti pacuan.) “Anj4y! Yang ada ngejengkang gue,” sahut Sam. “Ah merendah lo.” “Asli, Ken. Janganlah. Repot nanti manggil ambulans.” “Tapi natural banget kok lo.” “Gue pernah jago juga kayak lo. Was!” “Balada ambulans beneran?” Sam mengangguk. “Hmm.” Tersenyum kaku. "Kerenlah mau nyoba lagi. Private coaching, Sam. Bareng gue?” “Lo ngambil private coaching?” “Yoi.” Sam terdiam. Sementara Cantika mengacungkan kedua jempolnya untuk Keano. Jantung Sam seolah tersentil kembali. Entah kenapa... ia benar-benar merasa menjadi orang yang paling biasa di antara mereka bertiga. Bukan karena ia tak bisa berkuda. Melainkan karena ia sadar... di dunia yang begitu dicintai Cantika ini... ia tak lagi menjadi orang yang paling memahami langkah gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN