BEFORE EVERYTHING–13

1739 Kata
Sam: Aku di depan lobi, Ca. Tepat pukul enam lewat dua puluh menit, sebuah pesan masuk ke ponsel Cantika. Ia yang baru saja menyampirkan tas di bahu seketika diam. Matanya terpaku pada layar. Menunggu kalimat lanjutan. Macet, Ca. Jangan lama-lama. Sudah sarapan belum? Namun... tak ada. Hanya satu kalimat itu. Bahkan guyonan receh seperti, aku narik satu penumpang dulu, Ca. Belum tentu juga pas balik kamu udah beres. Cantika mendecak. “Kenapa sih ini orang?” gumamnya. “Masih aja.” Entah apa yang masih. Ngambek? Marah? Atau memang Sam mendadak kehilangan kemampuan mengetik lebih dari lima kata? Cantika memasukkan ponselnya ke saku rok, lalu keluar dari kamar. “Ca! Sarapan dulu, sayang!” Suara Andien terdengar dari lantai bawah. “Kenapa sih dari tadi dipanggilin kok nggak turun-turun? Berantem sama Sam?” cecar sang ibu lagi. “Mama sok tau ih,” tanggap Cantika dengan ekspresi yang justru terlalu jujur. “Kamu kan paling aneh kalau pas berantem sama Sam aja,” timpal Andien. Cantika mendengus sepenuh hati. Tak punya tenaga untuk menyanggah. “Ca sarapan di jalan aja, Ma,” ujarnya akhirnya. “Sarapan angin?” “Rasa stroberi, Ma.” “Rasa debu halus adanya.” Gadis belia itu akhirnya terkekeh. “Sam sudah nunggu di lobi, Ma.” “Bawa bekalnya kalau gitu.” “Oke, Ma.” Cantika buru-buru melangkah ke ruang makan, mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan Andien, mencium pipi mamanya, lalu bergegas keluar. “Sarapan dulu, Teteh,” ujar Arya dengan mulut yang masih sibuk mengunyah nasi goreng. “Nanti ketiup angin pas naik motor,” sambung Arna. “Paling diikat pakai jarik sama A Sam,” sahut Dirga. Adik kembar Cantika tergelak kompak. “Papa nih seneng banget mocking anak sendiri,” omel Cantika sambil mendesak tumbler kedua ke dalam tasnya. “Sarapan dulu, putrinya Papa yang paling garang,” ujar Dirga lagi. “Nanti kalau sampai sakit, Sam yang Papa potong tunjangannya.” “Tuh kan!” “Pujian lho itu.” “Pujian apaan ih.” “Teteh bad mood ya?” tanya Arya. “Berantem mereun sama si Aa,” timpal Arna. (mereun = barangkali) “Sotoy!” ketus Cantika. “Udah ah, Ca berangkat.” Ia mengulurkan tangan, menyalam Dirga, lalu memeluk sang ayah sejenak. Si kembar lalu menyalamnya. Cantika menjambak keduanya lalu mengadu kepala Arna dan Arya perlahan. “Usil si Teteh, mah,” sambar Arya. “Lo juga usil!” balas Cantika. “Buruan ih, Teteh. Keburu si Aa kuyup nunggu di parkiran,” ujar Arna. “Biarin aja.” “Teteh sendiri yang repot nanti. A Sam kan nggak bisa basah sedikit, nggak bisa kotor sedikit. Yang ada Teteh yang nunggu lama Aa ganti baju dulu.” “Iya sih. Mana dia punya pacar baru.” Dirga, Arna, dan Arya sama-sama melongo mendengar kalimat yang terceplos dari mulut Cantika itu. Ditambah ekspresi sang gadis tampak begitu nestapa. “Berangkat semuaaa,” seru Cantika, nyaris memekik sebelum melangkah keluar dari unitnya. “Assalammu’alaikum!” “Wa’alaikumussalam,” gumam semua penghuni penthouse yang tersisa pagi itu. Lalu hening. Dirga masih memegang cangkir kopinya di udara. Arya membeku dengan sendok nasi goreng setengah jalan menuju mulut. Arna bahkan belum sempat menelan suapan terakhirnya. Andien yang baru kembali ke dapur berhenti di lengkung batas ruang. "..." "..." "..." Arna yang pertama kali bereaksi. "Teteh salah paham kali ya?" Arya langsung menoleh ke kembarannya. "Apanya yang salah paham?" "Ya itu. A Sam pacaran. Sama siapa? Nggak mungkin ah.” "Kenapa nggak mungkin?" “Nggak mungkin aja kayaknya.” “Nggak jelas lo,” sambat Arya. “Gara-gara si Teteh,” timpal Arna. Dirga perlahan menurunkan cangkirnya ke meja. Arya memijit keningnya yang mengernyit. "Papa tau?" “Soal apa?” balas Dirga. “A Sam punya pacar baru.” “Nggak.” “Tuh kan.” “Aneh ya?” “Iya, Pa.” Andien meletakkan kotak makan berisi buah potong yang baru diambilnya dari kulkas ke tengah meja. "Kalian lagi bahas teori konspirasi apa sih?" Arna menatap sang ibu. “Itu, Ma... Teteh tadi bilang A Sam punya pacar baru." Andien berhenti. “Hah?" "Nah!" seru Arya. Dirga ikut terpaku ke istrinya. "Kamu tau, baby?" Andien menggeleng cepat. "Nggak." "Kan, aneh,” gumam Dirga. “Nggak mungkin aku dan kamu hah-heh-hoh begini kalau Sam punya pacar.” “Bener,” sahut Andien. “Bunda dan Ayah pasti ke cerita ke Mama Papa ya?” timpal Arna. “Bukan,” sahut Dirga. “A Sam yang pasti ngomong ke Papa. Baru Papa cerita ke Mama. Belum pernah ada ceritanya A Sam punya masalah, Papa nggak diceritain langsung.” Arna mengangguk. “Atau baru banget kali jadiannya,” ujar Arya. “Misalnya semalam, atau dini hari tadi. Makanya belum sempet cerita ke Papa.” “Jadian sama kunti emangnya dini hari?” balas Dirga. "Jangan bikin timeline kasus yang nggak ada," sahut Andien. “Mama nih mentang-mentang kembarannya Papi Ian, sekarang ikut-ikutan jadi anak hukum,” timpal Arna. “Mana ada kembaran beda rahim,” sambar Dirga, nadanya cukup sinis. “Astaghfirullah, Papa. Sama Papi Ian aja cemburu,” ledek Arna sambil tergelak. “Siapa yang cemburu?” “Pake nanya!” “Takbir!” seru Arya. Meja kayu itu sontak dipenuhi tawa. Sayup suara langkah kaki terdengar mendekat. Empat pasang mata menoleh perlahan ke batas ruang. Eldra melangkah gontai dengan wajah yang jelas masih mengantuk. “Katanya mau masuk siang, Bang?” tanya Dirga. “Big Boss ke kantor hari ini, Pa. Nanti meeting jam sepuluh,” jawab Eldra. “Anne sama Cantika sudah berangkat ya, Pa?” “Sudah. Anne malah berangkat sebelum terang.” Eldra mengangguk. “Oh iya, bukannya semalam Papa nongkrong bareng sama Daddy Ditya?” “Tapi Ditya nggak bilang ada meeting pagi,” tanggap sang ayah. “I see.” Eldra lalu menoleh ke kedua adiknya. “Buruan, twins. Sudah siang ih. Kasian Pak Seneng jadi nge-drift mulu nganterin lo berdua!” Arna meneguk susunya. Batas putih di tepi bibirnya belum sempat ia bersihkan saat mengajukan pertanyaan ke Eldra. “Abang tau nggak kalau A Sam punya pacar baru?” Eldra mengernyit sambil duduk di salah satu kursi. “Jadian juga sama Cantika?” “Bukan,” timpal Arya. “Kalau Teteh yang jadi pacarnya si Aa, masa iya bilang ke kita dengan muka sedih.” “Cantika yang bilang?” “Iya, Bang.” “Nggak usah didengerin.” Andien spontan tergelak. “Halu palingan si Ca,” lanjut Eldra. “Stres!” “Kok halu?” tanya Arya. "Mungkin Teteh udah nggak kuat nahan perasaan.” Arna yang menyuarakan teorinya. “Jadi overthinking.” “Bocah tau-tauan overthinking!” sambat Dirga. Andien terus saja tertawa. "Udah, jangan diomongin terus si Teteh. Nanti pas makan malam kita tanya." "Tapi, Ma..." Arna mengangkat telunjuk. "Ekspresi Teteh tadi tuh bukan ekspresi orang yang santai." Arya mengangguk spontan. Dirga diam. Itu juga yang tadi ia lihat. Cantika memang bisa menyembunyikan banyak hal. Terlalu banyak, malah. Anaknya itu terbiasa memproses semuanya sendiri, baru bicara kalau sudah mentok. Berbeda sekali dengan Sam. Hampir semua masalah yang menghadang, lima menit kemudian bisa saja ia sudah menelpon Dirga sambil bilang, Papa Ga, sibuk nggak? Sam mau cerita. Sementara Cantika? Ditanya baik-baik saja, jawabannya hampir selalu, Ca nggak apa-apa, Pa. Dirga mengambil cangkir kopinya lagi. "Nanti Papa chat Sam aja." Andien spontan menggeleng. "Jangan, Kak!" "Kenapa?" "Uurusan anak-anak jangan dikit-dikit langsung kamu interogasi." "Aku kan cuma nanya, baby." "Kak Dirga kalau tuh auto mode ‘ngomong nggak lo!’" Arya mengangguk. Eldra tergelak. "Belum apa-apa A Sam nanti disuruh bikin BAP,” timpal Arna. Dirga menghela napas pelan. “Anne aja nanti yang nanya, Pa. Sudah paling bener deh,” ujar Eldra akhirnya. “Entar Abang telpon Anne.” “Oke.” *** Begitu pintu lobi terbuka... Sam sudah menunggu. Posisi yang sama, motor yang sama, helm yang sama, tentu saja orangnya juga sama. Meski Cantika merasa ada sesuatu yang berbeda dengan pemuda itu. Sam menoleh begitu melihatnya. “Morning, Ca.” “Morning.” Cantika berhenti tepat di samping motor. Menunggu. Sam menyodorkan helm untuk Cantika yang sedari tadi di genggamannya. “Nih.” “Oh.” Cantika menerimanya. Tak ada komentar lanjutan. Biasanya Sam minimal akan protes karena Cantika turunnya lama, mengomentari wajah gadis itu yang masih terlihat mengantuk, atau tiba-tiba kuliah pagi karena gadis itu lagi-lagi membawa terlalu banyak barang. Sekarang... keunikan Sam itu menghilang tanpa bekas. Cantika mengenakan helm tanpa bicara. Sam menunggu sampai selesai. “Udah?” “Udah.” “Oke. Yuk berangkat.” Cantika masih berdiri mematung. Ada sebagian hatinya yang berharap Sam mengoceh lebih banyak. “Ca?” “Hmm?” “Kenapa?” “Nggak apa-apa.” Cantika akhirnya naik. Motor pun bergerak meninggalkan The Dwellings. Lima menit pertama... sunyi. Cantika masih bertahan. Sepuluh menit... tetap sunyi. Hanya ada suara kendaraan dan angin pagi. Cantika mulai menggigit bagian dalam pipinya. Lima belas menit... akhirnya ia menyerah. “Sam.” “Hmm?” “Lo marah ya sama gue?” “Nggak.” Jawaban yang terlalu spontan dan sama persis seperti kemarin. Cantika mendengus. “Bohong.” “Nggak.” “Terus kenapa?” “Kenapa apanya?” Cantika menempeleng pelan bagian belakang helm Sam. “Lo kayak customer service tau nggak!” Sam menoleh sedikit. “Hah?” “Nggak ada apa-apanya,” repet Cantika lagi. “Aku kan nyetir, Ca.” “Biasanya juga lo tetep bawel biarpun lagi nyetir.” Sam terdiam. Cantika menunggu. Lalu... bahu Sam tampak bergetar. Cantika spontan menyipitkan mata. “Lo ketawa?” “Nggak.” “Bohong!” “Aku nyetir, Ca,” kekehnya. “Sialan, Sam!” Sam akhirnya tertawa lepas. Meski hanya sebentar, namun cukup membuat ganjalan di hati Cantika akhirnya melonggar. “Resek lo,” gerutunya. Sam kembali tertawa. “Udah sarapan belum, Ca? Mau mampir makan bubur ayam atau nasi uduk dulu?” Cantika mendecak, namun sudut bibirnya tanpa sadar ikut terangkat. Helaan leganya menyusul. Setidaknya... Sam mulai terdengar seperti Sam lagi. Gue nggak suka lihat lo berubah, Sam. Gimana ya caranya biar lo ngerti? Bisa nggak sih lo nggak usah nanggepin orang-orang yang tiba-tiba datang terus merasa bisa ngatur hidup lo? Mereka nggak ngerti kalau kita memang sedekat ini dari dulu. Cantika mengeratkan genggamannya di tepi pinggang Sam. Sam mengulurkan satu tangannya, menepuk-nepuk salah satu punggung tangan Cantika. Karina chat gue semalam, Sam. Dia bilang, kalau lo nerima dia, semoga gue nggak keberatan dan jangan terlalu dekat lagi sama lo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN