Tigabelas

1442 Kata
Berbohong demi yang tak penting di atas yang terpenting sepertinya sudah jelas menggambarkan mana yang paling penting. #Kalausadar "Vil!" "Hmm" "Lo pernah gak suka sama cewek?" "Pernah lah, bangke! Lo kata gue homo alias manusia G empat Y apa!" balas Vila setengah berteriak. Hello, dia masih ori cowok ya. Masa gak pernah suka sama cewek, dih Bumi mah pikiranya aneh. "Maksud gue bukan itu." "Jadi apaan?" balas Vila sensi. "Pernah gak lo suka sama cewek padahal baru aja ketemu?" "Pernah dungs. Kenapa?" Bumi melirik bocah yang tengah bermain game di sebelahnya. "Menurut lo itu wajar gak?" "Wajar aja lah." Vila berkata demikian seraya menaikkan kedua kakinya ke atas meja. Pandanganya mengarah pada ponsel di tangannya. "Fall in love is easy, man! You look into her eyes and you can't stop looking and thinking about her." "Oh gitu ya?" "Iya dong, zheyang. Kenapa, lo pindah haluan dari Rose?" Bumi mengedikan bahunya acuh. "Gak tahu." "Santuy, man! Memahami isi hati emang gak segampang lo jatuh hati. Peringatan gue, hati-hati aja. Kayaknya otak lo udah complicated of love nih." "Satu nih saran terpenting the best ever yang gue punya, jangan mati karena cinta. Masih ada kaum sebangsa lo yang bisa memberi cinta." "Anjirr!" gempar Bumi sampai menggebrak meja. "Amit-amit cabang bayi, g****k!" Vila malah tergelak, membiarkan kalimatnya berputar lagi di kepalanya. Kreatif juga gue, hatinya terkekeh. "Bumi" Panggilan selembut kapas yang familiar di telinganya membuat Bumi menoleh. Itu Rose! Berdiri di depan pintu masih dengan tas punggungnya. "Siapa sih?" kata Vila ikut kepo. "Oh, Rose. Sini lah masuk." Dengan tersenyum canggung cewek anggun dan cantik itu melangkah masuk. "Bum, dipanggil sama Bu Riri" "Buat apa?" tanya Bumi mencoba biasa saja. "Gak tahu." "Sekarang?" Rose mengangguk. Bumi pun berdiri. "Gue pergi dulu, Vil." "Yoi, hati-hati. Ingets, jangan grepe-grepe sebelum punya KTP." "Gue udah punya kali," balas Bumi menjulurkan lidahnya. Rose tersenyum canggung mendengarnya. Bumi menoleh ke belakang, cewek itu berjalan dengan langkah kecil disana. Sepertinya dia takut berjalan beriringan dengan Bumi. "Jangan di belakang, gue belum siap jadi imam lo." Rose mendongakan kepala. Ia tersenyum kikuk melihat Bumi yang menatapnya intens. "Sini sebelahan." Dengan segera ia menyamakan langkah dengan Bumi. Parfum cowok itu benar-benar menganggu konsentrasinya. Ia tersenyum diam-diam karenanya. Manis dan cool membuat siapa saja mau jatuh pada cowok setinggi 179 cm itu. Perjalanan ke kantor majelis cukup jauh. Daripada sunyi, Bumi pun berinisiatif mengajukan pertanyaan. "Lo suka warna apa?" Lah kenapa pertanyaan ini? Bumi menggerutu dalam hati. Ingin rasanya dia nyemplung ke kawah Merapi sekarang juga. Bikin malu aja. "Warna pink," balas Rose tersipu. "Ohoo, kalem ya?" "Apanya?" "Warna pink." "Oh, iya. Kalau lo suka warna apa?" tanya Rose balik. "Entah," balas Bumi. "Gue suka merah, tapi barang-barang gue masih banyak yang hitam juga." Rose terkekeh kecil. "Gak konsisten sih." Bumi ikut terkekeh lalu melirik bidadari disebelahnya. Cantik, pujinya dalam hati. Dug "Punya mata gak sih lo?" sentak cewek di hadapanya berang. "Jalan jangan cuma pakai kaki, mata juga digunain. Gimana sih lo? Kalau gue terjengkang kebelakang gimana? Mau tanggung jawab lo?" cerocosan cewek itu membuat Bumi terkejut. Familiar sekali di telinganya. Bumi memperhatikan gerak-gerik cewek yang tengah memungut buku-buku itu. Bulan, batinya. Dia terkekeh. Patut saja cerocosanya familiar. Eh rupa-rupanya si jaguar betina. "Lan" "Gak usah bising! Buku gue jatuh semua nih, bangke!" balas cewek itu sarkas. Bumi merundukkan badan, membantu cewek itu mengumpulkan bukunya. "Nih," kata Bumi menyodorkan buku-buku Bulan. Cewek itu menerimanya dengan wajah tak bersahabat. Sudahlah datang hampir terlambat, ditabrak Bumi lagi. Fix, moodnya hancur. Mana belum sarapan lagi. Lapar, batin Bulan tiba-tiba. Pandanganya tanpa sengaja melirik pada Rose yang ada di samping Bumi. Oh, katanya membatin. "Mau kemana?" tanya Bumi memperhatikan penampilan cewek itu dari atas ke bawah. Gak ada bedanya dari hari-hari biasa. Tapi dasi yang compang-camping itu membuat Bumi yakin kalau cewek dihadapanya sedang dalam mode buru-buru. "Ke Ragunan nyari anak kodok," balas Bulan ketus. "Lo sendiri mau kemana?" "Ke majelis, dipanggil sama Bu Riri." "Oh" Bulan mengeratkan buku-bukunya di d**a. "Lo lagi buru-buru ya?" "Sok tahu!" "Nih" Bumi menarik dasi cewek itu hingga tubuhnya terdorong maju. "Dasi lo berantakan." Tanpa izin Bumi merapikan dasi Bulan. Gadis itu hanya diam, memandangi wajah tampan di hadapanya dengan tatapan tajam. "Selesai," kata Bumi girang. Pandangan Bulan turun pada dasinya yang sudah rapi terpasang. "Thanks," ketusnya seraya melirik Bumi sinis. Setelahnya ia melangkah pergi dengan gaya songong. Bumi geleng-geleng kepala. Cewek berbadan rada gempal itu memang cocok menjadi karakter antagonis. Angkuh, sombong, jutek, sinis, semuanya berubah-ubah. Sifat Bulan sesuai dengan namanya-Bulan, benda langit yang selalu berubah-rubah bentuknya. Tidak pernah statis. Dia dinamis tapi bukan jahat. "Parman!" Bumi refleks menoleh ke belakang. Parman? Sepertinya dia mulai suka dengan nickname tersebut. "Apaan?" "Kayaknya lo perlu kacamata deh." What? Bumi mengerenyitkan dahi bersamaan dengan punggung cewek itu yang menjauh. "Dasar aneh!" cibirnya lalu melanjutkan langkah. "Adek lo?" tanya Rose lembut. Bumi memutar kepala. Kalau dia menjawab tidak, bahaya. Nanti fans fanatik Bumi menyerang Bulan. Tapi, kalau dijawab iya. Faktanya tidak ada. Bumi mengangguk pada akhirnya. Kebohongan ini mungkin akan menjadi bencana, tapi untuk sementara ini menyelamatkan Bulannya. "Mirip," puji Rose dan Bumi pun terkekeh. "Mirip darimananya?" "Garis wajah kalian sama, sayang aja dia jerawatan. Kalau enggak, pasti duplikat lo banget." "Oh, gitu ya?" Rose mengangguk. Diam-diam ia melirik cowok di sebelahnya. Dari samping aja udah tampan. Apalagi dari depan. Rahang yang tegas, hidung yang mancung dan alis yang tebal. Sempurna, batin Rose. Vila masih bermain game saat Bulan membanting tasnya. "Lapar...," keluh cewek itu yang lantas membuat mata Vila menatap bangku di hadapanya. "Cih, dasar sapi! Pagi-pagi udah makan aja di otaknya." Bulan cemberut, lalu menoleh ke belakang. "Heh b**o, namanya juga manusia. Kalau gak makan ya mati." "Whaterver," balas Vila tak mau memperpanjang masalah. "Vila sialan!" "Gue juga lapar sebenarnya." Mata Bulan berbinar senang. "Ya udah kita ke kantin aja yuk?" "Nah, itu masalahnya. Gue mager." Hilang sudah binar di mata Bulan. Ia memutar bola matanya malas. "Dasar pemalas!" "Yang lain kemana sih? Udah mau masuk, tapi belum ada yang nongol satupun." "Gue hadir loh," kata Vila mengingatkan. "Lo gak bisa gue hitung." Alis cowok playboy itu bertautan. "Kenapa pula?" "Lo bukan manusia," balas Bulan lalu tergelak hebat. Vila geleng-geleng kepala lalu mencibirnya "gila!" dalam hati. "Lapar...," kata cewek itu merengek. Vila tak mengubris. "Ya udah deh gue kantin aja." Akhirnya cewek itu berdiri. "Nah ide bagus, hush hush sana pergi!" usir Vila yang lantas membuat Bulan menendang geram mejanya. "Nyebelin!" Cowok itu tergelak. "Hati-hati bebekku." "Sial!" umpat Bulan melangkah keluar kelas. Dengan langkah tergesa-gesa ia berjalan menuju kantin mang Udin. Disana ternyata sudah ada manusia. Dan manusia itu teman sebangkunya. "Jonah!" Cowok sedatar triplek itu menoleh. "Bulan?" Bulan tersenyum, langsung menududukan badan di hadapan Jonah. "Ngapain?" "Makan," balas cowok itu mengangkat sendoknya. "Lo sendiri?" Bulan nyengir kuda. "Sama mau makan juga." "Ya udah, buruaan pesan. Udah mau bel nih." Bulan mengangguk, lalu pergi memesan. Lima menit kemudian dia kembali dengan semangkok mie ayam. "Pagi-pagi kok udah makan mie?" "Lagi pengen," balas Bulan seraya mengaduk-aduk mienya. "Nanti sakit perut loh." "Gak bakalan." Yup Nona Acalista memang perempuan yang keras kepala. Jonah menggut-manggut saja. Beberapa menit lalu atensinya pada nasi di piringnya, tapi sekarang atensinya berpindah pada cewek dihadapanya. Gerak-gerik Bulan yang menyesap kuah mie ayam diam-diam membuat bibirnya tersenyum. "Kok gak makan lagi?" tanya Bulan kala mendapati manik Jonah yang tengah menatap intens padanya. Cowok itu tersentak, ia buru-buru melahap nasi di piringnya lagi. "Kok lo sendirian? Jack sama Pasha dimana?" Jonah mengedikan bahunya acuh. Oh, Bulan paham. Mereka mana mungkin mau berangkat dengan si datar ini. Lagian ganteng-ganteng kok datar, kan mubazir mukanya. "Mang, nasi ayam satu," teriakan itu membuat keduanya menoleh. "Dih, si bangke ngapain kemari," celetuk Bulan kesal. Vila tak mengubris, ia mengambil duduk di sebelah Jonah. "Makan kok mie, sakit perut mampus lo." Bulan memutar bola matanya malas. Lah ini kenapa manusia pada mendoakanya sakit perut? Gak ada kerjaan banget. "Ya jangan di doain lah, b**o!" "Hmm" Vila bertopang dagu. "Sejak kapan manusia triplek ini disini?" Jonah melirik tajam cowok itu. Tapi Vila hanya menanggapinya dengan jiwa santuy. "Vila ini nasinya," teriak mang Udin dari dalam stand kantin. Vila mendengus, lalu balas berteriak. "Antarin lah, mang!" "Saya mager, Vil." "Cih, nyusahin," cibir Vila mau tak mau berdiri. "Untung aja orang tua, kalau gak udah gue robohin nih warung." "Robohin aja, Vil. Gak apa-apa, tapi hutang kamu yang segunung itu dilunasin dulu ya," sindir Mang Udin yang membuat Vila tersenyum kecut. "Ukhukk" Bulan sontak terbatuk mendengarnya. "Gak usah ketawa lo!" cibir Vila kembali ke bangku. Jonah menyodorkan air minumnya. "Nih minum dulu, Lan." Cewek itu menerimanya dengan senang hati lalu menghabiskanya hingga tandas. Vila sampai geleng-geleng kepala. Kok bisa ada sepesies cewek kayak Bulan. Benar-benar gak bisa jaga image didepan cowok sama sekali. Urat malunya sudah putus agakanya. "Apa lo lihat-lihat?" sentak Bulan menangkap basah tatapan Vila. Cowok itu terlonjak kaget, lalu mengelus dadanya. "Dasar anak singa!" Bulan tak peduli. Ia kembali melanjutkan makanya. Jonah terkekeh. Spesies cewek seperti Bulan sebenarnya bukan langkah. Hanya saja Bulan memiliki keunikan lain dari mereka. "Gue duluan, bye-bye," kata Bulan lalu melangkah pergi meninggalkan kantin. Vila mengintip mangkuk cewek itu, sudah benar-benar tandas. "Gila! Itu anak kelaperan berapa tahun?" Jonah terkekeh, lalu berdiri. "Gue duluan, bye-bye." "What?" Vila menatap makhluk datar itu keluar dari kantin. "Gue sendirian gitu?" Tak ada balasan. Hanya angin pagi yang menerpa wajah Vila sebagai jawabnya. "Sial!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN