12

1236 Kata
___🍓🍓🍓__ "Sayang ... Mas Imam," jerit wanita itu mendekati Mas Imam yang tersungkur. Dia yang terkena hantaman vas bunga menggeliat pelan sambil memegangi kepalanya. Mengerang lalu berusaha bangkit dengan dibantu istri barunya. "Aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah menyerang suamiku," ungkap wanita itu marah. "Silakan aku tidak takut, tindakan kasar masih Imam sudah tidak bisa kuterima lagi, dia sudah kehilangan akal sehatnya." "Kamu itu yang gila," tuding Ibu mertuanya, " ... andai terjadi sesuatu pada imam, aku akan membuat kamu menyesal," ucapnya mendelik sambil membantu Mas Imam berdiri. Pria itu tidak mengatakan apa-apa hanya berdiri dan menatapku dengan pandangan syok, tentu saja dia tidak menyangka apa yang akan kulakukan. "Ayo pulang, Buk, Sari," ajaknya. Karena mendengar keributan, beberapa tetangga terlihat keluar dari rumah mereka, dan nyaris masuk ke dalam rumah kami andai saja Mas Imam tidak segera mengajak istri dan mertuanya pergi. "Ada apa ini, Bu Yanti?" Melihat suamiku yang dipeluk istri barunya, pahamlah mereka, dan hebohlah seketika, karena diam-diam suamiku sudah dipoligami. Yang malu bukan dia, tapi aku, aku yang tidak bisa menjaga suami dari gangguan wanita lain. "Wah, Pak Imam ada istri baru," gumam seorang ibu. "Iya, gak nyangka banget, karena Pak Imam terlihat kalem dan alim, rupanya laki-laki di dunia ini sama saja, enggak yang pendiam, enggak berandalan, mata keranjang semua," timpal yang lain. "Makanya jadi wanita harus cantik, biar suami gak main serong, kalo udah kayak gini, nangis bombay 'kan," ucap seorang tetangga yang terkenal sebagai biang gosipnya komplek. "Kok Ibu, jadi menyalahkan Bunda saya? Yang genit dan gatal nikah lagi itu suaminya, sebagai wanita dia sudah paripurna mengurus kami dan ayah." Anakku yang sulung langsung menimpali dan memberiku pembelaan. "Heh, paripurna apanya ...." Wanita itu mencebik lalu menjauh dari depan rumah kami. Mas Imam naik ke mobil diikuti oleh istri dan mertuanya, sementara aku masih berdiri di tempat semula menatap kosong pada mereka yang terlihat harmonis dan bersiap meninggalkan rumah kami. Jiwa dan tubuh ini terasa tidak memijak bumi, bingung dan masih syok sendiri mengingat apa saja yang kulakukan tadi. Anak anak masuk dan menutup pintu rumah, meski beberapa warga masih terdengar sumbang membicarakan kami tapi kedua anakku bersikap seolah tidak tahu saja. Mereka menghampiri lalu mengajak duduk dan memberikanku segelas air. "Diminum, Bun, Bunda masih syok," ucap Vito. Kuterima air itu dengan mata berkaca-kaca, ada sedih dan iba menjalari hati, kasihan pada kedua anakku yang harus mengalami kejadian memalukan ini. Air mataku tumpah, sementara mereka tetap terlihat tegar, mengulas senyum dan menepuk bahuku, mencoba memberi semangat. "Udah, Bund, jangan nangis, cuci tangan dan muka Bunda, pesanan kue harus segera diselesaikan," ujar Erwin sambil menggenggam tanganku. "Iya, benar juga, meski sedih, kita harus tetap mencari, dan mengumpulkan kekuatan." "Bunda pasti bisa, jangan lemah, karena Bunda adalah panutan kami. Jika Bunda jatuh, hati kamj juga akan ikut hancur," ujar Vito merangkul bahuku dan meletakkan kepalanya di dekat kepalaku. "Ayo, jangan bersedih lagi, kue di dalam oven akan hangus," ujar Erwin melirik oven yang menyala. "Oh ya Allah, aku lupa," ujarku panik, langsung berdiri dan melihat kue, Alhamdulillah ternyata tidak gosong. "Biar aku bantuin Bunda, Kakak yang akan membereskan pecahan kaca." Kedua anakku saling tersenyum, untuk menguatkan perasaanku dan aku tahu bahwa hati mereka juga terluka, bahkan lebih luka dari hatiku, PR terbesar yang harus kulakukan adalah bagaimana cara membesarkan hati mereka dan bagaimana agar mereka menjadi anak yang tidak rusak mentalnya, aku tidak ingin perbuatan Ayahnya menjadi dendam di alam bawah sadar mereka. Sehingga di masa depan nanti mereka tidak akan melakukan hal yang sama kepada istri mereka. Semoga, pepatah buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, tidak akan berlaku kepada anakku. Pukul empat sore pesanan kue rampung, kami membungkusnya lalu anakku mengantarnya ke rumah pelanggan dengan motor. Ya, motor, hanya itu satu-satunya kendaraan yang tertinggal di rumah ini, karena mobil kami sudah dibawa oleh Mas Imam. Sebenarnya wanita itu tidak berhak untuk mendapatkan kendaraan Mas Imam, meski mobil itu hasil jerih payah suaminya. seharusnya Vito dan Erwin yang berhak mendapatkannya, seperti janji Mas Imam dulu, ketika kami hendak mengambil mobil itu, bahwa dia membelinya untuk anak-anak kami. Hanya nama Tuhan yang bisa kuucapkan untuk menabahkan hati, karena jika diingat lebih jauh, maka akan semakin sesak d**a ini memikirkannya. __🍓🍓🍓__ Pukul delapan malam, seusai menyantap makanan, aku duduk di depan TV melihat acara berita, sementara kedua anakku duduk di meja makan mengerjakan tugas sekolah mereka, sembari sesekali mereka mengomentari adegan sinetron di TV, bercerita, atau bercanda. Tiba-tiba telepon rumah berdering, kami saling menatap dan menebak siapa yang mungkin menelpon kami, Erwin bangun dari kursi untuk menjawab panggilan. "Halo assalamualaikum," ucap Erwin lembut. "Mana emak kamu, aku akan bicara padanya," ujar seorang wanita, yang terdengar begitu lantang dari gagang telepon. Aku segera bangkit dan mengambil alih gagang dari tangan Erwin. "Halo ini siapa?" "Beraninya kamu sudah membuat Imam gegar otak ringan, Untung saja dia tidak pendarahan, andai saja terjadi sesuatu padanya dan membuat anakku menjanda, maka aku akan membuat kalian bertiga membusuk di penjara selamanya." Aku tahu bahwa yang sedang menjerit dan memaki-maki itu adalah mertua Mas Imam. Andai saja wanita itu ada di hadapan saat ini, ingin sekali aku menjambaknya. "Oh, jadi begitu, bagus kalau hanya gegar otak ringan," balasku santai. "Dasar psikopat gila, beraninya kau bersikap santai di telepon," desisnya. "Memangnya apa yang harus kulakukan? Bersimpati, ataukah harus membuat hajatan?" "Lihat saja! aku akan memastikan imam menceraikanmu dan mengambil semua harta yang ada pada kalian, sehingga kalian akan menjadi gelandangan di jalan." "Oh ya?" "Ya, aku juga akan membuat kalian jatuh Miskin hingga kalian menjual pakaian dalam untuk menyambung hidup." "Alhamdulillah, kami masih diberi ketegaran untuk mencari hidup sendiri." "Oh, kamu bisnis kue kan, sebentar lagi aku akan memberi ulasan buruk kepada keumu dan membuatnya viral. Kau akan dipermalukan sehingga tidak ada seorangpun yang mau membeli olahanmu!" "Maka aku pun akan melakukan hal yang sama, kepada wanita serakah yang ingin menyingkirkan seorang Ibu dan anaknya demi memuluskan kebahagiaan putrinya yang menjadi pelakor." Wanita itu terdengar menghentikan caciannya padaku, tak lama kemudian memanggil Mas Imam dengan lantang, dan meminta agar suamiku memarahi kami. Sebenarnya aku sangat lelah bertengkar dan dimaki-maki seolah diri ini tidak punya harga diri. Mau melawan, bahkan ingin menghajarnya, tapi aku berpikir dua kali, karena dia sudah tua dan aku juga tidak ingin menyetarakan harga diriku dengan dia yang tidak tahu malu. "Halo!" Kali ini Mas Imam yang berbicara denganku. "Tidak puas kamu dan ibu mertuamu, mempermalukan kami di antara tetangga siang tadi, kini malam hari pun kau harus mengganggu ketenangan kami? Oh tidak sadar betapa sulitnya kami mengemas perasaan yang terluka?" "Baiklah, agar tidak luka lagi, kuputuskan mulai hari ini, untuk menjatuhkan talak padamu. Aku Imam Haryadi menjatuhkan talak padamu Nuryanti binti Khairudin!" Tubuhku nyaris terjatuh mendengarnya, ungkapan orang yang paling kucintai bak petir menyambar di atas kepala, makiannya seperti ombak yang menggulungkan badai besar, tubuhku dihempas ke dasar kegelapan, aku nyaris tidak percaya apa yang dikatakan Mas Imam. Air mataku tumpah, bibirku bergetar, namun tidak mampu menjawab walau sepatah kata, rasanya tidak terima sekaligus tak berdaya. Aku tanpa sengaja menangis di depan anakku yang masih menatap heran. Luruh sudah semua janji setia, hancur sudah ikatan yang kita bina selama bertahun-tahun lamanya. Dan lebih parah lagi, teganya dia melakukan itu via telepon. Dia menceraikanku, menjatuhkan talak dengan sengitnya lewat panggilan, tanpa bertatap muka, tanpa banyak basa basi lagi. Ah, apa lagi yang lebih kejam dari perbuatan demikian, ya Allah. Harus jalan apa yang kutempuh agar pria itu mendapatkan karmanya? Ya Allah, di titik ini aku sangat kecewa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN