“Lo cantik banget, sih, neng!” puji seorang pria tambun dengan gerak tubuh yang gemulai menatap ke arah seorang perempuan yang tengah dirias. “Lah lo baru tahu, dari dulu kali,” balas Stephani menutup mulunya yang menguap, seolah pujian itu sudah membuatnya bosan. “Yayaya, Stephani Widya Handoko emang enggak bisa dilewatkan kecantikannya.” Ben—pria itu adalah seorang desainer yang bisa dibilang cukup terkenal. Ia baru saja mengeluarkan beberapa pakaian bertema historical—ala jaman dulu. Dan yang akan menjadi modelnya adalah Stephani. Ben sengaja memilihnya karena wajah perempuan itu memiliki ciri khas seorang pribumi yang cantik nan anggun. “Just call me, Stephano or Hani. Enggak perlu pake embel-emel nama belakang,” sunggut perempuan itu sedikit kesal karena Ben tahu sendiri bahwa ia

