“Pak...” “Pak Arkan?” “PAKKKKK...” “Hah, ada apa?” tanya Arkan tersentak kaget, lamunan pria itu seketika buyar dan wajahnya terlihat kebingungan. Irish yang melihat itu sontak menjadi khawatir sebab selama bekerja disini ia tak pernah menemukan Bosnya itu melamun parah seperti ini. Ada apa sebenarnya? Apa perusahaan ini akan bangkrut atau Arkan tiba-tiba didiagonasa penyakit parah? “Pak Arkan kenapa? Punya masalah yang berat?” tanya Irish duduk di kursi yang ada di depan meja Arkan. “Kalo Bapak punya masalah dan mau didengar, saya bisa kok bantu.” Arkan yang mendengar itu terkekeh, ia lalu menatap ke arah Irish yang kini tersenyum lebar. Seketika ia merasa beruntung karena memiliki sekretaris yang peduli kepadanya. “Saya enggak papa, cuman lagi mikirkan sesuatu.” “Tumben Pak Arkan

