Seperti seharusnya

2238 Kata
EMPAT hari yang lalu, setelah dihadapkan dengan kebingungan yang hakiki, akhirnya Rosé memutuskan untuk pergi ke New Zealand. Rosé memesan tiket pada hari itu juga, sebelum keberangkatannya Rosé mengktifkan hpnya dan meninggalkan hpnya dihotel itu. Dipesawat Rosé  mengehela nafas panjang berkali-kali, bertanya Kembali pada dirinya apa ini adalah keputusan yang benar dan juga bertanya pada dirinya mengapa New Zealand yang menjadi pilihannya. “Kenapa gua milih New Zealand? Kalau Mama nemuin gua, alamat bakal diseret pulang terus dipaksa nikah lagi.” batin Rosé. Beberapa saat sebelum lepas landas Rosé memilih untuk turun dari pesawat dan itu tepat 10 menit sebelum pesawat lepas landas. Rosé langsung naik taxi dan menuju pelabuhan begitu keluar dari bandara. Dipelabuhan Rosé mencari tiket tercepat buat ke Jeju. Rosé sengaja memilih buat naik kapal karna takut ketahuan kalau naik pesawat. Sebelum ke Jeju Rosé menelpon wanita yang mengurus rumahnya yang di New Zealand dan menyuruhnya untuk bilang bahwasannya Rosé ada kesana dan memintanya untuk menyampaikan pesan. Saat ini di Jeju, Rosé membuka matanya dan tesenyum. Kemudian Rosé bangun dari tidurnya dan berjalan menuju balkon kamar hotelnya, di sana Rosé meregangkan badannya. “Hari keempat gua menghilangkan diri. Huuh jahat, mereka beneran gak ada nyari gua. Tapi gak apa-apa deh, gak perlu nikah sama orang gila itu.” ujar Rosé sambil menatap pemandangan pantai yang ada di depannya. Sampai akhirnya suara perutnya memecahkan keheningan. “Oke Rosé. Mari kita makan sekarang, apa yang bisa dimakan kali ini?” Rosé masuk kedalam kamar dan membuka kulkasnya. “Yah, kosong. Mama, Rosé butuh Bibik buat belanja.” Rosé adalah perempuan yang serba bisa bertahun-tahun tinggal di New Zealand membuatnya dirinya mandiri. Memang benar jika di sana Rosé memakai pembantu, tapi hanya untuk menemaninya dan membersihkan rumah. Ahh satu lagi, belanja. Rosé bisa masak, tapi satu kekurangannya dia tidak tau bagaimana cara belanja yang benar seperti memilih mana bahan yang bagus atau mana ikan yang segar. Rosé sangat benci belanja bahan dapur. Tapi Rosé sangat mencintai belanja yang berhubungan dengan fashion. “Makan atau belanja? Belanja atau makan?” tanya Rosé pada dirinya sendiri. “Makan lebih enak.” ujar Rosé sambil mengambil coatnya dan segera pergi untuk mencari makanan direstoran yang tidak jauh dari hotel dimana dia nginap. ♥♥♥♥♥ Di Restoran Rosé memesan makanan dan langsung menyantap makanan begitu makanan itu datang. Setelah makan Rosé masih duduk di kursinya sambil melihat kearah pantai. Tanpa disadari ada sepasang mata yang melihat kearahnya sedari tadi. “Ketemu.” ujar orang yang menatap Rosé sambil tersenyum. Orang tersebut berjalan mendekat kearah Rosé. “Gua kira lo bakal kabar jauh kali ini.” sarkas orang tersebut. Mata Rosé membulat seketika, jantungnya berdesir dengan cepat. Dengan susah payah Rosé meneguk ludahnya. “Jangan bilang.” batin Rosé. Rosé melihat kebelakangnya membuat orang yang ada dibelakangnya menunjukkan smirknya. “Udah siap main-mainnya Anne?” tanya JK, ya orang itu adalah JK. Rosé berdiri dari kursinya. “Mau kabur kemana lagi Anne?” tanya JK lagi. Rosé jalan tanpa menghiraukan JK. Namun, JK menahan tangan Rosé. “Lepas!” “Gak akan.” “Lepas J!” bentak Rosé. “Gak akan. Gua gak akan ngelepasin lo. Gua bakal bawa lo pulang. Kalau perlu gua seret lo ke altar sekarang, biar lo gak bisa kabur lagi.” ujar JK panjang lebar. “Gila ya lo! Gua gak sudi nikah sama lo!” “Tapi Gua gak akan ngelepasin lo, apapun yang terjadi lo bakal tetap nikah sama gua.” Rosé berusaha ngelepasin tangannya, tapi percuma tenaga JK lebih kuat dari pada tenaga Rosé. “Lepasin tangan gua.” “Gak akan Anne.” “Sakit bego.” kesal Rosé. “Mulut lo makin makin aja gua liat.” “Gu-.” “Gua cuman bilang, gak ada ngatur.” potong JK. Rosé hanya diam. “Udah bisa kita pulang Anne?” “Gua gak mau pulang.” “Anne.” “Oke gua pulang, tapi gua gak mau nikah sama lo.” “Lo pulang sama lo nikah sama gua itu sepaket, lo gak bisa milih salah satu dari dua itu.” Rosé menatap JK sinis. “Lo tinggal dimana?” “Bumi.” jawab Rosé asal. “Gua juga tinggal dibumi, lo tinggal dimananya?”’ “Je-..” “Gua tau lo di Jeju. Jeju luas! Dimananya?” potong JK tak mau menanggapi obrolan yang bertele-tele. “Disitu.” “Kasih tau dimana!” “Disitu.” ujar Rosé sambil menunjuk sebuah hotel. JK jalan kearah hotel yang ditunjuk Rosé  sambil menarik tangan Rosé. “Sakit tangan gua!” “Makanya jangan main-main sama gua!” “Siapa juga yang main-main sama lo? Ogah banget gua.” JK hanya menatap Rosé tajam. “Apa lo liat-liat gua?” “Mata-mata gua, suka-suka gua. Lo bukan siapa-siapa gua kan jadi jangan sok ngatur!” ♥♥♥♥♥ Sesampai dihotel, JK langsung meminta Rosé untuk siap-siap. “Buruan siap-siap.” “Siap-siap apa?” “Pulang ke Seoul.” “Gua gak mau.” “Gua gak perduli lo mau apa enggak Anne. Pokoknya gua akan bawa lo pulang apapun yang terjadi.” “Pokoknya gua gak mau pulang titik!” “Gu-..” “Gua mau naik kuda hari ini! Gua udah janji sama kudanya. Gua gak mau pulang pokoknya.” ucap Rosé dengan nada polos. JK diam sejenak sambil menatap Rosé, lalu menghela nafas panjang. “’Yaudah kita pulang setelah lo naik kuda.” “Gak mau juga.” “Kenapa lagi, lo janjian sama hewan mana lagi?” “Gua gak mau nikah sama lo.” “Lo mau naik kuda apa enggak?” “Mau.” “Lo harus pulang.” “Gak mau.” “Gak usah naik kuda, gua bakal seret lo pulang.” Rosé berdecak kesal. “Buruan siap-siap.” “Kemana?” tanya Rosé. “Tapi lo mau naik kuda!” “Hmm yayaya.” Rosé pergi siap-siap, sedangkan JK hanya melihat Rosé. “Apa yang lo alami 2 tahun yang lalu? Kenapa gua gak boleh buat ngungkit itu?” batin JK.   JK berdebat di depan apartement Lisa. Berdebat tentang JK yang ingin menjemput Rosé sendiri namun Lisa dan Jimmy tidak mengizinkannya. “Gua mau dengar penjelasan dari dia. Kenapa dia ninggalin gua dulu.” “Lo-..” “Please Lis, kali ini aja.” “Oke. Gua kasih lo jemput dia. Tapi dengan satu syarat...”  Ucap Lisa serius. “Jangan sesekali lo ngungkit masalah kalian 2 tahun yang lalu. Sepengen tau apapun lo alasannya, please jangan tanya dia. Setidaknya sampai dia yang cerita sendiri ke lo. “Kenapa?” Tanya JK mengernyitkan dahinya.. “Kalau lo gak mau yaudah. Biar gua yang jemput dia sendiri dan gua pastikan lo gak akan ketemu dia lagi.” Ucap Lisa malas berdebat lebih panjang dengan JK. “Oke. Gua gak akan tanya. Lo bisa pegang kata-kata gua.” “Hotel S, Jeju.                    ♥♥♥♥♥ Mau gak mau akhirnya JK menuruti kemauan Rosé yang ingin naik kuda sebelum pulang. Tanpa sadar ujung bibir JK tertarik keatas melihat wajah Rosé yang senang ketika melihat kuda. “Ngapain lo senyum-senyum?” tanya Rosé keika melihat bibir JK tersenyum. “Lucu.” “Apanya?” tanya Rosé bingung. “Rambut lo sama rambut kuda warnanya sama.’ “Haa?” Rosé awalnya bingung apa maksud JK, kemudian Rosé  melihat kuda dan rambutnya bergantian. “Waaahhh.” ujar Rosé kesenangan mengetahui bahwa rambunya dan rambut kuda bewarna yang senada. Meligat kelemotan Rosé JK memutar matanya malas. “Gua heran sekarang. Kenapa dulu gua bisa suka sama cewek b**o kayak dia.” batin JK. Rosé naik ke atas kuda. “Apa lo liat-liat?” “Dihh berasa diliatin.” “Kenapa harus lo yang nemuin gua J?” ujar Rosé dalam hati. Pikiran Rosé Kembali ke waktu 4 hati yang lalu, saat dirinya berada di atas kapal menuju Jeju. Terutama saat Rosé meyakinkan diri jika JK yang datang dan ngejemput dirinya, maka dia akan menikah dengan JK.” JK dan Rosé sudah Kembali, kini keduanya sudah berada di depan rumah Rosé. Namun keduanya masih berada didalam mobil, alasannya adalah karna Rosé takut untuk masuk kedalam rumahnya. “Turun.” ujar JK setelah sekian lama diam. Rosé hanya menggelengkan kepala. “Mau tinggal sama gua lo?” tanya JK asal. “Gila lo?! Yakali gua mau!” “Yaudah turun.” “Gak mau, gua takut dimarahin Mama.” “Kalau takut dimarahin ngapain dibuat haa?” “Kesel gua, gua gak mau nikah sama lo masih aja dipaksa-paksa.”’ “Udah takdir lo, jadi terima aja.” “Dihh takdir. Malapetaka kali!” ujar Rosé asal. “Mulut lo gak bisa dikasih filter apa?!” “Gak sempat!” ucap Rosé sambil membuka pintu dan turun dari mobil JK. 5 detik kemudian Rosé masuk lagi kedalam mobil. “Kenapa masuk lagi? Masih gak berani masuk?” “Bukan.” “Jadi apa?” “Bawain koper gua turun.” “Lo kira gua babu lo!” “Emang kan?” tanya Rosé dengan muka polos membuatnya dihadiahkan tatapan sinis oleh JK. “Buruan J.” “Malas!” “Lo mau gua kabur lagi?” “Coba aja kalau bisa. Mulai hari ini gua ikat lo dirumah.” “Ck! Mama Mama. Kok bisa-bisanya ngasih calon Suami buat anaknya yang kayak gini. Belum nikah aja udah KDRT. Gimana nanti kalau nikah.” ujar Rosé sambil menggelengkan kepalanya. JK sama sekali gak ngegubris Rosé ngomong. “Buruan turun lo!” “Ini rumah lo, jadi elo yang turun.” “Gua gak nyuruh lo buat masuk. Gua cuman nyuruh lo turun buat ngebawa koper gua turun dan ngebawa sampai depan pintu aja. Kasihan juga rumah gua harus di mandiin kalau ada orang kayak lo yang nodainnya.” Dengan kesal JK turun dari mobilnya dan Rosé hanya tertawa ngeliat JK. Kini Rosé dan JK berdiri di depan pintu. “Udah bisa masuk?” ujar JK setelah diam beberapa saat. “Tunggu, gua belum berani buat masuk.” “Tinggal lo bilang Anne. Kalau lo mau nikah sama gua, nanti juga Mama lo luluh.” “Masa iya?” “Iya.” “Gak bohong kan lo?” “Coba aja kalau gak percaya. Buruan masuk lo.” Rosé  menghela nafas. “Tenang Rosé, mana berani Mama marah sama lo. Tapi kalau Mama marah, nangis aja. Tapi pasti Mama bakal marah.” ujar Rosé pada dirinya sendiri. JK ngeliatin Rosé yang ngomong sama dirinya sendiri tanpa ada niat untuk segera masuk. “Kayaknya gua mikir lagi buat nikah sama lo.” ujar JK tiba-tiba. Rosé langsung menatap JK, “Lo mau ngebatalin?” tanya Rosé dengan wajah berharap. “Baru mikir Anne.” “Gak usah dipikirin lagi langsung batalin aja. Gua aneh anaknya, masa iya lo mau sama cewek aneh kayak gua. Batalin ya.” ujar Rosé dengan muka berharapnya. “Gak! Ayok masuk.” ujar JK mau buka pintu tapi ditahan sama Rosé . “Ngapain lo pegang pegang gua? Mau masuk sambil gandengan biar gak dimarahin?” “Bukan.” “Jadi?” “Batalin yaa.” ucap Rosé sambil mengeluarkan jurus puppy eye nya. “Gak mempan!” ujar JK sambil membuka pintu dan langsung masuk ngebawa koper Rosé. Rosé  masih di depan pintu sambil berdebat sama dirinya sendiri. “Mau berapa lama lo di sini?” tanya JK yang keluar lagi untuk menjemput Rosé. “Haa?” kaget Rosé saat JK bertanya dan langsung menarik tangannya masuk kedalam rumah. Diruang tamu sudah ada Mama dan Papa Rosé juga Lisa dan Jimmy. “Udah selesai kaburnya Rosé?” ujar Mama Rosé begitu melihat Rosé masuk. Rosé nunduk sambil berdiri dibelakang JK. “Jungkook duduk.” ucap Mama Rosé pada JK. “Iya ma.” jawab JK singkat. Baru saja hendak jalan, Rosé sudah menahan JK dengan narek baju JK. “Rosé, lepasin baju Jungkook.” pinta Mama dengan penuh penekanan. “Gak mau Ma.” ucap Rosé pelan. “Rosé!” “Mama seram kalau marah.” ujar Rosé tapa rasa bersalah. “Hubungannya apa Neng?” ujar Lisa kemudian. “Ehh ada Lisa juga. Dia jadi tameng, biar seremnya Mama gak keliatan.” ujar Rosé saat melihat Lisa. “Lepasin Rosé!” “Gak mau Mama.” “Udah Ma, Jungkook berdiri aja.” Mama mengehela nafas. “Kemana aja kamu Rosé?” “Jeju Ma.” “Kenapa gak pamit?” “Mana ada orang kabur pamit dulu Ma.” “Ngapain main kabur kabur segala?” Rosé diam, tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. “Rosé!” “Habisnya Rosé kesal.” “Kenapa Rosé?” “Masa nih ya Pa. Coba Papa pikir aja deh gimana Rosé gak kesal coba. Rosé pergi fitting baju sama calon Suami Rosé. Tapi Pa, calon Suami Rosé itu sibuk main hp terus dan parahnya lagi gak ada ngeliat Rosé sama sekali. Terus masa harus dipaksa sama Mami buat ngeliat Rosé baru dia mau ngeliat Rosé. Udah gitu pas ngeliat cuman bilang “hmm cantik” udah habis itu ngeliat hp lagi. Kalau Papa jadi Rosé, Papa kesal gak?” ujar Rosé cepat seakan tanpa titik koma. Semua orang yang ada diruangan itu cuman ngeliat Rosé ngomong. “Alibi lo Rosé.” batin Lisa. “Pfft.” Jimin berusaha menahan tawanya. “Karna itu lo kabur?” tanya JK berbalik menatap Rosé, namun tidak dihiraukan oleh Rosé. “Beneran karna itu?” “Iyaa!” tegas Rosé. “Astaga Rosé, kamu tau gak gimana khawatirnya Papa dengar kalau kamu hilang?” “Enggak Pa. Kan Rosé gak ada di sini.” jawab Rosé dengan muka gak bersalah. “Astaga Rosé udah kayak gini masih aja ngejawab.” ujar Lisa sambil menggelengkan kepala. “Kan gua bener sih!” “Iya iya serah elo aja deh.” ‘Tapi tunggu tunggu. Kalau khawatir kenapa gak ada yang nyariin Rosé?” kesal Rosé pada semua orang yang ada diruagan tersebut. “Gak nyariin hidung lo mancung.” kesal Lisa. “Kita sampai ke New Zealand nyariin lo Rosé.” ujar Jimmy. “Kita? Lo berdua?” tanya Rosé sambil menunjuk Lisa dan Jimmy bergantian. “Gua sama Jimmy!” jawab JK. “Ehh masa?” “Kenapa gak jadi ke New Zealand Rosé? Papa dengar kamu udah naik pesawat.” tanya Papa Rosé. “Iya udah naik Pa, tapi kan Rosé mikir Pa. Kalau Rosé ke sana, nanti gampang ketemu nya. Kan gak seru jadinya, makanya gak jadi naik.” ujar Rosé sambil tersenyum lebar. “Terus kenapa ibu yang ada dirumah lo bilang lo ada kesana?” tanya Jimmy. “Haa? Bibik bilang gitu?” “Jangan banyak ngebohong Rosé!” ujar Mama. “Huuh, jadi setelah turun dari pesawat Rosé langsung telpon Bibik pake telpon bandara. Rosé nyuruh Bibik bilang kalau ada yang nyariin Rosé bilang aja Rosé tadi kerumah.” ucap Rosé tanpa rasa bersalah. “Pantesan agak aneh.” ujar Jimmy mengingat keanehan gelagat Wanita yang berada di rumah Rosé di New Zealand. “Papa kenapa gak nyariin Rosé?” tanya Rosé sambil menatap Papanya. “Kan lo yang minta jangan dicariin.” jawab JK cepat. “Ohh iya, terus lo! Kenapa credit card diblokir! Belum nikah aja udah pelit lo gimana udah nikah coba!” cerca Rosé tanpa titik koma. “Katanya biar lo gak kabur lagi Rosé.” jawab Jimmy. “Kalau gua pelit itu apa Rosé?” tanya JK sambil menunjuk koper dan barang-barang Rosé. “Itu koper. Masa lo gak tau?” “Pakai apa lo bayarnya?” “Dihh ngungkit-ngungkit. Baru itu juga.” “Rosé. Gak boleh gitu.” tegur Papa Rosé. “Iya Papa.” “Jadi gimana Rosé?” tanya Mama Rosé tiba-tiba. Rosé melihat Mamanya, Rosé tau kemana arah pembicaraan ini. “Gimana apa Ma?” “Pernikahan kalian. Jungkook?” “Kalau Jungkook mau nya tetap dilanjutin Ma. Tapi terserah Rosé mau nya gimana.” ucap JK membuat Rosé melihat JK. “Kamu mau nya gimana Rosé?” tanya Papa Rosé. “Rosé.” Panggil Mama Rosé. “Yaudah Ma.” “Yaudah apa?” “Lanjutin kayak mana yang seharusnya.” pasrah Rosé. “Gunanya lo kabur buat apa Rosé? Kalau akhirnya lo terima juga nikah sama JK?” batin Lisa bingung. “Rosé, kamu serius nak?” ujar Mama Rosé dengan wajah senang. “Iya Ma.” ujar Rosé pasrah. JK ngeliat Rosé tidak percaya. Karna merasa dilihat, Rosé menatap JK dan berkata “Lo gak perlu ngikat gua, gua gak bakal kabur lagi.” ujar Rosé datar. “Rosé?” panggil Lisa dengan menatap Rosé dalam. Rosé hanya mengangkat bahunya. “Yaudah lah, Rosé mau kekamar dulu ya. Boleh kan Pa?” tanya Rosé sambil menoleh pada Papanya. “Boleh sayang, kamu istirahat sana.” Rosé menghampiri Papanya. “Makasih Papa.” ujar Rosé lalu mencium pipi Papanya. “Iya.” Rosé berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Namun baru naik 3 anak tangga Rosé berhenti dan berbalik arah. “Lo!” ucap Rosé sambil menunjuk JK “Bawain koper gua.” Suruh Rosé. “Rosé, suruh Bibik aja.” tegur Mama. “Gak mau Ma, Rosé mau nya J. J yang bawa atau--” “Iya bawel lo.” potong JK. Rosé pergi kekamarnya sambil ketawa menang, diikuti JK yang sibuk ngebawa koper milik Rosé.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN