Perpisahan yang cukup mengesankan. Para ahli pengobatan itu juga kembali ke daerahnya dengan berat hati membiarkan Jira melanjutkan perjalanan. Mereka membekali Jira dengan berbagai jenis obat herbal yang dibuat secara mendadak. Jira menerimanya dengan senang hati. Para kurcaci itu hanya mendoakan agar Jira selamat dalam perjalanan. Rasa terima kasih dan suka cita menjadi satu. Jira akan rindu dengan senyum mereka.
Cen Cen keluar dari gerbang desa Kurcaci dengan sangat cepat. Jira kembali menyusuri jalan barat dengan semangat yang berbeda. Beberapa pemukiman mulai terlihat. Banyak desa yang sangat hidup dan ramai. Tidak ada hamparan tanah yang dibiarkan kosong tanpa rumah.
"Wah, siapa itu, ya?"
"Dia cantik sekali!"
"Hei, lihat kudanya! Sangat mengagumkan!"
Mereka yang keluar dari rumah melihat Jira penasaran. Jira hanya menoleh dan terus menunggang kuda. Semakin ramai saat Jira memasuki tempat para pedagang. Barulah dia turun dan menuntun kudanya.
'Sangat ramai. Tempat ini hidup seakan tidak ada masalah. Aku harus tanya seseorang!' batin Jira sambil tersenyum menatap sekeliling.
Jira menghampiri salah satu penjual pernak-pernik. "Permisi, Tuan. Aku datang dari jauh. Ini tempat apa?" tanya Jira.
Penjual itu tersenyum ramah. "Ini tempat persinggahan, Nona. Semua orang yang bepergian bisa istirahat di sini. Ah, Nona juga bisa istirahat di manapun yang Nona mau," jawab orang itu.
Jira sangat senang. "Berarti daerah ini bebas tanpa kota?" tanya Jira semangat.
Orang itu mengangguk. "Iya benar," jawab orang itu singkat karena datang pembeli yang ingin membeli banyak pernak-pernik.
Jira tidak menyangka akan berada di tempat yang lepas ikatan pemerintahan. Dia kembali menuntun kudanya sambil melihat-lihat berbagai dagangan yang di perjual-belikan. Ingin sekali Jira membeli makanan, tetapi badannya kotor, dia harus mandi. Jira mencari tempat penginapan sementara.
"Penginapan Huaju?" Jira membaca nama penginapan dengan dahi berkerut.
Mengendikkan bahunya dan memilih masuk ke sana. Saat pintu terbuka, Jira terbelalak. Ada banyak sekali orang yang sedang makan dan berbincang.
"Ini penginapan atau rumah makan?" bingung Jira.
Kemudian seseorang datang dengan sangat bahagia membawa kipas. "Selamat datang di penginapan Huaju, Nona. Masih ada beberapa kamar yang sangat bagus. Jangan ragukan pelayanan di sini, Nona pasti akan merasa seperti Putri, hmm? Ayo-ayo, silahkan masuk!" ujar orang itu sedikit bercanda.
Jira meringis dan mengangguk. 'Seorang Putri? Biayanya pasti mahal,' pikir Jira melihat-lihat.
Sangat ramai, bahkan Jira tidak bisa mendengarkan salah satu dari mereka. Orang itu menyuruh seseorang untuk membawa kuda Jira bersama kuda lainnya.
"Penginapan ini lengkap dengan rumah makan. Semua jenis makanan dari berbagai kota kami sajikan. Kalian bisa menikmati dengan tenang. Istirahat sejenak bisa mengurangi lelah dan beban pikiran. Ah, ngomong-ngomong Nona berasal dari mana? Hendak ke mana? Kamar model apa yang Nona pesan?" basa-basi meminta kejelasan.
Jira menoleh dan berhenti. "Aku Jira, Jenderal kota Bunga. Bisakah kau beri aku kamar untuk sementara? Aku hanya ingin mandi, hehe," Jira tersenyum unjuk gigi.
Orang itu tersentak. "Ternyata Jenderal kota Bunga juga datang di sini. Aku sangat senang bertemu denganmu. Kau, terlihat seperti bukan Jenderal. Kalau aku tidak salah, kota Air juga memiliki Jenderal perempuan," Bukannya menjawab pertanyaan Jira, orang itu justru semangat membicarakannya tanpa rasa segan.
Jira tersenyum bodoh. "Tuan, aku mau mandi," ucap Jira sekali lagi.
Orang itu mengangguk cepat dan menunjukkan sebuah kamar untuk Jira.
"Kalau ada sesuatu, kau bisa panggil aku. Selamat istirahat dengan nyaman, Jenderal." kata orang itu dan kembali ke pintu depan.
Jira memberi salam yang sama dengan ramah. Seketika dia merebahkan diri terlentang di ranjang. "Hah, nyamannya! Akhirnya bisa tiduran di ranjang empuk!" pekik Jira.
Namun, senyumnya luntur lantaran ingat biaya yang harus dia bayar. Jira langsung duduk dan melihat uang yang dia punya. Menghitung satu per-satu koin yang masih cukup.
"Hah, aku harap ini akan murah. Perutku juga lapar. Cen Cen juga harus makan. Lebih baik aku mandi cepat!" ujar Jira dan segera pergi mandi.
Jira berdandan layaknya perempuan sejati. Hiasan bunga kecil juga tersemat di kepalanya. Seruling dan besi lambang kota Bunga selalu melekat di pakaiannya. Jira tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
"Sempurna! Sekarang giliran membayar!" ujarnya membawa perbekalan keluar dan mencari orang yang menyambutnya.
"Pelanggan, kau mau pesan apa?"
Seseorang menghampiri Jira sambil membawa kain pembersih.
Jira menoleh. "Ah, aku tidak mau pesan apa-apa. Di mana orang yang bawa kipas itu?" tanya Jira.
"Dia ada di sana." orang itu menunjuk sebuah meja yang dikerumuni banyak orang.
Jira ikut melihat ke arah itu. 'Sepertinya mereka juga mau bayar,' pikir Jira.
"Terima kasih," ucap Jira dan menuju meja itu.
Berdesak-desakan membuat Jira menunggu cukup lama. Akhirnya sepi dan Jira bicara dengan orang itu.
"Tuan, aku mau pergi. Berapa harganya?" tanya Jira tanpa basa-basi.
Orang itu tersentak. "Kenapa buru-buru sekali? Apa kau kurang puas dengan kamarnya? Kami bisa berikan kamar yang lebih bagus," ucap orang itu merasa sungkan.
"Tidak, bukan begitu. Aku harus melanjutkan perjalananku." jawab Jira mengibaskan tangan.
"Kalau begitu... Tidak perlu bayar. Kau hanya sebentar di sini. Pergilah!" orang itu justru terdengar mengusir Jira.
Jira mengerjap. 'Apa dia kesal?' pikir Jira.
"Tuan, aku pergi bukan berarti tempatmu tidak bagus. Ini sangat bagus! Ambil ini! Aku harap itu cukup." ujar Jira memberikan beberapa koin ke meja tanpa menghilangkan senyumnya.
Orang itu menatap Jira dan uang koin bergantian.
"Baiklah, aku pergi!" Jira ingin melangkah, tetapi orang itu menghentikannya.
"Tunggu! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi setelah membayar dan kau hanya singgah sebentar. Setidaknya, makan beberapa menu dulu, Jenderal, atau aku akan merasa pelayananku kurang."
Jira kembali menoleh. "Ahaha, kau tidak perlu begitu!" Jira menolak.
Dalam hati Jira sangat ingin makan gratis.
Orang itu terkekeh. "Mari ikut denganku. Tidak perlu sungkan!"
Jira sedikit berpikir. "Emm, baiklah. Kau baik sekali! Apa ada makanan dari kota Bunga?" tanya Jira antusias.
Orang itu tertawa. "Tentu saja, ada. Lewat sini!" mengajak Jira menuju tempat yang masih kosong.
Jira dengan senang hati menerimanya. Duduk santai sambil menyangga kepala menikmati seisi penginapan. Orang itu memanggil pelayannya untuk memesan makanan. Tidak lama kemudian pesanan itu datang dengan aroma yang membuat perut lapar. Jira penasaran.
"Ini adalah kue yang terbuat dari daun kipas. Jenderal pasti sudah sering mengetahuinya, 'kan?" ujar orang itu menunjuk beberapa kue di depannya.
Jira mengangguk cepat. "Iya, ini enak sekali! Bagaimana bisa kau membuatnya? Kue ini khas kota Bunga," tanya Jira.
"Beberapa pemasak di sini sangat handal, Jenderal. Kami bahkan mengambil bahan-bahan dari berbagai kota. Daun kipas ini juga berasal dari kota Bunga." jelas orang itu sungguh-sungguh.
Jira heran. "Caranya? Itu sangat jauh, Tuan. Tidak mungkin setiap hari kau dan pelayanmu keluar kota," Jira menggeleng.
Orang itu menunduk dan tertawa kecil. "Sebenarnya, beberapa penjual menjual semua bahan itu. Mereka berasal dari beberapa kota, termasuk kota Bunga. Di luar sana, ada banyak sekali yang bisa kau temui. Ini seperti seluruh penjuru negeri datang ke sini. Kalau kau tidak percaya, setelah ini silahkan lihat sendiri!" orang itu terlihat sangat meyakinkan dengan tangan yang seolah ikut berbicara.
Jira terbelalak. "Benarkah? Berarti pedagang dari kotaku juga ada di sini?" tanya Jira.
"Tentu saja. Aku dapatkan daun kipas dari penjual bunga dari kotamu. Dia sangat ramah. Kualitasnya bagus dan khasiatnya luar biasa. Seakan orang yang melihat dagangannya saja hatinya akan tenang dan bahagia. Siapa lagi yang bisa membuat bunga sekuat itu? Hanya di kota Bunga, Jenderal. Bukan hanya itu saja, beberapa senjata juga diperdagangkan di sini. Aku lihat kau kurang persiapan. Kau seakan gadis biasa yang sedang jalan-jalan, bukannya Jenderal. Kalau Kau butuh senjata, tinggal pilih saja. Ah, maafkan kelancanganku ini, haha. Aku memang suka bicara." terang orang itu tanpa sungkan. Memakai kipasnya dengan senyum yang terus tersungging.
Jira berdecak dan mengibaskan tangannya, bicara sangat akrab. "Tenang saja. Aku lebih santai dari dugaanmu. Ngomong-ngomong, di mana penjual bunga itu? Aku mau menemuinya!" tanya Jira dengan mata berbinar.
'Mungkin penjual bunga itu tau sesuatu tentang melati,' pikir Jira.
"Dia ada di dekat rumah makan bambu. Hanya berjarak beberapa toko dari sini," jawab orang itu.
"Tuan, kau sangat tau banyak. Apa tidak pernah ada keributan di sini?" tanya Jira lagi.
Orang itu mengingat-ingat. "Aku rasa tidak pernah. Musuh sekalipun kalau sudah ada di tempat ini akan menjadi kawan. Tidak ada yang tau, tidak ada yang menduga. Siapa saja bisa jadi orang hebat ataupun terkenal yang sedang singgah. Mereka tidak akan membiarkan kekacauan terjadi di sini. Kau lihat di sana, itu kumpulan pendekar dari kota seberang. Sudah dua hari mereka di sini. Entah apa yang mereka cari. Kemudian, pasangan itu... Mereka juga sudah sehari di sini. Mereka itu ternyata pengarang cerita. Kemarin membuat pertunjukan dan menghibur semua orang. Hah, rasanya semua jenis orang berkumpul di sini, hahaha." tawa orang itu setelah menunjukkan beberapa pelanggannya.
Jira mengikuti arah telunjuk orang itu. Mengangguk mengerti dan kembali bertanya. "Kau pemilik penginapan ini, 'kan?"
Orang itu mengangguk sambil mengipasi wajahnya.
"Kenapa namanya Huaju?" Jira sangat penasaran.
"Hahaha, Jenderal, kau dari tadi bertanya. Kapan kau akan makan?" ucap orang itu membuat Jira meringis. "Huaju adalah namaku. Pendekar hebat menolongku dari masalah dan membawaku kemari. Dia bahkan membantuku membangun penginapan. Dia yang menyuruhku memberi nama penginapan ini dengan namaku. Hah, ceritanya sangat panjang," sambungnya orang itu sambil menerawang beberapa waktu yang lalu.
Jira mengerjap. "Ternyata cerita yang panjang, ya? Kalau begitu tidak perlu cerita, haha," tawa Jira ringan.
Orang itu kembali tertawa. Jira bisa merasakan dia cukup santai dan senang hari ini setelah beberapa hari belakangan yang melelahkan.
"Pendekar mana yang menyelamatkanmu?" tanya Jira sambil mengambil satu kue.
"Siapa namanya? Itu dia pendekar Zuan. Sayangnya dia dikabarkan menghilang. Andai saja bisa bertemu dengannya lagi. Dia sangat luar biasa layaknya pendekar sejati!" orang itu memuji pendekar Zuan sambil mendesah.
Jira tidak jadi memakan kue meskipun mulutnya sudah terbuka. "Pendekar Zuan?!" Jira sedikit memekik.
Orang itu menatap Jira heran. "Iya, pendekar Zuan. Kenapa, Jenderal? Apa ada masalah?" tanya orang itu.
"Ahaha, tidak! Tidak ada masalah. Kau sangat beruntung bisa bertemu dengannya. Mari makan!" Jira kembali ceria dan makan kue daun kipas.
Orang itu hanya mengangguk mempersilahkan. Senang rasanya bisa menikmati makanan dari kotanya. Namun, Jira terpikirkan sesuatu tentang pendekar Zuan. Semakin penasaran dengan pendekar itu. Hingga kuenya habis, Jira pamit pergi.
Membawa kudanya kembali berjalan sambil melihat beberapa toko yang menjual barang menarik. Dia mencari penjual bunga yang dekat rumah makan bambu. Sudah beberapa toko yang dia lewati, tetapi belum menemukan penjual itu. Dia bertanya pada salah satu orang yang juga membawa kuda seperti dirinya. Kemudian menunjukkan jalan pada Jira.
Jira menghargai keramahan orang-orang di sini. Dia menuju jalan yang ditunjukkan dan mulai terlihat banyak bunga memenuhi satu toko. Jira yakin jika itu adalah penjual bunga yang dimaksud. Jira menghampiri dan menyuruh kudanya tetap diam di depan toko.
Toko itu sangat segar dan terbuka. Jira belum masuk sudah di sambut oleh sang pemilik.
"Jenderal Jira? Kau di sini? Astaga, apa aku bermimpi? Silahkan masuk, Jenderal! Aaaa, aku tidak bermimpi! Kau cantik sekali!" seru pemilik toko dengan histeris.
Semua orang memandangnya membuat Jira tersenyum sungkan. "Hai, ini memang aku. Jangan terlalu banyak memuji! Tidak kusangka bertemu dengan orang kota Bunga di sini. Wah, kau jual hasil tanah kita, ya? Segar sekali! Sangat menyejukkan hati!" ujar Jira melihat-lihat semua tanaman dan bunga di toko itu dengan takjub.
"Ah, Jenderal bisa saja. Aku memang berdagang di sini dengan suamiku. Di waktu tertentu kami akan pulang ke kota Bunga. Jenderal, apa yang membuatmu kemari? Kau bisa dalam bahaya jika pakaianmu seperti ini." tanya penjual bunga dengan akrab.
Jira menoleh. "Untuk apa mengganti pakaian apalagi memakai pelindung? Aku bukannya ingin perang. Saat ini aku sedang dalam misi. Mungkin, sudah satu minggu aku pergi," jelas Jira.
Penjual bunga mendengarkan dengan serius. Tiba-tiba ekspresinya menjadi murung, "Ish, silahkan duduk, Jenderal. Aku akan buatkan minum sebentar." mengantar Jira untuk duduk dan dia pergi.
Jira memandang kudanya yang tenang di depan toko sambil mengendus tanaman harum di depannya seakan ingin memakannya.
'Cen Cen, kau sadar jika ini berbau kotamu? Kuda pintar!' puji Jira dalam hati.
Di meja ada tanaman yang sangat unik dan hanya tumbuh di kota Bunga. Jira menyentuh daun tanaman itu.
"Ini bunga kayu. Hanya tumbuh di hutan kota Bunga. Sangat sulit untuk membuatnya hidup di daerah lain." gumam Jira.
"Itu benar, Jenderal." penjual itu datang membawa minuman membuat Jira sedikit kaget.
"Suamiku yang membuatnya hidup di sini. Hanya itu satu-satunya bunga kayu yang membuat semua tanaman di sini menjadi merasa berada di kota Bunga. Itu sebabnya sangat segar. Itu dia suamiku, dia sibuk melayani pelanggan." ucap penjual bunga ikut duduk dan menyerahkan minuman Jira, kemudian menunjuk suaminya yang dikerumuni banyak orang.
Jira menjadi tersenyum lega. "Aku senang kalian hidup dengan baik. Terima kasih minumannya. Wah, ini enak!" seru Jira dengan berbinar meminum minuman itu.
Penjual bunga menjadi malu. "Jenderal sangat ramah. Jenderal, aku dengar kabar tidak baik dari kota Bunga. Apa itu benar? Aku sempat tidak percaya, tetapi jika mendengar darimu, aku pasti percaya," tanya penjual bunga.
Jira meletakkan minuman itu dan memandang penjual bunga resah. "Yang Mulia Rui sakit parah. Perang itu membuat kita menang sekaligus kalah. Jika penguasa kota tidak sembuh, maka hancurlah kota Bunga. Hari demi hari kota kita melemah. Tumpuan kekuatan, semuanya layu dan hilang rasa. Satu-satunya cara adalah ramuan dari bunga melati. Aku ke sini untuk mencari bunga itu. Kau tau sesuatu? Kau penjual bunga, pasti tau segalanya." Jira serius.
Penjual bunga tersentak. "Jenderal, kau lebih banyak tau dariku. Tidak ada yang mengetahui seluk beluk bunga lebih darimu. Aku hanya tau kalau bunga itu langka. Jadi, ternyata itu benar?" Dia sangat terkejut.
Jira mendesah. "Jangan biarkan kota lain tau masalah ini. Kondisi sedang pasca perang. Bisa saja hal ini dimanfaatkan. Pangeran Sora tidak bisa kubiarkan menjaga kota sendirian. Sampai sekarang aku belum menerima kabar buruk dari orang-orangku. Itu tandanya kota Bunga masih sama. Sama lemahnya saat aku keluar dari sana," terang Jira.
Penjual itu menutup mulutnya. "Astaga! Apa kota kita akan hancur, Jenderal?" tanyanya takut.
Jira tersenyum. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Karena itu aku ada di sini," jawab Jira memberi harapan.
Penjual bunga itu mendesah lega. "Kau orang hebat, Jenderal Jira. Aku yakin kau bisa menyelamatkan kota. Jika ratu Rui sembuh, semuanya akan baik-baik saja, bukan?" tanya penjual itu lagi.
Jira mengangguk. "Tentu saja. Serahkan ini padaku! Jadi, kau tidak tau sesuatu tentang bunga melati?" tanya Jira.
Penjual bunga menggeleng. "Maafkan aku, Jenderal," menunduk merasa tidak berguna. Jira ingin membuatnya tidak merasa sedih, tetapi penjual itu mendongak lagi dengan semangat, membuat Jira terkejut.
"Jenderal, aku memang tidak tahu bunga itu, tetapi di rumah makan bambu aku pernah melihat ada banyak sekali lukisan seperti bunga melati. Aku tidak tahu apa itu bunga melati atau bukan. Yang jelas, sangat mirip seperti yang dikatakan orang-orang." ujar penjual bunga dengan mata melebar menunjuk rumah makan bambu di sebelah tokonya.
Jira ikut melihat rumah makan itu, kemudian menatap penjual bunga lagi. "Kau serius? Apa lukisannya seperti melati? Punya daun banyak yang sangat bergerombol dan bunga kecil-kecil? Kau pernah menghirup aromanya?" tanya Jira antusias.
Penjual bunga itu menggeleng. "Aku tidak tahu aroma bunga melati seperti apa, tapi lukisan itu persis seperti yang Jenderal bilang," ujarnya.
Jira tampak berpikir. Melirik rumah maka bambu yang sangat hijau, terlihat dari celah toko bunga. Rumah makan itu juga ramai dan terbuat dari bambu.
'Apa aku bisa menemukan sesuatu hanya dengan lukisan itu? Jika berhubungan dengan melati, apa salahnya aku tanya? Aku harus menyelidikinya,' pikir Jira.
Jira mengerjap saat penjual bunga kembali memanggilnya.
"Jenderal Jira, aku harap aku bisa membantumu. Sayangnya aku tidak tahu apa-apa." ujar penjual bunga merasa tidak enak.
Jira tertawa renyah, "Ah, tidak apa-apa. Ini sudah tugasku melindungi kalian. Lagipula kau sudah cukup membantu."
Penjual bunga bingung. "Membantu apa?"
"Membantu membuatku tenang dengan bertemu denganmu. Haha, rawat semua tanaman ini dengan baik, ya. Sebarkan keharuman di mana-mana. Jika mereka lemah, berarti terjadi sesuatu dengan kota Bunga. Aku mau pergi lagi." Jira tersenyum manis.
Jira berdiri membuat penjual bunga ikut berdiri. "Jenderal, kau sangat baik. Mau bicara dan membagi rahasia kota bersama orang sepertiku. Aku sangat terharu punya Jenderal sepertimu," memasang wajah bangga.
"Sudahlah, tenang saja. Sampai jumpa di lain waktu!" seru Jira pamit pergi.
Penjual bunga itu melambaikan tangan setelah menjawab Jira. Dalam hati dia mendoakan agar dalam perjalanan Jira tidak mengalami kesulitan.
Cen Cen masih setia di depan toko bunga. Jira masuk begitu saja ke rumah makan bambu. Memesan makanan ringan dengan alasan agar tetap di sana cukup lama. Pandangannya meneliti seisi tempat itu. Bambu hijau yang menyejukkan. Memang terdapat banyak lukisan, tetapi Jira tidak menemukan lukisan bunga melati.