Rantai besi terikat di kedua tangan. Tanpa bergerak menyorot tajam penguasa kota yang berdiri gagah jauh di hadapan. Dipertontonkan di pusat kota. Meronta tanpa melawan, penjagaan sangat ketat dengan senjata. Seakan Jira adalah penyusup yang membahayakan kota, semua rakyat menyaksikan sambil berbisik membicarakan hal buruk tentangnya. Berkali-kali Jira berdecak, mengingat ulah pedagang senjata yang membongkar jati dirinya sebagai perempuan lalu berakhir menjadi tahanan. Tidak pernah menurunkan pandangan dari penguasa kota seakan menantang.
'Sial! Besi ini membuat tanganku sakit. Aku ingin sekali mencambuk mulut mereka yang bergumam tidak suka pada perempuan apalagi merendahkannya, meskipun aku yang mereka bicarakan. Pikiran rakyat di sini sepertinya tercemar. Ini tidak bisa dibiarkan!' batin Jira sambil menarik rantai ingin melepaskan diri.
Kudanya juga di tahan di sisi lain. Prajurit mengepung di segala sisi. Jika sekali Jira melawan, rantainya akan di tarik dan dia akan tersiksa. Sangat aneh berada di antara laki-laki. Aromanya juga berbeda meskipun bersih. Banyak perbedaan yang Jira lihat dalam sehari.
'Baru juga satu hari penyamaran sudah terbongkar. Aku harus waspada.' batin Jira. Menelengkan kepala mencoba menepikan anak rambut yang hampir menutupi wajahnya.
"Siapa kau?" tanya penguasa kota dengan suara menggelegar.
"Aku... Perempuan!" jawab Jira tanpa takut.
Kembali heboh, semua orang semakin semangat menggunjingnya.
"Dasar tidak malu! Dia mengaku dengan suara lantang. Apa dia ingin mati?" salah seorang berbicara dengan sedikit keras.
"Hei, sepertinya dia bukan perempuan biasa. Lihat cara penguasa kota merantai tangannya. Dalam sekali tarik pasti tangannya bisa putus." bisik teman orang itu.
"Memangnya siapa dia? Apa yang bisa perempuan lakukan? Dia menyamar untuk mengelabuhi dan mempermainkan kita, itu pasti," jawab orang itu lagi.
Mendengarnya membuat Jira berdecak remeh.
"Aku bertanya tentang asal-usulmu. Saat ini kau berada dalam masa sulit. Jawab pertanyaanku!" pinta penguasa kota.
"Kalau kau memperlakukanku seperti ini. Kenapa bertanya? Kau tahu siapa aku, Yang Mulia!" jawab Jira menduga.
Angin menerpa ringan membuat anak rambutnya terus menghalangi pandangan Jira. Penguasa kota Laki-laki itu tersenyum miring. "Apa tujuanmu kemari, Jenderal kota Bunga?"
Jira ikut tersenyum miring mendengar pertanyaan sekaligus pengakuan jika penguasa kota memang mengetahui identitasnya.
"Apa? Perempuan itu seorang Jenderal? Astaga, ini sulit dipercaya!" riuh para warga terkejut.
"Dia seorang Jenderal!"
"Tapi kenapa dia menyamar?"
"Walaupun Jenderal sekalipun dia tetap perempuan. Pasti pembawa sial bagi kita."
"Apa yang akan terjadi padanya nanti? Dia cantik juga."
Ocehan yang sangat jelas bukan berbisik lagi. Jira tidak melepaskan senyumnya untuk penguasa kota.
"Salam, Yang Mulia. Aku kesini dalam perjalanan penting dan sangat buru-buru. Tidak menyangka akan mendapat sambutan secepat ini dengan sangat meriah." dengan sengaja melirik tangannya yang terikat rantai.
"Sayangnya, peraturan harus tetap berjalan, Jenderal. Satu pun perempuan di larang menginjakkan kaki di sini. Kau harus menerima hukumannya atau rakyat akan resah." ujar penguasa kota berubah menjadi bijaksana.
Jira tahu jika penguasa kota itu ingin mengujinya tadi. Tidak mengira jika penampilan yang membuat semua orang segan dapat memimpin kota dengan baik.
Jira tersenyum sopan. "Aku menghargai budaya di kotamu. Jujur, ini sangat menarik, tetapi aku tidak terima jika perempuan dianggap tidak baik. Setidaknya lepaskan aku dan kita bicara baik-baik," ucap Jira dengan nada sopan.
"Itu sebabnya kau diikat. Kau bisa menyerang kapan saja dan aku tidak bisa percaya kalau tujuanmu berbeda." ujar penguasa kota.
Jira mengerutkan dahi. "Aku berkata jujur. Untuk itu aku menyamar agar bisa menjalankan tugasku dengan mudah, tapi justru tertangkap karena pedagang senjata yang konyol itu. Aku bahkan tidak melakukan apapun pada kalian, kenapa aku harus di hukum? Ini tidak adil, Yang Mulia! Lepaskan aku, maka semuanya akan membaik!" pinta Jira sedikit kesal karena penguasa kota tidak Mau mengerti. Begitu juga dengan para warga yang masih bergumam menentang keberadaannya.
"Kau lihat? Meskipun kau seorang Jenderal, tidak menghilangkan sifat aslimu sebagai perempuan. Mengertilah kota kami jika perempuan adalah hal yang paling terlarang di sini."
Ucapan penguasa kota itu membuat Jira tertegun. Dia melupakan posisinya sebagai seorang Jenderal dan tidak punya sopan santun saat berbicara. Namun, kondisinya sekarang berbeda. "Lalu, apa yang akan kalian lakukan padaku?" tanya Jira tidak terima.
"Prajurit! Arak dia keliling kota! Perempuan ini akan dipermalukan dan dihina oleh setiap orang. Dengan begitu hatinya pasti akan sakit. Setelah itu penjarakan dia dan tahan kudanya. Jika dia melawan, kita terpaksa akan memberi hukuman lebih. Berhati-hatilah, dia Jenderal hebat dari Kota Bunga. Jangan tertipu oleh ucapannya!" seru penguasa kota memberi perintah dengan lantang.
Jira ternganga. Seketika beberapa prajurit mendekat dan menarik rantai Jira. "Apa-apaan ini! Keterlaluan! Lancang sekali memperlakukan perempuan seperti ini! Lepaskan aku!" teriak Jira marah.
Memegang kedua rantai di tangannya dan menariknya kuat sampai memutar membuat prajurit yang memegang rantainya terlempar menabrak prajurit lain. Semua orang terkejut melihat betapa kuatnya Jira.
Jira menatap tajam semua prajurit yang mendekat. "Berhenti! Atau aku akan merobek mulut kalian!" ancam Jira menarik seruling dan menodongkannya.
Bunyi rantai terdengar mengerikan jika mengenai seseorang karena pergerakan tangan Jira. Para prajurit saling pandang kemudian tertawa.
"Seruling rapuh itu mana mampu melawan kami. Tarik dia!" seru salah satu prajurit mengajak temannya untuk membawa Jira paksa.
Mereka kembali menarik rantai membuat Jira mendekat, tetapi justru mereka yang terancam. Dalam sekali pukulan di leher, Jira melumpuhkan dua prajurit dan menahan satu prajurit yang sempat meremehkannya dengan mengarahkan serulingnya ke leher prajurit itu sampai mendongak.
"Bicara sekali lagi aku robek mulutmu sampai belakang!" desis Jira tanpa melepaskan prajurit itu.
Menatap sekeliling yang bingung karena Jira melawan. Namun, penguasa dan pejabat kota hanya diam menyaksikan membuat Jira angkat suara. "Dengar semuanya! Aku Jira Sieli War, Jenderal dari kota Bunga datang dengan maksud baik. Aku menghargai pemikiran kalian, tapi untuk merendahkan perempuan, aku tidak bisa terima! Pikirkan kembali apa yang akan kalian lakukan selanjutnya!" teriak Jira kepada para warga.
"Dia harus tetap di hukum! Hah, sudah kuduga kau mencurigakan, Tuan Ji. Ternyata kau perempuan! Ck, hamba keberatan, Yang Mulia! Jika Jenderal Jira dibebaskan, itu melanggar peraturan kota ini. Dia tetaplah perempuan!" seru seseorang yang muncul dari kerumunan warga dengan ekspresi marah. Menunjuk Jira dan memohon kepada penguasa kota.
Jira terkejut. 'Dia adik pemilik peternakan kuda itu. Dia masih bersikeras menentangku,' batin Jira menatap orang itu.
Pemilik peternakan kuda datang tepat di samping adiknya. Memandang Jira terkejut, tetapi tersenyum setelahnya. Jira juga ikut menyungging senyum tipis.
"Yang Mulia, Jenderal Jira punya misi penting. Dia menyamar untuk menghargai kami. Agar tidak menimbulkan kekacauan seperti saat ini. Hamba memohon untuk melepaskan Jenderal Jira. Biarkan dia memenuhi tujuannya!" seru pemilik peternakan kuda sambil menangkupkan tangan.
Jira tertegun lagi. 'Benar-benar kakak-beradik yang sangat berbeda. Terima kasih, Tuan pemilik peternakan kuda. Kau orang yang baik,' batin Jira masih tersenyum.
"Tuan Ji ternyata perempuan. Dia juga memiliki kedudukan yang besar. Aku sangat terkejut," gumam pemilik peternakan kuda kembali melihat Jira.
Adiknya menoleh tidak terima. "Kenapa kau membela penipu itu? Dia sudah menipumu! Semalam bahkan kau memberinya tempat tinggal!"
"Kenapa? Dia punya tujuan penting. Alasannya kuat karena itu dia menyamar. Apa tidak pantas jika dia dibebaskan?" jawab pemilik peternakan kuda sekaligus bertanya.
"Tetap saja, ini menentang kota kita! Perempuan menginjakkan kaki di kota ini, itu sudah sangat buruk! Hukum dia!" masih marah.
"Setelah di hukum apa dia akan mendapat kebebasan?" tanya sang pemilik peternakan kuda.
Adiknya terdiam. Semua orang bingung mendengar perdebatan mereka. Penguasa kota tampak tenang meskipun bingung dengan keinginan rakyatnya. Kedua pendapat yang menurutnya benar, membuat penasehat memberi saran.
"Yang Mulia, demi menghilangkan keresahan warga, Jenderal Jira harus di hukum, tetapi ucapan orang itu ada benarnya. Jenderal Jira punya tujuan lain, dia akan membahayakan kota kalau kita tidak menahannya. Sebaiknya, Yang Mulia memberikan keringanan hukuman. Setelah itu biarkan Jenderal Jira pergi," penasehat berbisik pada penguasa kota.
Penguasa kota mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari Jira dan kedua orang itu yang masih berdebat. "Kau benar, Penasehat. Rakyatku, sekalian! Demi keadilan, Jenderal Jira akan tetap diarak dan menerima setiap hujatan semua orang. Setelah itu, dia harus segera pergi dan tidak boleh menginjakkan kaki di kota ini lagi."
Penguasa kota sudah membuat keputusan akhir. Jira menoleh dan melepaskan prajurit itu dengan mendorongnya hingga jatuh. Prajurit itu berlari menjauh karena takut. Dengan lantang Jira menjawab. "Aku terima!"
Pemilik peternakan kuda hanya mendesah meskipun sedikit tidak terima jika Jira akan mendapatkan hinaan. Sedangkan adiknya berdecak karena Jira tidak jadi dihukum lebih berat. Semua orang juga berpikir jika sebaiknya memang seperti itu.
"Kau tenang saja, Jenderal. Aku menghargai kedudukanmu. Dengan ini kau akan cukup sakit hati, tetapi kami tidak akan menentangmu. Terimalah hukumanmu!" ujar penguasa kota dengan bijak.
"Jika itu yang terbaik, baiklah. Asalkan lepaskan rantai buruk ini! Aku bisa berjalan sendiri!" pinta Jira.
Penguasa kota mengangguk dan menyuruh prajurit melepaskan ikatan rantainya. Kudanya juga terlepas dari penjagaan, tetapi masih ditahan. 'Ini lebih baik dari pada di penjara. Jelas aku akan melawan jika itu terjadi. Aku harus mencari bunga melati, jika aku di tahan pasti akan memakan banyak waktu.' pikir Jira sambil menyimpan serulingnya lagi di pinggang.
Dia berjalan mendahului prajurit seakan bersemangat menjalani hukuman. Warga memberi jalan dan mulai menggunjingnya. Jira tidak mengerti kenapa mereka sangat sulit menerima perempuan. Dalam hati Jira merasa prihatin dan sedih. Namun, dia tidak bisa ikut campur dalam urusan kota lain. Selain itu misinya jauh lebih penting. Penguasa kota masih berbaik hati merubah keputusannya, meskipun Jira harus menerima setiap ucapan menyakitkan dari mulut para laki-laki. Entah berapa lama dia akan diarak keliling kota. Jira berharap sehari semalam cukup untuk menjalankan hukuman.
Saat melewati pemilik peternakan kuda, Jira tersenyum dan mengangkupkan tangannya tanda terima kasih. Pemilik peternakan kuda itu juga mengangkupkan tangannya. "Tuan Ji, Emm ... Maksudku, Jenderal, semoga kau tidak bersedih setelah ini." ujar pemilik peternakan kuda itu dengan suara pelan.
"Aku akan menahannya, Tuan." jawab Jira tanpa berhenti berjalan.
Masih menyaksikan Jira yang mulai keluar dari kerumunan orang-orang, 'Semoga bunga langka itu secepatnya kau temukan.' batin pemilik peternakan kuda.
Diikuti oleh beberapa prajurit, Jira mulai menuju desa ke desa yang ada di kota Laki-laki. Para prajurit tidak henti-hentinya berteriak memberi pengumuman jika ada perempuan masuk di kotanya. Setelah itu semua orang akan berbondong-bondong keluar dari rumah dan menyaksikan Jira seakan Jira adalah penjahat. Sering kali Jira menutup matanya rapat saat hinaan yang dilontarkan sangat menyakiti hatinya. Dia bisa terima jika hanya dirinya yang dianggap buruk, tetapi mereka membawa semua perempuan dan menilainya buruk. Tidak sedikit dari mereka yang kasihan. Sayangnya sepanjang jalan Jira menemukan orang yang tidak menghargai perempuan. Hanya pemilik peternakan kuda yang dia tahu. Jira berharap, pikiran laki-laki di kota ini akan berubah.
Pagi menjadi siang. Prajurit heran karena Jira tidak mengeluh meskipun hanya sekali. Mereka bertanya dengan takut karena Jira seorang Jenderal. "Apa kau tidak lelah berjalan tanpa henti? Ini sudah siang dan matahari sangat terik. Kami saja butuh istirahat."
"Aku tidak akan berhenti sampai hukumannya selesai. Jika kalian lelah, istirahat saja. Aku akan tetap berjalan mengelilingi kota kalian" jawab Jira tanpa menoleh dan berhenti. Suara khas perempuan itu sedikit parau seakan hatinya menangis. Para prajurit saling pandang. Mereka sadar jika tidak semua perempuan lemah seperti yang mereka duga, seperti Jira.
"Dia sabar sekali. Tidak heran kenapa dia menjadi Jenderal. Sangat hebat!" gumam salah satu prajurit.
Siang juga berubah menjadi sore. Hampir sebagian kota yang sudah Jira datangi desanya. Hal itu tidak luput dari pandangan seseorang yang menjadi penyebab hukuman Jira. Memandang dari atap rumah ke rumah. Melihat dari kejauhan bagaimana Jira menanggapi semua kata kasar laki-laki. Pedagang senjata itu hanya diam. Dia selalu melihat mata Jira yang sesekali terpejam menahan sakit hatinya. Tangan Jira yang mengepal menahan hasrat ingin memberi pelajaran. Lalu, kaki Jira yang tidak berhenti melangkah meski hanya satu detik. Kemudian, mulut Jira yang bungkam. Jira biarkan saja tanpa menjawab lontaran yang diberikan.
Pedagang senjata itu terus mengikuti Jira sampai malam. Dia hanya lompat di atap rumah warga tanpa suara. Angin malam berhembus dingin menusuk tulang. Panas di siang hari berubah seketika. Bahkan para prajurit tidak sanggup menahan rasa dingin. Warga masih menyaksikan pengarakan Jira dengan memakai jubah tebal.
"Kau tidak mau istirahat sebentar? Aku tidak mau kau mati sia-sia. Kota Bunga bisa menyalahkan kota Laki-laki nanti," saran salah satu prajurit. Jira hanya menggeleng. "Jangan menyiksa diri, Jenderal. Aku mohon, istirahatlah sebentar." pinta prajurit yang lain. Nadanya sangat khawatir sekaligus meminta pengampunan agar dia juga bisa beristirahat.
"Aku sudah tersiksa sejak tadi," jawab Jira masih terus berjalan.
Mendengar jawaban Jira, sang pedagang senjata tertawa kecil. Sedangkan prajurit hanya bisa mendesah menerima nasib mereka yang sama. Jira melirik para prajurit di belakangnya. "Sudah kubilang, kalian tidak perlu mengikutiku. Aku tidak akan melanggar ucapanku." ujar Jira.
Mereka bingung. "Bagaimana kami bisa membiarkanmu? Penguasa kota akan menghukum kami nanti."
"Kalau begitu terserah kalian." Jira kembali acuh. Padahal tersenyum geli melihat penderitaan para prajurit yang mengaraknya.
Lebih sakit lagi saat hinaan demi hinaan terus terdengar. Kondisi Jira sangat tidak layak. Rambutnya bahkan masih terurai. Dalam hal ini Jira memikirkan kudanya. Wajahnya sangat gelisah. Berharap prajurit berbaik hati memberi kudanya makan dan minum. Pegal di kakinya tidak dirasakan. Hatinya sakit, telinganya seakan tuli, sudah cukup puas sejak pagi. Angin malam membuatnya serasa membeku. Badannya memang menggigil, tetapi dia tidak ingin terlihat lemah.
Pedagang senjata itu heran kenapa Jira bisa bertahan begitu lama. Tengah malam akan segera tiba, sudah sebagian besar desa yang ada Jira lewati. Perkiraannya sangat tepat, besok pagi pasti dia akan kembali ke pusat kota dan menghadap penguasa kota. Setelah itu dia bisa melanjutkan perjalanan.
'Bertahan, Jira. Demi apapun, bertahanlah. Ini kota orang, kau harus menerimanya. Hah, kalau aku bertemu dengan pedagang senjata itu lagi, aku akan patahkan tulangnya! Gara-gara dia aku jadi begini. Siapa laki-laki misterius itu? Aku masih ingat wajahnya dengan jelas. Sialnya aku selalu merasa tertarik jika mengingatnya. Apalagi suaranya yang menjengkelkan itu. Dia seakan ingin melihatku menderita. Dia juga tahu identitasku, pasti bukan orang biasa. Sshhh, ini lebih dingin dari hujan kemarin malam. Semoga Cen Cen baik-baik saja di sana.' batin Jira membicarakan apa saja yang ada di pikirannya.
Semakin gelap, sedikit pelita yang menyala. Langkahnya pasti dan syukurlah sudah jarang orang yang keluar rumah. Dia tidak mendengar hinaan lagi. Masih ada beberapa desa yang harus dia lewati. Masih ada beberapa jam untuk menuju pagi. Jira memilih berjalan cepat hingga berubah menjadi berlari, membuat para prajurit mengikutinya. Takut jika Jira melarikan diri, justru Jira mengitari desa yang tersisa dan membuat prajurit mengerti agar hukumannya cepat berlalu.
"Kenapa tidak dari tadi saja dia berlari? Biar kita juga bisa istirahat."
"Karena tadi dia diarak di depan banyak orang. Dia harus menerima setiap hujatan orang, 'kan? Karena ini sudah hampir pagi, orang-orang juga masih tidur, jadi dia lari agar cepat selesai,"
Bisik para prajurit. Jira tersenyum meremehkan. "Aku dengar, kota Laki-laki punya kekuatan yang sangat dahsyat. Setiap orangnya sangat kuat. Tadi pagi aku melihat sendiri seseorang mencabut pohon seperti mencabut rumput. Tapi kenapa kalian terlihat sebaliknya? Apa rumor itu tidak benar? Hmm, jadi tidak semua orang di kota Laki-laki kuat luar biasa, ya? Apa kalian kalah sama perempuan lemah sepertiku?" goda Jira mengejek.
"Dia memuji apa menghina?" tanya salah satu prajurit pada prajurit lain.
"Dua-duanya!" jawab Jira membuat mereka terlonjak kaget. Setelah itu Jira tertawa. "Haha, ayo lari lebih kencang, sebelum pagi datang. Kalian juga mau istirahat, 'kan?" ujar Jira bertanya dan berlari lebih mendahului.
Para prajurit itu mengerutkan dahi. "Kita menghukumnya, 'kan? Kenapa jadi bekerja sama?" bingung prajurit yang dari tadi bertanya.
Pedagang senjata itu semakin tergelak tanpa suara. Dia mendahului dan menunggu Jira di pusat kota. Saat pedagang senjata itu melintas dan menghilang cepat di dekat Jira, Jira merasakan kehadirannya. Dia mendongak meneliti atap rumah warga yang menurutnya terjadi sesuatu.