6. Pertarungan Konyol

2516 Kata
 Tanpa sadar Jira menceritakan sedikit tentang kehidupannya. Seakan rasa penasarannya terobati, pemilik peternakan kuda kembali tersenyum, "Ternyata, ini lebih dari yang aku kira. Tidak kusangka bisa sedekat ini dengan seorang Jenderal. Aku sangat kagum padamu." menangkupkan tangan sangat menghormati Jira.  "Jangan begitu, Tuan. Aku berterima kasih karena kau bersedia menolongku." ujar Jira merasa tidak enak.   Pemilik peternakan kuda itu membuka tangannya lagi. "Bagaimana rencanamu selanjutnya? Kau akan tinggal sebentar lagi atau pergi mencari bunga melati? Berapa banyak waktu yang kau butuhkan?" tanyanya khawatir.   Jira menatap langit seakan memperhitungkan kembali rencananya. "Hanya dua bulan. Jika aku gagal, maka musnahlah kotaku. Sudah tiga hari aku lewati dengan sia-sia. Aku pikir akan selesai di kota ini tadi pagi, sayangnya Kay dan Jenderal kota Laki-laki menghalangiku keluar. Kondisiku juga sedang lemah. Oh, ya, di mana penipu itu?" tanya Jira kembali memandang pemilik peternakan kuda.   "Maksudmu Kay? Dia pergi mencari sesuatu. Sebentar lagi juga kembali. Haha, dia itu pemuda yang serba tau." tertawa mengingat tingkah Kay.   "Kau jangan beritahu tujuanku padanya dan semua orang. Hanya kau yang tahu niatku di kota ini, mengerti?" Jira serius memperingatkan.   Seketika pemilik peternakan kuda itu mengangguk kuat.   "Kalau Kay sampai tau, itu berarti dari mulutmu. Kau akan menerima akibatnya dariku," ancam Jira.   Pemilik peternakan kuda itu menggeleng. "Tidak akan aku beri tau, sungguh!" Dia ketakutan.   Jira merubah raut wajahnya menjadi ramah lagi. "Aku akan pergi nanti malam. Kay juga tidak boleh tau. Aku masih punya perhitungan dengannya." desis Jira di akhir ucapannya.   "Kenapa kau tidak menggunakan kekuatanmu saja? Itu lebih mudah, 'kan?" saran pemilik peternakan kuda.   Jira menoleh tanpa menjawab. Namun, membuat Jira berpikir. 'Kay juga tidak menggunakan kekuatannya. Jika sekali saja dia memakai sihir atau kekuatan yang lain, aku bisa tau dia berasal dari mana dan siapa jati dirinya. Pandai mengobati, semua tabib juga bisa melakukannya. Orang biasa juga mengerti sedikit tentang pengobatan. Itu tidak cukup kuat membongkar Kay. Pedang? Apa dia seorang ksatria? Tapi dia mengaku pedagang senjata. Ck, dia misterius dan cerewet!' pikir Jira.   "Kau sudah makan? Aku tidak bisa membiarkan perutmu kosong. Ayo, makan beberapa suap saja." ajak pemilik peternakan kuda yang berdiri membuat Jira mengerjap kaget.   Jira mengiyakan dan ikut berdiri. Tidak membiarkan kebaikan pemilik peternakan kuda, dia makan dengan lahap. Tidak sadar sejak malam hujan deras perutnya masih kosong. Jira sendiri bingung kenapa dia bisa bertahan dengan cobaan sekaligus. Dia pikir karena tekad yang kuat, membuatnya bertambah kuat.   Sedangkan Kay mencari tahu tentang rencana Jenderal kota. Saat Kay mengetahui Jenderal itu menyuruh seseorang untuk mencari Jira secara diam-diam, Kay justru mencari orang itu dan mengatakan jika Jira ada bersamanya. Orang itu akan menuju peternakan kuda, tetapi Kay menahan dan mengatakan untuk menunggu Jira beraksi. Dengan begitu Jira tida akan curiga dengannya dan memudahkan Jenderal kota bertindak. Orang itu setuju dengan ucapan Kay. Dia memilih kembali dan menghadap Jenderal kota.   Kay tersenyum puas. Sekali lagi dia akan memanfaatkan keadaan sampai Jira marah dan membalas dendam padanya. Ada niat untuk pergi ke kota Bunga mencari tahu tujuan Jira dan melihat kondisi kota, tetapi Kay lebih tertarik di kota ini karena Jira.   Matahari sudah ada di barat. Kay belum kembali. Jenderal kota menunggu Jira keluar dari peternakan kuda. Orang-orang masih berlalu-lalang melakukan pekerjaan. Sedangkan Jira terus menatap langit dengan gundah. Burung-burung terbang kembali ke sarangnya. Jira ingat kala dia tidak bisa berkomunikasi dengan hewan kecil itu lewat serulingnya saat keluar dari hutan kembar.   Pemikiran baru muncul lagi. Tidak ada bunga sama sekali, tidak bisa memanggil burung kecil, mungkin berhubungan dengan kota Laki-laki. Jira mengangguk mengerti. Semua ini adalah ulang penguasa kota Laki-laki. Teringat lagi bukit yang dikatakan Teruwang. Kapan dia bisa menuju bukit itu dan mencari bunga melati, jika dia masih tertahan di sini.   "Cen Cen, aku cemas tanpa sebab. Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tanya Jira pada kudanya. Duduk menekuk lutut masih menatap langit. "Tapi di luar masih ramai. Kita bisa dihakimi lagi nanti," lanjutnya.   Terkadang dia punya rasa takut yang datang tiba-tiba. Seperti saat ini, aroma yang sangat kuat khas laki-laki terus mengganggu penciumannya. Tidak ada teman bicara yang dapat di percaya. Pemilik peternakan kuda memang baik, tetapi Jira tidak bisa melibatkannya terlalu jauh. Kemudian Jira sadar jika Kay belum kembali. Memang dia tidak peduli, tetapi curiga. Seketika dia berdiri dengan penuh pikiran buruk.   "Penipu itu pasti melakukan sesuatu. Bodohnya aku tidak sadar! Aku harus segera pergi dari sini!" gumam Jira masuk rumah dan mengambil barang bawaannya.  Kembali dengan tergesa melepaskan ikatan kudanya dan menuntun kuda dengan cepat keluar dari peternakan. Saat ada orang dia sembunyi. Sebisa mungkin tanpa membuat suara, jika orang-orang sudah pergi baru Jira melintas. Terus seperti itu hingga tiba di jalan di mana dia bertarung dengan Jenderal kota. Tempat yang lumayan sepi. Tanpa penyamaran, Jira menunggangi kudanya dan membuat kuda itu berlari menuju perbatasan kota. Sayangnya, dia dihentikan oleh banyak pedang yang mengelilingi dirinya. Kudanya meringkik membuat Jira hampir jatuh jika tidak bisa menjaga keseimbangan.   "Sial! Siapa lagi yang menggangguku? Apa ini rencana Jenderal itu? Atau mungkin Kay?' pikir Jira melirik semua orang yang memegang pedang.   Jira turun dari kudanya tanpa takut." Siapa kalian?" tanya Jira datar.   Mereka menjawab dengan serangan serentak. Hampir saja kepalanya terpenggal, Jira menghindar dengan cepat dan pedang itu saling bertabrakan. Jira memukul salah satu dari mereka dan mengambil pedangnya. Menodongkan pedang itu melawan lebih banyak pedang.   'Mereka tidak mau bersuara,' batin Jira sambil menatap mereka satu per-satu.   Mereka kembali menyerang. Jira terbelalak, sekuat tenaga menangkis dan menghindar tanpa melawan. Pertarungan yang tidak adil membuat Jira kualahan, tetapi tidak mau mengalah. Hanya bunyi pedang yang saling bersahutan membuat semakin waspada.  Sangat cepat dan lihai, mereka tidak berhenti hingga beberapa waktu. Diam-diam Jira membaca pergerakan mereka. Tenaga yang sangat kuat. Luka di lengannya kembali terasa sakit dan hampir terbuka. Jira yakin mereka berasal dari kota Laki-laki. Tiba-tiba seseorang memotong pertarungan mereka. Jira mundur begitu juga segerombol orang itu.   "Jenderal?" gumam Jira penuh tanya.  Jenderal itu tersenyum miring dan mengarahkan pedangnya tepat di hadapan Jira. "Hah, akhirnya kau tertangkap lagi. Belum keluar dari kota ini ternyata? Akan ada kesempatan untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas menjadi Jenderal terhormat! Aku... Atau perempuan lemah sepertimu!"   Jira mengepalkan tangannya kuat. Napasnya diatur sedemikian rupa. Mengangkat pedangnya berani menantang Jenderal itu. "Kau yang lemah!"   Seakan tidak takut dengan luka ataupun darah, Jira menyerang terlebih dahulu. Hanya dia dan Jenderal itu di tengah-tengah gerombolan orang yang masih memegang pedang. Benda tajam mengerikan itu saling menahan di udara. Pandangan Jira dan Jenderal itu bertemu. Kembali berkelahi dengan gesit. Jira sedikit mengerti cara Jenderal itu bermain. Menggunakan kekuatan tangannya untuk menekan Jira sekuat tenaga. Jira tahu karena melawan gerombolan orang tadi yang menggunakan cara yang sama.   Jira menyiasati dengan gerakan yang sangat lincah. Jenderal itu kesulitan mendapatkan Jira kecuali Jira yang berbalik melawan. Saat pedang mereka kembali beradu di udara, Jira berdesis. "Menyuruh mereka menyerangku untuk mengetahui seberapa besar kemampuanku. Itu tandanya kau yang lemah!" Matanya menyorot tajam membuat Jenderal itu geram.   "Kurang ajar!" Jenderal itu murka. Dia mendorong Jira hingga Jira mundur sangat jauh. Lukanya benar-benar terbuka dan dia kesakitan. Saat Jenderal itu ingin menyerang, Jira menahannya.  "Tunggu! Aku terluka!" serunya Jira.   Jenderal itu tidak peduli. Terpaksa Jira melawan dengan darah yang terus keluar. Senyum Jenderal itu semakin lebar karena Jira sedikit melemah. Kaki tangannya memang sudah sembuh, tetapi rasa lelahnya kembali lagi.   Pertarungan kembali terhenti karena seruan orang yang datang dengan lebih banyak orang. Jira terbelalak sekaligus bingung. Sedangkan Jenderal kota berdecak kesal.   "Hei, lihat! Sudah kubilang gadis itu masih ada di sini! Itu dia lengannya berdarah! Ih, dia berkelahi melawan Jenderal kalian! Wah siapa mereka? Mereka juga diajak berkelahi! Perempuan itu memang keterlaluan, tidak tau malu, dan mencari masalah! Kalian mau biarkan begitu saja, ha? Ayo hukum dia! Beri dia pelajaran!" Kay semangat berteriak menunjuk Jira. Membuat keadaan semakin memanas, semua orang yang dia bawa marah. Jira kalang kabut. Jenderal itu awalnya kebingungan, tetapi memilih mengikuti permainan Kay yang menguntungkan baginya.   "Tidak! Kalian salah paham! Mereka menyerangku saat aku akan meninggalkan kota! Percayalah!" Jira membela diri sambil menunjuk semua orang dan Jenderal kota.  "Katanya kau seorang Jenderal. Aku yakin kau Jenderal yang kejam! Ayo, hakimi dia! Jangan beritahu penguasa kota atau dia akan menghentikan kita. Bawa dia ke lapangan!" seru salah satu dari mereka dengan wajah penuh amarah.   Jira menggeleng kuat. "Aku tidak bersalah! Mereka yang menyerang, bukan aku!" Jira masih bersikeras mengelak.   Tidak sengaja pandangannya menuju Kay yang berlagak marah. Dia mengoceh terus membuat suasana semakin panas.   'Dasar penipu jelek! Kau sengaja menyembuhkan lukaku kemudian membuat masalah baru? Luar biasa!' batin Jira geram.   Sudah terpojok, sekalian Jira menyerang Kay tanpa khawatir. Menekan tangan Kay ke belakang, membuat kepala Kay mendongak dengan pedangnya. Semua orang tersentak.   "Aaaa, pembunuhan! Lepaskan aku, Jenderal jahat! Lepaskan aku! Hei, tolong aku, kawan!" Kay berteriak histeris, panik dengan tangan meraba udara.   "Diam!" bentak Jira di telinga Kay, membuat Kay meringis.   "Sekali tanganku bergerak, leher pedagang senjata ini akan putus! Jangan halangi aku!" Jira masih berteriak.   "Lepaskan dia! Urusan kita belum selesai!" Jenderal kota mendekat dengan pedangnya yang menghunus leher Jira.   Jira menoleh tajam. "Aku tidak ada urusan denganku! Kenapa kalian mempersulit langkahku? Biarkan aku pergi dan tidak akan ada masalah, selesai!" Jira menatap semua orang.   "Hehe, Jenderal kota yang baik. Tolong lepaskan aku dari perempuan jahat ini! Pedangnya mengerikan!" kata Kay sambil bergidik.   Jira mengernyit. "Penipu bodoh! Aku akan membunuhmu!" desis Jira tajam.  Kay diam sebentar melirik Jira. Tiba-tiba merengek ketakutan. "Aaaa! Dia mengancamku! Mau membunuhku lalu memotong setiap bagian tubuhku! Kenapa ada perempuan sejahat dirimu, Jenderal cantik? Eh, kalau kau ingin balas dendam padaku soal kemaren, jangan terlalu kejam! Siapapun tolong aku!" ucap Kay memohon dengan sangat kasihan di akhir ucapannya.   Jira berdecak semakin jengkel apalagi Kay meliriknya sambil mengedipkan sebelah matanya. ''Kau sungguh ingin mati, ya!?" desis Jira menekan pedang di depan leher Kay.   "Coba bunuh aku kalau bisa." Kay balas mendesis dan mengangkat kedua alisnya.   "Perempuan kejam! Katanya mengaku sebagai Jenderal kota Bunga, tapi menindas laki-laki seperti kita! Jenderal itu melindungi, bukan menyakiti! Kita hukum saja dia!" seru orang tadi dan disetujui semua orang.   Sorakan keras mencoba membawa Jira. Tentu saja Jira tidak bisa bergerak, dia di kepung.   "Kalau kalian mendekat, orang ini akan kubunuh!" seru Jira memandang mereka.  "Kau tidak akan bisa membunuhku, Jira." bisik Kay.  Jira menoleh, saat ingin menjawab di dahului Jenderal kota.  "Beraninya kau mengancam di sini! Atas perintahku berikan hukuman lebih kejam untuknya!" ujar Jenderal kota marah.   Mereka ingin menarik Jira, tetapi Jira melepaskan Kay dan menyuruh mereka berhenti. "Tunggu! Aku hanya ingin pergi, bukan mengancam apalagi melawan kalian." Jira menatap Kay dan Jenderal kota bergantian.   Mereka saling pandang.  "Jangan percaya, dia penipu! Bawa dia!" titah Jenderal kota menunjuk Jira dengan pedangnya.   "Kalau Jenderal kota sudah bicara, kenapa kita ragu?" salah satu dari mereka menarik paksa tangan Jira.   Jira tidak melawan lagi. Dia mendesah pasrah.   'Apa boleh buat? Aku bisa menyerang dengan Jenderal itu, tapi tidak pada rakyat. Mereka salah paham terhadapku,' batin Jira.   Lapangan penuh rumput yang jauh dari pusat kota menjadi penuh laki-laki. Jira kembali berada di tengah-tengah mereka. Darah memang tidak keluar lagi dari lukanya, tetapi rasa sakit masih sama. Dia terduduk dengan lutut lemas. Pedang jatuh dari tangannya. Jira kelelahan. Kay menyaksikan dengan gelisah. Berada tepat di hadapan Jira membuat Kay bisa merasakan betapa sakitnya Jira. Namun, dia juga terkesan.   'Dia perempuan yang sangat tangguh. Tak kusangka kota Bunga punya Jenderal perang seperti dia. Kenapa dia masih bertahan setelah serangan bertubi-tubi?' batin Kay penuh tanda tanya.   Sejak terlempar ke lapangan, Jira kembali diserang segerombol orang yang tidak mau mengeluarkan suara. Kerap kali Jira membuat mereka tergores. Berakhir dengan Jira yang terengah. Tahu jika mereka orang-orang suruhan Jenderal kota, Jira tidak ragu menguasai pertarungan dan membuat mereka kalah hingga tidak bisa memegang pedangnya lagi.  Jenderal kota belum puas mencoba Jira dengan menyuruh orang lain. Rencana awal ingin bertarung dengan Jira secara adil, dia ubah. Istilah pengecut seakan tidak dia pedulikan. Tanpa sadar martabatnya juga hancur. Jika orang hebat atau kota asing mengetahui hal ini, Jenderal kota Laki-laki tidak akan mampu menampakkan wajahnya lagi. Dia membuat seorang perempuan diserang senjata tanpa henti, itupun dengan jumlah yang banyak.   Jira tersenyum remeh dan berdiri. Napas masih terengah, pandangan menelisik semua orang. "Jenderal konyol! Pengecut! Kalau berani satu lawan satu! Apa karena kau takut? Mereka sudah kalah dariku! Sekarang giliramu!"   Menunjuk segerombol orang yang terluka tidak sanggup berdiri. Dengan tegas menantang seakan ada yang dipertaruhkan.   "Harga diri. Dia bertahan demi itu," gumam Kay. Sorot matanya tidak ingin Jira bertarung lagi. Ini diluar dugaannya. Dia hanya ingin melihat cara Jira mengatasi kesulitan, bukan menjadi bahan siksaan. Dalam hati Kay mengutuk Jenderal kota Laki-laki.  Jenderal itu tersenyum remeh. "Luar biasa! Sekarang aku mengakui kalau perempuan tidak kalah hebat dari laki-laki. Itu bukan berarti bisa membuktikan kedudukanmu. Bagaimana jika hanya kau dan aku, di posisi yang sama, beradu hingga ada yang menyerah? Baru aku bisa melepaskanmu dan percaya jika kau layak menjadi Jenderal." tawar Jenderal kota Laki-laki   "Omong kosong apa ini? Tadi permainan tidak seimbang dan sekarang kau masih ingin menyiksanya?" spontan Kay berteriak tidak terima.   Jira menoleh ke Kay dengan dahi berkerut. 'Mau apa lagi dia?' batin Jira.   Orang di samping Kay menyenggol lengan Kay. "Hei, Kawan. Kenapa kau membelanya? Bukannya tadi kau ingin menyiksanya?" tanya orang itu sambil menunjuk Jira.  "Ck, aku hanya ingin lihat dia menderita, bukan tersiksa," jawab Kay tanpa menoleh. Pandangannya bertemu dengan Jira yang sedang bertanya dalam hati.  "Itu sama saja, Kawan!" decak orang itu.   Kay menjadi kesal saat Jenderal kota itu memandangnya aneh. 'Orang itu tidak pantas menjadi Jenderal bahkan prajurit sekalipun! Taktiknya kotor, membuat Jira kehabisan tenaga setelah itu baru dia akan menyerang. Dengan itu Jira akan kalah dengan mudah. Pastinya Jenderal kota tidak akan membiarkan Jira tanpa luka,' batin Kay.   Tangannya mengepal menahan langkah untuk maju. "Aku tidak bisa ke sana. Aku masih ingin melihat seberapa kuat Jira bertahan,' pikir Kay serius.  Matahari sebentar lagi akan terbenam. Langit jingga menyelimuti kota Laki-laki. Jira mengkhawatirkan dirinya sendiri yang tidak sanggup hingga malam tiba. Angin dingin akan membuatnya semakin lemah.   Namun, dia mengangkat pedangnya, membuat Kay dan semua orang tersentak." Ayo!" Jira menerima tantangan itu.  "Bodoh!" desis Jenderal kota meremehkan.   Mengatur posisi pedang yang akan menebas kepala Jira. Jira menghindar dan terus menghindar. 'Tidak mungkin aku menahan atau menyerang. Tanganku tidak kuat lagi menahan kekuatan Jenderal itu. Sama saja aku bunuh diri namanya,' batin Jira di sela pertarungannya.   Terus berlanjut hingga malam tiba. Semua orang bingung karena Jira tidak melawan. Seolah-olah Jenderal kota hanya bertarung sendirian. Olokan dan seruan menghunus hati Jira lagi. Namun, Jira hanya tersenyum miring.   'Orang-orang di sini tidak punya hati!' Jira sudah menilai buruk.   Satu pun dari mereka tidak ada yang pergi. Lapangan masih sama dan Jenderal itu tidak puas. Dia bertanya seiring menyerang, kenapa Jira tidak membalas serangannya. Dengan mudah Jira menjawab jika dia tidak mau melawan orang payah seperti Jenderal kota.   Jenderal itu semakin murka. Berhasil melukai kaki dan tangan Jira hingga Jira tidak sanggup berdiri. Kay ingin menolongnya, lagi dan lagi dia dihentikan oleh rasa penasaran. Mendesah pasrah melihat Jira kesakitan. Cahaya redup dari obor yang warga nyalakan cukup mampu membuat penerangan di lapangan. Kay merasa kasihan dengan wajah Jira yang sendu.   'Kenapa aku cemas padanya?' batin Kay.   Kay mengerutkan dahi saat Jenderal kota berdiri angkuh. Seakan penuh kemenangan melihat Jira yang kesakitan di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN