10. Penyihir di Pegunungan Utara

2545 Kata
 Jira mencari cara agar orang-orang mungil yang mengitarinya tidak ketakutan. Dia berusaha sangat ramah. "Hah, sekarang kalian yang takut padaku? Kota Bunga penuh dengan belas kasih dan perasaan. Kami tidak mungkin menyerang tanpa alasan. Aku akan berusaha, selama dua hari kedepan masalah kalian akan selesai. Tunjukkan saja di mana tempat penyihir itu!" terang Jira meminta kerja sama.  Mereka tersenyum lega.   "Dia ada di dekat pegunungan. Letaknya tidak jauh dari sini." jawab pemimpin desa sambil menunjuk arah utara.   "Kenapa penyihir itu menyerang desa kalian?" Jira lagi karena belum di jawab.   Pemimpin desa mendesah. Kurcaci lain sedang bermain kayu api sambil mendengarkan.   "Awalnya karena sebuah ramalan. Dia akan mati jika para kurcaci tiada dengan sendirinya. Maksudnya bukan mati karena di bunuh. Karena kekuatan yang dia miliki juga di dapat dari kurcaci yang dia jadikan persembahan, maka dia juga akan tiada karena kurcaci yang masih ada. Untuk itu dia mengirim kabut beracun yang hanya mengitari desa kurcaci. Jika kami menghirupnya tiap malam, perlahan kami akan mati. Itu membuat penyihir itu senang, tetapi kami ketakutan." jelas pemimpin desa kembali sedih.   'Jadi benar, desa ini tertutup pelindung. Berarti burung-burung itu lari juga dari sini,' pikir Jira.  "Lalu, dari mana penyihir itu tahu tentang ramalan kematiannya?" tanya Jira penuh penasaran.   Pemimpin desa menatap Jira polos. "Dariku," jawabnya.   Jira mendelik bingung. "Bagaimana bisa?"  "Hehe, karena sebagian besar dari kami bisa meramal. Aku bisa meramal masa depan. Istriku bisa melihat hal yang sebelumnya pernah terjadi, dan ada banyak peramal lain yang punya keunikannya sendiri. Kau mau aku ramal?" tanya pemimpin desa karena merasa bersalah.   "Tidak, tidak perlu!" jawab Jira datar membuat pemimpin desa itu menunduk.   "Kau tidak bisa meramal apa yang akan terjadi pada desamu? Apakah penyihir itu akan mati, misalnya?" tanya Jira dengan dahi berkerut.   Pemimpin desa mendongak. "Tidak, tidak! Aku sudah tidak meramal lagi. Sudah cukup membuat kaumku terancam karenaku. Aku bahkan menanggung semua kesedihan mereka," pemimpin desa menunduk lagi.  Jira mendesah pelan. 'Kasihan, tapi apa boleh buat? Satu-satunya cara aku harus menemui penyihir itu!' tekad Jira dalam hati.  Jira memandang pintu masuk goa yang juga dari batu. Berpikir bagaimana caranya melawan penyihir jahat. Pandangannya menjadi meredup. Tidak boleh gagal dalam misi pencarian bunga melati. Mungkin dia mengitari banyak tempat, tetapi percuma jika gagal menyelamatkan kota. Jira pusing, berharap jika Pangeran Sora beserta tabib kota berhasil membuat ratu Rui bertahan.   Para kurcaci itu tahu jika Jira sedang berpikir. Mereka tidak kembali bertanya dan memilih tidur di tempatnya masing-masing. Dua hari itu waktu yang berharga bagi Jira. Jira menoleh ke kudanya.  'Kita kembali dalam masalah,' batin Jira bicara pada kudanya.   Malam berlalu, mentari muncul dan kabut perlahan menghilang. Jira dapat mencium sisa racun yang tertinggal di antara celah. Dia memakai cadar seperti para kurcaci untuk keluar dari gua dan tidak menghirup sisa kabut beracun.   Mereka keluar untuk mencari makan. Sedangkan Jira dengan pemimpin kota bersiap menuju pegunungan utara.   "Kau harus menunjukkan jalan yang benar, pemimpin desa!" seru Jira melihat arah utara.   "Tentu saja, Jenderal!" jawab pemimpin desa dengan penuh percaya diri.  Jira pergi menunggangi kuda bersama pemimpin desa kurcaci. Para kurcaci itu bersorak mengantar kepergian Jira seakan yang membawa harapan besar. Sorotan tajam Jira membuat pemimpin desa itu meneguk ludahnya susah payah, tetapi tetap menunjukkan jalan ke pegunungan.   Belum menjelang siang, Jira berhasil sampai dan menyuruh pemimpin desa itu pergi.   "Tapi bagaimana denganmu?" tanya pemimpin desa khawatir.   "Bawa Cen Cen bersamamu! Beri dia makan dan minum sampai aku kembali! Jangan membantah!" titah Jira tanpa memandang pemimpin desa.   Kurcaci itu terkejut sambil memegang tali Cen Cen.   "Cepat!" suruh Jira lagi.   "Ah, iya-iya!" pemimpin desa itu sangat ketakutan.   Jira menoleh. "Aku hanya tidak ingin kau terluka," ucap Jira menunduk menyorot tajam pada pemimpin desa. Lalu, Jira mengangkat pemimpin desa naik ke punggung kudanya. Pemimpin desa itu memekik takut. "Cen Cen, kembalilah ke goa. Tunggu aku di sana!" ujar Jira pada kudanya.   Seakan kudanya mengerti dan dia meringkik. Pemimpin desa itu hampir terjungkal. Kemudian Cen Cen berlari kencang membawa pemimpin desa kembali ke goa.   Bukannya Jira marah, hanya saja tekadnya penuh. Dia berjalan menyusuri pegunungan mencari tempat di mana penyihir itu berada. Sayangnya tidak ada rumah atau tempat yang dapat di huni. Hanya pohon di kanan kiri. Geram hingga siang Jira belum menemukan rumah penyihir, dia berteriak.   "Wahai, Penyihir! Keluarlah! Aku menantangmu!" seru Jira menggelegar tanpa imbal balik.  Matanya sangat waspada menyusuri setiap sisi.   "Aku perwakilan dari desa Kurcaci ingin menuntut balas! Tunjukkan dirimu!" teriak Jira sekali lagi.   "Penyihir! Keluar!"   Jira tidak ada henti-hentinya berteriak sambil kembali menjelajah pegunungan. Merasa dipermainkan, Jira mulai marah.   "Aku tau kau ada di sini. Apa kau takut menghadapi Jenderal sepertiku? Apa sihirmu tidak cukup kuat untukku? Penyihir jahat! Keluar!"   Suara Jira menggema di antara pepohonan.  Jira tersenyum mendapatkan ide. "Kalau kau tidak keluar, aku ubah warna pegunungan ini menjadi hitam! Kemudian semua orang dari penjuru negeri datang penasaran dan akan menghakimimu. Jadi tunjukkan dirimu sebelum aku melakukannya!"   Sayangnya ancaman Jira tidak ada jawaban. Pegunungan yang kosong. Jira berputar-putar di tempat.   'Apa ini ilusi? Atau penyihir itu bersembunyi? Tidak mungkin jika para kurcaci itu berbohong. Aku melihat ketakutan dan harapan di mata mereka,' pikir Jira.  Jira mengatur napasnya. Tidak ada rasa terburu-buru. Tidak ada rasa ingin membunuh. Jira mencoba tenang. Menutup matanya merasakan aura yang mengalir lewat pepohonan dan udara. Instingnya bekerja. Dia sedikit mengernyit saat merasakan sesuatu melintas disengaja cepat ke arahnya. Jira segera berputar ke sisi lain untuk menghindar dan sesuatu itu mengenai pohon.   Jira membuka matanya. "Hah, sudah kuduga kau mengawasiku. Jangan jadi pengecut dan tunjukkan dirimu!" desis Jira tajam.  Seketika penyihir itu muncul dari dalam pohon dengan senyum aneh menatap Jira.   'Sihirnya sangat hebat. Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa berkelahi,' pikir Jira.  "Hahaha, tidak kusangka dapat kunjungan dari Jenderal kota Bunga. Apa kau akan merebut wilayahku, Jenderal?" tawa penyihir itu jahat.  Jira berdecak. "Aku tidak akan merebut wilayahmu, tapi merenggut nyawamu!" seru Jira dengan sangat kejam.   "Haha, kau pikir aku takut? Kau tidak akan bisa melakukan itu!" penyihir itu tidak merasa terancam.   "Kalau bisa melancarkan jalan pada tujuanku, aku akan melakukannya! Enyahlah kau dari sini!"   Jira memasang posisi dan menyerang dengan tangan kosong.   "Jenderal bodoh!" maki penyihir itu marah dan melempari Jira dengan sihirnya. Jira berlari sambil menghindar membuat kekuatan penyihir itu terus mengenai pohon. Saat Jira mendekatinya, penyihir itu menghilang dan berpindah ke tempat lain. Begitu terus sampai keduanya merasa lelah.   "Penyihir jahat! Jangan lari dan hadapai aku!" Jira marah dengan sedikit menjauh.   "Ahahahaha, aku tau kau tidak bisa menggunakan sihirmu, Jenderal kota Bunga. Karena kau berbeda! Hahaha, lukai aku kalau bisa. Untuk menyentuhku saja kau kesulitan! Ini yang kau janjikan untuk menyelamatkan para kurcaci itu? Dasar payah!" penyihir jahat semakin membuat amarah Jira meluap.   "Teganya kau bunuh mereka dengan kabut sialan milikmu! Kau bahkan membuat mereka menjadi tumbal kekuatan. Lalu, kau takut mati? Sadarlah kalau kau sehina itu, penyihir jahat!" balas Jira sambil mengambil serulingnya untuk senjata.   Penyihir itu kembali tertawa melihat seruling Jira. "Apa? Seruling bambu itu yang kau bawa? Aku bisa menghancurkannya dalam satu jari, agar kau tidak sombong dengan ucapanmu itu!" menunjukkan caranya untuk merusak seruling Jira dengan tangan.   Namun, Jira kembali menyerang tanpa menjawab. Menekan sesuatu pada seruling dan muncul belati kecil yang sangat mengkilat. Jira lari menuju penyihir itu dengan seruling belatinya menghunus tepat ke arah perut sang penyihir.   "Aahhh!" Jira teriak dan berhenti saat penyihir itu melukai pundak Jira dengan sihirnya.   "Aaaahhhh!!!" Jira memekik lebih keras saat pundaknya kembali diserang seakan tertusuk pedang.   Dia terduduk lemah. Menatap tajam penyihir yang mendekatinya.   "Bodoh! Kedudukan tinggi, tapi tidak sadar diri. Ini aku... Penyihir hebat dari pegunungan utara. Tidak ada yang bisa melawanku termasuk kau! Bahkan penguasa dari berbagai kota sekalipun! Aarghh!" teriak penyihir itu kesakitan saat Jira menghunus perutnya. Penyihir itu melotot. Jira mencabut belatinya kasar membuat penyihir itu semakin kesakitan. Jira tersenyum remeh dan berdiri tertatih. Menunjukkan seruling belatinya yang penuh darah tepat di depannya wajah penyihir.   "Cerewet! Aku ambil darahmu sedikit! Sekarang giliran jantungmu!" seru Jira akan menghunus jantung penyihir.   "Tidak semudah itu!" penyihir itu menghilang membuat Jira hampir terhuyung jatuh karena gagal menusuk. Jira celingukan sambil memegangi pundaknya yang terluka tak berdarah.   "Jangan sembunyi, pengecut! Seruling ini yang akan menghabisimu!" teriak Jira mengangkat serulingnya. Darah penyihir mengalir mengenai lengannya.   "Hah, di mana dia?" gumam Jira karena penyihir itu tidak terlihat.   Tiba-tiba serangan bertubi-tubi Jira dapatkan seakan dipukul dari jarak jauh. Jira memekik dan mundur. Tidak terduga penyihir itu muncul di depannya dan mengeluarkan sesuatu di jarinya. Jira terbelalak saat jari penyihir itu akan mengenai wajahnya. Dengan sekuat tenaga Jira menghindar lari. Namun, penyihir itu membuat pelindung di sekitar mereka sehingga Jira tidak bisa lari lebih jauh.   Jira berbalik. Melihat penyihir itu yang serius sedang mengeluarkan sihirnya.   "Apa yang dia lakukan?" gumam Jira dengan napas terengah.   Seketika kabut tebal mengelilingi di dalam pelindung. Jira mendongak bingung. Cadarnya terbuang oleh sihir penyihir. Jira kembali menatap ke depan.   "Astaga! Lukanya hilang!" pekik Jira melihat perut penyihir itu yang tidak ada luka.  Jira menggeleng. Mencari cara sedangkan kabut itu semakin tebal dan akan menutupi seluruh pelindung. Jira dan penyihir itu akan tertelan di dalamnya.   "Kau mau mati bersamaku? Kabut beracun juga akan membunuhmu!" tanya Jira.   Penyihir itu perlahan masih berjalan mendekat. "Aku tidak akan terpengaruh, Jenderal! Hanya kau yang akan mati!" desis penyihir itu.  'Gawat! Aku mulai sesak!' batin Jira.   Jira batuk terasa sakit. Tidak bisa melihat apapun. Dia menggenggam serulingnya dengan sangat kuat. Jira tidak tahu jika penyihir itu berada tepat di hadapannya.   "Matilah kau!" desis penyihir itu.   Seketika gelap, Jira hilang kesadaran. Penyihir itu tertawa keras mengira Jira sudah tiada. Untuk memastikan kematian Jira, penyihir itu mengumpulkan semua kabut beracun itu menjadi sebuah jarum berkilau dan menancapkannya tepat di jantung Jira. Jira memuntahkan darah. Tubuhnya lemas dan kembali berbaring tidak berdaya.   "Hahaha, begitu mudahnya membunuh Jenderal sepertimu. Kasihan sekali kau mati sia-sia. Kurcaci-kurcaci lemah itu juga akan bernasib sama sepertimu! Hahaha, aku akan abadi!" seru penyihir jahat.   Dia meninggalkan Jira dan kembali ke kediamannya. Jira membeku. Darahnya membiru melawan racun yang ada dalam tubuh. Sendirian, di tengah pegunungan. Namun, keajaiban datang. Dia berguncang hebat dan asap keluar dari kulitnya. Jira muntah darah kental berwarna hitam bersamaan asap itu menghilang. Jira terbatuk dan terus mengeluarkan darah. Sampai tenggorokannya sakit seperti tertusuk jarum. Dia mencoba muntah darah lagi dan jarum berkilau keluar dari mulutnya. Napasnya terengah. Dia sadar dan menghirup udara dengan rakus.   "Astaga! Apa ini? Aku tidak jadi mati? Syukurlah!" lirih Jira.   Lemas melihat jarum itu menghilang tiba-tiba.   "Bagaimana mungkin? Ini ajaib! Apa sihir yang membuatku tidak mati? Racunnya keluar." Jira bingung menatap pegunungan yang menghilangkan asap beracun.  Jira berpikir keras tanpa merubah posisi. Dia tidak punya kekuatan apapun selain merubah warna. Mustahil baginya bisa selamat dari racun sihir. Mengingat apa yang telah dia lakukan sebelumnya Jira masih belum mendapatkan jawaban.   Mencoba berdiri tertatih. Sempat terhuyung jatuh kemudian bangkit lagi. Sisa darah masih ada di bibir yang terasa pahit. Jira mendesis. Melihat sekeliling, pelindung itu hilang bersama penyihir. Meskipun kabut racun keluar dari tubuhnya, pundak dan semua bagian tubuhnya masih terasa sakit. Pukulan tak kasat mata yang dilayangkan penyihir itu tidak hilang.   Jira berjalan turun pegunungan sambil mencari cara. Pikirannya masih melayang. Namun, tiba-tiba Jira membelakakkan matanya.   "Buah itu! Buah dari bukit yang penuh tanaman herbal. Apa buah itu yang membuatku selamat dari racun? Buah itu juga punya khasiat? Iya... Sepertinya dugaanku benar, karena aku tidak makan apapun setelah itu. Buah penangkal racun. Bagus! Para kurcaci bisa mengambil buah itu untuk selamat dari kabut beracun." gumam Jira.   Tersenyum lega seiring jalannya. Hari ini juga Jira ingin menyelesaikan masalah kabut beracun. Tidak ada esok untuk dua hari yang dijanjikan. Waktu sangat berharga, Jira mencari kediaman penyihir jahat.   'Pasti ada cara untuk mengalahkannya. Jika dia menggunakan kurcaci untuk tumbal menambah kesaktian, maka kurcaci juga yang menjadi sumber kehancurannya. Aku yakin itu, tapi bagaimana? Kemungkinan aku bisa dapatkan jawaban di rumah penyihir itu. Aku harus mencari rumahnya. Tidak ada waktu untuk lemah sekarang!' pikir Jira serius.   Jira hanya mengamati pohon mengingat penyihir itu muncul dari pohon. Tidak mungkin mengitari pegunungan, Jira memilih membakar rumput menggunakan percikan api dari batu. Membuat api saja penuh perjuangan. Rumput terbakar, Jira merambatkan api ke beberapa pohon. Lalu, merubah seluruh tumbuhan di pegunungan menjadi berwarna hitam. Dengan menggunakan sisa kekuatan yang dia punya, Jira kembali muntah darah. Namun, warnanya darah segar. Itu tandanya racun benar-benar sudah hilang di tubuhnya, membuat Jira tersenyum senang.  Siapapun yang melihat pegunungan ini pasti akan mengira jika terjadi kebakaran. Hitam, asap, dan api. Panas terik sangat mendukung, memudahkan api cepat menjalar.  "Penyihir itu pasti akan muncul lagi dan aku yakin dia keluar dari rumahnya." gumam Jira sambil menyimpan seruling belati itu di pinggang.   Semua kurcaci bingung melihat pegunungan utara dari desanya. Mereka pikir terjadi sesuatu pada Jira. Bukan hanya kurcaci, beberapa orang menjadi datang ke desa Kurcaci karena penasaran dengan pegunungan utara.  Pemimpin desa kurcaci gelisah. Di satu sisi senang karena ada orang yang datang ke desanya dan tahu permasalahannya, membuat harapan bertambahnya pertolongan. Namun, dia khawatir dengan Jira. Beberapa orang itu bergerak menuju pegunungan untuk memastikan.  Sedangkan Jira masih berdiri di tengah-tengah api merasa panas, tetapi dia lebih waspada dari sebelumnya. Fokus pada pendengaran dan instingnya. Hingga usahanya berhasil.   "Aaaaaa, panas! Siapa yang melakukannya!?" teriak penyihir itu tanpa menampakkan wujud.   Jira menoleh mencoba mencari sumber suara.   'Aku merasakan auranya,' pikir Jira.   Menutup matanya sambil mengatur napas.   "Panaassss!!! Siapa yang membakar tempatku!?" teriak penyihir itu lagi.  Amarahnya membuat Jira bisa mendengar dengan jelas. Tepat saat penyihir itu akan keluar dari tanah, Jira membuka matanya dan mendorong penyihir itu hingga dia ikut masuk ke dalam tanah. Penyihir itu terkejut tidak percaya, Jira mencekik lehernya dan mereka menembus sesuatu kemudian berada di sebuah ruangan.   "Kau?!" pekik penyihir.   Jira menatapnya tajam, "Iya, aku. Jadi, rumahmu di dalam tanah? Aku pikir kau berpindah dari satu pohon ke pohon lain." desis Jira sambil menekan leher penyihir itu dengan kuat.   Penyihir jahat meringis. "Bagaimana bisa kau tahan dengan racun sihirku!? Ini tidak mungkin!"   Jira hanya tersenyum miring. "Kebakaran terjadi dan semuanya hitam. Kau juga akan menjadi hitam bersama abu!" seru Jira mendorong penyihir ke segala arah. Semua barang di ruangan itu ditabraknya hingga Jira masuk ke ruangan lain. Dia tersentak.   'Kurcaci? Mati?' bingung Jira dalam hati.  Matanya melebar dan cengkeraman tangannya melemah. Kesempatan bagi penyihir untuk menjatuhkan Jira. Tepat di dekat para kurcaci yang tidak bernyawa, Jira terpental.   Menahan sakit dengan pandangan ke para kurcaci itu. 'Astaga! Penyihir ini tidak main-main!' batin Jira.   "Kejamnya kau! Mereka juga makhluk hidup yang butuh hidup!" teriak Jira marah sambil berdiri.   Penyihir itu tertawa. "Aku juga butuh hidup dan kekuatan yang lebih hebat!" bantah.  Jira mengepalkan tangannya. "Kau pantas untuk mati!"   Jira akan menyerang, tetapi penyihir membuat Jira kembali terjatuh dengan sihirnya. Rasa marah yang sama, penyihir itu membentuk sebuah bola sihir yang semakin bertambah besar. Jira merasa terancam dan bingung mencari sesuatu untuk melawan. Di dinding kayu terdapat cermin. Jira segera bangun dan mengambil cermin itu. Sayangnya penyihir itu suda melempar bola sihirnya ke arah Jira. Namun, Jira berhasil menghindar. Penyihir itu kesal dan membuat bola sihir yang sama. Jira mengambil cermin itu bersamaan dengan penyihir yang melemparkan bola sihirnya. Terjadi dorong besar di cermin yang memantulkan kembali sihir itu sehingga mengenai penyihir.   "Aarrghh!" teriak penyihir kesakitan.   Jira membuang cermin itu hingga pecah. Mendekati penyihir yang sudah tidak berdaya.   "Senjata makan tuan," ucap Jira datar.   Penyihir itu terengah menatap Jira tajam. Dia tidak sanggup berdiri. Jira berpikir kembali jika penyihir itu tidak akan mati dengan mudah, apalagi hanya satu serangan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN