1. Tentang Arinda

1275 Kata
        Arinda Pramudina, orang-orang biasa memanggilnya Arin. Gadis kecil pemilik mata sedikit kecoklatan itu sangat menyukai buah persik, karena itu sang ayah selalu membawakannya sepulang bekerja. Lupa sehari saja ia akan merengek meminta dibelikan meski hanya satu buah, keluarga Arin memang harmonis dan berkecukupan.         Ayahnya yang tampan blasteran Indo-Prancis adalah penyumbang besar kecantikan yang dimiliki putri-putrinya setelah sang ibu. Ayah Arin merupakan seorang manager salah satu perkebunan sawit terbesar di Palembang. Sampai diusia Arin yang baru menginjak 5 tahun, ayah nya di pindah tugaskan ke kantor pusat yang ada di Jakarta Selatan, dan merubah semuanya.           Saat perjalan menuju ibu kota mobil yang ditumpangi Arin dan keluarganya yaitu mama, ayah dan Ariani kakak perempuannya mengalami masalah dibagian mesin utama membuatnya oleng serta sulit dikendalikan. Kecelakaan maut pun tidak dapat dihindari, mobil mereka menabrak pembatas jalan dengan sangat kencang hingga terdorong ke semak-semak.           Ariani yang duduk di kursi belakang bersama sang adik melihat kondisi orang tua mereka yang berlumuran darah, dan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri atau mungkin sudah meninggal dunia.Sedang  Arin yang berada di sampingnya terus menangis sesegukan sambil berteriak memanggil ibunya.         “Mama….! Mamaaaaa…!” Suara tangisan Arin terdengar memilukan.         “Arin tidak papa sayang? Sudah-sudah jangan menangis dek.. Ada kakak disini.” Ucap Ariani sambil mengusapi air mata dipipi adiknya dengan lembut lalu memeluknya agar tenang, sementara ia sendiri tak kuasa menahan tangis yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Arin terus saja menangis dan malah semakin bertambah kencang, peluknya pun kian mengerat, bocah itu sangat ketakutan ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja menimpanya. Ariani menggendong erat adik kesayangannya dengan maksud membawanya keluar dari kendaraan malang tersebut. Sadar kedua kakinya terjepit kursi kemudi ia mencoba menariknya berkali-kali sementara kepulan asap mulai menyelimuti mereka, menimbulkan rasa sesak di dadanya, Ariani takut mobil itu akan meledak sewaktu-waktu.          Ia membuka pintu mobil disampingnya, masih berusaha menyelamatkan diri dengan menarik-narik kakinya sekuat tenaga. Arin yang melihat kesulitan itu tentu tidak tinggal diam, ia ikut membantu walaupun tenaganya tidak seberapa. Ariani perhatikan sekeliling berharap ada orang yang bisa dimintai bantuan.           Kepulan asap kian menebal disertai bau bahan bakar yang mulai menyengat menusuk hidung mereka, Ariani semakit takut apa yang ia khawatirkan akan benar terjadi, dan ia masih bergelut dengan kakinya yang sulit sekali dilepaskan. Ariani menatap pilu adiknya yang terus berusaha menarik kakinya, kini yang ia takutan adalah Arin yang baik-baik saja akan ikut tak terselamatkan jika mobil itu benar-benar meledak.           Pikirnya seketika melayang, teringat masa-masa indah bersama orang tuanya, terlebih saat Arin terlahir kedunia, semua orang tersenyum bahagia melihat adiknya yang menangis layaknya bayi baru lahir pada umumnya. Ariani menyeka air matanya setelah tersadar dari lamunannya, tidak ada jalan lain selain membohongi Arin, agar adik kecilnya itu bisa selamat, terpaksa membiarkannya hidup sebatang kara setelah ini.          “Arin turun ya sayang?” Ujar Ariani  yang berusaha keras menahan air matanya keluar, Arin menggeleng.          “Arin mau sama kaka.” Jawabnya sesegukan karena tangisnya mulai mereda.           “Iya tapi Arin harus turun duluan, nanti kaka menyusul, ok!" Bohong Ariani disertai tersenyum palsu, ia terus menciumi kepala dan wajah adik kesayangannya itu seolah merayunya.          "Hehee!" Tawa menggemaskan Arin terdengar indah di telinganya dengan spontan ia tersenyum. Kali ini Arin menurut, ia keluar dari mobil mamun tangan kecilnya enggan melepaskan genggamanannya.           “Sekarang, Arin lari ya?” Bohongnya lagi, akan tetapi kali ini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya, air mata itu mengalir deras di pipinya membuat Arin ikut menangis setelah melihatnya.           “Engga mau,” Jawab Arin menggelengkan kepalanya, enggan melepaskan kedua tangannya dari sang kakak.           “Kakak bilang lari Arin!” Ariani membentaknya sekaligus melepaskan genggamannya kemudian mendorong adiknya sedikit kuat, membuat tubuh kecil itu terlempar cukup jauh.           “Kakaaak !” Arin menangis sekencang-kencangnya.           Tim penyelamat datang, mendengar suara tangisan Arin dengan sigap mereka langsung menuju pusat suara, beruntung beberapa detik sebelum mobil itu  meledak salah seorang tim melihat Arin dan langsung berlari menyelamatkannya.           “Ariiin…..!” Teriak Ariani ketika Arin berhasil di bawa petugas pemadam kebakaran, beberapa saat sebelum “Duaarrrr!!!” Suara ledakan terdengar samar dikepala Arin yang perlahan tidak sadarkan diri, ledakan itu hampir saja mengenai tubuh kecilnya dan juga petugas penyelamat.           Arin dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak nafas cukup parah. Satu minggu kemudian mas Didit petugas yang menyelamatkan Arin memutuskan untuk membawanya pulang karena kasihan. Kerabat atau saudara gadis kecil itu tak kunjung mencarinya, padahal pemberitaan kecelakaan yang menimpa keluarganya, baik dari media cetak maupun elektronik sudah tersebar.          Sebenarnya mas Didit ingin merawat Arin, tetapi karena ia tinggal sendiri, tidak ada yang menjaga Arin ketika ia pergi bekerja, terpaksa menyerahkan Arin ke panti asuhan atas perintah pihak kepolisian karena keluarga Arin tak kunjung menjemputnya juga. Tentu akan sangat beresiko juga mengganggu jika setiap hari ia membawa Arin ke tempat kerjanya. ....         Kini Arin tinggal di panti bersama anak-anak lain yang bernasib sama dengannya. Sejak tinggal disana keceriaanya menghilang anak itu tidak banyak bicara dan lebih sering sekali menangis, mungkin karena jiwanya masih terguncang. Parasnya yang cantik tentu menarik perhatian para donatur juga para orang tua yang ingin mengadopsi anak-anak yang ada disana.           Setiap kali ada orang tua yang ingin mengadopsi Arin, ia akan menangis. Untuk itu bu Aminah tidak pernah lagi memberikan tawaran itu kepada Arin. Setelah tinggal beberapa minggu Arin mulai menyesuaikan diri. Sedikit demi sedikit Arin mau berinteraksi dengan teman sebayanya yaitu Devina dan vanya yang masing-masing selisih satu tahun lebih tua darinya. Saat ia duduk di kelas satu SMA panti asuhan itu mengalami sengketa tanah yang memang sudah berjalan sejak lama, sayang nya sidang terakhir dimenangkan oleh pihak penggugat memaksa Panti Asuhan yang sudah membesarkannya itu harus ditutup.           Sebagian anak dipindah kan ke panti lain sementara sisanya diadopsi keluarga yang menginginkan mereka. Hidup dipanti membuat ketiga anak itu tumbuh mandiri. Arin, Vanya dan Devina tidak memilih kedua opsi tersebut mereka memutuskan untuk menyewa kamar kos, lagipula mereka sudah pandai  mencari uang dengan berjualan sejak masih dibangku SD mungkin uang mereka cukup untuk membeli beberapa perabot dapur dan membayar sewa setiap bulannya.           Setelah tidak tinggal dipanti, kesulitan ekonomi kian terasa karena berjualan gorengan saja ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi membayar sewa kos dan SPP sekolah setiap bulan. Untuk itu Arin dan Vanya bekerja part time dengan menjadi pelayan disebuah kafe setelah pulang sekolah, sedang Devina menjadi guru les private anak-anak SD yang tergolong mampu.           “Ahh... Lelah sekali Hayati hari ini.” Keluh Vanya membuang nafasnya kasar sambil melemparkan tubuhnya ke kasur.           “Maklum lah, ini kan malam minggu jadi banyak orang kencan.” Sahut Arin, lalu berjalan ke dapur untuk minum.           "Anya mau minum?!" Teriak Arin dari dalam dapur, "Hem!" Jawab Vanya           “Kapan ya aku punya pacar? Iri banget rasanya liat mereka mesra-mesraan kaya gitu.” Vanya menunjukan wajah memelasnya membuat Devina menaikan satu alisnya.           “Kamu ini. Sekolah dulu, kerja dulu baru punya suami bukan pacar.” Sahut Devina memukul pinggul Vanya dengan buku. "Aww," ucap Vanya merintih.            “Iya tau nih, dari kemarin bilangnya pengen punya pacar mulu. Nih minumnya,” balas Arin sambil menyodorkan air minum untuk Vanya.           “Ahh thank you.” Jawab Vanya, dengan semangat mengambil minuman yang Arin berikan.           “Inget mimpi kamu yang bilang mau kuliah di Yogya.” Ujar Devina mengingatkan Vanya agar tidak terus-terusan mengeluh.           “Iya deh, nanti langsung suami aja kalo udah kaya.” Jawab Vanya tersenyum lebar, kemudian meminum air yang tadi Arin bawakan.           “Nah gitu dong,  Semangat!” jawab Arin reflek menepuk pundaknya, Devina tertawa melihat Vanya yang tersedak, "Arin ah," Rengek Vanya karena bajunya basah, sementara Arin tersenyum lalu meminta maaf. …         Masa putih abu hampir berakhir, ketiganya berpisah karena memilih jalan yang berbeda, Vanya akan melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta, Devina berhasil mendapat beasiswa ke Jepang  sedang  Arin  memilih Bandung sebagai tempat untuk mencari ilmu dan pengalaman baru, ketiganya merupakan murid yang cerdas tapi kecerdasan Devina mengungguli Arin dan Vanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN