Chapter 11

2032 Kata
Setelah memastikan mobil yang ditumpangi orang tuanya meninggalkan halaman rumah, Deanita segera mencari Bi Asih dan menyuruhnya mengeluarkan barang-barang milik Diandra dari kamarnya. Tanpa sepengetahuan ibunya dan atas izin Bi Asih, ia menyembunyikan semua barang milik Diandra di kamar asisten rumah tangganya tersebut. Ia sengaja menolak ajakan ibunya yang memintanya ikut berkunjung ke rumah sang nenek. “Bi, masukkan semuanya ke bagasi mobilku ya,” pinta Deanita kepada Bi Asih. Bi Asih mengangguk. “Kalau boleh Bibi tahu, barang-barang milik Non Dee akan Nona mau bawa ke mana?” tanyanya penuh keberanian. Walau Deanita dan Diandra diketahuinya selama ini tidak pernah terlibat perseteruan secara langsung, tapi Bi Asih tetap mewaspadai jika putri sulung keluarga Sinatra mempunyai niat terselubung. “Mau aku antarkan ke rumah Dee, Bi,” Deanita menjawabnya sambil membaca pesan di ponselnya. “Bibi mencurigaiku?” tebaknya setelah mengalihkan perhatian dari ponselnya. “Maaf, Non. Bibi tidak bermaksud ….” Bi Asih tidak melanjutkan kalimatnya karena mendengar tawa renyah Deanita. “Bibi boleh ikut jika ingin memastikan barang-barang ini memang benar aku antarkan ke rumah Dee,” Deanita menyarankan. “Tidak usah, Non. Bibi percaya bahwa Non Dea berbeda dengan Nyonya,” tolak Bi Asih dan merasa bersalah karena telah menaruh curiga pada Deanita. “Oh ya, Non, kemarin Tuan menanyakan keberadaan barang-barang Nona Dee kepada Bibi,” beri tahunya sekaligus mengalihkan topik. Deanita tidak terkejut mendengarnya. Ia sudah menduga jika ayahnya akan menanyakan hal tersebut, mengingat ekspresi sedihnya ketika ibunya mengatakan telah membuang semua barang milik Diandra. Ia juga sering memergoki ayahnya memasuki kamar Diandra tanpa sepengetahuan ibunya. Bahkan, ia juga mendengar ayahnya menyalahkan diri sendiri atas semua yang menimpa keluarganya, terutama Diandra. Ia mengerti yang dirasakan ayahnya, sebagai orang tua beliau pasti merasa telah gagal mendidik dan membesarkan anaknya. Meski Diandra secara sengaja melakukan kesalahan, tapi ia tetap tidak pantas diperlakukan layaknya butiran debu oleh ibunya, yang dengan sekali tiup jejaknya akan menghilang selamanya. “Lalu Bibi jawab apa?” Deanita penasaran dengan jawaban wanita paruh baya yang dinilainya paling peduli terhadap Diandra di rumah ini. Ia sebagai kakaknya pun merasa kalah dan malu. “Bibi katakan dengan jujur keberadaan barang-barang milik Non Dee. Tuan hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih setelah mengetahuinya, Non,” ucap Bi Asih jujur. “Aku rasa pemikiran Papa tidak sekejam Mama. Menurutku, Papa masih mempunyai hati nurani sebagai orang tua dalam memperlakukan Dee,” Deanita menanggapinya sambil menghela napas karena kecewa dengan sikap ibunya. “Kita doakan saja semoga mata hati Nyonya secepatnya terbuka lebar-lebar, Non,” Bi Asih menasihati. “Seharusnya Nyonya menyadari penuh, jika semua kejadian ini dipicu oleh keegoisannya di masa lalu,” batinnya menambahkan. “Bi, suruh pekerja yang lain membantu memasukkan barang-barang milik Dee ke mobil. Aku mau mandi dulu dan bersiap-siap,” ujar Deanita sebelum kembali memasuki rumah. *** Tidak mau Diandra salah paham padanya, Deanita pun terpaksa meminta bantuan Lavenia agar mengantarnya ke rumah yang ditempati sang adik bersama Hans. Deanita juga meminta Lavenia agar menyembunyikan kedatangannya kepada Hans, karena tujuannya berkunjung hanya untuk mengantarkan barang-barang milik Diandra yang hendak dibuang oleh ibu mereka. “Ve, kamu yakin Hans tidak ada di rumah?” Deanita memastikan. Lavenia mengangguk yakin, karena saat ini masih siang hari dan pasti kakaknya itu sedang sibuk di kantor. “Hans lebih suka menghabiskan waktunya di kantor, karena ia tidak betah melihat keberadaan Dee di rumah mereka. Bahkan, saat weekend atau hari libur pun ia lebih sering berada di kediaman Narathama dibandingkan di rumahnya sendiri,” jelasnya. “Aku tidak bisa membayangkan kelangsungan rumah tangga Hans dengan Dee kelak. Sikap keduanya sama-sama dingin dan tidak ada yang mau mengalah,” sambungnya dan menggeleng-gelengkan kepala. Deanita menghela napas mendengar penuturan Lavenia yang penuh kekhawatiran. “Aku bisa mengerti dan memahami perasaan mereka masing-masing, Ve. Meski belum pernah menikah, tapi aku yakin pernikahan tanpa cinta itu pasti sangatlah sulit dan berat,” komentarnya. “Semoga calon keponakanku mampu melembutkan hati dan pikiran orang tuanya yang sangat keras itu,” harap Lavenia. “Dea, aku harap kelak kamu mendapatkan laki-laki yang berlipat-lipat lebih baik daripada Hans,” imbuhnya tulus dan langsung diangguki oleh Deanita. “Ve, yang mana rumahnya?” Deanita kembali bertanya setelah memasuki blok yang diberitahukan Lavenia. Ia mengernyit karena ternyata di blok tersebut hanya terdapat beberapa rumah saja dan jarak antar rumah pun cukup berjauhan. “Yang pintu pagarnya berwarna putih, Dea.” Lavenia menunjuk rumah Hans. “Aku harap kamu tidak terkejut, karena rumah yang mereka tempati sangat sederhana dan kecil,” beri tahunya. “Jika malam di sini pasti sangat sepi,” tebak Deanita saat mengamati ke sekelilingnya. Lavenia menyetujui tebakan Deanita. “Di blok ini memang sangat sepi dan rumahnya sedikit, sangat berbeda dengan di sebelah. Makanya saat Bi Harum ingin dikembalikan ke kediaman Narathama oleh Hans, Mama dengan tegas menentangnya. Mama sangat khawatir jika Dee harus tinggal di rumah ini sendirian, sementara Hans belum pulang,” ujarnya. “Dea, aku buka dulu pintu pagarnya,” lanjutnya, kemudian ia membuka pintu dan menuruni mobil. “Meski Dee yang membuat hubunganku dengan Hans kandas, tapi bagaimanapun ia tetaplah adikku. Hans benar-benar keterlaluan dalam memperlakukannya,” gumam Deanita setelah Lavenia menuruni mobil. Ia melajukan mobilnya ketika melihat isyarat yang Lavenia berikan. “Barang-barang Dee mau diturunkan sekarang?” Lavenia bertanya setelah Deanita turun dari mobil. “Nanti saja, Ve,” jawab Deanita dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Siang, Bi,” sapa Lavenia ketika Bi Harum membuka pintu rumah, sedangkan Deanita hanya tersenyum dan mengangguk. “Siang, Non,” balas Bi Harum. “Silakan masuk, Non,” ajaknya sedikit canggung. Lavenia mengajak Deanita memasuki rumah. Seketika tubuh keduanya membatu saat melihat Hans yang hanya menggunakan pakaian rumahan tengah keluar dari dapur sambil membawa piring berisi irisan lemon segar. Karena saking terkejutnya, Lavenia dan Deanita tidak mampu mengeluarkan suara dari tenggorokkannya. “Dea?” Hans beberapa kali mengucek matanya karena tidak menyangka dengan kedatangan Deanita. “Kakak tidak ke kantor?” tanya Lavenia setelah membasahi tenggorokannya yang tadi tiba-tiba kering. Hans hanya menggeleng menganggapi pertanyaan adiknya. “Kenapa kalian hanya berdiri di sana? Ayo, silakan duduk,” ajaknya yang lebih ditujukan kepada Deanita. Mencegah salah paham yang bisa muncul karena situasinya kini, Lavenia mewakili Deanita memberitahukan mengenai tujuan kedatangan mereka, “Kak, keadatangan Dea ke sini hanya ingin mengantarkan barang-barang milik Dee.” “Benar, Hans,” Deanita menimpali dan memerhatikan perubahan ekspresi Hans. “Apakah Dee sedang tidur?” tanyanya hati-hati. “Wanita itu sedang tidak ada di rumah,” Hans menjawabnya dengan nada dingin, tanpa mengalihkan tatapannya dari Deanita. Mendengar jawaban dingin Hans membuat Lavenia berinisiatif menanyakan keberadaan Diandra kepada Bi Harum yang tengah membawakan mereka minuman. “Dee di mana, Bi?” “Nyonya kemarin pagi pergi ke rumah Neneknya, Non,” beri tahu Bi Harum. “Nyonya juga bilang akan menginap di sana selama beberapa hari,” sambungnya. Mendengar jawaban Bi Harum membuat tubuh Deanita menegang di tempat, sebab orang tuanya juga tengah dalam perjalanan menuju rumah sang nenek. Ketakutan akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pun langsung memenuhi pikiran Deanita. “Ada apa, Dea?” Lavenia menyadari reaksi Deanita. “Ve, aku harus segera pergi ke rumah Nenek. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk di sana,” jawab Deanita panik sehingga membuat Lavenia dan Bi Harum mengernyit, termasuk Hans yang sedari tadi hanya mendengarkan. “Tenanglah, Dea. Apa maksud ucapanmu itu?” Lavenia kembali bertanya karena tidak menangkap maksud ucapan sahabatnya. “Ve, orang tuaku juga sedang dalam perjalanan ke rumah Nenek,” beri tahu Deanita yang kini telah berkeringat dingin, karena membayangkan reaksi ibunya melihat keberadaan Diandra di rumah neneknya. “Aku tidak ingin Mama dan Dee bertengkar di sana, apalagi kondisi keduanya yang ….” Kalimatnya terpotong setelah Lavenia menyela. “Aku temani,” sela Lavenia. Tanpa memedulikan Hans, mereka bergegas keluar menuju mobilnya yang terparkir di halaman. “Tunggu.” Suara Hans menghentikan langkah kaki Diandra dan Lavenia. “Aku ikut dengan kalian,” imbuhnya. “Itu lebih baik,” Lavenia menanggapi sebelum Deanita bersuara. Menurutnya, keputusan Hans kali ini tepat, meski tujuan sebenarnya tidak ia ketahui. “Ve, tolong keluarkan mobilku,” Hans memerintahkan Lavenia, sementara ia kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan dompetnya. “Semoga saja yang kamu takutkan dan khawatirkan tidak terjadi, Dea,” Lavenia menenangkan Deanita sebelum menjalankan perintah kakaknya. *** Diandra yang sudah merasa puas tidur setelah lelah berkebun pun segera bangun. Dengan hati-hati ia menuruni ranjang agar tidak membangunkan Helena yang masih terlelap di sebelahnya. Ia ingin membasuh wajahnya terlebih dulu, sebelum keluar kamar. “Bi, Nenek di mana?” tanya Diandra setelah mengambil air putih di dapur. “Di gazebo, Non. Beliau sedang melanjutkan membuat syal,” beri tahu Bi Mirna. “Ini untuk Nenek?” Diandra melihat secangkir teh hangat di nampan. “Biar aku saja yang membawakannya, Bi,” imbuhnya setelah Bi Mirna mengiyakan. Diandra pun segera menuju gazebo yang letaknya di belakang rumah. “Nek, diminum dulu tehnya,” ucap Diandra sehingga menghentikan aktivitas Bu Weli yang tengah membuat syal. Bu Weli hanya mengangguk, karena sedang menyelesaikan syal buatannya. “Pakailah, Sayang,” pintanya dan menyerahkan syal berwarna hijau tersebut. “Ini untukku, Nek?” Diandra menerima dan langsung memakai syal buatan neneknya. “Terima kasih, Nek. Aku menyukainya,” ujarnya setelah sang nenek mengangguk. “Nenek juga sudah membuatkan beberapa sepatu dan topi rajut untuk calon anakmu, Dee,” beri tahu Bu Weli sebelum menyesap tehnya. “Nenek berharap kamu menyukainya,” sambungnya. Diandra terharu mendengar ucapan neneknya. “Anakku pasti sangat menyukainya, Nek.” Diandra mencium kedua pipi neneknya sebagai ucapan terima kasihnya. “Nanti aku juga akan membuatkan sweater rajut untuk anakku, biar tidak kalah sama Eyangnya,” ujarnya sambil terkekeh dan membuat Bu Weli tertawa. Tawa keduanya menghilang ketika melihat Bi Mirna datang tergopoh-gopoh dengan ekspresi ketakutan. “Ada apa, Bi?” Diandra penasaran. “Itu ... Nyonya Yuri dan Tuan Dennis datang,” beri tahu Bi Mirna sepelan mungkin. Diandra dan Bu Weli terkejut mendengar kedatangan pasangan Sinatra. “Buatkan mereka minum, Mir,” pinta Bu Weli setelah mengendalikan keterkejutannya. “Dee, bantu Nenek menemui orang tuamu,” sambungnya kepada Diandra. Diandra hanya mengangguk. “Semoga saja pertemuan kami tidak membuat kondisi Mama kembali memburuk,” harapnya dalam hati. *** Bola mata Yuri membelalak ketika melihat wanita yang tengah memapah ibunya berjalan. Ia berdiri dari duduknya untuk lebih memastikan penglihatannya. “Untuk apa kamu ada di sini?” tanyanya tajam, sehingga membuat Dennis yang tengah memejamkan mata sambil menyandarkan punggung terkejut. “Yuri,” Bu Weli menegur putri bungsunya dengan nada lembut. “Kalau Mama tidak ingin melihatku di sini, sekarang juga aku bersedia meninggalkan rumah Nenek.” Diandra memilih mengalah daripada membuat penyakit ibunya kambuh atau melihat keributan terjadi di rumah neneknya gara-gara dirinya. “Baguslah jika kamu masih mempunyai pemikiran waras seperti itu,” balas Yuri dan menatap nyalang Diandra. “Aku kira w************n sudah hilang selamanya dari rumah ini, ternyata kini telah muncul penggantinya,” dengkusnya. “Yuri!” tegur Dennis dan Bu Weli bersamaan. “Jaga kata-katamu, Yuri!” Bu Weli memberikan tatapan memperingatkan kepada putrinya. “Bukankah ucapanku memang benar, Ma?” Yuri mengabaikan peringatan ibunya. “Gara-gara w************n itu dan keturunannya, rumah tanggaku kacau untuk yang kedua kalinya. Dulu aku, kini anakku.” Perkataan Yuri membuat tubuh Dennis dan Bu Weli menegang. Bahkan, Bi Mirna yang sedari tadi menguping. Diandra hanya mengerutkan kening dan mencoba menelaah perkataan ibunya. Pikirannya yang tengah sibuk tersadar saat menyadari sentuhan pada pundaknya. “Dee, Papa akan mengantarmu pulang. Sekarang kemasilah barang-barangmu,” pinta Dennis tegas. “Bi, bantu Dee berkemas,” ucapnya pada Bi Mirna. “Turutilah permintaan Papamu, Sayang,” Bu Weli menimpali. Ia tersenyum setelah Diandra mengangguk patuh. “Sampai kapan kalian akan kuat menyembunyikannya?” Baru beberapa langkah Diandra mengayunkan kakinya, ucapan Yuri kembali membuatnya berhenti. “Apakah selama ini kalian tidak pernah memikirkan perasaanku?” Yuri melanjutkan. Diandra berbalik karena merasa jengah atas ucapan-ucapan ibunya yang seperti tengah berteka-teki. “Sebenarnya apa yang ingin Mama katakan?” tantangnya berani. “Dee, dengarkan perintah Papa sekali saja,” Dennis memelas kepada putri bungsunya. “Kenapa kamu sangat takut sekali wanita ini mengetahui kebenaran mengenai asal-usulnya, Den?” Yuri bertanya sarkastis karena emosinya sudah lebih mendominasi. “Yuri, ingat kondisi kesehatanmu.” Meski merasa kesal atas tindakan ceroboh Yuri, tapi Dennis berusaha memperingatkan istrinya dengan lembut. “Aku sangat sehat sekarang, Suamiku,” ucap Yuri dengan angkuh. “Memangnya ada apa dengan asal-usulku? Kebenaran apa yang kalian sembunyikan mengenai asal-usulku?” Diandra menyelidik. “Kebenaran bahwa kamu bukanlah darah dagingku. Anak kandungku hanya Deanita seorang!” ungkap Yuri tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Perlu diketahui bahwa kamu adalah anak haram. Anak yang terlahir tanpa ikatan pernikahan dan merupakan hasil dari perselingkuhan,” sambungnya menegaskan. Napas Diandra terasa direnggut seketika mendengar kata per kata yang keluar dari mulut wanita yang selama ini dipanggilnya Mama. Tubuh Bu Weli linglung karena kenyataan yang selama ini berusaha disimpannya hingga ajal menjemput, akhirnya terungkap dengan cara mengerikan. Dennis dengan sigap menahan tubuh mertuanya, ia pun langsung mendudukkannya di sofa meski kakinya sendiri juga terasa lemas. Helena memberanikan diri menghampiri Diandra yang mematung, ia sudah dari tadi menjadi pendengar tanpa sepengetahuan siapa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN