Siangnya Humaira mengunjungi satu-satunya kerabat dekatnya. Rayhan yang berwibawa adalah seorang Ustadz muda terkemuka di desanya.
Wajahnya cukup tampan sehingga digandrungi ibu-ibu pengajian. Namun, untuk gadis desa sepertinya, Rayhan adalah sebuah oase di tengah langkanya perjaka tampan di desa mereka. Di teras depan. Ditemani sepoi angin dari pohon mangga di depan rumahnya, Ibu Rayhan tengah menyulam.
“Assalamualaikum.”
“Wa alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. Eh, Ira toh. Ada apa, Ir? Tumben siang-siang terik ke sini.”
Humaira menyalami adik dari ibunya itu.
“Aku mau tanya-tanya soal alamat dan jalan ke kota.”
“Mau ke kota? Ada urusan apa? Ayo, masuk dulu.”
“Di sini aja, Amma. Afifah yang minta. Sekalian mau ngambil titipan Afifah.”
“Oh jadi kamu yang mau dititipkan. Hmm, anak itu memang… Kamu mau naik apa ke sana?”
“Bus malam. Insyaaallah kalau enggak ada kendala.”
“Pergi sendiri?” tanya Rayhan yang tiba-tiba muncul dari dalam.
“Iya, Kak.”
“Pergi saja sama kita. Iya kan, Bang?” Farah melirik Rayhan yang mengangguk.
“Boleh kok.”
“Ndak usah, Far. Aku pergi sendiri saja. Nanti juga Afifah yang jemput di terminal.”
Amma Nisa tanpa berucap pun mengerti bahwa karena keinginan Humaira yang berniat ke kota meski tak ada uang lebih, sepulangnya dia memberikan beberapa lembar. “Aku adanya segini, baru kemarin dibagi-bagi.”
“Makasih sekali, Far. Aku enggak tahu mau cari pinjeman kemana, tapi setelah aku pulang kuganti, sungguh.”
“Enggak apa-apa, Ir. Anggep jatah liburanmu. Kamu sudah banyak membantu kami kok.”
“Bener, Far. Sekali lagi makasih loh.”
Humaira agak tenang setelah menggenggam uang sekitar dua ratus ribu yang diberikan Farah cuma-cuma. Tapi, pasti , di akan mengembalikannya nanti.
Dia bukan orang yang terbiasa meminta-minta pada orang lain. Hanya kepada kerabatnya saja dia dapat berkeluh kesah. Rayhan telah banyak membantunya selama ayahnya berpulang.
*
Romeo menggerutu, tanduk di kepalanya bertambah dua sekarang. Sekali lagi ia harus mengikuti sinful game yang akan dimainkan sang bos dengan menuruti perintah kejam penuh risiko: seperti mencari tahu asal-usul dari wanita yang direkomendasikan sendiri oleh pemilik perusahaan yang diincarnya.
Suara ting tang ting tung pesan singkat yang masuk seolah tiada habisnya mampir ke nomor ponsel pribadi tuannya. Dan sekarang pria itu hendak menambah mangsa?
Ia mengecek gawai tersebut, menemukan ratusan pesan dari mantan-mantan istrinya. Heran Romeo. Apa mereka semua tak lelah? Telah lama diabaikan, tetapi masih mengagungkan.
Dengkusan berbumbu rasa iri, karena dengan mudah di bos mendapat kelancaran dan mahir dalam urusan cinta. Dirinya? Jangan ditanya, bahkan pembantu Fahmi pun malas membalas pernyataan cintanya.
Ia mengklik salah satu pesan bernada mengancam. Yang paling getol mengirimkan pesan adalah Rasinta. Gadis bertubuh sintal tanpa lemak dan lezat,--- menurut Romeo---seorang anak pengusaha kaya yang dimanfaatkan Fahmi juga.
Mantan istri ketiga, Sinta.
Aku tidak mau tahu! Kembali padaku atau kuhancurkan perusahaan yang kamu bangun!
Romeo melaporkan hal tersebut.Namun, sungguh buakn reaksi yang ia harapkan. Pria berjambang tipis itu malah tertawa-tawa seolah gertakan kesekian Rasinta hanyalah lelucon belaka.
"Bos! Anda ingin kita bangkrut?!"
"Biarkan saja, Meo. Aku tidak peduli dengan si sinting itu. Sekarang, dan yang paling penting adalah mendapatkan tender 60 juta dollar itu."
Fahmi menatap ke arah luar menembus kaca. Pemandangan jalan raya pengap merayap di bawah sana. "Bagaimana hasil pencariannya?"
"Eh, anu, Bos."
"Romeo!"
"It-itu... gadis itu baru aja kembali ke kampungnya."
"Kampung?"
"I-iya, Bos. Dia gak tinggal di sini."
Fahmi tampak berpikir sejenak. Tangannya mengusap telinga, wajahnya serius.
"Meo!"
"Siap, Bos!"
"Kita akan ke sana!"
***