Chapter XL

1009 Kata
“Totalnya seribu dollar, Pak.” Fahmi mengeluarkan kartu dari dompetnya, dan memberikan semua belanjaan kepada Romeo. Dia mampir ke toko bunga dan memilih anggrek yang disukai istri koleganya. Dia sudah tiga kali melakukan perjalanan antar negara, bisnisnya berjalan lancar selama dua bulan ini. Keduanya sempat cekcok karena masalah yang diciptakan pria cebol itu, begitu saja selesai tanpa pertumpahan darah. Dia masih belum mengampuni kesalahan Romeo, karenanya masalah semakin berbuntut panjang. Romeo yang duduk di kafe bersama kucingnya, berada dekat dengannya sembari berpura-pura menelpon di sampingnya. Mereka memang punya cara yang aneh untuk berbaikan. “Ya, soalnya Fahmi temen gue dan gue pingin dia senyum kayak pas di pulau itu. Entah kenapa dia nunjukin lebih banyak ekspresi setiap ketemu sama perempuan itu. Gimana menurut My Sweety?” Meski tahu Fahmi ada di sebelahnya Romeo tak tanggung-tanggung mengungkapkan isi hatinya. “Sok tahu.” Romeo tidak sepenuhnhya salah. Dia hanya tidak mengerti kalau Fahmi tidak mungkin bersama Humaira lagi. Dengan mendekatkannya, dan bertemu dengannya sama saja menyiksa Humaira itu sendiri. Padahal dia berharap gadis itu segera melupakannya dan memulai hidup baru dengan orang lain. “Siapa ya yang diam-diam ngancurin kehidupan pribadi gue.” “Perasaan ibu peri itu baik hati, yang ngancurin dunia mah Thanos” “Lupa kalau Thanos mah segede gaban.” “Maksud lo apa, My Sweety? Imut banget sih, jadi pingin gue cubit pake engkol.” “Yang enggak ngerti tuh Ibu Peri. Padahal Cinderella enggak mau jadi putri tapi malah dipaksain.” “Terus Pangeran milih diem aja ya, My Sweety.” “Udah kodratnya dia jadi penerus tahta. Mana mau di anemuin Cinderella bulukan.” “Cinderella bulukan yang bikin paha sakit ampe dua kali.” “Sialan dah si suami Juliet. Ngintilin orang sampe ke kasur.” “Hihihi, cuma orang dewasa yang ngerti saat dua orang muda berkumpul di satu ruangan empuk apakah yang terjadi? My Sweety udah ngalamin kan, tuh anak lo dah lima.” “Lo tetap dipecat, Meo.” “Siapa ya? My Sweety kenal enggak orang sebelah?” “Jangan ngabeiin gue, Kucing!” “Wong gue ngomong sama My Sweety, ngapain ikut-ikut.” “Sebanyak apapun lo nyoba, keputusan gue enggak berubah.” “Nah, bagus nih kutipan. My Sweety coba dengerin dah. Nobody wants to face these, but why is the world laughing and thirsting greedily for this meaningless sadness and suffering? But if I don’t change it, sadness will be unavoidable, and I don’t want to lose anything. Karena kehilangan membuatmu menyadari arti dari perasaan yang ada di dadamu sangatlah berarti. Lo ngarti kagak, My sweety? b**o lo emang.” “Jangan telat ngantor. Gaji udah dipotong sesuai berapa hari absen.” “Siapa ya? Perasaan tadi ada yang ngomong.” “Tapi lo belum gue maafin. Dan pake bahasa formal pas kerja.” “Dasar Bos labil.” “Potong lagi, Tristan.” “Potang-potong emang cukur-- Siap, Bos!” “Ngomong lagi enggak jadi cukuran malah jadi cukurin.” “Simpen juga apa yang gue omongin ya, My Sweety jangan sampai lo nyesel karena enggak pinter bahasa Inggris.” *** “Bos mau borong se-toko apa? Banyak bener bawaannya.” “Bukan saya, ini titipan.” “Jadi sekarang kita buka jasa titip barang.” “Enggak usah ngeluh, ini juga masuk gaji kamu.” Romeo tidak pernah mengecewakan saat sedang menangani tugasnya. Pria itu sangat bisa diandalkan. Hanya segala hal yang berbau Humaira saja yang membuatnya berubah bebal dan menjengkelkan. Sudah dua bulan berlalu, Humaira pasti sudah menyerah mencari-carinya. Ini berjalan sesuai keinginannya. Dia berharap tidak akan bertemu Humaira lagi. Sedikit banyak dia juga bisa terlepas dari belenggu. Surat perceraian itu masih tersimpan di dalam laci rumahnya. Pada saatnya nanti dia pasti akan mengirimkan ke rumahnya. Saat ini dia tengah mengukuhkan langkah. Pertama-tama dengan menghilangkan bau Humaira dari jemarinya. *** Jauh di ujung Pulau, cuaca berpenghujan memayungi Desa Daun Bonggol. Humaira terburu-buru mengangkat cucian kering. Rintik berubah semakin deras, dia mengestafet pakaian itu ke tangan Rahma, dia sendiri terdiam menatap biru langit yang mulai berganti gelap. Dua bulan berlalu, hidupnya masih sama saja. Setelah pertemuan dengan Fahmi pertama kali, dia merasa bersalah karena sudah mengusiknya. Apapun yang kini Fahmi lakukan dia hanya berdoa semoga Fahmi tidak salah jalan, dan tidak pernah melupaka Allah dimanapun dia berada. Dia di sini hanya akan setia menanti. Berharap mereka saling berjumpa di ujung jalan. “Ira cepat masuk. Ngapain kamu hujan-hujanan.” “Iya, Mi.” Dia basah kuyup, tetapi hatinya kering kerontang. Selesai berganti pakaian, ibunya menyodorkan telepon padanya. “Afifah mau bicara.” “Assalamu’alaikum. Iya, Fif. Alhamdulilah aku baik.” “Ir, aku dapet informasi dari Romlah katanya dia pernah lihat wajah Fahmi mirip sama bos perusahaan yang sering datang ke kafe.” “Bos? Maksudnya?” “Aku enggak tahu jelasnya, tapi mungkin kamu bisa tanya keberadaan Fahmi sama orang itu. Kalau doppleganger rasanya terlalu kebetulan.” Humaira tertawa kecil. Afifah pasti bercanda. Mana mungkin Fahmi seorang bos yang mereka bicarakan. “Jangan ketawa deh. Ini serius. Kamu tahu kan Romlah itu orangnya enggak pernah tertarik bantu orang lain. Dan dia bilang kalau dia tahu, itu tuh sudah kayak keajaiban dunia.” Memang aneh kalau Romlah tiba-tiba berubah. Pastinya dia sangat yakin telah melihat Fahmi. Dada Humaira melebur, tolong jangan beri dia harapan. Dia sudah hampir menyerah mencarinya, dan sekarang muncul fakta baru yang membuatnya tidak bisa mundur. Dia jadi teringat pesan yang pernah dikirimkannya juga beralamat di kota. “Omong-omong, aku pernah mengirimkan surat ke alamat yang diberikan Paman “ “Kamu mau ke sana? Aku akan nemeni kamu Ira.” “Aku enggak bisa merepotkan kalian, aku akan ke sana sendirian. Aku harus memastikan dnegan mataku sendiri.” Humaira memutuskan sambungan setelah Afifah mewanti-wanti kapan keberangkatannya. Dia menghadap ke arah ibunya yang memandang penasaran pembicaraan keduanya. "Ummi, izinkan Ira pergi untuk terakhir kali. Kalau kai ini Ira salah, Ira janji akan berhenti." "Kamu sudah bertekad ya. Memang Ummi bisa menghentikan kamu, Nduk. apapun yang terjadi pulanglah ke rumah. Ummi akan selalu menyambut kamu di sini." "Terima kasih, Ummi." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN