"Ir! Ira!"
Humaira menoleh pada asal suara yang begitu dia kenali. Senyumnya tersungging mendapati Afifa memanggilnya dari kejauhan. Skuter putihnya mendekat. Iriana di sampingnya.
Mereka berada di depan kafe yang sudah tutup, menunggu jemputan abang ojek, lebih-lebih menunggu jodoh datang.
Humaira memberi pelukan singkat selamat tinggal pada Iriana. Beralih pada Romlah yang membuang muka. Seminggu yang singkat, dia tak juga bisa berteman dengannya. Humaira menduga Romlah orang yang memilih teman dan cukup berhati-hati. Meski begitu, dia juga memberi ucapan selamat tinggal seadanya.
"Jangan lupain kita ya, Ir."
"Pasti, Mbak. Terima kasih selama ini sudah banyak membantu Ira. "
"Justru Mbak yang harus berterima kasih. Kamu bantuan besar untuk kafe kita."
Iriana punya senyum dan suara yang menenangkan hati orang yang mendengarnya. Dia pernah menceritakan impiannya untuk berkeliling dunia mencari biji kopi dan membuat kopi terenak di dunia. khayalan anak-anak yang ditanggapi serius oleh Humaira.
"Semoga segala keinginan Mbak Iriana terwujud."
Separuh baya-nya, dia tidak pernah mendengar seseorang menyanjung impiannya seperti Humaira. Iriana belum pernah menemui seorang yang polosnya enggak ketulungan seperti Humaira. Dia jadi takut di dunia sekeras ini, kebaikan hatinya bisa dengan mudah dimanfaatkan orang jahat, walaupun Iriana juga mengakui Humaira memiliki hati yang berusaha keras dan tidak kenal menyerah. Sudah berapa kali dia mencoba menjahili Humaira, dan gadis itu tak pernah mendendam. Bisa dikatakan Humaira adalah kilasan sempurna seorang manusia yang masih putih.
"Aku harap kita bisa ketemu lagi. Kalau ke kota, mampir kapan-kapan."
Afifa memberi salam dan cipika cipiki singkat, sebelum mengantarkannya ke halte.
"Gimana? Udah ada pandangan, gak?" Afifa bertanya ketika mereka berada di perjalanan.
"Pandangan apaan?"
"Duh, kamu, Ir! Aku tuh nyuruh kamu ke kota siapa tahu jodohmu di sini toh."
Afifa selalu terbuka jika bicara dengannya. Humaira sangat senang dengan sifat sepupunya yang satu itu.
"Belum tuh, Fifi. Kurang lama mungkin,"
Humaira berujar setengah bercanda yang ditanggapi serius oleh Afifa.
"Yee... makanya, aku tuh mau minta izin Ama Rahma tuh biar kamu diizinin."
"Eh, gak usah. Bercanda loh."
"Gak bercanda juga gak apa-apa. Aku serius loh."
Humaira bisa melihat hal itu, meski dia sendiri tidak ingin menanggapinya terlalu serius
"Afifah, yang namanya pernikahan itu gak bisa dibikin dalam segala singkat."
"Ira, kamu tahu kan usia kamu udah menginjak tiga puluhan."
Afifa menghentikan motornya setelah dekat dengan bus tujuan Humaira.
"Ada masalah dengan itu?"
Lagi, Afifa menampakkan wajah serius.
"Sudah, sudah. Gak perlu dibahas lagi. Aku insyaallah akan nikah kalau sudah waktunya."
Humaira berlalu, menaiki bus yang akan membawanya kembali dari keruwetan di kota. Afifa terdiam di tempat. Tak menyangka respon sepupunya akan demikian.
Humaira menekan dadanya yang terasa sesak. Bukan salahnya. Bukan dia yang memilih untuk belum menikah di usia ini. Akan tetapi, mengapa sepertinya semua orang menjadi sibuk dengan kehidupan orang lain. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti, bukan?
Mungkin saja Allah memiliki rencana lain untuknya. Seharusnya dia telah terbiasa mendengar pernyataan maupun pertanyaan serupa dari para tetangga. Namun, melihat Afifa memaksa, sungguh dia tak tahu lagi harus berkata apa. Dia amat lelah untuk sekadar memikirkannya.
***
Kak Humaira:
Ndak apa-apa. Aku paham.
Setelah menanti balasan, Afifah menghela napas sedikit lega, meski rasa bersalah masih mengganggunya. Dia menyadari sikapnya terlalu blak-blakan tadi. Dia seharusnya tidak mengungkit tentang bahasan sensitif pernikahan.
Afifa membuka kunci rumah kontrakan suaminya yang sekarang menjadi rumahnya juga. Jalanan agak sedikit sepi, dan suaminya berkata akan lembur.
Tok tok tok
Suara ketukan tergesa membuatnya berpikir macam-macam. Ia beranjak, mengendap-endap. Perlahan membuka sedikit celah pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam.
Tamu tak diundang itu adalah seorang pria berjas yang memunggunginya. Afifa membuka pintu lebih lebar saat menyadari dia mengenal perawakan pria itu. Itu bos tempatnya bekerja, Arman.
Berdebar-debar Afifa menerka maksud kedatangannya.
"Pak Arman? Ada apa, Pak? Malam sekali kunjungannya."
"Afifah!" Pria berjambul itu menengok ke arah dalam kontrakannya.
"Kenapa, Pak? Bapak mau masuk?"
"Ah, tidak perlu. Omong-omong, di mana sepupu kamu?"
Kernyitan di dahi Afifa semakin banyak. Ada urusan apa bosnya dengan Humaira?
"Maksud Bapak, Humaira?"
"Nah, iya! Perempuan yang sempat menggantikan kamu beberapa hari lalu."
"Dia udah balik kampung, Pak. Emang kenapa, Pak? Dia buat ulah?"
"Oh tidak-tidak. Saya hanya ingin tahu alamatnya."
Pria di hadapannya mengerling penuh arti. Mendadak firasatnya tidak enak. Apa orang ini tertarik dengan sepupunya? Jika benar, dia sama sekali tak sudi. Dia sangat tahu seperti apa karakter gila bosnya itu. Bagaimana pun dia harus menghentikan Arman mendekati Humaira.
"Bapak naksir sepupu saya?"
Arman terbahak dengan kesimpulannya. Afifah makin tak mengerti tujuan pria itu. Di tengah kebingungan, dia harus memberikan alamat rumah Humaira, atau dia akan dipecat nantinya.
"Oh, tentu bukan. Saya punya pekerjaan bagus untuk dia!"
***
Romeo menggerutu, tanduk di kepalanya bertambah dua sekarang. Sekali lagi dia harus mengikuti permainan penuh dosa yang akan dimainkan sang bos dengan menuruti perintah kejam penuh risiko, seperti: mencari tahu asal-usul dari wanita yang direkomendasikan sendiri oleh pemilik perusahaan yang diincarnya.
Suara ting tang ting tung pesan singkat yang masuk seolah tiada habisnya mampir ke nomor ponsel pribadi tuannya. Dan sekarang pria itu hendak menambah mangsa?
Dia mengecek gawai tersebut, menemukan ratusan pesan dari mantan-mantan istrinya. Heran Romeo. Apa mereka semua tak lelah? Telah lama diabaikan, tetapi masih mengagungkan.
Dengkusan berbumbu rasa iri, karena dengan mudah si bos mendapat kelancaran dan mahir dalam urusan cinta. Dirinya? Jangan ditanya, bahkan pembantu Fahmi pun malas membalas pernyataan cintanya.
Ia mengklik salah satu pesan bernada mengancam. Yang paling getol mengirimkan pesan adalah Shinta. Gadis bertubuh sintal tanpa lemak dan lezat,--- menurut Romeo---seorang anak pengusaha kaya yang dimanfaatkan Fahmi juga.
Mantan istri ketiga, Shinta.
Aku tidak mau tahu! Kembali padaku atau aku hancurkan perusahaan yang kamu bangun!
Romeo melaporkan hal tersebut. Namun, sungguh bukan reaksi yang dia harapkan. Pria berjambang tipis itu malah tertawa-tawa seolah gertakan kesekian Shinta hanyalah lelucon belaka.
"Bos! Anda ingin kita bangkrut?!"
"Biarkan saja, Romeo. Aku tidak peduli dengan si sinting itu. Sekarang, dan yang paling penting adalah mendapatkan tender 60 juta dollar itu."
Fahmi menatap ke arah luar menembus kaca. Pemandangan jalan raya pengap merayap di bawah sana.
"Bagaimana hasil pencariannya?"
"Eh, anu, Bos."
"Romeo!"
"It-itu... gadis itu baru aja kembali ke kampungnya."
"Kampung?"
"I-iya, Bos. Dia enggak tinggal di sini."
Fahmi tampak berpikir sejenak. Tangannya mengusap telinga, wajahnya serius.
"Romeo!"
"Siap, Bos!"
"Kita akan ke sana!"
***