Terikat pada satu wanita dan berakhir nelangsa?
Fahmi merasa harus mengetuk kepalanya dengan palu. Bibirnya melengkungkan seringai. Berubah menjadi tawa miris dan mencibir. Yang dicibir hanya mencebik di sampingnya.
"Anda akan tahu ketika mengalami kesulitan nanti!"
Tak biasanya Romeo Torpedo bertingkah aneh dan membuatnya bungkam. Fahmi melayangkan tatapan kejam menghujam tepat ke arahnya.
"M-ma-maksud saya---"
"Apa maksud kamu?" Fahmi memotong. Sebuah peringatan untuk pria setinggi 156 cm itu. Namun, bukan Romeo namanya tanpa kecerewetan yang haqiqi. Ia nyerocos panjang kali lebar persis kereta .
"Apa yang Anda lakukan ssat ini adalah bukti bahwa Anda---"
Fahmi menegak wine Prancis keluaran tahun 1988 dari botol, membantingnya di tempat hingga pecah berkeping-keping. Romeo langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia bergidik ngeri. Tuannya mabuk atau tidak mabuk pun tetap menakutkan.
"Pergi dari sini! Atau kamu mau berakhir seperti botol ini!"
Tak perlu waktu lama untuk Romeo menekan saklar supersonicnya. Tanpa babibu pria itu menghilang dari pandanga.
Sukses mengusir Romeo Torpedo ngacir seperti debu, Fahmi meneruskan acara minumnya. Padahal biasanya ia tak pernah minum-minum lagi sejak terakhir kali. Ia sedang ingin menghilangkan penyakit yang tiba-tiba mengisi kepalanya siang dan malam.
Beberapa wanita berpakaian ketat dengan belahan d**a rendah mendekat dan mencoba menggodanya. Fahmi mengusir mereka seperti lalat. Ia sedang tak ingin berurusan dengan makhluk sejenis mereka. Dengan sedikit kesadaran, ia memilih pulang saja daripada berlama-lama membuatnya semakin tak terkendali. Bukan ini yang ia inginkan. Mungkin, ia membutuhkan ketenangan untuk berpikir?
Fahmi menghidupkan mobil, melajukannya dengan kecepatan sedang. Saat-saat lampu merah menjadi momen paling menjengkelkan. Ia menekan klakson untuk meringankan. Para pengendara lain mungkin. akan merasa terganggu dengan aksinya. Menekan beberapa kali, tetapi masih saja rasa kebas itu ada.
"s**t!"
Kepalanya tak mau berhenti mengingat. Ia menginjak pedal gas lebih kuat. Semakin ingatan itu timbul semakin dalam ia menekan. Malam dan jalan lenggang seolah bersekongkol meloloskannya. Perbuatannya berakhir dengan menyerempet seorang kakek tua di jalan sepi.
"Hei, Pak tua! Kalau nyebrang liat-liat dong!"
Dengan tertatih kakek tua itu bangkit. Fahmi tak menunjukkan iktikad baik untuk sekedar membantu. Kakek tua geram bukan main, wajahnya merah padam karena kelakuan immoril dan perkataan kurang ajar anak muda di hadapannya.
"Kamu yang menabrak saya, kenapa kamu marah-marah!"
"Pake nyolot lagi. Minggir dari jalan! Untung lu orang miskin, kalau gak udah gue minta ganti rugi. Ngotorin mobil aja!" Fahmi membersihkan depan mobilnya yang bahkan tidak bernoda. Ia memaki.
"Tunggu! Kaki saya berdarah. Tolong paling tidak antarkan saya ke rumah."
Tawa Fahmi menggelegar, bersahutan dengan bunyi guntur menyambar. Angin berembus, menggoyangkan selapis baju tipis si tua renta yang kakinya terluka. Fahmi tak peduli. Untuk apa pula dia peduli?
"Lu kira lu siapa? Presiden? Minggir, Pak Tua!"
Ia mendorong pria itu ke pinggir jalan. Masuk ke mobilnya berniat meninggalkan pria itu tanpa berbalik. Dalam dekap lara, pria tua itu menengadahkan tangan kurus dan lusuhnya.
"Biarkan takdir yang akan menguji. Ketika tiba saatnya, kamu hanya harus merelakan segala yang kamu miliki! Ya Tuhan, tolong kabulkan kutukan ini. Semoga pemuda itu akan mempelajari cara menghargai!"
Fahmi masuk ke dalam mobil tanpa menggubris perkataan Pak Tua. Membunyikan klakson dengan kencang, meski jalananya yang dilewatinya masih senggang.
“Bos harus tegas memutuskan. Kasihan perempuan itu, jika masih terikat sama Pak Bos.”
Perkataan Romeo Torpedo kembali menghantuinya. Dia menepuk keras setir mobilnya. Tangannya merangsek barang-barang di dashboard. Dia butuh minum sekarang juga. Tangan Fahmi bergetar, dia bertingkah seperti seorang candu yang tengah sakau, tetapi masalahnya benda itu tidak semabukkan obat-obatan atau minum, tetapi justru lebih berbahaya dibandingkan keduanya.
Fahmi menemukan botol anggurnya, dia membuka dan meminum cepat.
“Terima kasih. Karena sudah membuatku menjadi cinderella dalam sehari. Berpakaian bagus, makan makanan enak, masuk ke rumah megah bak istana, bahkan bergandengan tangan dengan pangeran seprti kamu.”
Fahmi menggeleng untuk mengenyahkan perkataan itu. Dia menegak minumannya seolah meminum air tawar.
“Kamu mungkin tidak salah. Karena tempatku bukan di sini. Sampai kapanpun aku tak akan bisa bersanding dengan orang seperti kamu. Aku… hanya salah satu mainan yang sudah kamu buang.”
Semua sudah berakhir. Seharusnya benar-benar berakhir. Fahmi mengusap wajah dengan kasar. Menghela napas yang mendadak menyesakkan. Botol di tangannya dia keluarkan lewat jendela samping, jatuh, pecah berserakan di aspal. Dia sadar tengah mabuk dan kepalanya mendadak sangat pening.
Ketika hendak menepi dan menenangkan diri, Fahmi tersentak secara tiba-tiba. Mobilnya memang berjarak belum terlalu jauh dari pemberhentiannya tadi. Dia kebingungan mengatur setir, mobilnya bergerak tak terkendali. Fahmi menjerit, mengguncang pintu mobil agar terbuka. Dia harus keluar sekarang atau semua akan terlambat.
Tubuhnya berguncang hebat. Mobil itu melaju cepat hingga melompat memasuki jurang. Dengung lengkingan marah mengiris gendang telinganya. Cahaya putih merambat memenuhi matanya. Tangannya terulur menghalau sinar. Sesaat kemudian dia terlempar, seketika kesadarannya tercerabut.
***
Ambilkan alat bor!"
"Dokter?" Asisten dokter nyentrik Hadi Supardi meyakinkan pendengarannya.
Romeo tersedak ludahnya mendengar perkataan Dokter Hardi. Dokter berkepala botak di tengah itu rupanya telah kehabisan akal menangani pasiennya.
"Cepat ambil!"
Asistennya dengan ragu mematuhi perintah. Desing mesin bor yang dinyalakan membuat Romeo ngeri. Dia berbalik memunggungi, tak ingin tahu apa yang dilakukan keduanya. Setelah tadi, mereka telah mencoba segala benda tajam yang ada, tak satu pun yang mampu menembus kulitnya. Jangankan menembus pori-pori, tergores pun tidak.
Dalam penerangan di bawah lampu, terlihat sesuatu seperti ulat meliuk-liuk di bawah kulit Fahmi. Luka-luka ditubuhnya tertutup sempurna. Semua orang berseru takjub dengan keajaiban yang terjadi.
Apakah pria ini alien atau semacamnya? Hardi berencana akan menjadikannya penemuan terbaru, jika pria itu dapat terbangun setelahnya.
Setelah keseluruhan sempurna, wajah Fahmi berubah total tanpa operasi. Semua orang terkejut. Fahmi lebih mirip wajah gorilla menabrak beton dan hidungnya dilempar sekehendak hati dari tebing curam. Banyak guratan aneh menghias leher hingga matanya.
Tak lama, Fahmi terbangun dalam kebingungan. Romeo bernapas lega meski beberapa kali harus mengucek mata untuk meyakinkan apa yang dilihatnya.
"Kenapa saya di sini?"
"Anu, Pak Bos. Itu anu---"
Fahmi memberi isyarat, Romeo langsung menutup mulutnya. Dia bangkit hendak menuntaskan hajatnya untuk buang air kecil.
Kedua dokter berbisik akan pamit, hendak kabur, sebelum Fahmi menjerit dan menuntut mereka. Meski kenyataannya mereka tak melakukan apa pun.
Belum lewat tiga detik, Raungan Fahmi merobek kesenyapan malam. Ditatapnya wajah buruk rupa yang tak lagi dia kenali. Ini dirinya. Fahmi meninju kaca hingga tangannya berdarah. Hanya satu hal yang dia ketahui dengan pasti.
"Sial!"