Fahmi di sini? Dia tidak salah lihat. Itu Fahmi yang keluar dari mobil taksi bersama seseorang berstelan rapi menuju sebuah hotel.
Tanpa dia perintah, kakinya sudah berlalu menuju ke arah sana. Terambat. Fahmi sudah memasuki tempat dan menghilang dari kerumunan. Kendati dia mengira kalau mungkin yang dilihatnya bukan Fahmi, Humaira tak menyerah untuk mengejar.
Dia mencari di sekeliling hotel dan hampir jera setelah dua jam berputar-putar tanpa hasil. Humaira merasa putus asa, terduduk diam di salah satu kursi taman tanpa nyawa. Sudah sebulan lebih dia mencari keberadaan Fahmi dan baru kali ini dia melihat wajah itu lagi. Surat yang diterimanya mengisyaratkan Fahmi sedang berjuang melunasi hutang kedua orangtuanya. Sebenarnya pekerjaan macam apa yang saat ini digeluti Fahmi.
Humiara sangat tahu, meski tidak bersekolah tinggi, Fahmi memiliki kecerdasan dan kemahiran seorang sarjana, dia yakin suaminya itu bisa mendapat pekerjaan dengan mudah. Yang dia sesali, hanya saja Fahmi tidak membawa dan membagi kesulitan itu bersamanya. Dia mungkin bukan istri yang baik.
Humaira bukan wanita cengeng yang senang menangis karena hal-hal kecil, justru dia termasuk orang yang kurang peka, sama seperti saat dia tidak menyadari kecemburuan Fahmi kepada Rayhan. Apa dia mencintai Fahmi? Hal itu pun dirasanya masih abu-abu. Namun, kali ini air mata jatuh dari matanya. Mungkin benar, dia sudah jatuh cinta karena Fahmi adalah suaminya.
“Apa Mbak baik-baik saja?”
Humaira mendongak, mendengar pertanyaan dari seorang pria di hadapannya. Stelan jas rapi berwarna hitam, wajah itu, Humaira mengingatnya sebagai seorang yang datang bersama Fahmi tadi.
“S-saya tidak apa-apa. Terima kasih.”
Orang itu hanya mengangguk, kemudian berlalu. Orang yang baik. Jarang-jarang seseorang mau memperdulikan orang lain. Biasanya orang yang seperti itu adalah penggerak alami yang bisa menggerakkan orang lain secara sukarela. Fahmi pasti akan senang mendapat pelanggan sepertinya. Semoga saja pekerjaannya sukses. Sesaat terlintas di kepala Humiara untuk mengikuti pria itu.
Jalan yang dia lalui mengarah ke suatu klub. Humaira tersentak. Apa yang dilakukan Fahmi di tempat ini. Sekitar lima belas menit kemudian dia melihat Fahmi sempoyongan dibawa seorang pelayan.
“Astgahfirullahal-adzhim, Aban...."
Humaira gemetar. hatinya tercabik-cabik melihat Fahmi. dia sampai tidak bisa bergerak sakit kagetnya. Apa yang harus dia lakukan? Dia ingin menyeamatkan Fahmi.
Sesampainya di basemen pelayan memanggil taksi. Humaira mendekatinya untuk melihat keadaan Fahmi yang mabuk. Tidak salah lagi, itu benar-benar Fahmi.
“Permisi, Pak. Ini suami saya, bisa saya saja yang mengantarkan?”
“Anda istrinya?”
“Benar, saya istri sahnya.”
Meski terlihat ragu, pelayan yang terlihat enggan, mnegizinkannya mengambil alih Fahmi yang sudah didudukkan di jok taksi.
“Kalau begitu saya serahkan kepada Anda. Kunci hotelnya ada di dalam dompet.”
Kunci hotel?
Tanpa bertanya lebih jauh, Humaira segera menaiki taksi yang sama. Fahmi benar-benar mabuk, bau alkohol menyengat hidung, tubuhnya jadi tidak stabil, sedikit goncangan saja membuatnya roboh. Kepaa Fahmi jatuh ke pundak Humaira. Humaira menangis sembari terus memegang tangannya.
"Kenapa? Kenapa Abang jadi seperti ini? Kita akan mencari jalan keluar bersama. Kenapa Fahmi tidak bisa mempercayaiku?"
Demi melunasi hutang-hutangnya, Fahmi bahkan menghancurkan dirinya. HUmaira tergugu.
“Fahmi… aku akan berjuang bersama Fahmi. Aku akan berada di sisimu. Jadi tolong, carilah pekerjaan yang halal, yang tidak akan pernah Fahmi sesali.”
Dia seperti berbicara sendiri. Tak lama Fahmi terbangun dan rasa asam dan mual menghantamnya. Humaira meminta taksi berhenti. Fahmi keluar dari taksi dibantu Humaira, tubuhnya sangat lemas setelah memuntahkan makan siangnya. Dia kemudian dipapah menuju kamar setibanya di hotel.
Hotel megah bintang lima yang semalam di sana bisa menguras uang sawahnya. Mungkinkah bos yang mengirim Fahmi yang menyediakan semua ini. Ini pertama kalinya Humaira masuk ke sebuah hotel.
Fahmi terlentang di ranjang, napasnya naik turun dan suhu badannya lumayan panas. Untuk sesaat dia melihat seorang peri yang berkilauan menatap khawatir padanya, air di matanya bening seumpama berlian. Fahmi tak mengerti respon tubuhnya yang mempunyai pikiran sendiri, sebuah dorongan untuk mendekap peri itu.
Fahmi memejam, semua seperti mimpi. Kapan dia pernah bertemu peri. Jika diingat-ingat, dia pernah melihat peri cantik yang helaian rambutnya masih terasa di jemarinya. Dia ingin memiliki peri itu hanya untuk dirinya sendiri.
Fahmi menyangka semua hanya khayalan. Suara desakan dan nafsu gila yang berkobar seolah menemukan wadah yang tepat. Dia tak pernah membayangkan skenario terburuk untuk bisa bertemu lagi dengan wanita yang membuatnya tak tenang. Sebangunnya, dia merasakan pening menghantamnya tanpa ampun, hingga tak sanggup menahan kantuk. Tubuhnya terasa ringan dan nyaman. Kehangatan seperti selubung yang mengikatnya dan meletakkannya di daam tabung kandungan ibu.Fahmi pasti sudah gila. Kehangatan semacam itu hanya akan dia dapatkan dari seorang wanita.
Harusnya dia mempertimbangkan peringatan pria kecil itu sejak awal. Fahmi memang selalu tidak terlalu suka dengan kejutan. Hari ini tubuhnya seolah diairi listrik berkekuatan tinggi melihat pemandangan sesosok punggung putih membelakanginya. Rambut amber cokelat madu yang kelembutannya tak bisa dia lupakan.
“Ti-tidak mungkin.”
Apa ini? Kenapa dia bisa ada di sini? Gadis sialan, bagaimana bisa ada di sini?
Mehat pergerakan Humaira yang masih terlelap, membuat Fahmi panik. Gawat. Dia harus segera pergi tanpa membangunkannya.
Mengendap-endap turun, Fahmi memakai semua pakaiannya secepat kilat. Barang-barangnya masih ada, biar dia minta seseorang membereskannya nanti. Setidaknya dia memerlukan ponsel dan dompet untuk sekarang. Fahmi melihat ponsenya berada di tempat buruk tepat di samping nakas dekat Humaira. Fahmi berusaha tetap tenang tanpa melakukan gerakan yang tidak perlu. Tatapannya terhenti pada bekas air mata, Humaira menangis sampai matanya hampir membengkak.
Apa dirinya yang telah melakukan semua ini? Ya, pantas saja di saat mabuk Fahmi lepas kendali dan memaksa Humaira melayaninya. Dasar bodoh. m***m. Tidak tahu diri. Fahmi terus memaki dirinya. Kai ini bukan hanya sekali mereka melakukan. Dan setelah ini entah apa yang akan terjadi. Humaira yang sentimentil mungkin akan semakin tersakiti. Karena keduanya semakin terikat, ketakutan Fahmi mungkin akan berubah nyata. Dia memang sudah saah merusak Humaira sejak semula. Namun, sejak Humaira tidak sungguh-sungguh mencintainya, dampaknya tidak akan seberapa. Semakin dia terikat, semakin besar dampak yang didapatkan. Maka, mungkin Humaira akan menjadi gila.
Ah, sejak kapan dia pedui. Gadis ini yang memilih takdirnya. Masa bidi dengan cinta dan hal rumit lainnya.
Fahmi merasa ada yang aneh. Kenapa Humaira mau melakukan itu dengannya. Dipaksa sekalipun jika mereka suah bercerai, harusnya dia marah, bukannya menurut saat diperlakukan tidak baik.
Apa gadis itu kehilangan harapan? Atau ini karena pesona Fahmi yang menawan? Pada akhirnya wanita tetaplah wanita, yang terburu-buru mendapat kepuasan sesaat. Jerat-jerat yang Fahmi sebar mulai mengerat, lalu siapapun akan terpikat dan tergila-gila padanya.
Lama Fahmi menatap wajah lugu dari wanita bodoh yang baru berbagi malam bersamanya. Menyarang ciuman singkat di bibirnya. Pada akhrinya dia bertekad untuk tak pernah lagi menampakkan wajahnya di depan Humaira.
Masa lalu yang tidak dibutuhkan, haruslah disingkirkan. Meski itu berarti dia harus melenyapkan seseorang.