3 | La Hambra

1098 Kata
Langit Andalusia, tepatnya di kota Granada, berwarna jingga. Senja semakin mempercantik kota cantik dan epik itu. Ya Allah, sungguh agung dan megahnya kota ini, saksi bahwa umat Islam pernah berjaya dan melangitkan peradaban mulia. Rosa mengenakan pakaian muslimah syar’i berwarna keemasan tengah berdiri di atas sebuah menara tertinggi di Benteng Alcazaba (Al Kasbah). Langit senja membuatnya semakin takjub memandangi panorama indah istana Al-Hambra dan kota Granada. Dia semakin takjub kala memandangi indahnya kawasan distrik kaum Muslim bernama Albaizin. Suatu hari, aku harus menghabiskan waktu menelusuri setiap lekuk kota dan jalan-jalannya. Dari atas menara itu, dia bisa melihat desain kawasan itu yang begitu unik, jalan dan gangnya yang bentuk persis labirin. Saat menikmati kesendiriannya, mendadak dia terkaget karena sepasang tangan melingkar ke perutnya. Kehangatan menjalari tubuhnya.  “Senja yang indah ini menggenapkan cinta kita, Sayang,” bisik Abyasa ke telinga Rosa. “Alhamdulillah. Kini aku merasa tak sendiri. Selalu ada kamu yang menemani perjuangan ini,” kata Rosa. Mereka berdua menikmati senja yang manis itu dengan amat romantis. “Kita berdua ada untuk saling melengkapi. Aku tak sempurna tanpa ada kamu.Begitupun juga kamu, kamu takkan bisa berjuang sendiri tanpa aku di sisimu.” Meskipun Rosa sangat terpesona dengan suasana dan kata-kata manis Abyasa dia tetap saja merasa ada sesuatu yang asing. Kok rasanya cepat banget berada di sini? Rosa bertanya-tanya.  “Mengapa hanya ada kita berdua saja di sini?” tanya Rosa. “Karena ini dunia kita. Saat ini dunia hanya milik kita, termasuk tempat ini,” ujar Abyasa sambil tersenyum. “Bukankah kamu sangat ingin berada di sini?” Abyasa bertanya balik. Rosa mengangguk. “Aku ke sini untuk menuntaskan misi, melanjutkan perjuangan yang tertunda lewat karya,” jawa Rosa. Sekalipun Rosa masih merasa aneh dan asing, dia abaikan semua yang ia rasakan. Dia terhipnotis oleh ajakn Abyasa. “Kita turun dari sini yuk, aku akan membawamu ke sebuah tempat yang sangat menawan,” kata Abyasa seraya menarik tangan Rosa. Rosa hanya menurut. Abyasa pun membimbing istrinya menuruni menara. Dalam sekejap mereka menghilang bagai kilat. Tanpa ada satu pun kendaraan yang mengangkut mereka, Rosa dan Abyasa tiba-tiba sudah berada di sebuah taman. Taman terkesan amat berbeda dengan taman-taman lainnya. “Yang kita ini lagi di tempat apa?” tanya Rosa sambil tetap menggamit lengan suaminya. Abyasa terdiam sesaat. Dia melangkah mendekat sebuah tanaman hias berdaun hijau dan rapat. Tanaman itu membentang panjang di sepanjang kolam yang menghiasi salah satu sudut kawasan istana merah itu. “Ini Istana Alhambra terletak di titik paling strategis kota Granada. Berada pada ketinggian kurang lebih 150 meter, dari tempat ini kita bisa terlihat pemandangan seluruh kota hingga sejauh mata memandang. Luas komplek Istana Alhambra sekitar 14 hektar, dikelilingi oleh benteng-benteng dengan pola tidak beraturan. “Ini Taman Ar-Rayyan,” ungkap Abyasa sambil menunjuk sebuah tugu kecil berisi tulisan. Rosa membaca tulisannya yang bertuliskan dalam bahasa Spanyol: Patio de los Arrayanes.  “Wah bagus banget ya, namanya pake nama salah satu pintu di surga. Orang-orang yang rajin berpuasa akan memasuki surga dari pintu bernama Ar-Rayyan.” “Kang Aby, di sini kok wangi banget ya… wangi tanaman atau ini wangi parfum?” Rosa  mengendus-endus wangi itu. Abyasa pun dapat merasakan aroma wangi. Dia mencoba mencari-cari dari mana sumber wewangian itu. “Apakah di taman-taman surga, wewangian bunganya akan seperti wangi ini?” tanya Rosa. “Masya Allah, pasti akan lebih dari itu. Kita sama sekali takkan dapat membayangkannya. Tapi kita harus mempercayainya. Anggaplah ini hanyalah secuil gambaran keindahan surga yang Allah berikan kepada kaum beriman,” jelas Abyasa. Abyasa mencoba memetik beberapa helai daun tanama hias berdaun rapat yang ditata memanjang itu. Dia mencoba mengosok daun itu. Aroma wangi pun menguar dari tanaman itu. “Apa nama tanaman hias ini?” tanya Abyasa. Rosa menggeleng. “Mana kutahu, Sayang.” “Coba kamu cium, aroma wangi surgawi di taman ini salah satunya berasal dari tanaman ini,” kata Abyasa. Rosa melakukannya. “Masya Allah, benar. Wangi banget.” Abyasa dan Rosa melanjutkan langkahnya menyusuri taman ini. Mereka berdua kini berjalan di tepi kolam yang berwarna bening. Airnya sangat bersih.  Meskipun hari sudah malam, suasana tetap terang dan indah karena berhiaskan lampu-lampu hias di sekelilingnya. Bangunan istana pun memantul di atas kolam itu. Pantulan bayangan istana tampak bergoyang-goyang oleh riak air yang digerakkan oleh angin. Di tepi kolam itu, Abyasa menahan langkah Rosa. Lelaki jangkung dan tegap itu menatap istrinya dalam-dalam. Untuk melihat wajah suamiya yang mempesona, Rosa sedikit menengadah. Kepala Rosa sejajar dengan bahu Abyasa. Suasana romantis pun tercipta. Abyasa memeluk Rosa dan mencoba mendaratkan kecupan pertama kepada istrinya. Rosa tak berani memandang suaminya. Dia memejamkan mata. Lama Rosa memejamkan mata, namun tak ada sedikit yang ia rasakan. Tangan Abyasa yang tadi memeluk dirinya tiba-tiba menghilang. Rosa merasa aneh. Dia pun segera membuka mata. Alangkah terkejutnya, di hadapannya kini bukan lagi sosok Abyasa melainkan Laila yang memasang wajah garang dan menyeramkan. “Laila, kamu di sini juga?” tanya Rosa heran. Padahal sedari tadi di tempat yang indah itu hanya ada dirinya dan Abyasa. Laila sama sekali tak menjawab. Dia bersikap makin dingin. Rosa menoleh ke kanan dan kiri. “Kang Aby, kamu ke mana?” Rosa mencari-cari lelaki yang amat dicintainya. Dia pun mencoba mencari suaminya. Langkah kakiknya mulai mengayun. Namun, langkahnya terhenti karena Laila menghalangi langkahnya. Bahkan tak hanya menahannya, melainkan dia berusaha mendorong tubuh Rosa. “Stop, kamu ini kenapa, Laila?” pinta Rosa. Laila tetap abai. Tak ada ucapan, yang ada hanya tindakan. Laila makin brutal mendorong Rosa hingga nyaris terjatuh ke kolam. “Tolong jangan lakukan itu, Laila!” pinta Rosa. Kini Rosa dan Laila beradu kekuatan. Laila mendesak agar Rosa terjatuh ke kolam. Sebaliknya Rosa menahan dirinya agar tetap berada di posisinya dan berusaha untuk tidak menyakiti Laila sedikitpun.  “Aku hanya bertahan, aku tidak akan melawanmu, Laila,” ungkap Rosa.  “Kang Aby, kamu di mana?” teriak Rosa. Teriakan itu menggaung hingga ke langit yang menaungi kota Granada. Pergulatan sengit Rosa dan Laila masih berlangsung. Rosa sangat menyayangkan seandainya ada seseorang untuk menengahi mereka berdua. Dan orang yang diharapkan itu adalah Abyasa, suami mereka berdua. Tapi kemanakah Abyasa? Pada akhirnya terpaksa Rosa harus menerima kekalahannya. Laila berhasil mendorong sepenuhnya Laila ke kolam air. Astagfirullah, innalillah, seru Rosa dalam hati. “Kang Aby, tolong aku!”  Pelan-pelan tubuhnya melayang dan terjatuh ke air. Gerakannya sangat lamban. “Kang Abyyy!” teriakan Rosa bergema kembali ke langit. Tubuhnya pun terjatuh. Anehnya setelah di terjatuh ke dalam kolam, tubuhnya sama sekali tidak basah.  “Sayang, bangun, Yang… Sadarlah, kamu kenapa?” tanya Abyasa. Bersambung Yang mau ikutan Waiting List versi cetaknya, silakan merapat. Kontak via WA: 0812 8798 2492
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN