Rayyan tengah fokus pada layar dan beberapa berkas di hadapannya saat terdengar suara pintu di ketuk dari luar. "Masuk!" pintanya tanpa mengalihkan fokus dari mainan yang sebelumnya. "Selamat pagi, Pak Rayyan. Maaf mengganggu kesibukan Bapak." Rayan mengangkat tangannya, kemudian mempersilahkan staf yang menjadi kaki tangannya duduk di kursi depan meja. "Kenapa, Bri? Ada yang penting?" Rayyan bertanya tanpa menatap. "Saya mau mengingatkan soal pameran itu, Pak!" Brian menyampaikan dengan hati-hati. Sadar betul atasannya telah menolak berkali-kali dengan tegas. "Aku tau. Eky sudah mengingatkannya tadi pagi." "Jadi bagaimana, Pak?" Brian menunggu respon. Rayyan menutup setengah layar laptopnya, agar dapat memandang penuh wajah Brian yang tampak segan dan serba salah. "Bagai

