Emil menarik kertas ukuran kecil tersebut, dan membacanya. Lalu, Luke ikut mengintip seolah tahu alamat tersebut. Sayangnya, itu hanya tatapan kesedihan, tanpa arti. "Eh, Luke." "Iya, Om?" Luke menantang mata laki-laki baya yang berada di hadapannya. "Dia begitu menyayangimu. Mungkin, di luar sana. Dia juga sedang mencarimu. Sebab, kamu adalah satu-satunya alasan Luka untuk hidup." Luke semakin tersentuh hatinya. Ia tahu, tak mungkin dua laki-laki ini berbohong kepadanya. Lagi pula, tidak ada gunanya mereka melakukan hal semacam itu. "Iya, Luke juga akan mencarinya." Emil tersenyum dalam satu anggukan. "Luke benar. Kami sudah sampai sejauh ini, mana boleh kalah dengan keadaan dan waktu." "Semangat ya, Luke." "Makasih, Om. Luke pamit. Doain ya!" pintanya sambil memohon kepada Tuhan,

