Part 16 - Ketemu

1065 Kata
Pencarian Laura berlanjut pada hari ini. Masih tanpa sepengetahuan orang tua dan kakak-kakaknya. Nanti saja, jika pencarian sudah membuahkan hasil. Kali ini Laura mencari tanpa tujuan. Hanya berputar-putar mengharapkan kebaikan Tuhan sehingga mempertemukan. Pulang sekolah, dengan cepat menuju mobil dan tancap gas. Laura harus segera menemukan keberadaan Niana. Gadia itu sudah terlalu lama tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Takutnya, pihak sekolah mengeluarkan. Untuk mencari sekolah baru dengan predikat murid drop out begitu sulit. Seperti sudah tercoret tinta hitam sehingga sekolah lain enggan menerima. Dalam hati, Laura berdoa dan berharap. Tuhan mempertemukan. Sedang dalam pikiran, mencoba mengingat tempat mana saja yang pernah Niana sambangi. Sayangnya, sekuat apapun mengingat, Laura tidak akan mendapatkannya. Tempat yang Niana kunjungi hanya sekolah, rumah murid privat nya dan rumah Laura. Selain itu, Laura tidak mengetahuinya. Sudah dibilang kan, Niana terlalu tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Jika dibandingkan dengan Laura, Niana sebenarnya lebih hangat dan mudah bergaul. Banyak yang menyukai kepribadian gadis itu. Ditambah Niana yang pintar tidak pelit membagikan ilmu dan contekannya. Tapi entah kenapa, Niana seolah membatasi dan membentengi dirinya dari orang lain. Setengah jam berkelana, batang hidung Niana belum juga nampak. Gadis itu terlalu pandai menghilang. Sampai tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Apa Laura harus menyerah saja? Dan kehilangan teman satu-satunya? Laura berhenti di bahu jalan. Berniat membeli minuman dan beberapa cemilan di mini market. Perut yang terakhir kali di isi pada jam istirahat sudah mulai protes untuk segera di puaskan. "Maaf Kak, apa bisa di batalkan sebagian? Uang saya tidak cukup," lirih gadis kecil di di depan kasir. Wajahnya terlihat sekali menahan tangis dan malu. Kasir perempuan itu nampak bingung. Bimbang di antara dua pilihan. Barang yang sudah melalui proses scan komputer tidak dapat di batalkan. Tapi, melihat gadis di hadapannya memasang wajah memelas membuat tidak tega untuk menolak. Namun, siapa yang akan menggantinya? Kasir dengan pendapatan tak seberapa tentu enggan menutup kerugian itu. "E... gabung sama punya Saya aja Kak," ucap Laura menengahi. Tidak tega melihat gadis berpakaian sederhana itu semakin malu. "Baik Kak." Si kasir menurut. Bersyukur dalam hati, hari ini tak perlu menutup kekurangan uang. "Totalnya dua ratus empat puluh sembilan ribu Kak." Laura mengeluarkan kartu yang biasa di pakai. Karena memang tidak memiliki uang cash sebanyak itu. Penghuni dompet paling beberapa kartu penting dan uang tunai yang jumlahnya tak pernah mencapai angka lima ratus ribu. "Ayo," ajak Laura pada gadis kecil yang sedari tadi menunduk. "I... ini Kak, uang yang buat bayar. Tapi masih kurang," lirihnya sambil mengangsurkan uang seratus ribuan. Total belanjaan Laura tadi tidak lebih dari lima puluh ribu. Dan lebihnya milik gadis kecio di hadapannya. "Udah gak usah. Buat Kamu aja," ucap Laura tulus. Uang itu mungkin akan lebih dibutuhkan gadis itu dari pada dirinya. "Ta.. tapi Kak," bantahnya. Merasa tidak enak menerima bantuan dari seseorang yang bahkan belum dikenalnya. "Gak papa. Buat Kamu aja ya," ucap Laura meyakinkan. Gadis kecil itu akhirnya mengangguk dan berucap terima kasih. Mendongakkan kepala dan menyertakan senyum. Laura melotot. Tidak salah lagi. Gadis kecil ini pernah beberapa kali Laura temui. Gadis yang mirip dengan seseorang yang sedang Laura cari. "Kamu, adiknya Niana kan?" tanya Laura memastikan. Takut salah duga. Dengan bingung, yang ditanya mengangguk. Membenarkan dugaan Laura. "Ya ampun. Akhirnya ketemu juga," syukur Laura. Tuhan baik, membuat perutnya lapar sehingga turun membeli makanan ringan. Dan di sini dipertemukan dengan adik Niana. Yang setelah ini akan mempertemukan Laura dengan teman baiknya. "Kakak temen Kak Nia?" tanya gadis kecil itu bingung. "Iya. Kakak temennya Kak Niana. Temen satu sekolah," beri tahu Laura. Adik Niana yang Laura lupa namanya itu mengangguk mengerti. "Dek, Kakak boleh ketemu Kak Niana gak ya?" Meski agak ragu, akhirnya mengangguk mengiyakan juga. Berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan dimana mereka tinggal sekarang. Dengan Laura yang membawa barang bawaan mereka. Usia gadis itu mungkin awal belasan. Laura tak tega jika membiarkan dia untuk membawa belanjaan yang berisi sembako itu sendiri. Rumah yang akan di tuju melewati gang-gang sempit. Rumah penduduk di wilayah ini terlalu pesat. Tidak ada lahan tersisa. Semua sudah berbentuk bangunan berpenghuni. Jadi, selama satu minggu lebih ini Laura berada di sini? Ini tidak terlalu jauh dari sekolah dan rumah lama Niana. Tapi lokasinya begiu suliy dijangkau karena jauh dari jalan utama. Satu-satunya cara paling efektif untuk memasuki gang ini dengan berjalan kaki. Bisa naik motor, tapi akan sulit jika berpapasan dengan motor lain. Jalan ini terlalu kecil sehingga hanya bisa di gunakan untuk satu motor melintasi. Ternyata nama gadis kecil ini adalah Nayla. Adik bungsu Niana yang masih berusia sebelas tahun. Laura mendapatkan informasi tersebut saat menanyakan langsung pada Nayla. Nayla bercerita sedihnya harus meninggalkan kotrakan karena kejulidan tetangga. Harus berpisah dengan teman-teman dan terpaksa tidak hadir ke sekolah. Nayla menceritakan semuanya. Semua kesulitan-kesulitan yang di dapat pasca berita Niana menjadi pelaku. Nayla juga menceritakan Niana yang berubah menjadi pemurung. Sering mengabaikan jam makan dan lebih sering berada dalam kamar. Ah, Laura tak bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan Niana dan keluarga akhir-akhir ini. Cukup lama berjalan, Nayla berbelok ke kanan. Menyentuh handel pintu dan membukanya setelah meneriaki salam. Rumah ini, terlihat lebih kecil dari rumah sebelumnya. Dinding kusam dengan retakan dimana-mana. "Bu, Nayla pulang," teriak Nayla. Khas anak kecil kalau pulang sekolah atau main. Wanita yang usianya tak lagi muda menampakan diri dengan tangan kanan menggenggam spatula. Sepertinya sedang memasak sesuatu. Ah, baunya juga mendukung dugaan Laura. Bau gorengan. "Loh, Kamu sama siapa Nay?" tanya Ibu Niana bingung. Anak bungsunya membawa serta gadis berseragam mirip Niana setelah di perintah membeli kebutuhan. "Ini temennya Kak Nia Bu. Terus Kakaknya juga udah baik, bayarin belanjaan Aku. Tadi soalnya uangnya kurang Bu. Pas Aku kasih uang yang dari Ibu, malah ditolak. Katanya buat Nayla aja," jelas Nayla panjang lebar. "Kamu temen Niana?" tanya Ibu Niana bingung. Siapa teman Niana yang sampai datang ke rumah? Laura beberapa kali bertemu dengan ibu Niana. Namun sepertinya tidak mengenali identitas Laura yang sengaja Laura tutupi dengan masker dan kaca mata bulat seperti kemarin. Penyamaran andalan yang dinilai efektif dan berhasil. "Iya Bu. Saya,,, saya Laura," ucap Laura. Wanita di hadapannya terkesiap. Jantungnya bertalu tak tentu. Takut dengan kedatangan Laura. Teman anaknya yang sudah dibuat menderita. "Ya sudah. Silakan duduk. Saya panggilkan Niana dulu ya," pamitnya. Memasuki rumah lebih dalam untuk memberitahu pada Niana. "Bu,,," panggil Niana sebelum ibunya menyampaikan kedatangan Laura. "La,,, Laura," ucap Niana terbata mendapati tubuh Laura tengah duduk di ruang tamu rumah kontrakan barunya. "Hai Ni. Apa kabar?" tanya Laura disertai senyum. Penyamaran yang Laura gunakan sudah dilepas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN